LOGINPukul dua pagi, keheningan di sayap barat kediaman Maheswara terasa begitu menekan. Di dalam kamar utama yang temaram, Citra berbaring gelisah di atas ranjang king-size berbalut seprai satin hitam. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar yang dihiasi ukiran kayu jati klasik, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Pikirannya terus berkecamuk, menolak untuk diajak beristirahat. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah Adipati yang pucat pasi, napas tersengal, dan tubuh yang gemetar hebat akibat serangan trauma siang tadi kembali berputar jelas di kepalanya. Rasa cemas yang mengakar kuat mencengkeram dadanya tanpa ampun. Bagaimanakah kondisi pria itu sekarang? Apakah beban pekerjaan yang menumpuk di ruang kerja mendadak memicu kembali trauma kelam yang baru saja reda? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, menciptakan ketakutan tersendiri yang membuat dadanya terasa sesak. Citra tahu betul watak Adipati. Pria itu adalah benteng pertahanan terakhir ba
Keheningan yang pekat dan sarat akan ketegangan mendominasi ruang kerja Adipati. Lampu gantung kristal di atas kepala mereka memancarkan pendar kuning temaram, menyoroti map merah tebal dan flash drive hitam yang tergeletak di atas meja kerja mahoni. Di hadapan meja itu, Raka berdiri dengan postur tegap, napasnya perlahan merata setelah berjam-jam berkutat dalam ketegangan fisik dan psikologis di sayap timur kediaman Maheswara. Namun, bukan lagi ancaman sabotase atau dokumen suksesi yang memenuhi pikiran Raka saat ini. Perhatiannya beralih sepenuhnya pada sosok pria yang duduk di balik meja kerja tersebut. Melihat Adipati yang kini kembali menegakkan kepala dengan sorot mata setajam elang, rahang yang terkatup tegas, serta aura otoritas dingin yang mengintimidasi, sebuah kelegaan luar biasa menyergap dada Raka. Bayangan Adipati beberapa jam lalu, pria yang ambruk dalam kelemahan fisik, terduduk lemas dengan napas tersengal akibat terjangan trauma masa lalu yang mencengkeram jiwanya
Suasana di sayap barat kediaman Maheswara terasa jauh lebih senyap, kontras dengan badai yang baru saja diselesaikan Raka di lantai atas. Di kamar utama berukuran luas dengan nuansa kayu jati tua, pencahayaan diredupkan hingga menyisakan pendar temaram dari lampu sudut ruangan. Adipati duduk bersandar di headboard tempat tidur dengan punggung disangga tumpukan bantal beludru tebal. Selimut wol rajut menutupi separuh tubuhnya, menghangatkan fisiknya yang sempat tumbang total akibat serangan trauma mendadak siang tadi. Di sisinya, Citra duduk tenang di atas kursi rotan, baru saja selesai merapikan mangkuk porselen berisi sup herbal yang mengepulkan uap tipis. Gerakan wanita itu efisien dan tanpa suara, menemani Adipati berjam-jam dalam keheningan yang sarat akan rasa lelah. Sepanjang hari ini, Adipati memang memilih mengunci diri dari dunia luar. Tidak ada telepon bisnis, tidak ada laporan korporasi yang diterima, dan tidak ada pintu yang dibuka untuk siapa pun kecuali Citra. Trauma y
suara Sartika meluncur pelan, tenang, dan menggema lembut di dalam kamar yang sunyi itu, tanpa ada secercah pun rasa bersalah atas kekacauan berdarah yang terjadi malam ini. "Dulu, saat aku pertama kali melihatmu mengintip dari balik celah ruang kerja Adipati ketika kau masih anak-anak bau kencur, aku sudah tahu bahwa keberadaanmu di sini lambat laun akan menjadi duri dalam daging bagi masa depan anak-anakku."Raka melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, lalu mengunci gerendelnya dari dalam. Tatapannya menatap lurus ke arah wanita yang berdiri di hadapannya, menghidupkan kembali memori kelam masa lalu yang kini menemukan kepingan puzzle terakhirnya."Jadi benar, semua kekacauan ini, pembobolan brankas, manipulasi server, hingga kematian Bimo yang dibungkam di ruang kerjanya adalah skenario busuk yang kau rancang dari balik bayang-bayang," ujar Raka dingin, suaranya mengandung beban amarah yang ditekan hingga batas maksimal. "Kau mengorbankan darah daging keluarg
Bilah baja di tangan Raka menempel semakin erat, menciptakan goresan tipis yang memunculkan bulir darah segar di pelipis Bimo. Tekanan udara di dalam ruangan kerja itu terasa kian menipis, seolah oksigen tersedot habis oleh ketegangan yang mencapai puncaknya."Waktumu habis, Bimo," desis Raka, suaranya bagai vonis mati tanpa ampun. "Sebutkan namanya sekarang, atau malam ini menjadi akhir dari riwayatmu."Bimo terisak keras, tubuhnya bergetar hebat di bawah injakan kaki Raka. Dengan napas tersengal dan air mata yang mengucur deras, ia akhirnya menyerah sepenuhnya pada rasa sakit dan teror yang melumpuhkan akal sehatnya."Sartika...!" teriak Bimo histeris, meloloskan nama yang selama ini disembunyikan di balik tirai kekuasaan tertinggi mansion tersebut. "Nyonya Sartika sendiri yang memerintahkannya!"Nama itu menghentakkan kesadaran Raka. Cengkeramannya pada rambut Bimo sedikit mengendur, sementara tatapannya terpaku kosong ke arah depan. Sartika istri mendiang Patriark Maheswara, wanit
Langkah kaki Raka memecah keheningan koridor tengah malam dengan ritme konstan yang berat. Bayangan tubuhnya memanjang di bawah temaram lampu dinding antik berornamen tembaga, mencerminkan ketegasan tekad yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan. Tujuannya kini hanya satu, sayap timur kompleks kediaman Maheswara, tempat Bimo seharusnya berada. Informasi dari Tegar telah meruntuhkan dinding alibi yang selama ini dibangun oleh sepupu jauh sang patriarch tersebut. Bimo bukan lagi sekadar anggota keluarga yang kebetulan lewat di pos logistik, ia adalah otak operasional di balik hilangnya dokumen suksesi yang menjadi fondasi stabilitas seluruh dinasti.Tidak butuh waktu lama bagi Raka untuk menemukan targetnya. Pintu kayu mahoni ruang kerja pribadi Bimo di lantai dua tidak terkunci rapat, menyisakan celah sempit yang memancarkan cahaya kuning pudar dari lampu meja. Tanpa mengetuk atau memberi salam basa-basi, Raka mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar dengan sentakan keras. Dentum







