Masuk“Kenapa?” tanya Jefri dengan nada agak datar, “Rara sudah lama tidak libur. Jadi, harusnya dia diperbolehkan untuk mendapatkannya, kan?”Sandra menyipitkan matanya. Ia mengangkat dagunya, menantang Jefri yang menatapnya dingin. “Kami kekurangan pekerja. Bukankah anda sendiri tahu itu?” desis Sandra. “Hmm,” Jefri terlihat berpikir sejenak. Ia bergumam pelan, “Kekurangan pekerja, ya?”Pria itu lalu tersenyum lebar, “Saya bisa memberikan pekerja untuk menggantikan Rara,”“Apa?” Sandra terbelalak. Ia menatap Jefri tidak percaya. Pria itu sangat bersikeras!“Pekerja saya ada banyak. Saya bisa mentransfer beberapa kesini. Anda bebas mau berapa,” Jefri mengangkat bahunya santai. Sandra ternganga. Pria itu gila! Ia benar-benar melakukan apa pun agar bisa pergi bersama Rara!“Om, sudahlah,” Rara mendesah, “Aku ini karyawan kak Sandra. Kalau kak Sandra bilang tidak boleh, aku akan menurutinya,”“Tapi, kamu ter
[Tapi, om tidak mungkin melakukan itu, kan?] Jefri menyeringai membaca pesan di ponselnya tersebut. Matanya berkilat-kilat. Ini kesempatan yang bagus. [Apa menurutmu om bisa melakukan hal seperti itu?] Jefri lanjut mengetik pesan lainnya dengan cepat. [Kamu sudah mengenal om sejak lama. Apalagi, kita pernah berhubungan lebih dekat dulu. Tidak mungkin kamu percaya dengan kata-kata orang asing yang tidak mengenal om dengan baik, kan?] Jefri memandang pesan yang dikirimnya sejenak. Ia menyeringai lebih lebar saat melihat Rara sudah membacanya. Pria itu lanjut mengetik. [Om percaya kamu tidak akan terjatuh semudah itu] Mata Jefri berkilat puas melihat Rara sudah membaca pesan keduanya itu. Ia mematikan ponsel lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Pria itu tertawa pelan dengan nada rendah. Akhirnya waktu pembalasan sudah tiba. Selama ini, Jefri tahu Sandra sengaja mengirim Rara keluar agar tidak bertemu dengannya. Dan sialnya, hal itu bertepatan dengan Jefri juga sibuk meng
“Kenapa kakak tiba-tiba di sini? Bukannya tadi tidur?” tanya Rara kebingungan. Raut wajah Sandra bertambah masam membuat Rara terhenyak. Baru kali ini ia melihat Sandra seperti itu! Apa yang terjadi padanya? “Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Sandra dingin, “Kenapa kamu masuk ke dalam kamarnya?” “Itu–” “Selamat malam, nona Sandra,” Sandra mendelik cepat ke Jefri yang tersenyum ringan. Wajahnya terlihat santai meski sorot wajah Sandra kini menggelap saat melihatnya. “Rara tadi ingin mengambil piring bekas makan saya tadi. Jadi, saya membiarkannya masuk ke dalam,” balas Jefri. “Apa?” Sandra kembali menatap tajam Rara, “Benarkah itu?” Rara mengangguk-angguk cepat. Ia menelan ludah saat ekspresi Sandra belum berubah. “Om Jefri tidak bohong, kak. Aku memang sedang mengumpulkan piring-piring kotor,” jelas Rara, “Kakak bisa lihat di troli, kan? Aku melakukannya karena tadi kakak belum mengambilnya,” Sandra melihat ke arah troli. Memang benar di sana ada tumpukan piring-piring koto
“Biar aku yang mengantar makan siangnya. Kamu pergi belanja saja,” celetuk Sandra ketika Rara bersiap mendorong troli makan. Rara menoleh ke Sandra. Ia menggeleng, “Aku lagi yang keluar?” “Iya, apa ada masalah?” Rara menggeleng, “Tidak, sih. Baiklah kalau begitu aku akan pergi setelah mengantarkan makan,” “Sudah aku bilang aku saja. Kamu pergi belanja sekarang saja, nanti keburu makin panas,” Rara menghela napas. Ia akhirnya melepaskan troli tersebut yang segera direbut Sandra. Wanita itu segera membawanya keluar di bawah tatapan Rara. Sudah beberapa hari ini Sandra terus menyuruhnya untuk melakukan keperluan di luar. Entah berbelanja, mengambil barang, atau berbagai hal lainnya. Rara sebenarnya sama sekali tidak merasa keberatan. Tapi, ia merasa jadi kurang membantu Sandra di motel. Padahal, mereka sudah sangat sibuk karena kamar motel penuh semua. Hal ini karena seminggu lagi adalah tahun baru. ‘Mungkin aku harus meminta kak Sandra untuk tidak membuatku keluar terus,’ ba
