Share

Hasutan Vanessa

Author: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-08-17 05:57:09

Kesunyian yang mencekam menggantung di koridor rumah sakit saat Nyonya Besar

Maheswara mengangkat stopmap merah itu di udara, tatapan matanya yang tajam dan

berwibawa menembus langsung ke arah Adipati dan Citra yang membeku di ambang pintu.

“Ternyata ini alasanmu menolak Vanessa dan menyembunyikan wanita ini, Adipati?”

suara Nyonya Besar menggema dingin, memecah hening. “Pernikahan yang serba

mendadak... dan berkas bantuan medis untuk ayah kandungnya?”

Jantung Citra mencelos, rasa dingin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Nomor Asing

    Sedan hitam yang membawa Adipati dan Citra melaju tenang membelah keheningan malam kota. Di luar, rimba lampu jalanan berkejaran dengan rinai hujan gerimis yang menyapu kaca jendela, memantulkan bayangan redup sosok wanita bergaun hijau zamrud yang duduk terdiam kaku. Di balik kemudi, Raka menyetir dengan kecermatan tinggi. Jalur yang mereka tempuh bukan lagi Lorong perkotaan biasa, melainkan jalan privat menanjak yang dikelilingi pepohonan rindang, jalur khusus menuju perbukitan tempat kediaman utama Nyonya Besar Maheswara berdiri tegak menjulang. Citra meremas lipatan gaunnya di atas pangkuan, setiap meter perjalanan menuju rumah sang Nenek terasa seperti hitungan mundur menuju penghakiman, pengalaman di rumah sakit sebelumnya, saat Nyonya Besar memegang dokumen rekam medis ayahnya, masih menyisakan ngilu pekat di celah dadanya. "Tuan..." bisik Citra pelan, memecah keheningan kabin mobil yang begitu berat "Apakah... apakah Nyonya Besar benar-benar hanya ingin makan malam?

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Hasutan Vanessa

    Kesunyian yang mencekam menggantung di koridor rumah sakit saat Nyonya BesarMaheswara mengangkat stopmap merah itu di udara, tatapan matanya yang tajam danberwibawa menembus langsung ke arah Adipati dan Citra yang membeku di ambang pintu.“Ternyata ini alasanmu menolak Vanessa dan menyembunyikan wanita ini, Adipati?”suara Nyonya Besar menggema dingin, memecah hening. “Pernikahan yang serbamendadak... dan berkas bantuan medis untuk ayah kandungnya?”Jantung Citra mencelos, rasa dingin menjalar dari telapak kakinya hingga ke ujung kepala, Iamemejamkan mata rapat-rapat, bersiap menghadapi penghakiman dan kemarahan sang pemilik takhta keluarga Maheswara. Rahasia kontrak perjanjian mereka rasanya tinggal menghitung detik untuk hancur berantakan. Namun, Adipati melangkah maju tanpa ragu satu sentimeter pun. Pria itu menyembunyikan Citra sedikit di balik punggungnya yang tegap, menatapsang nenek dengan pandangan tak tergoyahkan.“Nenek,” panggil Adipati rendah. “Ini urusan pri

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Kamu lebih memilih dia dari pada Vanessa?

    Udara di dalam kafe eksklusif itu terasa kian menghimpit, bertolak belakang dengankehangatan cangkir porselen yang mengepul samar. Vanessa menarik napas tipis,melemparkan senyum elegan yang dipaksakan untuk menutupi riak amarah di matanya.Tanpa mengacuhkan Citra yang duduk di sisi Adipati, wanita itu menggeser posisi duduknyalebih mendekat ke meja Adipati, menyadarkan lengannya yang mulus dengan keanggunanyang sengaja diatur.“Adipati,” suara Vanessa mengalun begitu lembut, penuh intonasi manja yang saratgodaan terselubung. “Kamu tahu betul seberapa banyak waktu yang sudah kita lewatibersama, apakah kamu benar-benar bermaksud mengabaikanku demi... formalitas ini?”Jemari berselimut perhiasan mahal itu terulur pelan, mencoba menyentuh lengan jas Adipatidi atas meja. Namun sebelum jemari itu sempat membelai kain berkualitas tinggi tersebut, Adipatimenarik tangannya menjauh. Gerakannya begitu tenang, datar, tanpa jeda emosi sekecil apapun. Pria itu menyilangkan tangan di dada,

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Berapa Harga yang kamu tawarkan ke cucu saya!

