LOGINAdipati menurunkan cangkirnya. Ia menatap cairan teh melati itu sejenak, lalu melirik Citra yang sedang menatapnya dengan alis terangkat penuh kemenangan."Rasanya pas. Tidak terlalu manis," gumam Adipati pelan. Ia lalu menatap Bi Surti dan Pak Mamat. "Mulai hari ini, sarapan pagi tidak perlu terlalu formal. Buat saja apa yang disiapkan Citra."Bi Surti mendongak kaget, matanya berkedip-kedip tak percaya. "B-baik, Den... eh, Pak Adipati.""Dan Raka," Adipati beralih pada asistennya. "Jadwal rapat hari ini undur satu jam. Saya mau sarapan di taman belakang."Raka menelan ludah. Mengundur rapat direksi senilai puluhan miliar hanya untuk sarapan di taman belakang? Ini bukan Adipati yang diketahuinya selama bertahun-tahun. Ini seperti sosok asing yang merasuki tubuh bosnya."Baik, Tuan. Akan saya atur ulang jadwalnya," jawab Raka patuh, meski otak analisisnya berputar cepat mencoba memahami situasi ini.Perubahan kecil itu tidak berhenti di dapur. Selama seminggu berikutnya, seluruh kedia
Pukul lima pagi di kediaman utama keluarga Bisma biasanya ditandai oleh satu hal: keheningan yang mencekam dan presisi yang nyaris militer.Rumah megah bergaya minimalis modern yang berdiri di kawasan elit Jakarta Selatan itu tidak pernah terasa seperti sebuah rumah tinggal. Tempat itu lebih mirip museum kaca yang dingin, tempat di mana setiap perabotan diatur hingga milimeter terpresisi, dan setiap langkah kaki pelayan harus diredam sehalus mungkin agar tidak memicu emosi sang pemilik rumah.Raka, asisten pribadi Adipati yang telah mengabdi selama tujuh tahun, melangkah menyusuri lorong berlantai marmer hitam. Di tangannya, ia memegang tablet tipis berisi jadwal rapat hari itu, laporan bursa saham, serta berkas klausul akuisisi perusahaan properti di Surabaya.Seperti biasa, wajah Raka datar dan tegang. Menjadi asisten seorang Adipati Bisma membutuhkan kesiapan mental tingkat tinggi. Bosnya adalah pria yang tidak pernah toleran terhadap kesalahan sekecil apa pun. Pria yang bisa memec
Agak apa? Kotor?" potong Citra lembut, tanpa nada tersinggung. Ia mengambil selembar tisu gulung dari atas meja, lalu mengelap permukaan bangku kayu itu dengan telaten sebelum menatap Adipati. "Duduklah. Ini bersih. Dan percayalah, rasanya jauh lebih enak daripada sarapan hotel bintang lima yang biasa kamu makan."Adipati menghela napas pasrah. Ia menurunkan tubuh tingginya dan duduk di atas bangku kayu kusam itu. Lututnya yang panjang terpaksa menekuk agak sempit karena keterbatasan ruang, membuat posturnya terlihat sedikit lucu di antara pengunjung warung lainnya."Bu Sum! Nasi uduknya dua porsi ya, lengkap pakai telur balado, tempe orek, sama kerupuknya yang banyak!" panggil Citra ceria."Siap, Mbak Citra! Masnya baru ya? Ganteng amat kayak pemain sinetron!" sahut Bu Sum dari balik racikan makanannya, tertawa lepas tanpa beban.Wajah Adipati terasa panas mendengar pujian blak-blakan dari ibu penjual nasi uduk tersebut. Di dunianya, pujian terhadap ketampanan atau keberadaannya sela
Matahari pagi menyusup malu-malu di antara celah gorden tebal kamar bernuansa abu-abu dan perak milik Adipati. Sinar keemasannya memantul pada meja marmer dan perabotan kristal yang berkilat dingin. Bagi Adipati, pagi hari biasanya berarti satu hal: jadwal ketat, setelan jas yang kaku, sarapan rendah kalori yang disiapkan ahli gizi pribadi, serta keheningan canggung yang diawasi oleh barisan pelayan berpakaian seragam rapi.Namun pagi ini, nuansa itu menguap.Di ujung tempat tidur, Adipati terbangun bukan oleh suara alarm jam tangan mewahnya, melainkan oleh aroma samar minyak kayu putih dan kehangatan tulus yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menatap ke samping. Citra sudah tidak ada di atas sofa panjang tempat gadis itu tertidur semalam.Saat Adipati melangkah keluar dari kamar dengan pakaian kasual, kaos polos hitam dan celana kain yang santai, sesuatu yang sangat jarang ia kenakan, suara gelak tawa kecil terdengar dari arah dapur bersih. Ia mendapati Citra sedang sibuk mera
Hati Citra serasa diiris tipis-tipis mendengar tuduhan itu."Bukan! Bukan begitu!" seru Citra refleks, suaranya sedikit meninggi sebelum akhirnya bergetar hebat. "Kamu tahu itu bukan karena kontrak, Adipati! Aku... aku juga manusia biasa. Aku punya perasaan!"Adipati memutar tubuhnya dengan cepat. Langkah kakinya yang lebar dan penuh intimidasi kembali mendekati Citra. Dalam hitungan detik, tubuh tegap itu sudah kembali menjulang tepat di depan Citra, mengikis habis jarak yang baru saja diciptakan."Kalau begitu jelaskan padaku!" Adipati menundukkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Citra. Matanya berkilat marah dan sarat akan frustrasi. "Kalau ini bukan soal kontrak, kenapa kamu selalu memunculkan tembok itu setiap kali kita makin dekat? Kenapa kamu selalu mengingatkanku pada kertas tak berguna itu saat tubuh dan hatimu jelas-jelas menyerah padaku?!"Citra mendongak, menantang tatapan Adipati meski matanya kini mulai berkaca-kaca. Air mata penyesalan dan keputusasaan menu
Hening kembali merayapi kamar transit itu, namun keheningan kali ini tidak lagi membawa ketenangan. Ruangan berukuran medium itu mendadak terasa terlampau sempit, seolah-olah seluruh oksigen di dalamnya telah terserap habis oleh hawa panas yang mengepul dari tubuh Adipati dan Citra. Dengus napas mereka yang terengah-engah beradu di udara, menjadi ritme tunggal yang memecah kesunyian.Adipati masih membenamkan wajahnya di ceruk leher Citra. Dengung denyut nadi gadis itu yang berdetak cepat di bawah permukaan kulitnya yang halus seakan menjadi petunjuk bahwa Citra sama terombang-ambingnya. Keharuman alami tubuh Citra perpaduan antara wangi pandan dan kehangatan kulit manisnya terus-menerus menusuk indra penciuman Adipati, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan logika yang susah payah ia bangun sejak tadi.Jemari Citra masih terbenam di antara helai rambut tebal Adipati. Sentuhan yang awalnya bermaksud menenangkan itu justru terasa bagaikan siraman bensin pada bara api yang belum sepenuhnya pa







