مشاركة

BAB 5 PRIA TANPA HATI

مؤلف: Grei Graw
last update تاريخ النشر: 2026-09-28 20:14:28

"Aku akan mencari tahu sendiri dan memastikan semua perkataanmu tentang ayahku itu bohong, Vincent!” Teriak Dara histeris. Dan jika itu yang ada di dalam pikiranmu tentang aku..." suara Dara melemah, berubah menjadi bisikan parau yang nyaris tak terdengar di antara deru angin malam, "...lalu mengapa kamu memaksaku tinggal di apartemen ini, Vincent? Kenapa kamu tidak langsung menyerahkanku saja pada polisi?"

Vincent terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya berdenyut menahan amarah yang mendidih di dalam dadanya. Ia menatap tajam wanita di hadapannya, wanita yang dulu mengisi hari-harinya dengan tawa, namun kini menjadi musuh paling dibenci dalam hidupnya.

"Menyerahkanmu pada polisi? Oh, itu terlalu mudah, Dara," bisik Vincent di dekat telinga Dara, suaranya bergeming dingin, penuh ancaman yang mematikan. "Penjara adalah kemewahan yang tidak pantas untuk pengkhianat sepertimu. Aku akan memastikan kamu tinggal di bawah atap yang sama denganku, menjadi tahanan rumah di apartemen ini, dan menjadi saksi atas kehancuran total keluarga Pranata dan keluargamu sendiri. Aku akan membuatmu merasakan setiap detik penderitaan yang kurasakan selama lima tahun terakhir."

Ia berbalik membelakangi wanita itu, mengambil ponsel cadangan dari atas meja, lalu menekan sebuah tombol cepat dengan jemari yang gemetar karena emosi.

"Dimas," panggil Vincent dingin begitu sambungan telepon terhubung. "Kirim dua pengawal ke lantai atas sekarang juga. Dan pastikan pintu kamar tidur utama mulai sekarang bisa dikunci dari luar. Jangan biarkan wanita itu melangkah keluar sedetik pun dari ruangan ini sampai aku kembali besok pagi."

Dara tertegun, lututnya terasa lemas hingga ia merosot perlahan dan jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Ia menatap punggung Vincent yang berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.

"Vincent..." panggil Dara lirih.

Namun, langkah pria itu tidak berhenti. Pintu lift terbuka, dan dalam hitungan detik, sosok Vincent Pranata telah lenyap dari pandangan, meninggalkan Dara seorang diri di tengah ruangan yang kini terasa jauh lebih luas dan menakutkan daripada sebelumnya.

Tidak lama kemudian, dua orang pengawal berbadan tegap muncul dari arah tangga spiral, berdiri kaku di ambang pintu ruang makan dengan ekspresi datar. Tanpa suara, salah seorang dari mereka memberi gestur agar Dara segera berdiri dan kembali ke kamar tahanannya. Lalu dengan sigap ia mulai memasang kunci besi menggunakan bor dari luar kamar.

Dara menarik napas panjang, menelan bulat-bulat kepedihan yang menusuk dadanya. Di balik sisa-sisa air matanya, kilatan tekad yang berbeda kini mulai terpancar. Jika Vincent ingin memperlakukannya sebagai musuh, maka ia tidak akan menyerah begitu saja pada takdir yang dirancang untuk menghancurkannya.

---

Keesokan paginya, sinar matahari pagi yang pucat menembus celah jendela kaca penthouse, dan kali ini sinarnya gagal menghangatkan suasana di dalam kamar tidur utama yang terkunci rapat. Dara terbangun di atas tempat tidur king-size dengan kepala berdenyut hebat akibat kurang tidur dan menangis semalaman. Ia bangkit dari posisinya, melangkah gontai menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah lanskap kota Jakarta yang basah oleh sisa hujan semalam.

Suara klik pelan pada daun pintu mendadak menghentikan langkahnya. Dara menoleh dengan cepat. Pintu mahoni besar itu terbuka, dan Vincent melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang tampak sempurna melekat di tubuh atletisnya. Wajah pria itu terlihat sangat dingin, tanpa ekspresi.

Vincent tidak langsung berbicara. Ia berjalan mendekati meja rias di sudut kamar, lalu melemparkan sebuah map cokelat tebal tepat di atas tempat tidur. Suara lemparan map itu terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi.

"Buka dan baca itu," perintah Vincent dengan nada datar yang mengerikan. "Itu adalah aturan baru selama kamu menjadi tahanan di apartemen ini."

Dara mengerinyitkan dahi, menatap ragu ke arah map cokelat tersebut sebelum perlahan melangkah mendekat. Ia membuka tali pengikat map itu dan menarik keluar beberapa lembar kertas yang dipenuhi deretan pasal aturan ketat.

"Surat... perjanjian tinggal?" Dara mendongak, menatap Vincent dengan pandangan tak percaya. "Kita bahkan tidak memiliki ikatan apa pun, Vincent. Untuk apa dokumen seperti ini?"

