Home / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 183: Melarikan Diri

Share

CHAPTER 183: Melarikan Diri

Author: Heiho
last update publish date: 2026-04-08 19:07:32

“Bagus banget!”

Hani menatap terpesona pemandangan di depannya. Matanya berbinar-binar. Ia tidak menyangka rooftop hotel ini akan begitu indah!

Ada meja-meja kayu di sana yang sebagian sudah diduduki oleh orang-orang. Di depan barisan meja itu, terdapat sebuah panggung kecil. Seseorang tengah memainkan piano di sana, menampilkan lagu-lagu klasik yang menentramkan hati.

Tempat ini benar-benar pas untuk menjalankan rencananya! Belum lagi dengan pemandangan langit malam yang memanjakan mata.

Han
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 183: Melarikan Diri

    “Bagus banget!”Hani menatap terpesona pemandangan di depannya. Matanya berbinar-binar. Ia tidak menyangka rooftop hotel ini akan begitu indah!Ada meja-meja kayu di sana yang sebagian sudah diduduki oleh orang-orang. Di depan barisan meja itu, terdapat sebuah panggung kecil. Seseorang tengah memainkan piano di sana, menampilkan lagu-lagu klasik yang menentramkan hati. Tempat ini benar-benar pas untuk menjalankan rencananya! Belum lagi dengan pemandangan langit malam yang memanjakan mata. Hani menoleh ke Leo yang ada di sebelahnya. Pria itu juga terlihat kagum dengan desain rooftop ini. Matanya menelisik kesana-kemari dengan antusias. Penampilan pria itu terlihat sangat menawan malam ini. Jas beludru biru dongker membalut tubuhnya berpadu dengan warna celananya yang senada. Rambutnya dibuat klimis seperti waktu itu. Meski yang sekarang lebih rapih. Benar-benar pemandangan yang indah. Lebih indah dari pemandangan di rooftop. ‘Rasanya seperti diberkahi,’ batin Hani berdebar. Rasan

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 182: Terjebak

    Sepuluh menit setelah Rara pergi dari kamarnya, Bima menelpon. Ia ingin memesan teh hangat untuk membantunya tidur. Rara masih menyanggupinya dengan ringan. Bima juga terlihat merasa bersalah karena telah mengganggu Rara, jadi Rara berusaha mengabaikan itu. Tapi, setelahnya, Bima tidak berhenti mengganggunya. Ia akan menelpon Rara tiap sepuluh menit sekali lalu mengajukan permintaan yang berbeda-beda!Kali ini, Rara sangat yakin pria itu benar-benar aneh!Rara menghela napas ketika menelungkupkan dirinya di atas meja. Ia baru saja menerima permintaan Bima untuk yang kelima kalinya. Benar-benar melelahkan. “Kapan kak Sandra pulang?” gumam Rara. Ia tadi sempat mengirimkan pesan untuk Sandra, tapi tidak ada jawaban dari wanita itu. Apa dia ternyata pergi ke acara kembang api itu?Rara menghela napas panjang. Jefri juga belum kembali. Tadi saat Rara bertanya lewat pesan, pria itu bilang masih ada kesibukan di hotelnya. Tapi, akan berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin.RIII

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 181: Tamu Aneh

    “Kamu sedang menunggu tuan Jefri?”Rara yang sedang berdiri bersandar di bingkai pintu, menoleh ke belakang. Alisnya seketika mengerut melihat Sandra berpakaian rapih. “Mau keluar?” tanya Rara. Sandra mengangguk. “Aku ingin mengambil barang dari temanku sebentar,” jawabnya, “Jadi, apa tebakanku benar? Kamu sedang menunggu tuan Jefri?”Rara memerhatikan tatapan menyelidik Sandra. Ia kembali menoleh keluar dan menggelengkan kepala. “Aku hanya memerhatikan para tamu yang pergi tadi,” ucap Rara pelan, “Mereka tidak terlihat sangat senang ingin merayakan tahun baru,”Sandra menelan ludah. Ia merasa iba mendengar jawaban Rara. Sandra tahu kalau ia keterlaluan karena tidak membolehkan Rara merayakan tahun baru bersama Jefri padahal mereka keluarga. Tapi, ia juga tidak bisa melepas kekhawatiran Jefri akan melakukan sesuatu padanya. Ini semua demi Rara. “Aku tidak akan pergi lama,” ucap Sandra. Ia lalu mel

