Beranda / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 110: Fakta yang Mulai Terungkap

Share

CHAPTER 110: Fakta yang Mulai Terungkap

Penulis: Heiho
last update Tanggal publikasi: 2026-02-11 22:30:31

“Terdakwa, harap tenang!” seru hakim, “Kembalilah duduk!”

Rachel menggeram kesal. Ia menatap tajam Kate yang hanya menundukkan kepala selama berjalan menuju meja saksi. Rachel kemudian melayangkan pandangan ke pengacaranya yang juga ikut kaget ketika melihat Kate.

“Kau! Bukankah kau sudah menyuruhnya untuk menjadi saksiku?!” geram Rachel sambil menarik jas pengacaranya.

“Sa-saya juga tidak tahu, nyonya! Saya benar-benar sudah mendaftarnya tepat waktu!” bela pengacara Rachel.

“BOHONG!” hardik
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Nur Ajifa
lanjut KK semangat ...semoga Rara menang dan Rachel di penjara
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 285: Permainan Selesai

    Hani tidak bisa tidur lagi.Sejak kepergian Jefri dan Rara, ia tidak bisa tenang. Hatinya terus diliputi kegelisahan. Bahkan kata-kata menenangkan Merphilus sebelum pergi tadi rasanya tidak mampu menghilangkan kegundahannya.Hani menghela napas. Untuk kesekian kalinya, dia mengubah posisi tidurnya. Itulah yang Hani lakukan dari tadi. Mengubah-ubah posisinya di atas kasur, di dalam kamarnya yang gelap.Ia begitu penasaran dengan diskusi yang dilakukan Jefri dan Rara. Keputusan apa yang akan mereka ambil? Apakah Rara akan membantunya untuk menenangkan hati Jefri atau patuh mengikuti keputusan ayahnya?Jika ayahnya memang tidak setuju, lalu apa yang harus dia lakukan?

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 284: Ganti Permainan

    Rara menaruh gelasnya di atas bar dapur. Ia menutup mulut, berusaha menahan agar minuman itu tidak keluar meski sekarang perutnya bergejolak tidak enak.Rara baru menyelesaikan gelas kedua. Tapi, ia rasanya sudah tidak ingin bersentuhan dengan minuman itu. Meski rasanya enak, tapi efeknya terlalu dahsyat. Rara tidak tahu masih bisa bertahan lebih lama atau tidak karena ia sekarang mulai merasa kepalanya berputar-putar.Berbeda dengan Rara yang kesusahan, Jefri justru terlihat menikmatinya. Ia menyesap minumannya dengan tenang. Habis dalam satu teguk sebelum menambah lagi minumannya.Itu sudah gelas keenamnya. Dan masih belum ada tanda-tanda Jefri akan tumbang. Rara melenguh dalam hati.“Apa mau Mas tuangkan ju

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 283: Kuat, Kan?

    Rara tersedak. Wajahnya memerah, mengerti hal yang diminta Jefri sekarang. Ia berusaha menjaga jarak, tapi lengan kekar Jefri justru menahannya dengan kuat.Rara menelan ludah. “M-mas … Aku rasa itu terlalu …”“Kenapa? Kamu tidak yakin bisa?” Jefri mencondongkan wajahnya. Menyeringai lebih lebar.“Bukannya kita sudah juga sering bermain sampai pagi? Ada kemungkinan kamu bisa menang, Ra.”Rara refleks memukul bahu Jefri. Wajahnya mengerut kesal. “Bukan itu masalahnya!” sungut Rara, “Memangnya tidak bisa melakukan hal lain saja selain ‘itu’?”Jefri menaikkan satu alisnya, “Contohnya?”Tidak ada jawaban yang bisa Rara berikan. Karena pada dasarnya, ia memang tidak memikirkan hal ini akan terjadi.Wanita itu dengan cepat mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari hal yang bisa dijadikan permainan taruhan mereka. Matanya kemudian terpaku pada botol-botol alkohol di lemari kaca. “Taruhan minum alkohol!” seru Rara, “Yang paling kuat minum sampai akhir, dia pemenangnya!”Jefri memerhatik

