تسجيل الدخولKata-kata terakhir Vincent masih terngiang di dalam kepala Dara, meninggalkan rasa sakit yang teramat sangat di dadanya. Lima tahun lalu, ia memilih pergi demi melindungi pria itu dari ancaman pembunuhan kelompok gelap yang mengincar keluarga Pranata. Ia menanggung kebencian, caci maki, dan air mata seorang diri. Namun hari ini, pria yang sama berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh dendam, menuduhnya sebagai pengkhianat sekaligus menawarkan sebuah rantai pernikahan yang siap memutuskan lehernya kapan pun ia mau..
"Waktumu tidak banyak, Dara," suara Vincent memecah keheningan, dingin dan tanpa kompromi. Ia kembali duduk di kursi utamanya, menyilangkan kaki jenjang dengan postur tubuh yang arogan namun memukau. Dara menelan ludah, berusaha menegakkan punggungnya meskipun kakinya terasa sangat lemas. Ia tidak punya pilihan lain, karena yang tersisa sekarang hanyalah perusahaan logistik ayahnya saja, tempat puluhan karyawan menggantungkan hidup. Jika ia menolak, bukan hanya perusahaannya yang musnah, tapi keselamatan keluarganya juga berada di ujung tanduk. Dengan tangan yang gemetar hebat, Dara mengambil pulpen hitam di atas meja. Matanya menatap tajam ke arah Vincent, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan dari pemuda yang dulu pernah sangat ia cintai. Namun yang ia temukan di dalam mata kelam itu hanyalah kekosongan dan bara api pembalasan dendam. "Aku akan menandatanganinya," ucap Dara dengan suara parau namun tegas. "Tapi ingat satu hal, Vincent... pernikahan ini hanya sebatas kontrak di atas kertas. Jangan harap kamu bisa memiliki hatiku lagi. Maksudku, pernikahan ini hanya pernikahan siri, dan akan berakhir satu tahun.” Sudut bibir Vincent terangkat sebelah, membentuk senyuman sinis yang membuat ketampanannya terlihat berbahaya. "Hati? Siapa yang peduli dengan hatimu, Dara? Yang kuinginkan hanyalah melihatmu berada di bawah kendaliku, merasakan setiap detik kepedihan yang kurasakan selama lima tahun ini. Dan ya! Benar, ini hanya pernikahan siri, dan akan berakhir selama satu tahun." Sreeet. Ujung pulpen itu menorehkan tanda tangan Dara di atas halaman terakhir kontrak pernikahan tersebut. Sah. Mulai detik ini, ia akan menjadi istri dari pria yang paling ia takuti sekaligus paling ia rindukan. Sebelum Dara sempat menarik tangannya, sebuah cengkraman kuat tiba-tiba merengkuh pinggangnya. Vincent menarik tubuh Dara dengan gerakan cepat, membuatnya jatuh terduduk di pangkuan pria itu. “Besok aku akan membawamu ke kantor agama, kita menikah siri.” Ucap Vincent tegas. Dara terkesiap, kedua tangannya langsung menahan dada bidang Vincent yang terbalut kemeja putih. Sentuhan kulit yang membara dari balik kain itu mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya. Jantung Dara berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kedekatan fisik yang tiba-tiba ini membangkitkan kembali memori intim masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam. "Iya baik, tapi tolong lepaskan aku, Vincent!" teriak Dara tertahan, berusaha memberontak. Namun pelukan Vincent semakin mengerat, mengunci tubuh ramping Dara tanpa celah. Wajah pria itu mendekat, napas hangat beraroma mint menyapu kulit leher Dara, membuat bulu kuduknya merinding. "Mulai hari ini, kamu tinggal di apartemenku," bisik Vincent tepat di sisi telinganya, suaranya berubah menjadi bisikan serak yang sarat akan hasrat terselubung. "Jangan coba-coba membawa barang-barang lamamu. Aku akan membelikan semua yang baru untuk ratu di nerakaku." Sebelum Dara sempat membalas, bibir dingin Vincent menyapu rahangnya sekilas, meninggalkan sensasi panas yang membakar sebelum pria itu melepaskannya begitu saja. "Kemas barang-barangmu. Mobilku akan menjemputmu jam tujuh malam ini," perintah Vincent final, mengabaikan Dara yang masih terduduk dengan napas memburu dan pipi memerah akibat amarah bercampur debar yang tak bisa ia bendung. --- Langit malam di atas kota Jakarta tampak kelam, dihiasi rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela mobil sedan hitam mewah yang melaju kencang. Di kursi belakang, Dara duduk dengan jemari yang saling meremas gelisah. Rasanya ia ingin membuka pintu mobil lalu melompat ke jalan dan bunuh diri saja. Kini, ia resmi meninggalkan rumah masa kecilnya dan menjejakkan kaki ke dalam sangkar emas yang disebut neraka itu milik Vincent Pranata. Mobil