‘Wanita itu memang bukan tunangannya,’ batin Hani sambil bolak-balik melihat database di depan layar komputernya. Sedari datang ke kantor, ia langsung membuka database para staf hotel dan memerhatikan satu-satu foto para staf di sana. Mencari sosok wanita yang semalam bersama Leo. Meski kemarin ia sudah mengetahui acara yang didatangi Leo itu adalah reuni bersama teman SMAnya, tapi Hani ingin lebih memastikannya lagi. Dan hasilnya nihil. Tidak ada satu pun foto yang sesuai perawakan wanita kemarin di database staf Hani menghela napas lega. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengusap seluruh wajahnya dengan kedua tangan. Sudah Hani duga, ia terlalu terpengaruh omongan Septa. Memang sebaiknya ia memercayai instingnya sendiri. Pintu kantornya diketuk. Tak lama, Leo muncul dari sana. Ia mengangkat alisnya melihat Hani duduk kelelahan di atas kursi. “Apa yang habis anda lakukan, nona?” tanya Leo sambil berjalan mendekat. Ia mengintip ke layar komputer Hani. “Anda sedang m
“Maksud kakak apa?” Rara berusaha tertawa, “Itu cuma candaan garing om Jefri aja, kok!” “Hmm, entahlah. Tapi, rasanya tidak seperti itu,” Sandra mengangkat bahunya sambil memasang wajah sangsi. Apa yang terjadi dengan Sandra? Biasanya dia hanya tertawa dan menerima info tentang Jefri dengan senang hati. Tapi, kali ini …. Ia terdengar seperti tengah menjelekkan Jefri? ‘Mana mungkin seperti itu,’ tepis Rara menyangkal pemikiran di benaknya itu. Sandra sangat menyukai Jefri. Hubungan mereka juga lebih baik, walaupun Rara tidak yakin tentang hal itu. Tapi intinya, tidak mungkin Sandra menjelek-jelekkan Jefri, kan? Ketika Rara tengah sibuk berpikir, Sandra justru menatap Rara dengan tatapan kasihan. Ah, Rara yang malang. Dia sama sekali belum sadar kalau sedang menjadi korban dari Jefri. Ia bahkan tidak bisa memahami makna dari balik kalimat Jefri tadi! Sudah waktunya Sandra menyadarkan perempuan itu pelan-pelan. “Apa dia suka membuat candaan seperti itu?” tanya Sandra
“Mana mungkin!’ Rara tertawa kaku, “Kalau pun bener karena aku, pasti karena–” ‘Karena dia sudah melampiaskan hasratnya padaku’ batin Rara yang tak ia suarakan. Wajahnya memerah, terlalu malu dengan isi pikirannya sendiri. Tapi, pasti benar begitu, kan?
Rachel bersenandung riang melihat artikel yang ia baca. Sudah kesekian kali Rachel membaca artikel yang menjelekkan Rara terkait gosip lalu, tapi ia rasanya tidak pernah bosan untuk membacanya. Hal ini juga semakin bagus untuknya karena artikel dengan topik sama tak berhenti muncul. “Semoga hal
“Om cuma mau sama kamu, Ra!”“Apa?” Rara rasanya linglung mendengar ucapan Jefri. Kepalanya terasa mengawang-awang. “Berhubungan … maksud om berhubungan sex, kan?” “Bukan!”Jefri menghela napas kencang membuat Rara berjengit kaget. Ia mengerjap-ngerjapkan mata kebingungan saat Jefri menundukkan k
“Jadi, kau mau bicara apa?”Septa menatap tajam Rachel yang memerhatikan jam tangannya dengan tak acuh, seolah tak sabaran untuk pergi. Pemandangan itu membuat alis Septa mengernyit. Padahal, mereka baru bisa bertemu setelah beberapa hari berlalu dari kejadian artikel itu. Rach







