Compartilhar

BAB 3 ULAR BERBISA

Autor: Grei Graw
last update Data de publicação: 2026-09-28 20:01:08

Dara menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa sesak oleh rasa amarah, lelah, dan debar jantung yang tak kunjung mereda setelah Vincent mengatakan hal yang tidak ia tahu selama lima tahun terakhir ini.

“Aku sama sekali tidak tahu apa-apa, Vincent. Tapi, aku akan mencari tahu sendiri.”

 Ia menatap pantulan dirinya pada permukaan kaca jendela yang gelap. Di sana, ia melihat seorang wanita yang tampak rapuh, terjebak dalam sangkar emas yang dibangun oleh pria yang dulu pernah sangat ia cintai, namun kini menjelma menjadi ular berbisa yang dapat menyemburkan racunnya pada siapa saja yang mengganggunya, atau yang berani mengusiknya.

"Jangan pernah mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada ayahmu malam sebelum kamu meninggalkanku lima tahun lalu... kecuali kamu ingin kubunuh dengan tanganku sendiri."

"Kamu terkejut melihat bekas luka ini, kan, Dara? Ini adalah tanda pengkhianatanmu yang paling menyakitkan lima tahun lalu... tanda bahwa kamu ternyata bagian dari mereka yang ingin membunuhku."

Semua kalimat itu berputar ulang di dalam otaknya bagaikan rekaman rusak yang memekakkan telinga. Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh malam itu? Malam di mana ayahnya mendadak jatuh bangkrut, malam di mana ancaman kematian berkelebat di beranda rumah mereka, dan malam di mana ia terpaksa meninggalkan Vincent demi menyelamatkan nyawa pemuda itu. Juga, bekas luka bakar di punggung Vincent.

Dara menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir bayangan kelam tersebut. Ia melangkah gontai menuju kamar tidur utama yang ditunjukkan oleh Vincent tadi. Begitu ia mendorong pintu kayu mahoni berukuran besar itu, ia mendapati sebuah ruangan luas dengan tempat tidur king-size berseprai linen abu-abu gelap. Sesuai perkataan Vincent, tidak ada kunci di pintu tersebut. Ruangan itu didesain tanpa sekat privasi mutlak; sebuah pengingat konstan bahwa ia berada di bawah pengawasan penuh sang pemilik tempat.

Di atas tempat tidur, terhampar sebuah gaun malam berwarna nude berpotongan elegan beserta sepasang sepatu hak tinggi dengan merek ternama. Sebuah catatan kecil bertuliskan tangan dengan tinta hitam terletak di atasnya: Kenakan ini dalam waktu tiga puluh menit. Aku tidak suka menunggu.

Dara mendengus pelan, merasakan gelombang pemberontakan bergemuruh di dadanya. Namun, ia sadar betul bahwa ia tidak bisa menolak keputusan sang raja ular itu. Dengan gerakan lambat, ia melucuti pakaian kerjanya yang basah oleh sisa air hujan, lalu membersihkan diri di kamar mandi berbalut marmer putih yang terasa mewah namun hampa.

Tepat tiga puluh menit kemudian, Dara melangkah menuruni anak tangga spiral yang menghubungkan area kamar dengan ruang makan pribadi di lantai bawah. Gaun nude itu membungkus tubuh langsatnya dengan sempurna, mempertegas lekuk tubuhnya yang kian kurus akibat berminggu-minggu dilanda stres. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai natural, membingkai wajah tirusnya yang dipoles riasan tipis.

Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati tua, Vincent sudah duduk menunggu. Pria itu telah mengenakan kemeja hitam berkerah tegak yang lengannya dilipat hingga siku, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh. Di hadapannya, tersaji hidangan makan malam mewah dengan lilin aromaterapi yang berpijar lembut di tengah meja, menciptakan suasana yang kontras dengan ketegangan di antara keduanya.

Ketika menyadari kehadiran Dara, Vincent mengangkat wajahnya. Iris mata pria itu meneliti penampilan Dara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sekilas, ada sorot kekaguman yang melintas di sana, namun detik berikutnya, tatapan itu kembali berubah dingin.

"Kamu tepat waktu," ucap Vincent datar, memotong keheningan. "Duduklah."

Dara menarik kursi yang berada paling jauh dari posisi Vincent, lalu duduk dengan punggung tegak kaku. "Aku sudah memenuhi syarat pertamamu, Vincent. Sekarang, katakan padaku, apa sebenarnya yang kamu inginkan dari sandiwara pernikahan ini selain mempermalukanku?"

Vincent menuangkan mineral water ke dalam gelas kristalnya dengan gerakan tenang. Suara cairan bening yang membentur dinding kaca terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ia menyesap air tersebut perlahan sebelum meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.

"Mempermalukanmu?" Vincent terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang tidak menyentuh matanya. "Dara, kamu terlalu naif jika berpikir hidupku hanya berputar untuk mencari kepuasan murahan seperti itu. Perusahaan logistik ayahmu hanyalah batu loncatan kecil. Yang kuinginkan jauh lebih besar dari sekadar selembar akta perusahaan yang hampir bangkrut."

