Home / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 15: Mereka Cocok, Kan?

Share

CHAPTER 15: Mereka Cocok, Kan?

Author: Heiho
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-17 13:06:05

Tunangan?

Ucapan Maya membuat telinga Rara seketika berdenging. Suara riuh para tamu terasa samar di telinganya seiring matanya fokus mengikuti langkah Rachel menuju Jefri.

Jefri menyapanya ramah. Bahkan, Hani juga ikut menyapanya dengan ramah. Mereka terlihat mengobrol hangat dan saling tertawa.

Benar-benar terlihat seperti keluarga yang hangat.

Rara merasakan hatinya berdenyut sakit. Tapi, karena apa? Apa ia iri dengan kebersamaan yang terlihat seperti keluarga itu, yang tidak pernah ia ras
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 222: Khawatir

    “Jangan lupa untuk datang ke pesta awal tahun, Tuan Merphilus,” ucap Jefri, “Hani sudah mengundang anda, kan?”Merphilus mengangguk. Ia menghentikan langkahnya begitu mereka sampai di pintu lobi. Mobil jemputannya belum datang.“Saya pasti akan datang. Kalau tidak, kasian Nona Hani jadi sendiri, kan?” ucap Merphilus sambil menatap Hani di sebelah Jefri. Nadanya seperti biasa terdengar mengejek.Jefri tertawa, sementara Hani mengerutkan wajahnya masam. Padahal moodnya masih belum pulih karena masalah sebelumnya, tapi Merphilus malah membuat moodnya semakin turun!Mobil Merphilus tak lama datang ke depan lobi. Liam yang sedari tadi mengikuti Merphilus dari belakang segera berjalan mendekati mobil untuk membukakan pintu. “Kalau begitu, saya pamit dulu,” ucap Merphilus sambil mengulurkan tangannya.Jefri membalas jabat tangannya, “Hati-hati di jalan, Tuan. Semoga kita bisa segera makan bersama di lain waktu.”Merphilus meng

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 221: Melihatnya Lagi

    “Saya sudah meluruskan masalah om Leo.”Merphilus menoleh ke Hani yang berdiri di sebelahnya. Ia kemudian melirik Leo yang sedang menyiapkan layar proyektor bersama Liam, tidak jauh dari mereka.Merphilus tersenyum miring, “Sepertinya begitu. Melihat dia tidak menatap seram lagi sekarang.”Ia kembali menatap Hani. “Kerjamu bagus.”Hani mendengus. Ia tidak tahu Merphilus beneran memuji atau mengejeknya sekarang. Tapi, setidaknya dia sudah menyampaikannya.Ia bisa benar-benar tenang sekarang. “Apa anda gugup hari ini?”Hani tidak segera menjawab. Ia menatap kesibukan para staf hotel yang sedang mempersiapkan meeting besar hari ini. Sesuai kesepakatan di pertemuan kemarin, Jefri memutuskan untuk mengadakan meeting besar dua hari setelah pertemuan Hani dengan Merphilus. Meeting dilaksanakan di ruang meeting yang berada di hotel Diamon.Ruang meeting itu cukup besar sehingga kemungkinan cukup unt

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 220: Berhati-Hati

    “Om masih curiga sama Tuan Merphilus?”Leo tidak segera menjawab. Tapi, cengkramannya di kemudi semakin erat. Ia melirik Hani dari kaca spion tengah. “Apa maksud Nona?” tanyanya pelan. Hani menelan ludah. Apa Leo sekarang sedang berpura-pura tidak paham? Hani menarik napas sejenak.“Tadi aku melihat tatapan om menyeramkan saat aku mengobrol dengan Tuan Merphilus,” jawab Hani hati-hati, “Jadi, aku berpikir om masih curiga dan was-was tiap Tuan Merphilus bersamaku karena kejadian aku menangis waktu itu.”Leo menghela napas pelan. Sepertinya ucapan Hani tepat sasaran melihat reaksi Leo seperti ini. “Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar menyesal sudah bersikap tidak sopan,” desah Leo, “Tapi, entah kenapa, saya memang tidak bisa berhenti was-was. Tiap melihat Nona bersama Tuan Merphilus, saya langsung teringat dengan kejadian Nona menangis itu.”“Saya benar-benar minta maaf,” ucap Leo lagi dengan nada menyesal.Ha

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 219: Sia-Sia

    “Jadi, tugas utama kita sekarang adalah presentasi di acara pesta itu?” tanya Merphilus yang dijawab anggukan Hani. “Baiklah. Catat itu, Liam,” suruh Merphilus sambil melirik Liam di sampingnya.“Baik, pak,”Merphilus menatap kembali dokumen di tangannya. “Lalu, kapan dilaksanakan meeting besar itu?” tanyanya lagi tanpa mengangkat wajahnya. “Jadwalnya akan menyusul. Tapi, kemungkinan akan dilaksanakan dalam 2-3 hari lagi,” balas Hani. Merphilus mengangguk. Ia lanjut membaca isi dokumen itu. Hani menghela napas pelan. Pertemuan hari ini berjalan lancar lagi. Sepertinya, ia sudah mulai cukup terbiasa melakukan pertemuan seperti ini. Ia bisa menjelaskan lebih baik dari terakhir kali. Meski sesekali masih kebingungan menjelaskan.Mungkin, ini karena Merphilus juga sudah memberikan ruang yang nyaman untuknya. Sama seperti awal pertemuan, pria itu juga sekarang tidak menertawakan atau mengejeknya tiap dia salah bicara. Pria itu bahkan terkesan menghormatinya, seolah mereka adalah rek

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 218: Kalian Dekat, kan?