    Udara di dalam ruang baca itu serasa membeku, terhimpit oleh aroma kayu cendana tua danderetan jilid buku bersepuh emas. Nyonya Besar Maheswara duduk tenang di kursi berukir,jemarinya yang dihiasi cincin giok menopang tongkat kayu hitam. Tatapannya menembusCitra bagai sembilu—tajam, menelanjangi, dan tak menyisakan ruang untuk bernapas. Citraberdiri mematung di tengah ruangan, meremas jemarinya sendiri hingga memutih.Keheningan di antara mereka begitu berat, seolah kebasahan air hujan di luar tak sanggupmendinginkan gesekan intimidasi yang tak tersurat.“Jadi, berapa harga yang disepakati cucuku untuk membawa wanita sepertimu kemansion ini?” suara sang nenek memecah sunyi, tidak ada nada tinggi, namun kedinginanyang terkandung di dalamnya cukup untuk merontokkan ketahanan diri Citra.Citra menelan ludah yang terasa bagai duri. Ia menunduk pelan, menyembunyikan getardi kelopak matanya “Saya tidak menjual diri saya, Nyonya.” Bisikan itu lirih, namun ada sisaketegaran terakhir

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Nyonya Besar Datang

    Ruang rapat itu hening, belasan pasang mata bergantian memandang Adipati, lalu beralih kepada Citra yang berdiri satu langkah di belakangnya, sebagian tampak bingung, sebagian lainnya saling bertukar pandang, tak ada seorang pun yang mengenali alasan Presdir mereka membawa seorang staf divisi keuangan ke ruang direksi.Adipati berjalan menuju kursi utama di ujung meja, "Mulai rapatnya."Seluruh direksi segera membuka dokumen masing-masing, seorang pria berkacamata berdiri lebih dulu, "Pak Adipati, terkait proyek akuisisi di Surabaya, pihak investor meminta kepastian mengenai isu yang beredar di media."Kening Adipati berkerut "Apa isunya?"Pria itu tampak ragu sebelum menjawab, "Mereka mempertanyakan kabar mengenai isu pernikahan Tuan."Ruangan kembali sunyi, beberapa direksi diam-diam memperhatikan ekspresi Adipati, pria itu tetap tenang, "Tidak ada yang perlu dipertanyakan."Jawaban singkat itu justru membuat semua orang semakin penasaran, pria berkacamata kembali membuka mulut, "Ma

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Vanessa

    Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Begitu turun, Citra menatap bangunan di hadapannya dengan napas yang terasa lebih ringan. Sejak semalam, pikirannya tak pernah lepas dari sang ayah. Raka membukakan pintu, "Silakan, Nyonya." Citra mengangguk pelan. Namun baru beberapa langkah, ia menyadari Adipati masih berdiri di samping mobil, pria itu tidak ikut berjalan. "Tuan?" tanya Citra ragu. "Aku menunggu di sini." Sahut Adipati. Citra sempat terdiam, lalu mengangguk. Baginya, itu jauh lebih baik. Kehadiran Adipati di ruang rawat mungkin justru akan membuat ayahnya terkejut. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju ruang perawatan. --- Pintu kamar dibuka perlahan, "Ayah..." Pria paruh baya di atas ranjang menoleh. Wajahnya memang masih pucat, tetapi senyum hangat langsung merekah begitu melihat putrinya, "Citra." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh, Citra menghampiri ranjang dan menggenggam tangan ayahnya erat, "Operasinya berhasil, Ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status