LOGINHujan sudah benar-benar berhenti, menyisakan kabut tipis yang menggantung di udara Desa Kalisari. Namun bagi Soraya, udara pagi yang harusnya segar itu terasa seperti racun yang menusuk paru-paru.
Dia berjalan tertatih keluar dari pintu belakang hotel, langkahnya lebar-lebar untuk menahan perih di pangkal pahanya. Jeans ketat yang dipakainya terasa seperti amplas yang menggesek kulit sensitifnya yang bengkak. Di balik tembok pagar hotel yang berlumut, sebuah mobil sedan hitam sudah menunggu. Mesinnya menyala halus. Kaca jendela depan turun setengah, memperlihatkan wajah Pak Yanto, sopir pribadi Subagyo yang setia dan tahu segalanya. Soraya membuka pintu belakang dan menghempaskan tubuhnya ke jok kulit yang dingin. "Sudah beres, Neng?" tanya Pak Yanto tanpa menoleh, matanya fokus ke spion tengah, menatap Soraya yang berantakan. Soraya tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan kepalanya ke jendela. "Jalan, Pak. Tolong cepat." "Bapak kayaknya puas banget ya malam ini," celetuk Pak Yanto santai, sambil memutar setir keluar dari area hotel. "Tadi pas keluar, wajah beliau sumringah. Neng Soraya memang beda servisnya." Soraya memejamkan mata, menelan rasa mual yang naik ke tenggorokan. "Saya cuma ngerjain tugas saya, Pak." "Tugas..." Pak Yanto terkekeh pelan. "Ya, sebut saja begitu. Tapi Neng beruntung lho. Pak Subagyo itu orangnya royal. Asal Neng nurut, hidup Neng bakal terjamin. Nggak kayak mahasiswi lain yang cuma dapat janji manis." "Bisa tolong AC-nya digedein, Pak? Saya gerah," potong Soraya. Dia tidak sanggup mendengar pujian atas kehinaannya. Pak Yanto menurut, memutar tombol AC. "Neng mau diantar sampai mana? Depan posko langsung?" "Jangan!" seru Soraya panik. "Jangan, Pak. Turunin saya di perbatasan desa aja. Dekat jembatan. Nanti orang curiga kalau lihat mobil ini." "Tenang, Neng. Nggak usah panik gitu. Orang desa sini mah nggak bakal curiga. Paling dikira Neng saudara Bapak." "Saya bilang di jembatan, Pak!" suara Soraya meninggi, lalu melemah. "Tolong... saya mau jalan kaki aja sisanya." Hening sejenak di dalam mobil. Hanya suara ban yang menggilas aspal basah. Soraya meremas tasnya yang berisi uang tunai lima juta rupiah. Uang itu terasa panas, seolah membakar kulit tangannya. "Neng Soraya..." panggil Pak Yanto lagi, kali ini nadanya lebih serius. "Ya?" "Tadi... cowok yang teriak-teriak itu... pacarnya Neng?" Jantung Soraya berhenti berdetak sesaat. "Bukan urusan Bapak." "Saya cuma mau ngingetin," kata Pak Yanto, matanya menatap tajam lewat spion tengah. "Bapak itu nggak suka miliknya diganggu. Kalau cowok itu bikin masalah lagi, bukan cuma Neng yang kena. Bapak punya banyak kenalan. Neng sayang sama cowok itu, kan?" "Dia nggak tahu apa-apa, Pak. Dia cuma salah paham," jawab Soraya lirih. "Salah paham kok sampai dobrak pintu," sindir Pak Yanto. "Saran saya, Neng putusin aja. Orang miskin cuma bikin ribet. Neng sekarang udah beda kelas. Neng itu... aset mahal." Kata 'aset' membuat Soraya ingin muntah. Dia bukan manusia lagi di mata mereka. Dia cuma properti. "Stop di sini, Pak," pinta Soraya saat melihat jembatan tua di depan. Mobil berhenti. Soraya buru-buru membuka pintu, ingin segera lari dari bau parfum mobil yang mengingatkannya pada