LOGINHani menghela napas resah. Untuk kesekian kalinya, ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
Akhirnya pagi ini tiba. Ia akhirnya bisa mengetahui tamu yang dimaksud ayahnya.
Tapi, bukan karena itu Hani uring-uringan sekarang. Ia merasa resah karena nanti bertemu Leo lagi!
![]()
Jawaban Hani itu menimbulkan berbagai reaksi.Jefri menyeringai puas. Rara meringis, sudah menyangka jawaban itu yang akan keluar. Tiara memelototkan matanya.Sementara Alexander, wajahnya seketika memerah. Terlihat kesal.“Berhenti bercanda seperti itu, Hani! Umurmu sudah 22 tahun!” seru Alexander membuat beberapa tamu menoleh ke arah mereka.“Sebentar lagi kamu menjadi pewaris. Jadi, sudah waktunya untukmu memikirkan keluarga agar ada pewaris selanjutnya!”Hani berdecak pelan. Orang ini benar-benar menyebalkan. Ia lebih tidak menyukainya dibanding Tiara.
“Selamat malam, Tuan Merphilus. Anda datang cepat, ya?”Senyuman Merphilus berubah dingin. Begitu juga dengan sorot matanya yang tadi sempat hangat.Hani merinding melihatnya. Ia tanpa sengaja meremas lengan Leo lebih erat, membuat mata Merphilus menyipit.“Ini acara saya. Tentu saja saya harus datang lebih cepat,” balas Merphilus ringan, “Bukan begitu, Nona Hani?”Hani tersentak. Kaget karena tiba-tiba Merphilus kembali mengarahkan percakapan padanya.Pria itu memang sepertinya sengaja menargetkan dirinya.Menarik napas pelan, Hani lalu membuka
Hani tertegun. Bibirnya bergerak-gerak, kesulitan untuk merangkai jawaban atas perkataan Leo barusan. Jantungnya berdebar kencang.Dengan gugup, ia akhirnya berkata pelan, “Om tadi bilang apa?”Leo menghela napas pelan, “Tuan Merphilus bilang ia sudah tidak sabar bertemu Nona lagi di acara Grand Opening nanti.”Ternyata ia tidak salah dengar.Tubuh Hani seketika meremang. Kepanikan melanda dirinya.Ternyata hari seperti ini memang akan datang.Sejak Hani mengungkapkan perasaannya ke Merphilus, ia langsung menutup kontaknya dengan pria itu. Pesan-pesan pria itu tak dibalas. Panggilannya juga.Hani tahu Merphilus pasti akan bertindak karena hal ini. Ia sudah mempersiapkan dirinya dari jauh-jauh hari. Mewanti-wanti kalau Merphilus datang tiba-tiba ke rumahnya.Tapi, hari demi hari berlalu. Merphilus tidak menunjukkan batang hidungnya sekali pun. Dan seolah mendukungnya, semesta juga tidak mempertemukan mereka sama sekali.Hani sudah merasa lega. Mungkin Merphilus akhirnya memutuskan untuk
“Anda belum pulang, Tuan Leo?” tanya Merphilus, memecah pembicaraan. Ucapannya terdengar ramah, tapi nada suaranya tidak mengenakkan di telinga Leo.“Saya habis dari toilet,” balas Leo tenang.“Ah, kalau begitu, Nona Hani juga di sana?”“Tidak. Beliau sudah menunggu di mobil.”Merphilus hanya ber-hm pelan untuk menanggapi. Ia melangkahkan kakinya lagi, hendak masuk ke toilet. Sebelum suara Leo kembali menghentikannya.“Apa yang terjadi antara anda dan Nona Hani?”Merphilus kembali menoleh padanya. Tatapannya menajam.“Apa maksud anda?” tanyanya rendah.Leo menarik napas sejenak. Ia menatap lurus Merphilus dengan tatapan yang tak kalah sengitnya.Dipikirkan bagaimana pun, ucapan Liam tadi terasa mengganjal baginya. Merphilus mengalami mood buruk sehari setelah meeting besar. Sama seperti Hani yang muram di waktu yang sama. Hani tidak muram sampai meeting selesai dan melakuka