Dara mengerinyitkan dahi, menatap tajam ke arah pria di seberangnya. "Lalu apa? Apa lagi yang kamu incar dari keluargaku?"

Vincent mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua sikunya bertumpu di atas meja. Tatapan tajamnya mengunci pergerakan Dara, membuat wanita itu merasa seolah-olah ia sedang diamati oleh seekor ular besar berbisa yang siap menerkam mangsanya kapan saja.

"Hubungan antara ayahmu dan kelompok penagih utang sialan," bisik Vincent tajam. "Lima tahun lalu, sebelum kamu meninggalkanku dengan alasan omong kosong demi menyelamatkanku, ayahmu menandatangani dokumen kerja sama rahasia dengan jaringan gelap yang akhirnya malah merenggut nyawa orang tuaku. Dan tahukah kamu, Dara? Dokumen itu hilang tepat di malam yang sama saat kamu memilih pergi."

Jantung Dara seolah berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Seluruh darah di tubuhnya mendadak surut, meninggalkan sensasi dingin yang menusuk tulang.

"Itu... itu tidak benar, Vincent," Dara bersuara dengan nada bergetar hebat. "Ayahku bukan seorang penjahat! Beliau hanya terjebak dalam lilitan utang karena ditipu oleh rekan bisnisnya sendiri!"

"Benarkah?" Vincent mendesis sinis, suaranya naik satu oktaf, memecah keheningan ruangan makan. Pria itu berdiri dari duduknya dengan gerakan tiba-tiba, membuat kursi kayunya bergeser kasar dan menimbulkan suara berdecit nyaring di atas lantai.

Vincent melangkah cepat mengelilingi meja, lalu berhenti tepat di samping kursi Dara. Sebelum wanita itu sempat bereaksi, tangan kokoh Vincent sudah mencengkeram kedua sisi sandaran kursi, mengurung tubuh Dara dalam ruang gerak yang sangat sempit. Aroma parfum maskulin yang pekat kini mendominasi seluruh indra penciuman Dara, bercampur dengan ketegangan yang kian memuncak.

Vincent membungkuk, menatap dalam ke netra Dara yang berkaca-kaca. "Kau ingin bukti?" bisiknya dingin.

Pria itu merogoh saku celananya, lalu melemparkan sebuah flashdisk hitam pekat ke atas meja. Tepat saat itu, layar televisi raksasa di ruang makan menyala otomatis, menampilkan rekaman CCTV remang-remang lima tahun lalu.

Mata Dara membelalak sempurna. Di dalam video, sosok ayahnya terlihat menyerahkan sebuah map hitam kepada pria yang memiliki luka diwajahnya. Namun yang membuat seluruh dunia Dara hancur seketika adalah tulisan tangan di sampul map tersebut: 'Aset Tumbal: Dara & Keluarga Pranata'.

"Ayahmu tidak ditipu, Dara," desis Vincent menakutkan. "Dia menjualmu... dan membantai keluargaku."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 15 FRUSTASI

    Dara menghambur pergi ke rumah Tiwi. Di sana Dara mengetuk pintu rumah Tiwi berkali-kali, namun tidak ada tanda-tanda Tiwi berada di rumahnya. Dara menelepon Tiwi dengan gemetar. Tidak ada dering, nomor telepon tidak tersambung. Dara berlari ke sana kemari. Tiba-tiba ada petugas keamanan kompleks menghampiri Dara dan mengatakan bahwa dua hari yang lalu Tiwi sekeluarga sudah pindah dari rumah ini. Petugas keamanan tidak tahu ke mana Tiwi pindah.Dara panik kemudian mencoba menghubungi media sosial Tiwi, namun harapannya sirna karena semua akses diblokir oleh Tiwi. Dara mencoba menghubungi suami Tiwi dan hasilnya sama saja. Dara frustrasi."Claudya! Ya Tuhan! Maafkan Mama sayang telat menjemputmu..." Dara bergumam pelan dengan menangis sesenggukan sambil berjongkok dan menutup matanya.Tak beberapa lama…"Dara..."Dara mendongak ke arah suara yang ia kenal, "Semua karena ulahmu kan, Vincent? Kamu memecat Tiwi kan? Sehingga Tiwi memblokir semua akses untukku? Sampai Tiwi pindah rumah?""

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 14 PRIA ANEH

    Keesokan harinya Dara sudah bersiap dengan baju kemeja yang rapi dengan rok formal, rambut panjangnya diikat dengan sempurna memperlihatkan leher jenjangnya. Dia sengaja bangun pagi-pagi sekali agar Vincent melihatnya. Dara memutar otak bagaimana caranya ia keluar dari sini dan pergi ke perusahaan ayahnya. Setelah itu ia akan menemui Claudya dan terakhir menemui keluarganya, terutama ayahnya yang sedang sakit.Dara keluar kamar, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Vincent tidak ada di mana-mana. Syukurlah."Pagi, Nyonya," ucap salah satu ART yang kini sudah menyiapkan sarapan pagi di atas meja."Pagi, Mbak Uut," ucap Dara. "Kemana Pak Vincent?" tanya Dara lagi.Mbak Uut berkata, "Oh, Bapak tadi pagi-pagi sekali sudah pergi, Bu."Dara mengerutkan kening, "Pergi kemana? Tumben banget.""Ke kantor barunya katanya." Jawab Mbak Uut singkat.Deg. Dara harus secepatnya pergi ke sana menyusul Vincent!Dara menyusul Vincent dengan mengendarai mobil sedan merah milik Vincent. Sepertinya in