    “Hah?! Kenapa tiba-tiba begitu?!” seru Hani tak terima, “Lagian, bukannya pesta itu tidak ada?”Jefri mendengus, “Mana mungkin tidak ada. Itu kan pesta penting. Kamu tidak lupa kalau pesta itu juga bertujuan untuk mengetahui proyek setahun ke depannya?”“Tentu saja aku ingat,” dengus Hani.Pertanyaan Hani itu sebenarnya berdasarkan rumor para staf juga. Ia sempat mendengar para staf saling bergosip tentang keberlangsungan pesta itu.Hal yang dimaklumi mengingat sekarang sudah jauh dari agenda pesta awal tahun biasanya.“Pestanya hanya diundur, nona,” jelas Leo yang membuat Hani menoleh padanya, “Pak direktur sengaja mengundurnya karena kemarin ingin fokus dengan pernikahannya bersama Nona Rara.”Hani mendengus. Memang enak ya jadi direktur. Bisa mengatur seenaknya saja. . “Tapi, tetap saja ayah lagi-lagi bicara mendadak seperti ini,” desah Hani. Ia bersedekap. “Tuan Merphilus juga pasti protes kalau tiba-tiba begini.”“Karena itu, sudah jadi tugasmu untuk membuatnya tidak marah,” uca

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 217: Sekali Saja

    “Selamat pagi, Rara.” Rara melenguh pelan saat merasakan kecupan di sekujur wajahnya. Ia perlahan membuka mata dan melihat Jefri tersenyum di depannya. “Pagi, mas,” sapanya dengan suara serak. Ia berdehem sejenak karena merasakan tenggorokannya tidak enak. Jefri melebarkan senyumnya. “Biar mas ambilkan minum,” ucapnya lalu mengambil gelas di atas nakas. Pria itu lalu membantu Rara untuk duduk. Tangannya yang lain menopang punggung Rara. Setelah posisi Rara pas, Jefri segera mengarahkan gelas itu ke mulut Rara. Membantunya untuk minum perlahan. “Kamu berteriak terlalu keras semalam,” ucap Jefri geli. Wajah Rara memerah. Kembali teringat dengan kejadian semalam. Ia menggeleng-geleng. “Jangan dibahas,” ucapnya malu. Jefri tertawa geli. Ia menyenderkan wajahnya ke kepala Rara. “Tapi, semalam kamu memang berteriak lebih kencang dari biasanya,” ucap Jefri melanjutkan, tidak memedulikan peringatan Rara barusan. “Apa semalam lebih enak dari biasanya?” “A-aku nggak mau bahas,”

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 88: Pesan dari Hani

    “Jadi, kau mau bicara apa?”Septa menatap tajam Rachel yang memerhatikan jam tangannya dengan tak acuh, seolah tak sabaran untuk pergi. Pemandangan itu membuat alis Septa mengernyit. Padahal, mereka baru bisa bertemu setelah beberapa hari berlalu dari kejadian artikel itu. Rach

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 94: Jefri Menemui Rachel

    Rachel bersenandung riang melihat artikel yang ia baca. Sudah kesekian kali Rachel membaca artikel yang menjelekkan Rara terkait gosip lalu, tapi ia rasanya tidak pernah bosan untuk membacanya. Hal ini juga semakin bagus untuknya karena artikel dengan topik sama tak berhenti muncul. “Semoga hal

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 85: Pertemuan Kembali

    “Om cuma mau sama kamu, Ra!”“Apa?” Rara rasanya linglung mendengar ucapan Jefri. Kepalanya terasa mengawang-awang. “Berhubungan … maksud om berhubungan sex, kan?” “Bukan!”Jefri menghela napas kencang membuat Rara berjengit kaget. Ia mengerjap-ngerjapkan mata kebingungan saat Jefri menundukkan k

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 84: Hanya Kamu

    “Resepsionis tadi memberitahu kalau paman-paman anda datang kesini,” ucap Leo ketika Jefri baru memasuki ruang kerja di hotel Diamond. Ruang kerja di hotel itu memang menjadi tempat kerja utamanya. Jefri menghela napas, “Apa kata mereka?” tanyanya sambil berjalan menuju meja kerjanya. “Mereka men

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status