LOGIN“Kamu sedang menunggu tuan Jefri?”Rara yang sedang berdiri bersandar di bingkai pintu, menoleh ke belakang. Alisnya seketika mengerut melihat Sandra berpakaian rapih. “Mau keluar?” tanya Rara. Sandra mengangguk. “Aku ingin mengambil barang dari temanku sebentar,” jawabnya, “Jadi, apa tebakanku benar? Kamu sedang menunggu tuan Jefri?”Rara memerhatikan tatapan menyelidik Sandra. Ia kembali menoleh keluar dan menggelengkan kepala. “Aku hanya memerhatikan para tamu yang pergi tadi,” ucap Rara pelan, “Mereka tidak terlihat sangat senang ingin merayakan tahun baru,”Sandra menelan ludah. Ia merasa iba mendengar jawaban Rara. Sandra tahu kalau ia keterlaluan karena tidak membolehkan Rara merayakan tahun baru bersama Jefri padahal mereka keluarga. Tapi, ia juga tidak bisa melepas kekhawatiran Jefri akan melakukan sesuatu padanya. Ini semua demi Rara. “Aku tidak akan pergi lama,” ucap Sandra. Ia lalu mel
Rara termangu mendengar ucapan Sandra. Tidak menyangka wanita yang dia anggap kakak akan berkata seperti itu.Bukankah ini sudah terlalu parah?Rara menggigit bibirnya. Ia membalas sengit tatapan Sandra. “Bukankah kakak terlalu berpikiran buruk ke om Jefri?” tanya Rara, “Dia selama ini sudah menolong kakak. Tapi, kakak malah membalasnya seperti ini?”Rara menaikkan nada suaranya, “Lagipula om Jefri juga tidak mungkin akan melakukan sesuatu padaku selama ada kakak!”“Ra, kamu terlalu dicuci otak olehnya!” seru Sandra, “Semua orang juga berpikiran sama denganku kalau melihat perilakunya padamu!”“Dan kamu tadi bilang kalau dia tidak akan melakukan apa pun selama ada aku?”Sandra mengerutkan wajahnya masam.“Kamu tidak ingat dia sangat bersikeras untuk pergi bersamamu ke acara kembang api sampai ingin memberikan pekerja padaku?! Dia terobsesi padamu, Ra!”Rara menghela napas. Ia menggeleng-gelengkan kepal
“Kenapa?” tanya Jefri dengan nada agak datar, “Rara sudah lama tidak libur. Jadi, harusnya dia diperbolehkan untuk mendapatkannya, kan?”Sandra menyipitkan matanya. Ia mengangkat dagunya, menantang Jefri yang menatapnya dingin. “Kami kekurangan pekerja. Bukankah anda sendiri tahu itu?” desis Sandra. “Hmm,” Jefri terlihat berpikir sejenak. Ia bergumam pelan, “Kekurangan pekerja, ya?”Pria itu lalu tersenyum lebar, “Saya bisa memberikan pekerja untuk menggantikan Rara,”“Apa?” Sandra terbelalak. Ia menatap Jefri tidak percaya. Pria itu sangat bersikeras!“Pekerja saya ada banyak. Saya bisa mentransfer beberapa kesini. Anda bebas mau berapa,” Jefri mengangkat bahunya santai. Sandra ternganga. Pria itu gila! Ia benar-benar melakukan apa pun agar bisa pergi bersama Rara!“Om, sudahlah,” Rara mendesah, “Aku ini karyawan kak Sandra. Kalau kak Sandra bilang tidak boleh, aku akan menurutinya,”“Tapi, kamu ter
[Tapi, om tidak mungkin melakukan itu, kan?] Jefri menyeringai membaca pesan di ponselnya tersebut. Matanya berkilat-kilat. Ini kesempatan yang bagus. [Apa menurutmu om bisa melakukan hal seperti itu?] Jefri lanjut mengetik pesan lainnya dengan cepat. [Kamu sudah mengenal om sejak lama. Apalagi, kita pernah berhubungan lebih dekat dulu. Tidak mungkin kamu percaya dengan kata-kata orang asing yang tidak mengenal om dengan baik, kan?] Jefri memandang pesan yang dikirimnya sejenak. Ia menyeringai lebih lebar saat melihat Rara sudah membacanya. Pria itu lanjut mengetik. [Om percaya kamu tidak akan terjatuh semudah itu] Mata Jefri berkilat puas melihat Rara sudah membaca pesan keduanya itu. Ia mematikan ponsel lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Pria itu tertawa pelan dengan nada rendah. Akhirnya waktu pembalasan sudah tiba. Selama ini, Jefri tahu Sandra sengaja mengirim Rara keluar agar tidak bertemu dengannya. Dan sialnya, hal itu bertepatan dengan Jefri juga sibuk meng