"Itu bukan sekadar perjanjian biasa, Dara," balas Vincent sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menyayat hati. "Itu adalah surat penyerahan seluruh sisa aset perusahaan logistik ayahmu yang hampir bangkrut ke atas namaku, sekaligus surat pernyataan bahwa kamu menyerahkan seluruh kebebasanmu padaku selama tinggal di apartemen ini."

Dara terbelalak kaget. Lembaran kertas di tangannya mendadak terasa begitu berat. "Kamu gila! Ini pemerasan!"

"Tepat sekali," sahut Vincent tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Kamu bisa memilih untuk menandatangani dokumen itu sekarang dan hidup di bawah pengawasanku di tempat ini, atau... kamu bisa menolaknya, dan aku akan memastikan ayahmu yang sedang sakit-sakitan itu dipindahkan ke penjara bawah tanah dengan tuduhan perampokan dokumen rahasia negara."

Ancaman itu jatuh bagaikan petir di siang bolong. Dara terhuyung ke belakang, jemarinya mencengkeram erat kertas-kertas tersebut hingga lembarannya kusut seketika.

"Kamu benar-benar pria tanpa hati, Vincent," bisik Dara, suaranya bergetar hebat menahan amarah dan keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya. “Dia… ayahku dan kamu tidak berhak mengatakan yang tidak-tidak tentang ayahku!"

"Aku hanya belajar menjadi kejam dari orang-orang yang mencoba menghancurkanku, dan satu lagi, terserah jika kamu tidak percaya dengan perkataanku tentang Lazuardi!” balas Vincent tajam, tatapannya menghujam lurus ke dalam jiwa Dara. "Tanda tangani dokumen itu sebelum jam sepuluh pagi, atau aku pastikan hidup ayahmu berakhir hari ini."

Tanpa menunggu sepatah kata pun, Vincent memutar tubuhnya dan melangkah keluar kamar dengan langkah tegas, membanting pintu mahoni itu hingga berdentum keras. Suara kunci diputar dari luar terdengar jelas, mengurung Dara sendirian.

Dara menandatangani surat perjanjian tadi, lalu ia jatuh berlutut di samping tempat tidur, memeluk map cokelat itu erat-erat ke dadanya sambil menangis dalam diam.

----

Vincent melangkah cepat menyusuri lorong mansion, rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Namun, begitu melangkah keluar dari pintu utama, langkahnya terhenti. Di balik semak-semak taman mansion, sesosok pria berjas hitam muncul dari kegelapan—pria yang selama ini mengawasi setiap gerak-geriknya.

"Kerja yang bagus, Vincent. Kamu berhasil meyakinkan Dara bahwa kamu pria yang kejam dan ikut campur dengan keluarganya, terutama ayahnya," puji pria itu dengan senyum sinis, menyerahkan sebuah alat perekam kecil kepada Vincent.

Vincent mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap alat perekam yang berisi bukti kunci untuk menyelamatkan Dara dari musuh yang sebenarnya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 11 PRIA MISTERIUS

    Dara, Vincent, dan Dimas masih berada di rumah mendiang ayah Vincent. Rumah besar itu memang sudah sepi dan tidak ditinggali lagi, tetapi semua aset penting perusahaan disimpan di sana dengan penjagaan ketat. Di sekeliling kediaman ini, ada puluhan pengawal terlatih yang berjaga dua puluh empat jam. Namun, entah mengapa mereka semua bisa sampai lengah.Rasa amarah yang meluap membuat Vincent langsung memerintahkan Dimas untuk mengumpulkan seluruh pengawal di halaman dalam rumah. Dara memilih menunggu di tepi koridor, menyaksikan dari kejauhan bagaimana suasana di sana berubah sangat mencekam.Vincent berdiri tegak di hadapan barisan puluhan pria berbadan tegap yang menundukkan kepala. Tatapan matanya tajam dan menyapu setiap wajah di depannya satu per satu."Siapa di antara kalian yang berani main di belakangku?" tanya Vincent dengan suara berat dan dingin. "Jawab! Kalau sampai aku tahu siapa orangnya, orang itu akan aku habisi!"Suasana halaman menjadi hening. Tidak ada satu pun peng

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 10 SURATNYA HILANG!

    "Perusahaanmu yang kini sedang di ujung tanduk," sambung Reva melipat tangan di dada, menghapus sisa keheningan di kamar itu.Vincent tidak bergeming. Tatapannya semakin tajam, menyiratkan kemarahan yang tertahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah maju, mencengkeram lengan Reva dengan kuat, lalu menarik wanita itu keluar dari kamar utama. Reva sempat mengamuk dan berteriak memanggil nama Vincent, tetapi Vincent mengabaikannya sama sekali. Ia menyeret Reva setelah itu, membuka pintu utama apartemen, dan mendorong wanita itu keluar tanpa keraguan sedikit pun."Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi," ucap Vincent dingin sebelum mengunci pintu rapat-rapat dari dalam, lalu ia mengubah password di pintunya.“Dia tahu darimana password apartemen ini? Padahal aku tidak pernah memberitahunya.” Gumam Vincent sambil menyipitkan matanya.Suara teriakan Reva yang memukul pintu dari luar perlahan memudar seiring berlalunya waktu. Vincent kembali ke kamar dengan napas sedikit me

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 9 SIAPA WANITA ITU?