“Pak direktur, Nona Hani dan Tuan Leo datang ke kantor.”Merphilus sontak mendongakkan kepalanya. Menghentikan aktivitas men-scroll ponselnya yang sedari tadi ia lakukan.Sudah beberapa hari ini, Liam mendapati bosnya itu suka bermain ponsel. Sebenarnya bukan hal yang aneh, mengingat Merphilus memang orang yang sibuk jadi sudah pasti banyak yang menghubunginya.Tapi, intensitasnya lebih tinggi dari biasanya. Dan ia hanya terlihat menscroll ponselnya sambil memasang wajah masam.Sekali waktu, Liam pernah tidak sengaja melihat layar ponselnya dan menemukan kolom pesan terpampang di sana. Itulah yang Merphilus sering lihat selama ini.Dengan kata lain, bosnya itu mungkin sedang menunggu pesan dari seseorang?Orang seperti apa yang membuat Merphilus begitu menantikan pesannya?Meski ia penasaran, tentu saja Liam tidak bisa menanyakannya. Pekerjaannya bisa langsung terancam.“Kenapa mereka tiba-tiba datang?” tanya Me
Hani bertambah muram. Itu yang Rara tangkap ketika melihatnya sekarang.Tapi … kenapa? Setelah meeting kemarin, dia masih terlihat baik-baik saja. Atau dia yang tidak memerhatikannya saja karena sibuk bertengkar dengan Jefri kemarin?‘Tidak. Aku yakin dia kemarin masih biasa saja,’ batin Rara meyakinkan dirinya. Ia menatap lamat-lamat Hani yang tengah berdiskusi dengan Jefri. Membahas kelanjutan programnya.Kemuraman itu sebenarnya tidak terlihat jelas di wajahnya. Hani berhasil menyembunyikannya dengan baik.Insting Rara lah yang mengatakan hal itu. Insting persahabatan selama bertahun-tahun. Haruskah ia mulai menanyakannya ke Hani? “Ada apa, nyonya Rara?”Rara tersentak. Kaget karena seseorang tiba-tiba menginterupsinya. Wanita itu segera menoleh dan melihat Leo menatapnya penasaran.“O-oh, kenapa tiba-tiba bertanya, om?” tanyanya tergagap. Masih dipenuhi rasa kaget.“Anda menatap nona Hani sangat serius,” balas Leo, “Apa ada sesuatu yang salah?”“Oh, tidak! Itu cuma—”Rara menela
“Ra?” “Om Jefri?” Rara menggeleng dan buru-buru mengoreksi ucapannya, “Pak direktur, selamat malam,” Rara membungkukkan badan sopan yang dibalas anggukan Jefri. Meski sebelum bekerja Jefri telah mewanti-wantinya untuk bebas memanggil dia dengan sebutan apa pun kalau mereka bertemu di hotel, tapi
Rasanya semua ini salah, batin Rara ketika teringat perbuatannya bersama Jefri selama beberapa hari terakhir.Sudah hampir seminggu berlalu sejak insiden di kamar mandi. Dan selama itu pula, Rara rut
Empat hari berlalu setelah briefing awal dengan manajer hotel Ruby. Rara kini mulai terbiasa dengan rutinitas pekerjaannya. Ia berusaha memanajemen waktunya sebaik mungkin antara bekerja dengan mengerjakan skripsinya. Selama empat hari itu pula, ia sudah menemukan teman di tempat kerjanya. Seorang
“Kamu selingkuh kan, Ra?” desis Satrio sambil menekan kedua tangannya di bahu Rara. Mata pria itu menatapnya nyalang, terlihat sangat menyeramkan seolah ia siap membunuh Rara jika perempuan itu salah bicara. “Aku nggak ngerti maksud kamu,” desis Rara balik. Tubuhnya sekarang sangat gemetar dan ja







