LOGIN“Ada apa? Kamu terlihat muram.”
Rara mengangkat pandangannya ke Jefri. Pria itu menatapnya dengan satu alis terangkat, terlihat penasaran. Tangannya sibuk melepaskan kancing jasnya.
Jefri baru pulang beberapa menit lalu. Sejam setelah Hani naik ke kamarnya, pria itu pulang ke rumah.
“Om kurang tidur ya akhir-akhir ini?”Leo tersentak. Mengalihkan pandangan ke Hani yang menatapnya khawatir. Ia berdehem sejenak dan tersenyum.“Kenapa tiba-tiba bertanya, nona?”“Soalnya kantong mata om keliatan tambah gelap,” balas Hani, “Terus wajah om juga keliatan lelah dan ngantuk banget! Jadi, aku rasa itu karena kurang tidur?”Leo meringis. Anak bosnya itu memang jeli seperti ayahnya. Ia memutar otak, mencari alasan yang tidak akan membocorkan rahasianya.“Saya dari kemarin sibuk mengecek dokumen proyek kita. Memastikan semuanya aman karena sebentar lagi waktunya peresmian.”Hani membulatkan mulutnya. Berkata oh panjang sambil mengangguk-angguk. Ia tidak lagi bertanya setelah itu, membuat Leo menghela napas lega.Alasan sebenarnya adalah karena ia sedang menjalankan misi rahasianya. Memantau hotel Amarose untuk memergoki keberadaan Merphilus dan Hani di sana. Leo akhirnya membulatkan tekad untuk mengikuti firasatnya. Bagaimana pun, ia merasa janggal karena Hani berubah muram s
“Ada apa? Kamu terlihat muram.”Rara mengangkat pandangannya ke Jefri. Pria itu menatapnya dengan satu alis terangkat, terlihat penasaran. Tangannya sibuk melepaskan kancing jasnya.Jefri baru pulang beberapa menit lalu. Sejam setelah Hani naik ke kamarnya, pria itu pulang ke rumah.Rara menghela napas pelan. Tangannya terulur untuk membantu Jefri membuka jasnya. Dari jarak sedekat ini, Jefri bisa melihat kantung mata istrinya semakin tebal.Ia mengelusnya pelan. “Sepertinya tidurmu semakin tidak teratur,” ucapnya, “Kamu khawatir dengan meeting besar nanti?”“Hm. Ya, lumayan.”
“Apa—”Hani menelan ludah sejenak.“Kenapa …. Menggunakan panggilan itu?” tanya Hani akhirnya berhasil menyelesaikan ucapannya itu.“Kenapa?”Merphilus mendekat lagi.“Bukankah panggilan itu terasa lebih intim?” bisik Merphilus, “Membayangkan dirimu menggunakannya saat terengah-engah di bawah saya—”“S-saya mengerti!” sela Hani sebelum ucapan Merphilus selesai. Wajahnya memerah padam.“Tapi …”
“Saya dengar nyonya Rara akan memberitahu strategi promosinya di meeting besar minggu depan.”Hani tersentak pelan. Menghentikan kegiatannya membuka kancing kemeja.Seminggu berlalu sejak pertemuan di kantor Jefri itu. Sudah waktunya bagi mereka untuk melaksanakan jadwal lagi.Seperti biasa, mereka datang ke hotel yang sudah menjadi basecamp keduanya. Mereka hampir datang secara bersamaan, makanya kini tengah bersiap bersama dengan saling membelakangi.Atau lebih tepatnya, hanya Hani yang membelakangi. Ia refleks melakukannya. Entah kenapa.Padahal Merphilus juga sudah sering melihatnya membuka baju. Bahkan, tak jarang pria itu yang melepa
Hani menghela napas panjang. Tubuhnya terasa lemah dan lemas sekarang. Juga terasa kaku dan sakit.Mungkin keputusan bodoh untuk melakukan hubungan ranjang semalaman suntuk.Ia tidak akan melakukannya lagi!“Anda tidak apa-apa?”Hani menoleh ke samping. Menatap Leo yang berjalan di sebelahnya. Mereka sudah sampai di hotel Diamond dan sekarang tengah menuju kantor Jefri. Masih ada 15 menit lagi sebelum meeting dimulai.“Tidak apa-apa. Aku cuma kelelahan karena terburu-buru tadi,” ringis Hani.“Apa saya perlu membopong anda?”“Apa? Tidak usah!” seru Hani cepat dengan mata membelalak. Ia buru-buru menjauh dari Leo, takut pria itu akan melakukannya beneran.Leo tertawa, “Saya hanya bercanda.”Hani melotot. Menatap kesal Leo yang justru semakin tertawa.Tapi, tunggu. Pria itu baru mengajaknya bercanda tadi? Tiba-tiba?!Perasaan Hani seketika bercampur aduk. Ia merasa senang sekaligus lega karena hubungannya kembali membaik dengan Leo.Tapi, di sisi lain, ia juga merasa was-was. Khawatir Leo
Napas Hani memburu kencang. Kepalanya terkulai jatuh di atas kasur. Lemas karena habis mencapai pelepasannya.Di belakangnya, Merphilus ikut menjatuhkan badannya ke atas punggung Hani. Meski ia masih menopang dirinya dengan satu tangan. Napas pria itu juga memburu sebelum tertawa rendah.“Apa anda sudah tidak frustasi lagi sekarang?” tanyanya, “Atau kita perlu melakukannya lagi?”Hani tidak menjawab. Ia justru semakin menyembunyikan wajahnya di atas kasur. Tapi, Merphilus bisa melihat telinga perempuan itu memerah, menandakan dirinya sedang malu.Merphilus mendengus geli.“Tapi, sayang sekali kita tidak bisa melakukannya lagi.&
“Om gila ya?!” bisik Rara sambil memundurkan wajahnya. Ia memelototkan matanya ke Jefri yang kini tersenyum geli.Sialan! Pria itu mempermainkannya ternyata! Sejak kapan ia suka menggoda seperti ini?
Pesta akhirnya berakhir. Meskipun begitu, suasana di aula masih riuh. Banyak tamu yang belum pulang dan masih mengobrol dengan sesama.Karena Rara bagian mengembalikan piring-piring kotor ke dapur, ia sudah mulai bergerak untuk bekerja meski aula masih ramai. Bersama beberapa staf lainnya, mereka b
Rara memejamkan matanya ketika bibir Jefri kembali menempel. Sama seperti sebelumnya, lidah Jefri kembali menyapu bibir Rara, meminta perizinan untuk masuk ke dalamnya. Rara membuka mulutnya ragu-ragu. Lidah Jefri seketika masuk ke dalam. Ia menyapu seisi mulut Rara, mulai dari langit-langitnya, d
Hembusan napas hangat Jefri yang menggelitik telinga Rara membuat tubuh perempuan itu bergetar. Ada gejolak aneh yang ia rasakan di perutnya. Terasa seperti mulas tapi tidak juga. Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. “Om, jangan aneh-aneh,” ucap Rara pelan set







