เข้าสู่ระบบBAB 3
Pagi itu, mendung menggantung tebal di luar gedung Pencatatan Sipil. Citra meremas jemarinya sendiri yang terasa sedingin es. Ia tidak tidur semalaman. Bayangan dokumen perjanjian kerja sama yang ia tandatangani kemarin masih membayangi. Namun, saat teringat kabar dari Raka sejam lalu—bahwa tim dokter sudah membawa ayahnya ke ruang operasi—dada Citra yang sesak sedikit melonggar. "Nona Citra, silakan masuk." Suara perawat yang ia minta tolong menjadi saksi membuyarkan lamunannya. Citra melangkah masuk ke ruangan serba putih itu. Di sana, Adipati Maheswara sudah duduk tegak dengan setelan jas mahalnya. Pria itu tampak begitu dominan, kontras dengan meja kayu sederhana di hadapannya. ‘Presdir perusahaan tempatku bekerja.’ Pria yang jangankan diimpikan jadi pasangan, untuk bisa menyapanya saja tidak pernah terlintas di otak Citra. Dan hari ini, pria itu duduk di sebelahnya untuk menandatangani buku nikah. "Tanda tangan di sini, Pak Adipati. Dan Bu Citra di sebelah sini," instruksi petugas sipil ramah. Adipati mengambil pena. Tanpa ragu, goresan tangannya terukir tegas. Tidak ada senyum maupun raut gugup. Bagi Adipati, prosesi ini tak ubahnya seperti mengesahkan berkas akuisisi bisnis. Citra menerima pena yang disodorkan. Tangannya agak gemetaran saat menyapukan tinta. "Selamat, secara hukum negara, Anda berdua resmi menjadi suami istri." Dua cincin emas polos berpindah ke jari manis mereka. Saat melirik Adipati yang langsung merapikan jasnya tanpa mengumbar senyum, rasa canggung menghantam Citra bertubi-tubi. Kemarin ia cuma staf biasa yang pusing memikirkan biaya rumah sakit, hari ini ia resmi menyandang status sebagai istri bos besarnya sendiri. Saat keluar dari ruangan, Citra menyempatkan diri menghampiri perawat senior yang menemaninya. “Suster, terima kasih banyak sudah mau datang jadi saksi saya,” bisik Citra tulus, menggenggam hangat tangan wanita itu. “Sama-sama, Mbak Citra. Jangan cemas, ya,” senyum sang perawat menenangkan. “Nanti begitu operasi Ayah selesai, saya langsung kabari Mbak Citra terkait perkembangannya.” Citra mengangguk lega. “Terima kasih banyak, Suster.” Di belakangnya, Adipati sudah berdiri menanti tanpa bersuara, mengisyaratkan bahwa waktu mereka terbatas. Citra bergegas menyusul menuju mobil mewah yang terparkir di depan gedung. Perjalanan di dalam mobil berjalan tanpa suara. Adipati fokus mengetik di tabletnya, sementara Citra memilih menatap jalanan yang mulai diguyur hujan gerimis. Mobil berhenti di depan sebuah mansion modern bercat abu-abu dan putih. Pintu mobil dibukakan dari luar. Begitu turun, beberapa staf rumah tangga sudah berbaris rapi dan membungkuk dalam. "Selamat datang, Tuan." Pandangan para staf lalu berganti menatap Citra. Ada binar penasaran yang kentara. Wajar saja. Seorang Adipati Maheswara tiba-tiba pulang membawa wanita asing berpakaian sederhana yang jauh dari kesan sosialita. Seorang wanita paruh baya bersanggul rapi melangkah mendekat. "Selamat datang, Nyonya. Saya Ratih, kepala pengurus rumah di sini." "Ah... iya, Bu Ratih. Terima kasih," sahut Citra canggung. Panggilan 'Nyonya' rasanya sangat asing di telinganya. "Bawa barang-barangnya ke kamar tamu lantai dua," perintah Adipati singkat pada staf, lalu melangkah menuju ruang tengah. Citra bergegas menyusul langkah lebar pria itu. Tepat di anak tangga pertama, Adipati mendadak berhenti dan berbalik. "Ada tiga aturan di rumah ini," potong Adipati sebelum Citra sempat membuka suara. Matanya menatap tajam, menuntut kepatuhan mutlak. "Pertama, jangan pernah masuk ke ruang kerjaku." Citra refleks mengangguk cepat. "Baik, Tuan… saya paham." "Kedua, jangan menyentuhku tanpa izin." Citra mengerjap. Aturan itu terdengar sangat personal dan janggal, tapi ia mengangguk lagi. "Mengerti." Adipati memiringkan kepalanya sedikit. Ada jeda beberapa detik saat matanya mengunci pandangan Citra. Untuk pertama kalinya, Citra melihat kilat asing di balik manik hitam itu. Bukan amarah, melainkan sesuatu yang redup dan kelam. "Ketiga..." Suara Adipati rendah, namun penuh penekanan. "Jangan pernah jatuh cinta padaku." Citra membeku di tempatnya, menatap Adipati tak percaya. Luar biasa percaya diri, pikirnya. Namun melihat raut wajah pria itu yang sangat serius, Citra tahu Adipati tidak sedang bercanda. "Patuhi tiga hal itu, maka hidupmu di sini akan tenang," tandas Adipati dingin. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan menaiki tangga dengan langkah lebar. Citra berdiri sendirian di tengah kemewahan ruang tamu yang asing. Kata-kata terakhir Adipati masih terngiang jelas di kepalanya. Adipati seperti seseorang yang pernah hancur karena cinta, dan ia memagari dirinya rapat-rapat agar hal itu tidak terulang lagi. “Yah, lagipula itu bukan urusanku,” gumam Citra pelan. “Nyonya Citra?” Bu Ratih menghampirinya dengan senyum ramah. “Mari, saya antarkan ke kamar Nyonya.” Citra menyunggingkan senyum tipis lalu melangkah mengekor di belakang Bu Ratih menuju lantai dua. Sejak menginjakkan kaki di mansion luas itu, Citra belum benar-benar terbiasa dengan lingkungan barunya. Orang-orang di sini bekerja dalam diam. Para pelayan berbicara seperlunya dan langkah kaki mereka nyaris tak terdengar, seolah seluruh penghuni rumah telah sepakat untuk tidak membuat kebisingan sekecil apa pun. Bu Ratih membawanya menelusuri lorong lantai dua hingga berhenti di depan sebuah pintu ganda. Saat pintu dibuka, Citra tertegun. Kamar itu luar biasa luas, didominasi warna putih dan abu-abu. Jendela besar di sudut ruang menghadap langsung ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu kecil temaram. Di atas meja rias telah tersedia beberapa set pakaian baru dengan ukuran yang pas di tubuhnya. “Kamar Tuan ada di ujung lorong sebelah sana, Nyonya,” ujar Bu Ratih. Rasa lega seketika menyelinap di dada Citra. Syukurlah, ia tidak berbagi ranjang dengan pria itu. Artinya, pernikahan ini memang murni sebuah transaksi, bukan pernikahan sungguhan. Tidak ada kewajiban layaknya suami istri. “Kalau Nyonya membutuhkan sesuatu, tekan bel ini saja,” ucap Bu Ratih sembari menunjukkan bel kecil di samping tempat tidur. Citra mengangguk pelan. “Terima kasih, Bu.” Bu Ratih tersenyum tipis. Namun, sebelum keluar dari kamar, raut wajahnya mendadak berubah jauh lebih serius. “Jika malam nanti mendengar suara apa pun... sebaiknya Nyonya tetap berada di dalam kamar.” Kalimat itu membuat Citra mengernyit bingung. Sensasi dingin mendadak merayapi tengkuknya. “Suara... apa?”Citra yang sedari tadi menahan napas, merasa hatinya bergetar. Ia menatap potongan daging di piringnya, lalu memberanikan diri menatap Adipati dengan sorot yang penuh kebingungan. Adipati membalas tatapan itu dengan sorot mata yang teduh, seolah seluruh dunia di luar sana termasuk kenangan Paris yang dibanggakan Vanessa hanyalah debu yang tidak layak untuk dihirup.Vanessa merasa seolah ditampar di depan umum, amarah yang membara di dadanya kini tak lagi mampu disembunyikan di balik topeng keanggunannya "Adipati, aku sedang berbicara padamu! Paris... kenangan kita di sana tidaklah sesingkat itu untuk kamu lupakan begitu saja seolah tidak pernah terjadi!"Kali ini, Adipati menoleh perlahan. Namun, tatapannya bukanlah tatapan penuh kerinduan, melainkan sorot mata yang sedingin es di puncak gunung. Tidak ada emosi, tidak ada sesal, bahkan tidak ada jejak pengakuan atas cerita yang baru saja dipaparkan Vanessa. Itu adalah tatapan yang sangat asing, tatapan yang justru membuat Vanessa mera
Suasana ruang makan mendadak sunyi, menyisakan deru napas tertahan yang beradu dengan denting halus piring porselen. Kilat mata Nyonya Besar Maheswara menajam, seolah mampu menguliti rahasia apa pun yang tersimpan rapat di balik dada Citra. Gadis itu menunduk, menatap nanar permukaan meja mahoni yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi. Ponsel di dalam tas kecilnya kembali bergetar pelan, sebuah getaran sunyi yang terasa bagai ketukan palu eksekusi mati. Sepuluh miliar rupiah atau kehancuran. Ancaman itu berdengung di kepalanya, menenggelamkan suara-suara di sekitarnya ke dalam keheningan yang memekakkan telinga."Nenek tidak perlu merisaukan latar belakang Citra," suara Adipati memecah keheningan, tenang namun bertenaga, mengalir bagai arus deras yang melindungi benteng pertahanannya.Paman Darma yang sejak tadi menyimak dalam diam, mengangkat dagunya perlahan. Senyum sinis tersungging di balik kerutan wajah tua itu "Kejayaan Maheswara dibangun di atas fondasi kehormatan da
