LOGIN“Silakan kamu cari tahu sendiri, Dara. Semua ini begitu rumit. Termasuk dirimu yang sangat rumit.” Ucap Vincent dengan tatapan tajam.
Dara masih terdiam, mencerna semuanya yang begitu tidak masuk akal baginya. "Dan… jika ayahmu tidak bersalah, lalu mengapa malam itu ia menemui pimpinan sindikat tersebut di sebuah lorong gedung tua yang sepi?" Vincent menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga Dara. Suaranya berubah menjadi bisikan rendah yang sarat akan dendam membara. "Dan kenapa juga, Dara... kamu berada di mobil yang sama dengan pria yang membunuh ayahku?" Dara menggeleng kuat-kuat, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Rasa sakit, ketakutan, dan kepedihan merajam hatinya tanpa ampun. "Kamu salah, Vincent... kamu salah besar!" seru Dara setengah terisak, tangannya mencengkeram erat taplak meja di hadapannya. "Aku tidak pernah berada di mobil itu! Aku pergi malam itu karena aku melihat mereka mengarahkan pistol tepat ke arah dadamu! Aku memilih pergi menanggung kebencianmu agar kamu tetap bernapas sampai hari ini!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Dara, sebuah rahasia besar yang selama lima tahun ini ia kubur rapat-rapat di dasar hatinya, sebuah beban terberat yang ia tanggung seorang diri dalam kesunyian malam. Suasana di ruang makan itu mendadak sangat hening, seperti di kuburan… Vincent terdiam kaku. Cengkeraman tangannya di sandaran kursi perlahan mengendur. Bola mata pria itu melebar sesaat, menatap wajah Dara yang kini basah oleh air mata dengan binar keterkejutan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Napas pria itu menderu berat, seolah kata-kata Dara baru saja menghantam benteng pertahanan yang telah ia bangun selama setengah dekade terakhir. "Apa... apa yang kamu katakan?" suara Vincent terdengar serak, hampir seperti bisikan angin malam yang lolos dari celah jendela. Dara mendongak, menatap langsung ke dalam mata pria yang paling ia cintai sekaligus ditakuti itu. Air matanya terus mengalir tanpa henti, membawa serta seluruh sisa pertahanan dirinya yang runtuh berkeping-keping. "Aku menyelamatkan nyawamu, Vincent," ucap Dara dengan suara pelan yang amat menyayat hati. "Dan sebagai bayarannya, kamu merantai diriku ke dalam neraka ini, menuduhku sebagai pengkhianat tanpa pernah mau mendengar kebenarannya." Vincent mundur perlahan satu langkah, wajah tampannya tampak memucat di bawah temaram cahaya lilin. Jemari tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, sementara tatapannya masih terpaku pada wajah Dara yang dipenuhi luka batin mendalam. Sebelum Vincent sempat melontarkan kalimat untuk membalas pengakuan itu, suara dering ponsel yang tajam mendadak memecah kesunyian ruangan.Vincent merogoh saku celananya dengan gerakan kaku, lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari Dara. Namun, begitu suara di seberang sambungan menyampaikan sebuah informasi singkat, warna wajah Vincent berubah drastis dalam hitungan detik—dari keterkejutan menjadi kemurkaan yang luar biasa.
"Sialan!" geram Vincent penuh amarah, melemparkan ponselnya begitu saja ke atas meja makan. Dara terperanjat kaget melihat perubahan ekspresi pria itu. "Ada apa?" tanyanya dengan suara bergetar. Vincent menatap tajam ke arah Dara, kilatan berbahaya kembali mendominasi iris matanya, jauh lebih gelap dan mematikan dari sebelumnya. "Seseorang baru saja membobol brankas ruang kerja ayahku di rumah utama," ucap Vincent penuh penekanan, rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya berkedut hebat. "Dan orang itu meninggalkan pesan khusus... untukmu, Dara." "Pesan... untukku?" bisik Dara, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa hangat karena kebenaran nyaris terungkap seketika musnah disapu angin dingin ketakutan. Vincent tidak langsung menjawab. Ia berbalik, melangkah cepat menuju sisi meja makan yang lain, lalu mencengkeram lengan Dara dengan kasar dan menarik wanita itu berdiri. Cengkeraman itu begitu erat hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih Dara. Tidak ada lagi sisa keterkejutan atau keraguan di wajah Vincent; yang ada kini hanyalah topeng kemarahan mutlak, kemurkaan yang menggebu-gebu. "Jangan pasang wajah seolah-olah kamu tidak tahu apa-apa, Dara!" bentak Vincent, suaranya menggelegar memecah keheningan penthouse mewah itu, jauh lebih tajam daripada deru hujan di luar. "Permainan apa lagi yang sedang kamu dan keluargamu mainkan di belakangku?" "Vincent, lepaskan! Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu!" rintih Dara sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan pria itu, namun tenaganya tidak sebanding dengan amarah yang menguasai Vincent. "Bohong!" sergah Vincent penuh penekanan, matanya menatap tajam menembus manik mata Dara. "Dokumen rahasia itu... surat perjanjian kerja sama antara ayahmu dan sindikat malam itu... baru saja dicuri dari brankas pribadiku di rumah utama. Dan tahu apa petunjuk yang ditinggalkan si penyusup di atas meja kerjaku? Sebuah liontin berinisial D! Liontin murahan yang persis sama dengan kalung yang selalu kamu kenakan lima tahun lalu!" Jantung Dara seolah berhenti berdetak untuk kedua kalinya malam ini. Ia menggeleng keras-keras, rambut panjangnya berayun liar mengikuti gerakan kepalanya. "Itu tidak mungkin! Liontin itu... aku sudah kehilangannya malam itu! Aku tidak pernah mengambil dokumen apa pun, Vincent. Demi Tuhan, percayalah padaku!"Vincent membungkuk, berbisik dingin tepat di telinganya. "Sudahlah,lupakan saja. Sekarang, coba pikir dengan otakmu yang cantik itu... kenapa seorang ayah tega menjual anak kandungnya sendiri jika kamu bukan cuma alat sejak awal?"
Dara terhenyak, napasnya tertahan. "Apa... maksudmu? Jaga bicaramu, Vincent! Ayahku orang yang baik dan aku sangat menyayangi ayahku." Vincent tertawa sinis, “Kamu masih juga membela ayahmu. Padahal, dia… Lazuardi tidak pernah mengakuimu sebagai anak diluar urusan bisnis.”Dara tercengang dengan perkataan Vincent barusan, ia masih mencerna kalimat yang dilontarkan Vincent. Semua perkataan Vincent membuat darah disekujur tubuh Dara mendidih.
“Jangan pernah mengatakan seperti itu, Vincent!” teriak Dara akhirnya.
Vincent tersenyum mengerikan, "Ayahmu tidak pernah menganggapmu putri, Dara. Dengarkan sekali lagi, diluar bisnis, dia tidak pernah menganggapmu sebagai putrinya. Percayalah padaku, Dara.”Keesokan harinya Dara sudah bersiap dengan baju kemeja yang rapi dengan rok formal, rambut panjangnya diikat dengan sempurna memperlihatkan leher jenjangnya. Dia sengaja bangun pagi-pagi sekali agar Vincent melihatnya. Dara memutar otak bagaimana caranya ia keluar dari sini dan pergi ke perusahaan ayahnya. Setelah itu ia akan menemui Claudya dan terakhir menemui keluarganya, terutama ayahnya yang sedang sakit.Dara keluar kamar, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Vincent tidak ada di mana-mana. Syukurlah."Pagi, Nyonya," ucap salah satu ART yang kini sudah menyiapkan sarapan pagi di atas meja."Pagi, Mbak Uut," ucap Dara. "Kemana Pak Vincent?" tanya Dara lagi.Mbak Uut berkata, "Oh, Bapak tadi pagi-pagi sekali sudah pergi, Bu."Dara mengerutkan kening, "Pergi kemana? Tumben banget.""Ke kantor barunya katanya." Jawab Mbak Uut singkat.Deg. Dara harus secepatnya pergi ke sana menyusul Vincent!Dara menyusul Vincent dengan mengendarai mobil sedan merah milik Vincent. Sepertinya in
Dara masih menatap sertifikat di tangannya, lalu kembali melayangkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di hatinya. "Vincent, kenapa kamu sangat royal padaku? Ini benar-benar tidak masuk akal."Dengan gerakan cepat dan cenderung arogan, Vincent menarik tubuh Dara hingga wanita itu mendekat ke dekapannya. Tatapan matanya yang tajam mengunci pandangan Dara dari jarak yang sangat dekat."Karena aku keturunan Rusia," ucap Vincent santai, suaranya terdengar datar namun penuh percaya diri. "Pria Rusia senang memanjakan wanita dengan harta, seperti berlian atau emas, apalagi rumah seperti ini. Jadi, terima saja."Dara sedikit tak nyaman, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Vincent. "Tapi aku bukan wanita gila harta seperti itu, Vincent!""Lalu kamu mau apa, Dara?" tanya Vincent balik."Aku mau kerja lagi!" tegas Dara.Vincent terkekeh pelan, nada bicaranya berubah menjadi sedikit meremehkan. "Kerja? Di mana? Di perusahaan milik ayahmu itu? Perusahaan yang besok secara resmi akan menja