itu berhenti di basement sebuah apartemen paling eksklusif di pusat kota. Seseorang membukakan pintu untuknya, dan tanpa banyak bicara, Dara digiring menuju private lift yang langsung naik ke lantai paling atas—penthouse pribadi milik sang CEO. Begitu pintu lift terbuka, sambutan interior bergaya modern minimalis dengan dominasi warna monokrom langsung memanjakan mata. Namun, kemewahan itu tidak mampu menghapus rasa tercekik yang dirasakan Dara. Ruangan itu terasa begitu luas, sunyi, dan dingin. "Kamu sudah datang." Suara khas yang ia kenal itu mengejutkan Dara. Ia mendongak dan melihat Vincent keluar dari ruang kerja pribadinya. “Sorry, tadi aku tidak bisa menjemputmu, jadi ku suruh si Dimas yang jemput kamu. Dia bodyguard baruku.” Ucap Vincent sambil berdiri dengan tersenyum kecil yang masih terlihat sinis. Vincent melangkah mendekat, langkah kakinya tenang namun penuh dominasi. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Dara, menatap tajam dari atas kepala hingga ujung kaki wanita itu. "Kamar tidur utama ada di sebelah kiri," ucap Vincent datar. "Kamar mandinya sudah disiapkan. Jangan pernah mencoba mengunci pintu kamar itu, karena kamu tidak punya hak privasi di tempat ini." Dara mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, menahan gejolak emosi di dadanya. "Kamu memperlakukanku seperti seorang tawanan, Vincent, bukan seorang calon istri." "Tawanan?" Vincent tersenyum dingin. Ia mengangkat sebelah tangannya, jemari panjangnya menyentuh helaian rambut hitam Dara, lalu menyelipkannya perlahan ke belakang telinga wanita itu. "Kamu keliru, Dara. Tawanan setidaknya tidak mendapatkan fasilitas mewah. Kamu... adalah seorang pendosa yang sedang menjalani masa hukuman." Pria itu mendekatkan wajahnya, membuat Dara otomatis memejamkan mata, menahan napas saat hidung mancung Vincent menyapu pipinya. Aroma maskulin yang pekat mengurung indra penciumannya. "Mulai malam ini, tugas pertamamu sebagai calon istri kontrak adalah menemaniku makan malam di ruang utama," bisik Vincent di dekat bibir Dara, lalu pria itu meninggalkan Dara yang terpaku di tengah ruangan. Dengan langkah lemas, Dara menyusul Vincent ke kamar lain. Namun, ia terkesiap saat melihat punggung tegap Vincent yang bertelanjang dada. Di sana terukir bekas luka bakar mengerikan berbentuk simbol misterius—simbol yang persis dengan tato milik ayahnya, tanda kelompok gelap pengincar nyawa Vincent. Vincent berbalik dan menatapnya tajam. "Kamu terkejut melihat bekas luka ini, kan, Dara?" bisik Vincent dengan suara serak yang mengerikan. "Ini adalah tanda pengkhianatanmu yang paling menyakitkan lima tahun lalu... tanda bahwa kamu ternyata bagian dari mereka yang ingin membunuhku."Dara, Vincent, dan Dimas masih berada di rumah mendiang ayah Vincent. Rumah besar itu memang sudah sepi dan tidak ditinggali lagi, tetapi semua aset penting perusahaan disimpan di sana dengan penjagaan ketat. Di sekeliling kediaman ini, ada puluhan pengawal terlatih yang berjaga dua puluh empat jam. Namun, entah mengapa mereka semua bisa sampai lengah.Rasa amarah yang meluap membuat Vincent langsung memerintahkan Dimas untuk mengumpulkan seluruh pengawal di halaman dalam rumah. Dara memilih menunggu di tepi koridor, menyaksikan dari kejauhan bagaimana suasana di sana berubah sangat mencekam.Vincent berdiri tegak di hadapan barisan puluhan pria berbadan tegap yang menundukkan kepala. Tatapan matanya tajam dan menyapu setiap wajah di depannya satu per satu."Siapa di antara kalian yang berani main di belakangku?" tanya Vincent dengan suara berat dan dingin. "Jawab! Kalau sampai aku tahu siapa orangnya, orang itu akan aku habisi!"Suasana halaman menjadi hening. Tidak ada satu pun peng
"Perusahaanmu yang kini sedang di ujung tanduk," sambung Reva melipat tangan di dada, menghapus sisa keheningan di kamar itu.Vincent tidak bergeming. Tatapannya semakin tajam, menyiratkan kemarahan yang tertahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah maju, mencengkeram lengan Reva dengan kuat, lalu menarik wanita itu keluar dari kamar utama. Reva sempat mengamuk dan berteriak memanggil nama Vincent, tetapi Vincent mengabaikannya sama sekali. Ia menyeret Reva setelah itu, membuka pintu utama apartemen, dan mendorong wanita itu keluar tanpa keraguan sedikit pun."Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi," ucap Vincent dingin sebelum mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, lalu ia mengubah password di pintunya.“Dia tahu darimana password apartemen ini? Padahal aku tidak pernah memberitahunya.” Gumam Vincent sambil menyipitkan matanya.Suara teriakan Reva yang memukul pintu dari luar perlahan memudar seiring berlalunya waktu. Vincent kembali ke kamar dengan napas sedikit me