Udara di ruang makan utama Maheswara terasa kian pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah dihisap habis oleh tatapan-tatapan tajam yang menghujam dari segala penjuru. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya temaram ke atas meja makan panjang berlapis kayu mahoni, menyinari porselen-porselen mahal yang tertata rapi tanpa cela. Namun, kemegahan interior beraroma klasik Eropa itu gagal meredam ketegangan yang mendidih di balik senyum tipis Nyonya Besar Maheswara.Citra berdiri kaku di sisi Adipati, jemarinya yang tersembunyi di balik tas kecil bergetar hebat. Layar ponsel di dalam genggamannya seolah membara, meninggalkan jejak kalimat ancaman yang berulang-ulang menghujam kesadarannya. Sepuluh miliar, angka yang mustahil digapai oleh gadis biasa sepertinya, sebuah harga mati yang siap meremukkan sisa-sisa harga diri yang ia pertaruhkan."Duduklah, Citra," suara Nyonya Besar memecah kesunyian, tenang namun mengandung otoritas mutlak yang tak memberi r
Sedan hitam yang membawa Adipati dan Citra melaju tenang membelah keheningan malam kota. Di luar, rimba lampu jalanan berkejaran dengan rinai hujan gerimis yang menyapu kaca jendela, memantulkan bayangan redup sosok wanita bergaun hijau zamrud yang duduk terdiam kaku. Di balik kemudi, Raka menyetir dengan kecermatan tinggi. Jalur yang mereka tempuh bukan lagi Lorong perkotaan biasa, melainkan jalan privat menanjak yang dikelilingi pepohonan rindang, jalur khusus menuju perbukitan tempat kediaman utama Nyonya Besar Maheswara berdiri tegak menjulang. Citra meremas lipatan gaunnya di atas pangkuan, setiap meter perjalanan menuju rumah sang Nenek terasa seperti hitungan mundur menuju penghakiman, pengalaman di rumah sakit sebelumnya, saat Nyonya Besar memegang dokumen rekam medis ayahnya, masih menyisakan ngilu pekat di celah dadanya. "Tuan..." bisik Citra pelan, memecah keheningan kabin mobil yang begitu berat "Apakah... apakah Nyonya Besar benar-benar hanya ingin makan malam?
Kesunyian yang mencekam menggantung di koridor rumah sakit saat Nyonya BesarMaheswara mengangkat stopmap merah itu di udara, tatapan matanya yang tajam danberwibawa menembus langsung ke arah Adipati dan Citra yang membeku di ambang pintu.“Ternyata ini alasanmu menolak Vanessa dan menyembunyikan wanita ini, Adipati?”suara Nyonya Besar menggema dingin, memecah hening. “Pernikahan yang serbamendadak... dan berkas bantuan medis untuk ayah kandungnya?”Jantung Citra mencelos, rasa dingin menjalar dari telapak kakinya hingga ke ujung kepala, Iamemejamkan mata rapat-rapat, bersiap menghadapi penghakiman dan kemarahan sang pemilik takhta keluarga Maheswara. Rahasia kontrak perjanjian mereka rasanya tinggal menghitung detik untuk hancur berantakan. Namun, Adipati melangkah maju tanpa ragu satu sentimeter pun. Pria itu menyembunyikan Citra sedikit di balik punggungnya yang tegap, menatapsang nenek dengan pandangan tak tergoyahkan.“Nenek,” panggil Adipati rendah. “Ini urusan pri
Udara di dalam kafe eksklusif itu terasa kian menghimpit, bertolak belakang dengankehangatan cangkir porselen yang mengepul samar. Vanessa menarik napas tipis,melemparkan senyum elegan yang dipaksakan untuk menutupi riak amarah di matanya.Tanpa mengacuhkan Citra yang duduk di sisi Adipati, wanita itu menggeser posisi duduknyalebih mendekat ke meja Adipati, menyadarkan lengannya yang mulus dengan keanggunanyang sengaja diatur.“Adipati,” suara Vanessa mengalun begitu lembut, penuh intonasi manja yang saratgodaan terselubung. “Kamu tahu betul seberapa banyak waktu yang sudah kita lewatibersama, apakah kamu benar-benar bermaksud mengabaikanku demi... formalitas ini?”Jemari berselimut perhiasan mahal itu terulur pelan, mencoba menyentuh lengan jas Adipatidi atas meja. Namun sebelum jemari itu sempat membelai kain berkualitas tinggi tersebut, Adipatimenarik tangannya menjauh. Gerakannya begitu tenang, datar, tanpa jeda emosi sekecil apapun. Pria itu menyilangkan tangan di dada,







