Share

Super Protektif

Author: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-10-27 23:20:23

Udara kamar sayap barat tidak lagi bergeming oleh ketegangan fisik, melainkan berubah menjadi kepompong sunyi yang menyesakkan. Dekapan Adipati masih terasa di sekeliling Citra, begitu hangat, begitu kokoh, namun pada detik yang sama justru menghadirkan sensasi terperangkap yang teramat sangat. Bagi Citra, pelukan itu kini menyerupai pagar besi tak kasat mata, sebuah simbol proteksi mutlak yang dibangun dari ketulusan, tetapi sekaligus mengunci ruang geraknya dalam sangkar emas penuh dusta.

Cit
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Janji Adipati

    Matahari sore menyusup malas melalui celah tirai beludru merah, menciptakan garis-garis keemasan yang menari di atas permadani kamar. Adipati duduk bersandar di kepala ranjang dengan bantal empuk menopang punggungnya. Napasnya terdengar jauh lebih teratur dibandingkan malam-malam sebelumnya. Trauma yang sempat melumpuhkan saraf-sarafnya kini berangsur mereda, digantikan oleh kesadaran yang tajam namun menenangkan bahwa gadis yang paling ia cintai di dunia ini masih berada tepat di sampingnya, bernapas dan hidup.Citra duduk di tepi ranjang, baru saja merapikan mangkuk bekas teh chamomile yang tadi diminum Adipati. Gerakannya tenang, namun di balik ketenangan itu, pikirannya terus berpacu memikirkan flashdisk berisi data Prototip-9 dan rekam medis palsu yang tersembunyi aman di balik lipatan pakaiannya. Namun, untuk sekian detik, beban konspirasi itu harus ia kesampingkan manakala Adipati tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya, meraih pergelangan tangan Citra dengan gerakan pelan yang p

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Super Protektif

    Udara kamar sayap barat tidak lagi bergeming oleh ketegangan fisik, melainkan berubah menjadi kepompong sunyi yang menyesakkan. Dekapan Adipati masih terasa di sekeliling Citra, begitu hangat, begitu kokoh, namun pada detik yang sama justru menghadirkan sensasi terperangkap yang teramat sangat. Bagi Citra, pelukan itu kini menyerupai pagar besi tak kasat mata, sebuah simbol proteksi mutlak yang dibangun dari ketulusan, tetapi sekaligus mengunci ruang geraknya dalam sangkar emas penuh dusta.Citra memejamkan mata semakin erat, merasakan degup jantung Adipati yang menempel di pipinya. Pemuda itu masih mengusap punggungnya dengan ritme konstan yang menenangkan, seolah ingin memastikan bahwa Citra benar-benar masih hidup dan tidak tersengat peluru pembunuh berdarah dingin."Sudahlah, semuanya sudah berlalu," suara Adipati berbisik lembut, nyaris seperti hembusan angin malam yang menyentuh daun jendela. Nada bicaranya memancarkan rasa kepemilikan yang mendalam, bukan kepemilikan yang egois

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Terpaksa Berbohong

    Udara di dalam kamar sayap barat terasa begitu padat, dipenuhi oleh sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya surut. Citra masih duduk terpaku di tepi ranjang, menatap manik mata Adipati yang memantulkan kelegaan bercampur kecemasan mendalam. Genggaman tangan mereka begitu erat, seolah menyatukan dua jiwa yang baru saja ditarik kembali dari bibir jurang kematian.Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka selama beberapa detik pertama. Citra menelan ludahnya yang terasa kelat, merasakan getaran halus yang masih menjalar di ujung jemarinya. Di dalam kepalanya, bayangan moncong pistol hitam berperedam yang mengarah tepat ke ventilasi tadi masih berputar mengerikan. Ia tahu, jika bukan karena insting Adipati yang mendobrak ruang bawah tanah di detik-detik terakhir, nyawanya pasti sudah melayang tanpa suara.Namun, ketika ia mendongak dan melihat sorot mata Adipati sorot mata yang masih memuat sisa kepercayaan mutlak pada sosok pria tua yang merawatnya selama sepuluh tahun,

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Aku tidak peduli apa alasanmu, Dokter

    Udara di dalam saluran ventilasi terasa sangat pengap, berbau debu tua, karat besi, dan sengatan dingin dari mesin pendingin yang berputar lambat di bawah sana. Citra menekan punggung telapak tangannya rapat-rapat ke mulutnya, berusaha meredam suara napasnya yang memburu dan memecah keheningan. Suara langkah kaki sang dokter berhenti tepat di bawah kisi-kisi besi tempat ia bersembunyi. Sepatu pantofel kulit itu berpijak tenang di atas lantai marmer, menciptakan gema ritmis yang menghantam dada Citra layaknya hitungan mundur menuju ajal.Tidak ada suara gemerisik kain yang mencurigakan, tidak ada kepanikan yang terlihat dari luar. Namun, udara di ruangan itu mendadak berubah menjadi hampa ketika suara berat sang dokter meluncur membelah keheningan laboratorium, begitu lembut, begitu akrab di telinga Adipati selama satu dekade, namun di telinga Citra, suara itu mengandung teror yang membekukan darah hingga ke sumsum tulang."Nona Citra..."Panggilan itu berhembus pelan ke udara kosong,

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Clue

    Cahaya pagi merayap lambat di balik tirai beludru tebal yang menutupi jendela kamar Adipati, menyisakan garis-garis suram di atas permadani wol. Di dalam ruangan yang berbau antiseptik dan lavender kering itu, Adipati terbangun dengan napas yang terasa pendek. Tenggorokannya kering, seolah ia baru saja berlari bermil-mil jauhnya di padang pasir. Pemuda itu mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba mengusir kabut tebal yang masih menggelayuti kepalanya akibat suntikan dosis penstabil semalam.Pintu kamar terbuka pelan. Ia melangkah masuk dengan nampan perak di tangannya, mengenakan kemeja rajut abu-abu tua yang melapisi kemeja putihnya. Penampilannya tampak begitu bersahaja, memancarkan aura seorang pria paruh baya yang tenang, penuh dedikasi, dan tidak memiliki rahasia apa pun di dunia ini."Selamat pagi, Tuan," menyapanya dengan nada suara yang hangat, merdu, dan penuh perhatian kebapakan. Ia meletakkan nampan berisi secangkir air hangat dan vitamin pagi di atas meja nakas. "Bagaimana

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Memperketat Isolasi Untuk Sang Presdir

    Beberapa jam kemudian, ia melangkah menyusuri lorong panjang bertembok marmer menuju sayap barat mansion. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu kulit halus hampir tak bersuara di atas karpet tebal. Di tangannya, ia membawa sebuah baki perak berisi nampan obat dan sebuah spuit medis dengan dosis yang telah disesuaikan.Di depan pintu kamar Adipati, dua penjaga berbadan tegap membungkuk hormat. Ia mengangguk singkat sebelum membuka pintu berukir kayu jati tersebut. Di dalam kamar yang temaram, sebagian besar tirai sengaja ditutup atas perintah medisnya, Adipati tampak duduk di tepi tempat tidur. Pemuda itu terlihat pucat, tatapannya tertuju pada jendela luar yang menampilkan dedaunan bergoyang."Tuan Muda," sapa ia dengan suara yang teramat lembut, suara yang sama yang telah menenangkan Adipati sejak pemuda itu terbangun dari koma bertahun-tahun lalu. "Saatnya untuk pemberian dosis pemeliharaan sore."Adipati menoleh perlahan. Mata pemuda itu redup, namun ada kilatan kebingungan yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status