로그인[Nona Hani, di mana anda? Tolong angkat teleponnya][Maaf. Aku baru buka ponsel. Tadi aku habis berjalan-jalan di bazaar bersama temanku. Jangan khawatir, aku akan segera kembali setelah selesai!]Hani menghela napas ketika melihat jawaban Leo yang masih penuh kekhawatiran. Ia mematikan ponselnya dan meneguk gelas alkoholnya untuk yang keempat kali.Pergi ke bazaar? Hah! Yang benar saja. Ia justru sedari tadi sengaja tidak menjawab panggilan dan pesan Leo karena sedang menghindari pria itu!Setelah memergoki Leo dan tunangannya tadi, ia langsung berlari pergi dari hotel. Meski tidak tahu harus kemana, ia hanya berpikir untuk kabur sesegera mungkin.
Lamaran? Pria ini melamarnya? Tiba-tiba?Wajah Rara memerah padam. Jantungnya berdebar kencang.Tidak, tidak. Diingat-ingat, Jefri memang selalu mengutarakan keinginannya untuk hidup bersama Rara sejak kejadian Rachel selesai.Tapi, tetap saja, ini pertama kalinya pria itu terang-terangan melamarnya!Apa yang harus dia katakan sekarang?!‘Tenangkan dirimu, Ra,’ batin Rara, ‘Kamu hanya perlu menolaknya sekali lagi!’“A-aku kan sudah bilang dulu,” ucap Rara tergagap, “Aku ini tidak sepadan dengan om. A-aku juga menyusahkan om terus, jadi kita tida
Mata Rara terbuka lebar. Napasnya terengah-engah dan keringat mengalir di sekujur wajahnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia baru saja memimpikan kejadian bersama Bima tadi. Dan di mimpi itu, Bima berhasil melakukannya.Sangat menyeramkan.Rara mengatur napasnya, berusaha menenangkan dirinya. Setelah lebih tenang, ia samar-samar bisa mendengar suara kembang api dari kejauhan.Rara menoleh ke jendela besar yang ada di sampingnya. Ia bisa melihat kembang api meledak di langit-langit.Ternyata sudah tahun baru.Rara menghela napas pelan. Ia perlahan bangkit duduk. Alisnya mengerut melihat penampilannya sekarang. Sepertinya pakaiannya yang robek sudah diganti. Sekarang ia menggunakan kaos putih yang entah kenapa terlihat mahal.Rara beralih memandangi ruangan yang ditempatinya sekarang. Sangat megah.Tapi, ini di mana?CKLEK“Ternyata kamu sudah bangun,”Rara mengerjapkan mata melihat Jefri melangkah masuk. Pandangannya terus mengikuti Jefri hingga pria itu berdiri di sebelahnya.“Apa ad
[Maaf. Sepertinya saya sedikit terlambat. Saya perlu ke toilet] [Oke, om. Hati-hati tersesat :D] Hani tersenyum-senyum melihat Leo menjawabnya dengan emot tertawa. Membuatnya membayangkan tawa pria itu. Hani kembali mematikan ponselnya. Ia menarik napas. Baiklah, waktunya kembali latihan. Sedari tadi, Hani berlatih menyampaikan perasaannya ke Leo sembari menunggu pria itu. Meski latihan yang dimaksud hanyalah membayangkan adegan yang ingin dibuatnya nanti. Hani sudah banyak menonton film romantis untuk bahan belajarnya. Jadi, ia pasti tidak akan gagal sekarang! Tapi, 15 menit berlalu, Leo masih belum kembali. Sekarang pukul 23.45. Tersisa 15 menit lagi hingga acara kembang api dimulai. Hani menatap resah ponselnya. Ia tadi baru mengirim pesan ke Leo, tapi pria itu belum membalasnya. Bahkan membacanya saja belum! ‘Apa dia buang air besar?’ batin Hani mengira-ngira. Tapi, masa selama ini? Atau dia beneran tersesat? Rasanya tidak mungkin. Apa dia sebaiknya menyusulnya saja
“O-om Jefri?” cicit Rara. Jefri tidak mengubrisnya. Ia masih terus memukuli Bima yang berteriak kesakitan. Auranya terasa gelap dan menyeramkan. Seolah ia hendak membunuh Bima sekarang. “O-om! Berhenti!”Rara berusaha bangkit dan mendekati Jefri yang masih membelakanginya. “Om, jangan! Sadar, om!”Jefri tersentak ketika merasakan Rara memeluknya dari belakang. Gerakannya seketika terhenti. Di depannya, wajah Bima hampir tak berbentuk. Bahkan entah masih bernapas atau tidak.“Aku udah nggak apa-apa, om,” ucap Rara dengan suara gemetar. Ia mengeratkan pelukannya pada Jefri. “Aku nggak apa-apa,”Tapi, seakan mengkhianati dirinya, air mata Rara justru mengalir deras. Ia lalu terisak kencang ketika bayangan kejadian tadi melintasi benaknya. Kalau Jefri tidak datang tadi, mungkin Bima sudah menodai tubuhnya. Jefri segera berbalik badan. Ia memeluk Rara seerat mungkin membuat
“Bagus banget!”Hani menatap terpesona pemandangan di depannya. Matanya berbinar-binar. Ia tidak menyangka rooftop hotel ini akan begitu indah!Ada meja-meja kayu di sana yang sebagian sudah diduduki oleh orang-orang. Di depan barisan meja itu, terdapat sebuah panggung kecil. Seseorang tengah memainkan piano di sana, menampilkan lagu-lagu klasik yang menentramkan hati. Tempat ini benar-benar pas untuk menjalankan rencananya! Belum lagi dengan pemandangan langit malam yang memanjakan mata. Hani menoleh ke Leo yang ada di sebelahnya. Pria itu juga terlihat kagum dengan desain rooftop ini. Matanya menelisik kesana-kemari dengan antusias. Penampilan pria itu terlihat sangat menawan malam ini. Jas beludru biru dongker membalut tubuhnya berpadu dengan warna celananya yang senada. Rambutnya dibuat klimis seperti waktu itu. Meski yang sekarang lebih rapih. Benar-benar pemandangan yang indah. Lebih indah dari pemandangan di rooftop. ‘Rasanya seperti diberkahi,’ batin Hani berdebar. Rasan
Jefri tak segera menanggapi. Ia menatap Rara datar dengan tatapan yang menggelap. Rara tidak memahami maksud dari tatapan itu, tapi ia menduga kalau pria itu marah akibat ucapannya tadi. Tapi, kenapa ia harus marah? Toh, ucapan Rara tidak salah juga. Alis Rara mengernyit ketik
Rachel segera masuk ke dalam restoran Hanz Barbeque begitu ia sampai. Matanya segera menangkap sosok Septa yang sedang duduk di pojok ruangan. Rachel segera mendekatinya. Septa menaikkan alisnya heran begitu melihat wajah masam Rachel. Alisnya kemudian mengerut ketika Rachel duduk memba
Pikiran Rara kosong ketika acara kembang api dimulai. Matanya memang mengarah ke hingar bingar kembang api di langit, tapi ia tidak ikut menikmati kembang api itu. Pikirannya masih terarah pada kejadian saat Jefri mengejeknya tadi. Rasanya menyakitkan. Rara menggigit bibir, be
“Kamu dibeliin gaun sama Septa?!” seru Hani dengan mata membelalak, “Buat pesta nanti?!”Rara meringis melihat reaksi Hani. Ia sudah menduga Hani akan bereaksi seheboh ini makanya m