Vincent tidak mau tahu siapa yang ada di depan pintu apartemennya itu, ia lebih mementingkan Dara sekarang.Dara memalingkan wajah, mengusap kasar pergelangan tangannya yang memerah dan mulai memar. Vincent terdiam sejenak. Ada sedikit penyesalan yang melintas di matanya saat melihat luka memar itu, tetapi ia gengsi untuk mengucapkan kata ‘maaf’ pada Dara.Ia menghela napas berat, mencoba meredam emosinya yang sempat memuncak. "Masuk ke kamar, akan aku kompres," ucap Vincent dengan nada yang melunak walau tetap terdengar datar. "Besok kamu harus ikut aku ke makan malam perusahaan. Aku tidak mau orang melihat luka itu."Tanpa membalas, Dara melangkah masuk ke dalam kamar. Vincent melangkah masuk mengekor di belakang Dara, lalu menutup pintu kamar hingga menyisakan hening yang canggung. Ia berjalan mendekat membawa wadah kecil berisi es batu dan kain kasa, berniat mengompres pergelangan tangan Dara yang memerah."Duduk di sini," ucap Vincent singkat sambil menunjuk tepi tempat tidur.Da
Cahaya lampu jalan yang sedikit gelap, terlihat jelas garis rahang wajah Vincent yang mengeras. Tanpa membuang waktu, ia mengetuk kaca jendela di sisi Dara dengan keras hingga membuat kedua wanita di dalam mobil terkejut."Buka pintunya, Dara!" perintah Vincent dari luar. Suaranya meredam di balik kaca tebal.Dara ragu-ragu, jemarinya yang bergetar tertahan di atas door lock. Belum sempat ia memutuskan, Vincent sudah menarik gagang pintu luar yang ternyata lupa dikunci Tiwi. Pintu terbuka lebar, mengembuskan angin malam yang dingin ke dalam kabin."Keluar," kata Vincent pendek."Vincent? Mau apa kamu?!" Tiwi yang duduk di kursi kemudi berteriak kaget sekaligus marah. "Jangan gila ya! Kamu memotong jalan orang sembarangan, hampir buat kita celaka!"Vincent sama sekali tidak menoleh ke arah Tiwi. Matanya terkunci pada Dara. Tanpa menunggu persetujuan, jemari kokohnya mencengkeram pergelangan tangan Dara, lalu menarik wanita itu keluar dari mobil secara paksa."Lepas, Vincent! Sakit!" Da
Air mata Dara mengering seketika, digantikan oleh kepanikan. Ia segera melangkah keluar dari kamar utama dengan mengendap-endap. Ia melangkah dengan berjinjit menelusuri lorong penthouse yang remang-remang. Suasana ruangan begitu sunyi. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling—tidak ada tanda-tanda keberadaan Vincent di ruang tamu maupun area balkon. Pasti dia sedang berada di ruang kerjanya, batin Dara menduga. Juga, ART disini sepertinya sudah beristirahat di kamar bawah khusus ART. Menganggap ini adalah kesempatan emasnya untuk melarikan diri dan pergi menemui Tiwi, Dara mempercepat langkahnya menuju pintu keluar. Namun, saat ia melewati sudut lorong dekat area pantry, pemandangan di area dapur justru membuatnya terpaku. Vincent sedang berdiri di depan kompor, terampil memotong sayuran dan membakar beef slice di atas teflon. Aroma harum masakan langsung menyeruak menggelitik indra penciumannya. Perut Dara menjadi keroncongan lagi, padahal tadi ia sudah makan.Langkah Dara terhenti k
Pintu kamar tidur utama yang terkunci rapat itu mendadak terbuka lebar dengan dorongan kasar dari luar. Dara yang sedang duduk melipat lutut di sudut ruangan terlonjak kaget, Ia segera menyimpan map tadi diatas meja kecil, sedangkan surat yang terselip di map ia sembunyikan. Vincent berdiri di ambang pintu dengan wajah sedingin es, tanpa secercah senyum, membawa sebuah gaun putih berpotongan A-line berbahan kain halus yang bertabur kristal yang sangat menyilaukan mata di bagian korsetnya."Berdiri," perintah Vincent singkat, suaranya terdengar mutlak tanpa bantahan. "Kenakan gaun ini. Hari ini kita akan pergi ke Pengadilan Agama untuk menandatangani kontrak pernikahan satu tahun seperti yang tertera di surat perjanjian."Dara mendongak, menatap gaun pengantin mewah itu dengan perasaan berkecamuk hebat. "Pernikahan kontrak? Jadi... kamu benar-benar serius ingin memenjarakanku dalam status sebagai istri…dengan kawin kontrak?" tanya Dara dengan suara bergetar.Vincent mendengus sinis, ma