BRAAAKK!Pintu utama apartemen terdobrak keras hingga terlempar terbuka. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, DOORR! DOORR! Suara dentuman tembakan terdengar nyaring dari arah luar pintu, menghantam kaca jendela besar di ruang tamu hingga pecah berkeping-keping. Serpihan kaca tebal berhamburan memenuhi lantai, diiringi hembusan angin malam yang menerobos masuk secara mendadak.Vincent secara refleks mendekap Dara erat-erat dan membawa tubuh wanita itu merunduk ke lantai, melindungi kepalanya dari reruntuhan kaca dan potensi peluru nyasar. Dara menjerit pelan, membenamkan wajahnya di dada Vincent sambil memejamkan mata rapat-rapat.Suasana ruang tamu seketika berubah kacau. Pria bertopeng beserta beberapa pengawalnya panik melihat serangan mendadak tersebut. Tanpa berpikir panjang, pria bertopeng itu langsung mengantongi amplop cokelat tebal."Cepat bergerak! Lewat sini!" perintah pria bertopeng itu dengan suara panik.Satu per satu dari mereka melompat keluar dari bingkai jendela besar y
Dara, Vincent, dan Dimas masih berada di rumah mendiang ayah Vincent. Rumah besar itu memang sudah sepi dan tidak ditinggali lagi, tetapi semua aset penting perusahaan disimpan di sana dengan penjagaan ketat. Di sekeliling kediaman ini, ada puluhan pengawal terlatih yang berjaga dua puluh empat jam. Namun, entah mengapa mereka semua bisa sampai lengah.Rasa amarah yang meluap membuat Vincent langsung memerintahkan Dimas untuk mengumpulkan seluruh pengawal di halaman dalam rumah. Dara memilih menunggu di tepi koridor, menyaksikan dari kejauhan bagaimana suasana di sana berubah sangat mencekam.Vincent berdiri tegak di hadapan barisan puluhan pria berbadan tegap yang menundukkan kepala. Tatapan matanya tajam dan menyapu setiap wajah di depannya satu per satu."Siapa di antara kalian yang berani main di belakangku?" tanya Vincent dengan suara berat dan dingin. "Jawab! Kalau sampai aku tahu siapa orangnya, orang itu akan aku habisi!"Suasana halaman menjadi hening. Tidak ada satu pun peng
"Perusahaanmu yang kini sedang di ujung tanduk," sambung Reva melipat tangan di dada, menghapus sisa keheningan di kamar itu.Vincent tidak bergeming. Tatapannya semakin tajam, menyiratkan kemarahan yang tertahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah maju, mencengkeram lengan Reva dengan kuat, lalu menarik wanita itu keluar dari kamar utama. Reva sempat mengamuk dan berteriak memanggil nama Vincent, tetapi Vincent mengabaikannya sama sekali. Ia menyeret Reva setelah itu, membuka pintu utama apartemen, dan mendorong wanita itu keluar tanpa keraguan sedikit pun."Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi," ucap Vincent dingin sebelum mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, lalu ia mengubah password di pintunya.“Dia tahu darimana password apartemen ini? Padahal aku tidak pernah memberitahunya.” Gumam Vincent sambil menyipitkan matanya.Suara teriakan Reva yang memukul pintu dari luar perlahan memudar seiring berlalunya waktu. Vincent kembali ke kamar dengan napas sedikit me
Vincent tidak mau tahu siapa yang ada di depan pintu apartemennya itu, ia lebih mementingkan Dara sekarang.Dara memalingkan wajah, mengusap kasar pergelangan tangannya yang memerah dan mulai memar. Vincent terdiam sejenak. Ada sedikit penyesalan yang melintas di matanya saat melihat luka memar itu, tetapi ia gengsi untuk mengucapkan kata ‘maaf’ pada Dara.Ia menghela napas berat, mencoba meredam emosinya yang sempat memuncak. "Masuk ke kamar, akan aku kompres," ucap Vincent dengan nada yang melunak walau tetap terdengar datar. "Besok kamu harus ikut aku ke makan malam perusahaan. Aku tidak mau orang melihat luka itu."Tanpa membalas, Dara melangkah masuk ke dalam kamar. Vincent melangkah masuk mengekor di belakang Dara, lalu menutup pintu kamar hingga menyisakan hening yang canggung. Ia berjalan mendekat membawa wadah kecil berisi es batu dan kain kasa, berniat mengompres pergelangan tangan Dara yang memerah."Duduk di sini," ucap Vincent singkat sambil menunjuk tepi tempat tidur.Da







