LOGINCassie pun langsung melepaskan diri dari dekapan Braden sambil tersenyum, keduanya mendadak sama-sama salah tingkah!“Aku rasa aku haus,” ucap Cassie.“Ya Tuhan, aku sampai lupa kau baru selesai bekerja pasti haus dan lapar,” ucap Braden.“Lumayan,”“Baiklah, kita masuk ke cafe sana!” ucap Braden sambil menunjuk salah satu cafe.“Boleh,”“Oke,”Keduanya kemudian berjalan bersama menuju salah satu cafe, Braden melihat kearah tangan Cassie karena ada rasa ingin menggenggam tangan Cassie berjalan sambil bergandengan tangan, akan tetapi Braden takut Cassie merasa tidak nyaman jika hal itu dia lakukan. Karena itulah Braden memutuskan untuk tidak menggandeng Cassie walaupun sebenarnya dia ingin.Didalam cafe sambil menunggu pesanan mereka datang, Cassie dan Braden menceritakan tentang keluarga masing-masing, Cassie sedikit membocorkan rahasia tentang Ibunya yang super bawel dan ayahnya yang penggila lembur hingga malam hari, hal itu tak jarang membuat Cassie sebagai seorang anak tunggal san
Sembari menunggu waktu bekerja Cassie selesai pada jam dua belas malam nanti, Braden dan Henry pun mencari tempat duduk sambil bersantai berbincang ringan dan menikmati minuman mereka.Sesekali dari kejauhan Cassie masih curi-curi pandang kearah Braden, dan Braden selalu membalas curi-curi pandang Cassie dengan melempar senyum tipis dibibirnya! Cassie merasa cukup gerogi sekali bekerja malam ini karena ada seseorang yang dengan sengaja memang datang untuknya, bahkan menunggunya hingga nanti selesai bekerja. Melihat sikap gerogi Cassie membuat Master yang datang menghampirinya kemudian membantu Cassie yang super sibuk kedua tangannya meracik minuman.“Gugup?” tanya Master sang pemilik Bar.“Siapa yang gugup? Aku?” tanya Cassie yang berpura-pura terlibat biasa saja.“Sudahlah aku bisa melihat tingkahmu sejak tadi itu, pria disana? Itu kekasih barumu?” tanya Master.“Mau tau saja,” ucap Cassie.“Oh indahnya jatuh cinta! Jatuh cinta oh oh wahai pria tampanku, kemarilah! Kemarilah!” tidak
Rupanya lorong dibawah tanah yang menjadi jalan keluar darurat bagi para anggota mafia yang tersisa, pemilik pabrik dan juga para investor memiliki pintu rahasia yang dari atas hanya terlihat seperti rerumputan biasa, namun ternyata disitu lah jalan keluar mereka!Pintu itupun dibuka dari bawah tanah dan satu persatu dari mereka segera keluar dari lorong bawah tanah, disana sudah tersedia beberapa helikopter yang akan menjadi kendaraan mereka semua untuk melarikan diri agar tidak tertangkap.Henry dan Braden pun meminta anggota lain untuk menghandle bos mafia bernama Marcus Vega yang sudah tak berdaya dan kedua tangannya sudah terborgol untuk dimasukkan kedalam mobil tahanan, sementara Braden dan Henry segera menyusuri lorong bawah tanah untuk bisa menghentikan pelarian para mafia yang tersisa.Sayangnya, begitu Braden dan Henry berhasil menyusuri lorong bawah tanah dan keluar dari sana! Beberapa helikopter sudah berhasil mengudara, bahkan sang pemilik pabrik narkoba itu pun sempat me
Anggota mafia di menara pengawas melepaskan tembakan membabi buta, peluru menghantam aspal dan tanah di sekitar Tim B, menimbulkan debu tebal.Namun, anggota Tim B adalah veteran. Mereka bergerak lincah, beberapa turun dari motor sambil langsung mencari perlindungan di balik tumpukan drum atau pohon besar di pinggir jalan. Senjata otomatis mereka membalas. Tim B memfokuskan tembakan mereka ke menara pengawas.“Hancurkan mata-mata itu dulu!” teriak pemimpin Tim B, menggunakan radio internal helmnya.Dua anggota Tim B yang membawa senjata marksman dengan peredam suara, mengambil posisi berlutut dan melepaskan tembakan yang jauh lebih akurat. Peluru kaliber besar menembus kaca menara pengawas, mengenai dua penjaga di sana. Mereka ambruk, senjata mereka jatuh ke tanah. Menara pengawas pun senyap.Di belakang, mobil-mobil dari Group D (Braden, Henry, dan lainnya) serta Group C tiba. Braden melihat kepulan asap dan mendengar jelas suara tembakan. Rencana sepuluh menit menunggu sudah gagal.
Ava kemudian melenggang masuk kedalam kamar Cassie, persahabatan keduanya memang sudah tidak diragukan lagi, terkadang Ava yang jahil membangunkan Cassie dan terkadang Cassie yang jahil membangunkan Ava baik itu dengan menyipatkan air ataupun dengan hal konyol lainnya.“Tumben anak ini belum bangun,”Ava pun mengulum senyum kemudian perlahan naik keatas ranjang Cassie lalu menurunkan kepalanya hingga bibir Ava reot disamping daun telinga sebelah kiri Cassie.“Cek,, cek, cek,” Ava terdengar menguji coba suaranya terlebih dahulu.Sebelum akhirnya Ava pun menarik nafasnya panjang-panjang dan dengan sekencang-kencangnya, Ava pun berteriak didaun telinga Cassie.“Kebakaran! Kebakaran!” teriak Ava.Sontak saja Cassie yang dini hari baru bisa tidur nyenyak langsung terhenyak bangun dan terkejut mendengar teriakan kebakaran, nyatanya Cassie langsung setengah sadar buru-buru turun dari tempat tidurnya.Ava pun malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah setengah sadar Cassie yang begitu panik t
“Membuatku ingin saja,” gumam Henry.Terlihat oleh Henry pengedar senior itu telah memasuki salah satu ruangan, dan seorang pelayan pria berjalan hendak mengantarkan minuman untuk ruangan tersebut! Henry pun langsung mencegat pelayan tersebut dan membawanya ke ruangan lain.“Buka bajumu!” ucap Henry.“Tapi saya normal tuan,”“Shit, aku anggota NCA!” ucap Henry sambil mengeluarkan kartu identitasnya.“Oh, maaf sir saya pikir,”“Cepat lepas baju dan celanamu, aku pinjam sebentar!”“Baik sir,”“Minuman ini pesanan dari ruangan itu kan?”“Iya benar sir!”Pelayan pria itu pun terpaksa harus meminjamkan seragam kerjanya pada Henry sehingga dia harus tetap stay didalam ruangan tersebut karena malu jika keluyuran keluar, Henry akan menyamar menjadi pelayan yang mengantar minuman kedalam ruangan tadi supaya bisa menaruh alat penyadap didalam sana agar percakapan mereka bisa didengar.Sebelum memasuki ruangan tadi Henry pun menoleh sebentar kearah Braden dan Cassie yang masih saling memperdalam







