LOGINRachel menelusuri lamat-lamat ekspresi Jefri. Wajah pria itu mengeras dan sorot ekspresinya terlihat gelap. Tatapan tajamnya terasa dingin tapi tetap menusuk Rachel. Rachel menggigit bibirnya sejenak kemudian menyeringai lebar.“Jadi begitu, ya?” dengus Rachel, “Kau mengakui sendiri kalau kalian memang ada hubungan gelap,”Jefri tak menjawab. Tapi, tatapannya tetap lurus dan tajam ke Rachel.“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Rachel sambil mendekat ke Jefri.“Tidak ada,” balas Jefri sambil mengikuti pergerakan Rachel yang kini berdiri lima senti darinya,“Aku hanya tahu ada sesu
“Aku akan bekerja sama dengan tante,” Ucapan Septa itu membuat senyum puas terukir lebar di wajah Rachel. Mata wanita itu berkilat-kilat senang, tapi hal itu terlihat mengerikan di mata Septa. Ia menatap Rachel gusar yang kini terkekeh. “Pikiranmu sudah tercerahkan ya sekarang,” kekeh Rachel. Septa mendengus. “Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?”“Hanya menunggu,” balas Rachel sambil menyesap tehnya dengan elegan, “Kemarin aku sudah memintanya untuk berpisah dengan Jefri dalam satu minggu ini, jadi sekarang kita menunggu kabar darinya,”Septa menaikkan alis. Tidak ia duga wanita itu sangat santai. Septa pikir, Rachel akan lebih beringas untuk memisahkan Rara dan Jefri. “Baiklah,” balas Septa akhirnya, “Lalu kalau dalam satu minggu ini mereka tidak berpisah, apa rencana tante?”Raut wajah Rachel berubah menggelap. Sudut bibirnya terangkat naik. Septa seketika merasa was-was melihat ekspresi Rachel. Perasaannya tidak enak. Septa buru-buru meminum teh pesanannya untuk merilekskan d
‘Bukannya efek bir tidak separah ini?!’ batin Rara bingung. Bagian intinya sekarang terasa gatal seperti ingin disentuh, membuat Rara menurunkan pinggangnya hingga bagian intinya bertemu dengan milik Jefri.“O-om,” desah Rara yang kini tubuhnya bergetar setelah menyentuh milik Jefri.Tiba-tiba, tubuh Rara didorong hingga ia terbaring di atas kasur dengan cukup keras. Rara tersentak kaget. Napasnya tercekat ketika Jefri sudah berada di atasnya.Rara mengulurkan tangannya, bermaksud mendorong tubuh Jefri. Tapi, satu tangan pria itu segera mencengkram kedua pergelangan tangan Rara dan menaikkannya hingga sejajar kepala Rara.“Dasar gadis nakal,” bisik Jefri bernada rendah
{Om malam ini kosong? Aku pingin ketemu …]Jefri menatap datar pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Sudah lama sekali ia tidak mendapat pesan dari Rara. Jefri segera menoleh ke Leo, sekretarisnya, yang sedang menyusun dokumen. Ia sekarang sedang berada di ruang kerjanya yang ada di hotel Diamond. “Apa saya ada jadwal malam ini?” tanya Jefri. Leo menggeleng, “Tidak ada, pak. Bapak baru ada jadwal besok malam untuk penyambutan nyonya Rachel yang akan menginap di hotel Diamond,”Jefri mengangguk paham. Ia lalu mengetik balasan pesan untuk Rara. [Kosong. Ketemu di mana?]Balasan dari Rara segera datang.[Di rumahku aja! Aku tunggu ya! Nggak usah bawa apa-apa!]Jefri menaikkan satu alisnya dan membalas pesan Rara dengan ‘ya’ singkat. Ia lalu bangkit dari kursinya dan memakai jas yang tersampir di lengan kursi. “Bapak mau pulang?” tanya Leo melihat bosnya sudah besiap pergi. “Ya. Saya ada urusan,” balas Jefri, “Kamu juga segera pulanglah. Sudah beberapa hari ini lembur, kan?”Leo mengan
Rara menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya masih terlihat membengkak meski sudah dikompres. Semalam dia memang kembali menangis setelah Jefri pergi dan itulah yang membuat matanya sangat bengkak pagi ini. Rara menghela napas. Setidaknya sudah tidak terlalu terlihat seperti sebelumnya. Rara mengambil ponselnya di atas meja ketika ponselnya berbunyi. Ada pesan dari Septa. [Maaf. Hari ini aku tidak bisa menjemputmu.]Rara segera mengetikkan balasan ‘tidak masalah’ dan mengirimnya. Ia justru bersyukur Septa tidak menjemputnya karena pria itu pasti akan menyadari matanya yang bengkak dan Rara harus mencari alasan jika ia bertanya. Rara melangkah keluar dari kamarnya. Perhatiannya teralihkan sejenak pada counter dapurnya yang kosong. Biasanya tiap pagi, ia akan melihat bungkusan plastik berisi makanan dari Jefri di sana. Hal itu membuat Rara kembali teringat dengan kejadian semalam. Rara menghela napas. Ia harus segera mencari cara ag
Alis Jefri mengernyit. Mata hitamnya menatap Rara lamat-lamat, tapi ia tetap memperdalam ciumannya. Suara kecipak basah dari ciuman mereka perlahan terdengar memenuhi ruangan. Rara memisahkan bibirnya ketika nafasnya mulai habis. Ia terengah-engah dengan mata sayu dan wajah memerah. Tapi, wajahnya kembali naik dan mencium rahang tegas Jefri. Suara kecupannya memenuhi telinga Jefri. Tangan Jefri perlahan mendekap punggung Rara dan menekan perempuan itu semakin dekat padanya. Rara tersentak pelan dan kembali lanjut menciumi rahang Jefri. Jantungnya berdebar-debar kencang. Rencananya berhasil–“Apa yang Rachel lakukan padamu?” bisik Jefri. Mata Rara seketika membesar. Ciumannya terhenti, tapi ia masih belum menjauhkan dirinya dari Jefri. Jefri melirik Rara. Ia tak bisa melihat wajah gadis itu karena Rara memalingkan wajahnya. Tapi, ia bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar. “A-aku nggak ngerti maksud, om,” balas Rara terbata-ba







