Home / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 13: Waktunya Kelas Lagi

Share

CHAPTER 13: Waktunya Kelas Lagi

Author: Heiho
last update publish date: 2025-11-13 10:00:35
“Ra?”

“Om Jefri?”

Rara menggeleng dan buru-buru mengoreksi ucapannya, “Pak direktur, selamat malam,”

Rara membungkukkan badan sopan yang dibalas anggukan Jefri. Meski sebelum bekerja Jefri telah mewanti-wantinya untuk bebas memanggil dia dengan sebutan apa pun kalau mereka bertemu di hotel, tapi ia tetap ingin menjaga batasan profesional ke ayah sahabatnya di lingkup kerja.

“Rara?”

Maya melangkah keluar dari kamar dan ikut terperanjat melihat Jefri. Ia buru-buru membungkukkan badan.

“Sel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 264: Suasana Janggal

    Jawaban Hani itu menimbulkan berbagai reaksi. Jefri menyeringai puas. Rara meringis, sudah menyangka jawaban itu yang akan keluar. Tiara memelototkan matanya. Sementara Alexander, wajahnya seketika memerah. Terlihat kesal. “Berhenti bercanda seperti itu, Hani! Umurmu sudah 22 tahun!” seru Alexander membuat beberapa tamu menoleh ke arah mereka. “Sebentar lagi kamu menjadi pewaris. Jadi, sudah waktunya untukmu memikirkan keluarga agar ada pewaris selanjutnya!” Hani berdecak pelan. Orang ini benar-benar menyebalkan. Ia lebih tidak menyukainya dibanding Tiara. “Aku pasti akan memikirkannya nanti. Lagipula, ayah juga belum mewariskan jabatannya padaku, jadi aku masih bisa memikirkannya belakangan, kan?” sungut Hani, menambah kesal Alexander. “Kamu ini–!” “Paman, cukup,” Jefri menginterupsi. Melirik tajam ke Alexander. “Saya sudah bilang berkali-kali kalau ini adalah urusan keluarga saya. Jadi, paman tidak berhak untuk mencampurinya.” Alexander menggeram pelan. Tapi, keringat d

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 263: Tiga Situasi

    “Selamat malam, Tuan Merphilus. Anda datang cepat, ya?”Senyuman Merphilus berubah dingin. Begitu juga dengan sorot matanya yang tadi sempat hangat.Hani merinding melihatnya. Ia tanpa sengaja meremas lengan Leo lebih erat, membuat mata Merphilus menyipit.“Ini acara saya. Tentu saja saya harus datang lebih cepat,” balas Merphilus ringan, “Bukan begitu, Nona Hani?”Hani tersentak. Kaget karena tiba-tiba Merphilus kembali mengarahkan percakapan padanya.Pria itu memang sepertinya sengaja menargetkan dirinya.Menarik napas pelan, Hani lalu membuka

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 262: Melindungi Hani

    Hani tertegun. Bibirnya bergerak-gerak, kesulitan untuk merangkai jawaban atas perkataan Leo barusan. Jantungnya berdebar kencang.Dengan gugup, ia akhirnya berkata pelan, “Om tadi bilang apa?”Leo menghela napas pelan, “Tuan Merphilus bilang ia sudah tidak sabar bertemu Nona lagi di acara Grand Opening nanti.”Ternyata ia tidak salah dengar.Tubuh Hani seketika meremang. Kepanikan melanda dirinya.Ternyata hari seperti ini memang akan datang.Sejak Hani mengungkapkan perasaannya ke Merphilus, ia langsung menutup kontaknya dengan pria itu. Pesan-pesan pria itu tak dibalas. Panggilannya juga.Hani tahu Merphilus pasti akan bertindak karena hal ini. Ia sudah mempersiapkan dirinya dari jauh-jauh hari. Mewanti-wanti kalau Merphilus datang tiba-tiba ke rumahnya.Tapi, hari demi hari berlalu. Merphilus tidak menunjukkan batang hidungnya sekali pun. Dan seolah mendukungnya, semesta juga tidak mempertemukan mereka sama sekali.Hani sudah merasa lega. Mungkin Merphilus akhirnya memutuskan untuk