    Vincent tidak mau tahu siapa yang ada di depan pintu apartemennya itu, ia lebih mementingkan Dara sekarang.Dara memalingkan wajah, mengusap kasar pergelangan tangannya yang memerah dan mulai memar. Vincent terdiam sejenak. Ada sedikit penyesalan yang melintas di matanya saat melihat luka memar itu, tetapi ia gengsi untuk mengucapkan kata ‘maaf’ pada Dara.Ia menghela napas berat, mencoba meredam emosinya yang sempat memuncak. "Masuk ke kamar, akan aku kompres," ucap Vincent dengan nada yang melunak walau tetap terdengar datar. "Besok kamu harus ikut aku ke makan malam perusahaan. Aku tidak mau orang melihat luka itu."Tanpa membalas, Dara melangkah masuk ke dalam kamar. Vincent melangkah masuk mengekor di belakang Dara, lalu menutup pintu kamar hingga menyisakan hening yang canggung. Ia berjalan mendekat membawa wadah kecil berisi es batu dan kain kasa, berniat mengompres pergelangan tangan Dara yang memerah."Duduk di sini," ucap Vincent singkat sambil menunjuk tepi tempat tidur.Da

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 8 PRIA AROGAN

    Cahaya lampu jalan yang sedikit gelap, terlihat jelas garis rahang wajah Vincent yang mengeras. Tanpa membuang waktu, ia mengetuk kaca jendela di sisi Dara dengan keras hingga membuat kedua wanita di dalam mobil terkejut."Buka pintunya, Dara!" perintah Vincent dari luar. Suaranya meredam di balik kaca tebal.Dara ragu-ragu, jemarinya yang bergetar tertahan di atas door lock. Belum sempat ia memutuskan, Vincent sudah menarik gagang pintu luar yang ternyata lupa dikunci Tiwi. Pintu terbuka lebar, mengembuskan angin malam yang dingin ke dalam kabin."Keluar," kata Vincent pendek."Vincent? Mau apa kamu?!" Tiwi yang duduk di kursi kemudi berteriak kaget sekaligus marah. "Jangan gila ya! Kamu memotong jalan orang sembarangan, hampir buat kita celaka!"Vincent sama sekali tidak menoleh ke arah Tiwi. Matanya terkunci pada Dara. Tanpa menunggu persetujuan, jemari kokohnya mencengkeram pergelangan tangan Dara, lalu menarik wanita itu keluar dari mobil secara paksa."Lepas, Vincent! Sakit!" Da

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 7 HAMPIR SAJA

    Air mata Dara mengering seketika, digantikan oleh kepanikan. Ia segera melangkah keluar dari kamar utama dengan mengendap-endap. Ia melangkah dengan berjinjit menelusuri lorong penthouse yang remang-remang. Suasana ruangan begitu sunyi. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling—tidak ada tanda-tanda keberadaan Vincent di ruang tamu maupun area balkon. Pasti dia sedang berada di ruang kerjanya, batin Dara menduga. Juga, ART disini sepertinya sudah beristirahat di kamar bawah khusus ART. Menganggap ini adalah kesempatan emasnya untuk melarikan diri dan pergi menemui Tiwi, Dara mempercepat langkahnya menuju pintu keluar. Namun, saat ia melewati sudut lorong dekat area pantry, pemandangan di area dapur justru membuatnya terpaku. Vincent sedang berdiri di depan kompor, terampil memotong sayuran dan membakar beef slice di atas teflon. Aroma harum masakan langsung menyeruak menggelitik indra penciumannya. Perut Dara menjadi keroncongan lagi, padahal tadi ia sudah makan.Langkah Dara terhenti k

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 6 PERNIKAHAN KONTRAK

    Pintu kamar tidur utama yang terkunci rapat itu mendadak terbuka lebar dengan dorongan kasar dari luar. Dara yang sedang duduk melipat lutut di sudut ruangan terlonjak kaget, Ia segera menyimpan map tadi diatas meja kecil, sedangkan surat yang terselip di map ia sembunyikan. Vincent berdiri di ambang pintu dengan wajah sedingin es, tanpa secercah senyum, membawa sebuah gaun putih berpotongan A-line berbahan kain halus yang bertabur kristal yang sangat menyilaukan mata di bagian korsetnya."Berdiri," perintah Vincent singkat, suaranya terdengar mutlak tanpa bantahan. "Kenakan gaun ini. Hari ini kita akan pergi ke Pengadilan Agama untuk menandatangani kontrak pernikahan satu tahun seperti yang tertera di surat perjanjian."Dara mendongak, menatap gaun pengantin mewah itu dengan perasaan berkecamuk hebat. "Pernikahan kontrak? Jadi... kamu benar-benar serius ingin memenjarakanku dalam status sebagai istri…dengan kawin kontrak?" tanya Dara dengan suara bergetar.Vincent mendengus sinis, ma

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status