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 13 BUTUH WAKTU

    Dara masih menatap sertifikat di tangannya, lalu kembali melayangkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di hatinya. "Vincent, kenapa kamu sangat royal padaku? Ini benar-benar tidak masuk akal."Dengan gerakan cepat dan cenderung arogan, Vincent menarik tubuh Dara hingga wanita itu mendekat ke dekapannya. Tatapan matanya yang tajam mengunci pandangan Dara dari jarak yang sangat dekat."Karena aku keturunan Rusia," ucap Vincent santai, suaranya terdengar datar namun penuh percaya diri. "Pria Rusia senang memanjakan wanita dengan harta, seperti berlian atau emas, apalagi rumah seperti ini. Jadi, terima saja."Dara sedikit tak nyaman, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Vincent. "Tapi aku bukan wanita gila harta seperti itu, Vincent!""Lalu kamu mau apa, Dara?" tanya Vincent balik."Aku mau kerja lagi!" tegas Dara.Vincent terkekeh pelan, nada bicaranya berubah menjadi sedikit meremehkan. "Kerja? Di mana? Di perusahaan milik ayahmu itu? Perusahaan yang besok secara resmi akan menja

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 12 PINDAH RUMAH

    BRAAAKK!Pintu utama apartemen terdobrak keras hingga terlempar terbuka. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, DOORR! DOORR! Suara dentuman tembakan terdengar nyaring dari arah luar pintu, menghantam kaca jendela besar di ruang tamu hingga pecah berkeping-keping. Serpihan kaca tebal berhamburan memenuhi lantai, diiringi hembusan angin malam yang menerobos masuk secara mendadak.Vincent secara refleks mendekap Dara erat-erat dan membawa tubuh wanita itu merunduk ke lantai, melindungi kepalanya dari reruntuhan kaca dan potensi peluru nyasar. Dara menjerit pelan, membenamkan wajahnya di dada Vincent sambil memejamkan mata rapat-rapat.Suasana ruang tamu seketika berubah kacau. Pria bertopeng beserta beberapa pengawalnya panik melihat serangan mendadak tersebut. Tanpa berpikir panjang, pria bertopeng itu langsung mengantongi amplop cokelat tebal."Cepat bergerak! Lewat sini!" perintah pria bertopeng itu dengan suara panik.Satu per satu dari mereka melompat keluar dari bingkai jendela besar y

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 11 PRIA MISTERIUS

    Dara, Vincent, dan Dimas masih berada di rumah mendiang ayah Vincent. Rumah besar itu memang sudah sepi dan tidak ditinggali lagi, tetapi semua aset penting perusahaan disimpan di sana dengan penjagaan ketat. Di sekeliling kediaman ini, ada puluhan pengawal terlatih yang berjaga dua puluh empat jam. Namun, entah mengapa mereka semua bisa sampai lengah.Rasa amarah yang meluap membuat Vincent langsung memerintahkan Dimas untuk mengumpulkan seluruh pengawal di halaman dalam rumah. Dara memilih menunggu di tepi koridor, menyaksikan dari kejauhan bagaimana suasana di sana berubah sangat mencekam.Vincent berdiri tegak di hadapan barisan puluhan pria berbadan tegap yang menundukkan kepala. Tatapan matanya tajam dan menyapu setiap wajah di depannya satu per satu."Siapa di antara kalian yang berani main di belakangku?" tanya Vincent dengan suara berat dan dingin. "Jawab! Kalau sampai aku tahu siapa orangnya, orang itu akan aku habisi!"Suasana halaman menjadi hening. Tidak ada satu pun peng

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 10 SURATNYA HILANG!

    "Perusahaanmu yang kini sedang di ujung tanduk," sambung Reva melipat tangan di dada, menghapus sisa keheningan di kamar itu.Vincent tidak bergeming. Tatapannya semakin tajam, menyiratkan kemarahan yang tertahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah maju, mencengkeram lengan Reva dengan kuat, lalu menarik wanita itu keluar dari kamar utama. Reva sempat mengamuk dan berteriak memanggil nama Vincent, tetapi Vincent mengabaikannya sama sekali. Ia menyeret Reva setelah itu, membuka pintu utama apartemen, dan mendorong wanita itu keluar tanpa keraguan sedikit pun."Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi," ucap Vincent dingin sebelum mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, lalu ia mengubah password di pintunya.“Dia tahu darimana password apartemen ini? Padahal aku tidak pernah memberitahunya.” Gumam Vincent sambil menyipitkan matanya.Suara teriakan Reva yang memukul pintu dari luar perlahan memudar seiring berlalunya waktu. Vincent kembali ke kamar dengan napas sedikit me

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status