“Kenapa kakak tiba-tiba di sini? Bukannya tadi tidur?” tanya Rara kebingungan. Raut wajah Sandra bertambah masam membuat Rara terhenyak. Baru kali ini ia melihat Sandra seperti itu! Apa yang terjadi padanya? “Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Sandra dingin, “Kenapa kamu masuk ke dalam kamarnya?” “Itu–” “Selamat malam, nona Sandra,” Sandra mendelik cepat ke Jefri yang tersenyum ringan. Wajahnya terlihat santai meski sorot wajah Sandra kini menggelap saat melihatnya. “Rara tadi ingin mengambil piring bekas makan saya tadi. Jadi, saya membiarkannya masuk ke dalam,” balas Jefri. “Apa?” Sandra kembali menatap tajam Rara, “Benarkah itu?” Rara mengangguk-angguk cepat. Ia menelan ludah saat ekspresi Sandra belum berubah. “Om Jefri tidak bohong, kak. Aku memang sedang mengumpulkan piring-piring kotor,” jelas Rara, “Kakak bisa lihat di troli, kan? Aku melakukannya karena tadi kakak belum mengambilnya,” Sandra melihat ke arah troli. Memang benar di sana ada tumpukan piring-piring koto
“Biar aku yang mengantar makan siangnya. Kamu pergi belanja saja,” celetuk Sandra ketika Rara bersiap mendorong troli makan. Rara menoleh ke Sandra. Ia menggeleng, “Aku lagi yang keluar?” “Iya, apa ada masalah?” Rara menggeleng, “Tidak, sih. Baiklah kalau begitu aku akan pergi setelah mengantarkan makan,” “Sudah aku bilang aku saja. Kamu pergi belanja sekarang saja, nanti keburu makin panas,” Rara menghela napas. Ia akhirnya melepaskan troli tersebut yang segera direbut Sandra. Wanita itu segera membawanya keluar di bawah tatapan Rara. Sudah beberapa hari ini Sandra terus menyuruhnya untuk melakukan keperluan di luar. Entah berbelanja, mengambil barang, atau berbagai hal lainnya. Rara sebenarnya sama sekali tidak merasa keberatan. Tapi, ia merasa jadi kurang membantu Sandra di motel. Padahal, mereka sudah sangat sibuk karena kamar motel penuh semua. Hal ini karena seminggu lagi adalah tahun baru. ‘Mungkin aku harus meminta kak Sandra untuk tidak membuatku keluar terus,’ ba
Sandra mengerutkan alis bingung, “Tunggu, Ra. Biar aku cek dulu–”“Tidak usah! Sebaiknya tetap beli untuk jaga-jaga, kan?” potong Rara lagi, “Mencegah itu lebih baik, kan?”Rara lalu menoleh ke Jefri. “Om, tolong bantu kak Sandra benerin atap, ya!”“Apa?” tany
“Rara!” seru Sandra begitu Rara memasuki kantor. Wanita itu segera berjalan mendekatinya. Ia tersentak saat melihat tubuh Rara basah kuyup.“Dasar nakal! Kamu menerobos hujan?!” seru Sandra sambil memelototkan matanya. Rara meringis. Baru saja ia tadi dimarahi Jefri, tapi sekar
[Aku sudah menemukan informasi kalau om Leo tidak memberitahukan pertemuan kalian ke ayah. Jadi, tidak usah khawatir!]Rara menghela napas lega usai membaca pesan Hani. Tapi, di sisi lain, ia juga merasa penasaran dengan cara Hani mencari tahunya. Sahabatnya itu tidak bertanya langsung, kan?Rara
“Apakah om mau menjadi pasanganku di acara dansa nanti?”“Apa?”Perasaan Hani berubah resah ketika melihat Leo terkejut. Apa pria itu akan menolaknya? Atau ucapannya kurang jelas?Ragu-ragu, Hani kembali berkata, “Aku pingin om jadi pasangan dansaku di acara nanti,”Kali ini, Leo harusnya mendengar