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 261: Pertanyaan Leo

    “Anda belum pulang, Tuan Leo?” tanya Merphilus, memecah pembicaraan. Ucapannya terdengar ramah, tapi nada suaranya tidak mengenakkan di telinga Leo.“Saya habis dari toilet,” balas Leo tenang.“Ah, kalau begitu, Nona Hani juga di sana?”“Tidak. Beliau sudah menunggu di mobil.”Merphilus hanya ber-hm pelan untuk menanggapi. Ia melangkahkan kakinya lagi, hendak masuk ke toilet. Sebelum suara Leo kembali menghentikannya.“Apa yang terjadi antara anda dan Nona Hani?”Merphilus kembali menoleh padanya. Tatapannya menajam.“Apa maksud anda?” tanyanya rendah.Leo menarik napas sejenak. Ia menatap lurus Merphilus dengan tatapan yang tak kalah sengitnya.Dipikirkan bagaimana pun, ucapan Liam tadi terasa mengganjal baginya. Merphilus mengalami mood buruk sehari setelah meeting besar. Sama seperti Hani yang muram di waktu yang sama. Hani tidak muram sampai meeting selesai dan melakuka

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 260: Kejanggalan

    “Pak direktur, Nona Hani dan Tuan Leo datang ke kantor.”Merphilus sontak mendongakkan kepalanya. Menghentikan aktivitas men-scroll ponselnya yang sedari tadi ia lakukan.Sudah beberapa hari ini, Liam mendapati bosnya itu suka bermain ponsel. Sebenarnya bukan hal yang aneh, mengingat Merphilus memang orang yang sibuk jadi sudah pasti banyak yang menghubunginya.Tapi, intensitasnya lebih tinggi dari biasanya. Dan ia hanya terlihat menscroll ponselnya sambil memasang wajah masam.Sekali waktu, Liam pernah tidak sengaja melihat layar ponselnya dan menemukan kolom pesan terpampang di sana. Itulah yang Merphilus sering lihat selama ini.Dengan kata lain, bosnya itu mungkin sedang menunggu pesan dari seseorang?Orang seperti apa yang membuat Merphilus begitu menantikan pesannya?Meski ia penasaran, tentu saja Liam tidak bisa menanyakannya. Pekerjaannya bisa langsung terancam.“Kenapa mereka tiba-tiba datang?” tanya Me

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 259: Merphilus dan Hani

    Hani bertambah muram. Itu yang Rara tangkap ketika melihatnya sekarang.Tapi … kenapa? Setelah meeting kemarin, dia masih terlihat baik-baik saja. Atau dia yang tidak memerhatikannya saja karena sibuk bertengkar dengan Jefri kemarin?‘Tidak. Aku yakin dia kemarin masih biasa saja,’ batin Rara meyakinkan dirinya. Ia menatap lamat-lamat Hani yang tengah berdiskusi dengan Jefri. Membahas kelanjutan programnya.Kemuraman itu sebenarnya tidak terlihat jelas di wajahnya. Hani berhasil menyembunyikannya dengan baik.Insting Rara lah yang mengatakan hal itu. Insting persahabatan selama bertahun-tahun. Haruskah ia mulai menanyakannya ke Hani? “Ada apa, nyonya Rara?”Rara tersentak. Kaget karena seseorang tiba-tiba menginterupsinya. Wanita itu segera menoleh dan melihat Leo menatapnya penasaran.“O-oh, kenapa tiba-tiba bertanya, om?” tanyanya tergagap. Masih dipenuhi rasa kaget.“Anda menatap nona Hani sangat serius,” balas Leo, “Apa ada sesuatu yang salah?”“Oh, tidak! Itu cuma—”Rara menela

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 47: Udahan, Om

    “Kamu dibeliin gaun sama Septa?!” seru Hani dengan mata membelalak, “Buat pesta nanti?!”Rara meringis melihat reaksi Hani. Ia sudah menduga Hani akan bereaksi seheboh ini makanya m

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 54: Hanya Perasaan

    “Ini kayaknya digigit nyamuk,” ringis Rara sambil mengusap-usap lehernya yang ditunjuk Septa, “Malu banget. Semoga nggak ada yang liat pas di pesta tadi,”Septa menatap Rara lamat-lamat. Rekannya itu memang menjawab dengan tenang dan santai, tapi Septa bisa menangkap kegugupan dan kepani

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 53: Rachel Mencari Bukti

    ‘Pasti ada sesuatu antara dia dan Jefri,’ batin Rachel sambil menatap kepergian Septa dan Rara. Bibirnya mengulas senyum, tapi tatapannya dingin. Ia ikut melambaikan tangan seperti Hani ke dua orang yang mulai masuk ke mobil.Rachel beralih fokus menatap Septa Wajah pria muda itu terlihat normal,

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 50: Apa Aku Salah Lihat?

    “Pokoknya jangan salahkan aku kalau kakimu keinjek, ya!”“Aku tinggal injek kakimu balik,” balas Septa sambil tertawa. Rara mendengus dengan senyum geli di wajahnya. Ia memerhatikan tangannya yang berpegangan dengan tangan Septa. Ia tiba-tiba teringat dengan latihan d

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status