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 180: Harapan Hani

    Rara termangu mendengar ucapan Sandra. Tidak menyangka wanita yang dia anggap kakak akan berkata seperti itu. Bukankah ini sudah terlalu parah? Rara menggigit bibirnya. Ia membalas sengit tatapan Sandra. “Bukankah kakak terlalu berpikiran buruk ke om Jefri?” tanya Rara, “Dia selama ini sudah menolong kakak. Tapi, kakak malah membalasnya seperti ini?” Rara menaikkan nada suaranya, “Lagipula om Jefri juga tidak mungkin akan melakukan sesuatu padaku selama ada kakak!” “Ra, kamu terlalu dicuci otak olehnya!” seru Sandra, “Semua orang juga berpikiran sama denganku kalau melihat perilakunya padamu!” “Dan kamu tadi bilang kalau dia tidak akan melakukan apa pun selama ada aku?” Sandra mengerutkan wajahnya masam. “Kamu tidak ingat dia sangat bersikeras untuk pergi bersamamu ke acara kembang api sampai ingin memberikan pekerja padaku?! Dia terobsesi padamu, Ra!” Rara menghela napas. Ia menggeleng-gelengkan kepala. “Kan kakak sendiri yang bilang kalau kita kekurangan pekerja

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 179: Protektif

    “Kenapa?” tanya Jefri dengan nada agak datar, “Rara sudah lama tidak libur. Jadi, harusnya dia diperbolehkan untuk mendapatkannya, kan?”Sandra menyipitkan matanya. Ia mengangkat dagunya, menantang Jefri yang menatapnya dingin. “Kami kekurangan pekerja. Bukankah anda sendiri tahu itu?” desis Sandra. “Hmm,” Jefri terlihat berpikir sejenak. Ia bergumam pelan, “Kekurangan pekerja, ya?”Pria itu lalu tersenyum lebar, “Saya bisa memberikan pekerja untuk menggantikan Rara,”“Apa?” Sandra terbelalak. Ia menatap Jefri tidak percaya. Pria itu sangat bersikeras!“Pekerja saya ada banyak. Saya bisa mentransfer beberapa kesini. Anda bebas mau berapa,” Jefri mengangkat bahunya santai. Sandra ternganga. Pria itu gila! Ia benar-benar melakukan apa pun agar bisa pergi bersama Rara!“Om, sudahlah,” Rara mendesah, “Aku ini karyawan kak Sandra. Kalau kak Sandra bilang tidak boleh, aku akan menurutinya,”“Tapi, kamu ter

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 178: Larangan Sandra

    [Tapi, om tidak mungkin melakukan itu, kan?] Jefri menyeringai membaca pesan di ponselnya tersebut. Matanya berkilat-kilat. Ini kesempatan yang bagus. [Apa menurutmu om bisa melakukan hal seperti itu?] Jefri lanjut mengetik pesan lainnya dengan cepat. [Kamu sudah mengenal om sejak lama. Apalagi, kita pernah berhubungan lebih dekat dulu. Tidak mungkin kamu percaya dengan kata-kata orang asing yang tidak mengenal om dengan baik, kan?] Jefri memandang pesan yang dikirimnya sejenak. Ia menyeringai lebih lebar saat melihat Rara sudah membacanya. Pria itu lanjut mengetik. [Om percaya kamu tidak akan terjatuh semudah itu] Mata Jefri berkilat puas melihat Rara sudah membaca pesan keduanya itu. Ia mematikan ponsel lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Pria itu tertawa pelan dengan nada rendah. Akhirnya waktu pembalasan sudah tiba. Selama ini, Jefri tahu Sandra sengaja mengirim Rara keluar agar tidak bertemu dengannya. Dan sialnya, hal itu bertepatan dengan Jefri juga sibuk meng

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 22: Lagi-Lagi Terluka

    “Bohong,” ucap Rara dengan suara gemetar. Ia menurunkan tangannya yang memegang ponsel, tidak menyadari panggilannya sudah terhubung.“Kamu pasti bohong!”Maya mendengus geli. Senyum liciknya semakin terkembang. Ia mengambil ponselnya dari saku dan terlihat mencari sesuatu di sana. Tak lama, terden

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 17: Bukan Urusanmu

    “Om gila ya?!” bisik Rara sambil memundurkan wajahnya. Ia memelototkan matanya ke Jefri yang kini tersenyum geli.Sialan! Pria itu mempermainkannya ternyata! Sejak kapan ia suka menggoda seperti ini?

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 16: Keluarga Bahagia

    Pesta akhirnya berakhir. Meskipun begitu, suasana di aula masih riuh. Banyak tamu yang belum pulang dan masih mengobrol dengan sesama.Karena Rara bagian mengembalikan piring-piring kotor ke dapur, ia sudah mulai bergerak untuk bekerja meski aula masih ramai. Bersama beberapa staf lainnya, mereka b

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 30: TIdak Apa-Apa

    “Eh, pelan-pelan, Ra!”Rara menaruh gelas di meja kemudian mengusap bibirnya yang basah. Wajahnya memerah malu. Bisa-bisanya ia langsung bereaksi karena mendengar nama Rachel saja!“Sekaget itu?” kikik Septa, “Muka kamu kayak tomat sekarang!”Rara seketika melotot ke pria di sebelahnya. Itu semua k

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status