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 282: Taruhan

    Tidak ada percakapan antara Jefri dan Rara selama perjalanan menuju kamar. Bahkan saat mereka sudah di kamar, keduanya tetap berdiam diri.Rara melirik Jefri yang ada di depannya. Ia ingin memulai percakapan, tapi aura di sekeliling Jefri masih tidak mengenakkan. Wajah pria itu juga masih mengeras, menambah segan Rara untuk mendekatinya.Kali ini, mood pria itu sepertinya benar-benar hancur.Rara menghela napas pelan. Tentu saja ia paham alasannya. Ia juga mengerti kalau Jefri tidak mau merestui hubungan Hani dengan Merphilus.Tapi, melihat Hani sekarang, mengingatkannya dengan dirinya sendiri dulu. Bahkan, situasi sekarang seperti kebalikannya dulu.Di man

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 281: Interogasi

    Entah bagaimana situasi yang hangat tadi berubah menjadi menegangkan begini.Hani duduk mengkerut. Kepalanya tertunduk, tidak berani melihat Jefri duduk bersedekap di depannya. Aura tidak mengenakkan menguar dari dirinya, bersamaan dengan tatapan tajamnya yang terus menghujam.Di sebelahnya, Merphilus justru duduk tegak. Posturnya terlihat begitu meyakinkan. Meski nyatanya ia juga tegang seperti Hani. Setelah kejadian terpergok tadi, Jefri dengan cepat menjadikan kamar Hani sebagai ruang interogasi. Hani lagi-lagi harus duduk sebagai pesakitan di depannya. Dipikir-pikir, ini sudah kesekian kalinya ia mengalami hal seperti ini.Tapi, tidak seperti biasanya yang langsung dimulai, dari tadi belum ada sepatah kata pun keluar baik dari Jefri maupun Rara. Keheningan yang menyesakkan menggantung di langit-langit kamar. Hani awalnya menduga kalau ia perlu menunggu sampai Jefri berbicara. Tapi, setelah beberapa saat berlalu, Hani mulai berpikir

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 280: Permintaan Merphilus

    Merphilus mengerjapkan mata. Alisnya terangkat, terlihat terkejut dengan ucapan perempuan di hadapannya.“Sekarang?” ulang Merphilus, “Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Sebaiknya kamu beristirahat lagi—”“Saya ingin mengetahuinya sekarang,” potong Hani tegas. Merphilus menatap Hani sejenak. Memerhatikan kesungguhan di wajah perempuan itu. Seulas senyum geli kemudian terukir di wajahnya. “Sepertinya saya memang tidak bisa mengalahkanmu,” kekeh Merphilus membuat Hani memerah samar.Tangan Merphilus yang bebas masuk ke bagian dalam jasnya. Merogoh sesuatu di saku dalam. “Hani, kamu masih ingat dengan percakapan kita waktu itu, kan?” buka Merphilus, “Sebagai balasan rahasia kita di bar, kamu bersedia memenuhi permintaan saya apa pun itu.”Hani mengangguk, “Saya masih ingat.”Bagaimana mungkin ia lupa? Pertemuan itu saja masih sangat membekas bagi Hani. Baginya, permintaan Merphilus adalah teka-teki terbesar

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 107: Kebimbangan Kate

    “Kamu sudah paham kan, Kate? Untuk sidang berikutnya, kamu akan menjadi saksi kunci. Jadi, pastikan kamu berbicara sesuai isi dokumen ini,” ucap Marco tegas sambil menatap serius Kate. “Jangan mengacaukannya sama sekali,”Kate mengangguk pelan. Marco kembali berbicara dengan pengacara Rachel, memba

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 108: Saksi Misterius

    “Apa? Anda berhasil menemukan saksi untuk membantu kita?” tanya Rara kaget pada Lexus yang duduk di seberangnya. Lexus mengangguk. Ia menyesap sejenak kopi yang disuguhkan Hani lalu menjawab, “Septa mengabari saya kemarin dan saya juga sudah bertemu dengan saksi baru kita,”“Septa?” Hani menaikkan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 105: Sidang Dimulai

    “Sidang hari ini dengan tuntutan kepada terdakwa nyonya Rachel Sullivan oleh nona Rara Hestelia, dimulai,”Suara ketukan palu hakim membahana di ruang sidang. Rara lagi-lagi membetulkan posisi duduknya. Ia melirik Rachel di kursi pesakitan yang masih menatapnya tajam. Sekarang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 101: Biar Aku yang Lakukan

    Kate menelan ludah. Ia menatap bergantian Rachel dan Jefri yang sedang saling berhadapan. Aura di antara mereka berdua sangat dingin, membuat Kate merinding. Kalau bukan karena tuntutan untuk menjaga Rachel yang baru siuman dari para petinggi agensi, Kate pasti sudah lari ketakutan. “Aku dengar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status