LOGINIa membelikan satu kantong berisi dua puluh gelang plastik. Penjaga stan, seorang pria paruh baya bertopi kumal, tersenyum penuh arti melihat penampilan luar biasa mewah Adipati yang kontras dengan tempat tersebut.Adipati mengambil posisi. Ia memasang kuda-kuda kokoh seperti seorang atlet panahan profesional. Tangannya diangkat setinggi dada, matanya memicing mengukur jarak, sudut lemparan, dan perkiraan hembusan angin malam.Lemparan pertama, Gelang meluncur... dan memantul keras keluar arena.Lemparan kedua. Gelang mengenai ujung botol dan terlempar jauh ke selokan di belakang stan.Lemparan ketiga hingga kelima belas. Semuanya gagal total.Wajah Adipati mulai memerah karena frustrasi. Jas mahalnya kini melar di bagian bahu karena gerakan-gerakan ekstrem yang ia lakukan. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia menyingsingkan lengan kemejanya, melepaskan dasinya yang terasa mencekik, dan membuang semua formalitas."Ini tidak masuk akal," gumam Adipati geram. "Hukum gravitasi se
Malam di kawasan Menteng semakin larut, namun riuk-pikuk kehidupan di sekitar kaki lima seolah baru saja dimulai. Di bawah pendar lampu neon yang berkedip-kedip dan kepulan asap bakaran sate yang membumbung tinggi, Adipati merasa seolah-olah dirinya telah melangkah keluar dari peta peradaban yang selama ini ia kenal.Ia telah menyetujui tawaran Citra untuk menjadi "pria biasa" malam ini. Namun, menjadi biasa ternyata membutuhkan usaha yang jauh lebih keras daripada memenangkan tender proyek bernilai miliaran rupiah."Baiklah," ujar Adipati, suaranya mencoba terdengar mantap meski ia baru saja menghabiskan gelas es teh keduanya untuk membersihkan sisa-sisa jejak cabai hijau dari tenggorokannya. "Jadi... apa protokol selanjutnya setelah kita menyelesaikan hidangan utama ini?"Citra terkekeh pelan. Ia menarik tangannya yang tadi sempat digenggam Adipati dengan lembut, meski rona merah masih tertinggal memoles kedua pipinya. "Pertama-tama, hapus kata 'protokol' dari kosakata Anda malam in
Kebersihan adalah representasi dari kepedulian," jawab Adipati mantap sambil menduduki kursi plastik di seberang Citra. Kursi itu sedikit berderit menahan bobot tubuhnya yang tinggi besar, membuat Adipati sempat menegang panik selama sedetik sebelum akhirnya mencoba bersikap biasa saja.Seorang pemuda pelayan warung menghampiri mereka membawa lembaran menu sederhana yang dilaminating. "Mau pesan apa, Mas, Mbak?"Adipati mengambil menu itu, mengamatinya dengan kening berkerut dalam. Istilah-istilah seperti 'Nasi Gila Mercon', 'Tahu Baso Pedas Nampol', dan 'Es Teh Manis Jumbo' terasa asing baginya."Saya ingin memesan ini," ujar Adipati pada pelayan. "Namun dengan catatan: pastikan penggunaan garam tidak melebihi dua gram, tumis sayurannya jangan terlalu layu untuk menjaga kandungan nutrisinya, dan untuk tingkat kepedasan, tolong atur pada kadar toleransi paling rendah. Apakah chef Anda bisa memprosesnya?"Pelayan pemuda itu melongo, menatap Adipati seperti sedang melihat makhluk asing
Mobil sedan hitam itu membelah kepadatan lalu lintas Jakarta menuju kawasan Menteng. Di dalam kabin, kesunyian terasa begitu tebal hingga detak jarum jam di dasbor terdengar seperti dentang lonceng.Adipati duduk tegak di balik kemudi. Jemarinya mencengkeram lingkar kemudi sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya lurus ke depan, kaku, seolah ia sedang mengemudikan kendaraan tempur di daerah konflik, bukan membawa seorang wanita untuk makan malam. Di sampingnya, Citra memangku buket mawar merah dengan jemari yang saling bertaut di atas kain dress birunya.Gadis itu beberapa kali melirik ke arah Adipati dari sudut mata. Ia bisa merasakan ketegangan yang memancar kuat dari tubuh pria di sebelahnya."Emm... Tuan—maksud saya, Adipati," panggil Citra pelan, memecah kecanggungan. "Apakah AC-nya terlalu dingin? Tubuh Anda terlihat sangat kaku."Adipati tersentak kecil, namun langsung membetulkan posisi duduknya agar terlihat tetap memegang kendali. Ia berdeham keras, mencoba m
Raka hampir saja terbahak mendengar pertanyaan itu, namun ia berhasil menahannya demi menjaga harga diri sang bos. "Tentu saja tidak dijinjing seperti kantong plastik, Tuan. Cukup dipegang pada bagian batangnya di tangan kiri, dengan posisi santai di samping tubuh. Jangan terlalu kaku, nanti bunganya malah patah karena Anda remas saking gugupnya."Adipati menuruti instruksi itu dengan kaku. Ia berdiri dari kursinya, mengambil buket mawar tersebut, dan mengangkatnya sedikit. Di hadapan cermin besar di sudut ruangan kerjanya, ia memperhatikan pantulan dirinya sendiri. Jas hitam tanpa dasi, kemeja putih dengan dua kancing atas yang dibuka longgar, sebuah jam tangan klasik di pergelangan tangan kiri, dan tangan kanannya memegang buket mawar merah.Untuk ukuran seorang konglomerat, pemandangan itu tampak sangat surealis. Adipati terlihat seperti seorang model majalah bisnis papan atas yang salah masuk lokasi pemotretan bunga Valentin."Ini terlihat konyol, Raka," komentar Adipati dengan na
Tiga puluh menit berlalu sejak Raka keluar dari ruang kerja. Pintu kayu berukir jati itu kembali terbuka, menampilkan sang asisten pribadi dengan setumpuk map dan selembar brosur di tangannya. Namun, bukan map itu yang membuat Adipati Maheswara menghentikan gerakan pena di atas kertas kontrak bernilai miliaran rupiah, melainkan sebuah benda mencolok yang kini diletakkan Raka tepat di tengah meja kerjanya.Sebuah buket bunga mawar merah tua yang terbungkus rapi dengan kertas kraft cokelat bergaya rustic, lengkap dengan sebuah kotak cokelat beludru hitam berukuran sedang.Adipati menatap kedua benda asing itu seolah-olah benda tersebut adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Alisnya berkerut tajam, garis rahangnya mengeras. Selama hidupnya, benda-benda seperti itu hanya ia lihat di katalog pengiriman parsel korporat saat hari raya, atau sebagai dekorasi mahal di lobi hotel bintang lima. Ia tidak pernah, bahkan dalam mimpi terburuknya, membayangkan dirinya sendiri harus membawa be