Subagyo. "Eh, Neng, tunggu," Pak Yanto menyodorkan sekotak tisu basah. "Itu... di leher Neng. Ada merah-merah. Tutupin dulu, nanti jadi gosip." Tangan Soraya refleks meraba lehernya. Perih. Dia mengambil tisu itu dengan kasar. "Makasih." Begitu mobil hitam itu melesat pergi, Soraya berdiri sendirian di pinggir jalan desa yang sepi. Matahari mulai muncul dari balik bukit, sinarnya terang benderang, menelanjangi dosa-dosa yang dilakukan Soraya semalam. Soraya mengeluarkan ponselnya. Dia butuh alasan untuk tetap hidup. Dia butuh alasan kenapa dia rela selangkangannya sakit luar biasa pagi ini. Jemarinya mendial nomor rumah. "Halo? Assalamualaikum?" suara lemah dan serak terdengar dari seberang. Suara Ibu. Pertahanan Soraya nyaris runtuh. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa anyir darah agar suaranya tidak bergetar. "Waalaikumsalam, Bu. Ibu... gimana pagi ini? Masih sesak napasnya?" tanya Soraya, berusaha terdengar ceria. "Agak mendingan, Nduk. Cuma ya itu... obat Ibu habis. Tadi Pak RT nagih uang iuran sampah juga, Ibu bingung..." "Ibu tenang aja," potong Soraya cepat. "Soraya udah dapat uangnya. Nanti siang Soraya transfer ke rekening tetangga buat Ibu ambil ya. Lima juta cukup kan buat obat sama bayar utang di warung?" Hening sejenak di seberang telepon. "Lima juta? Ya Allah, Nduk... banyak banget. Kamu dapat dari mana? KKN kan nggak digaji?" Soraya memejamkan mata. Bayangan tubuh gemuk Subagyo yang menindihnya kembali berputar di kepala. "Desah yang kencang, Soraya!" "Soraya... Soraya menang lomba esai, Bu. Hadiahnya baru cair semalam," bohongnya lancar. Kebohongan yang terasa manis sekaligus pahit. "Alhamdulillah... Anak Ibu memang pinter. Ibu bangga sama kamu, Nduk. Kamu anak sholehah, rezekinya lancar. Maafin Ibu ya selalu nyusahin kamu..." Kata 'sholehah' itu seperti pisau yang menguliti jantung Soraya. "Nggak, Bu... Ibu nggak nyusahin. Ini kewajiban Soraya. Ibu sehat-sehat ya. Soraya tutup dulu, mau... mau salat subuh." "Iya, Nduk. Hati-hati di sana. Jaga diri, jaga kehormatan ya." Klik. Sambungan terputus. Soraya merosot jongkok di pinggir jembatan. Dia muntah. Tidak ada isi perut yang keluar, hanya cairan bening yang pahit. "Jaga kehormatan..." bisiknya pada diri sendiri sambil tertawa miris. Tawa yang terdengar seperti isakan. "Udah nggak ada yang bisa dijaga, Bu." Dia mengambil tisu basah pemberian Pak Yanto, menggosok lehernya kuat-kuat, berharap bekas merah keunguan itu bisa hilang. Tapi percuma. Tanda kepemilikan Subagyo itu tercetak jelas. Soraya berdiri, merapikan rambutnya yang kusut, menarik kerah jaketnya tinggi-tinggi. Dia harus kembali ke posko. Dia harus menghadapi dunia nyata. Dan yang paling menakutkan... dia harus menghadapi tatapan Gilang. Langkahnya gontai menuju desa. Setiap langkah menimbulkan gesekan perih di area kewanitaannya yang lecet, mengingatkannya pada setiap detik kejadian di kamar nomor lima tadi. Di kejauhan, posko KKN sudah terlihat. Asap dapur mengepul. Kehidupan normal berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Soraya menarik napas panjang, memasang topeng terbaiknya. Topeng wanita kuat, topeng mahasiswi teladan. Padahal di balik jaket itu, tubuhnya hancur lebur.Pagi di Mandalika seharusnya indah. Matahari terbit dari ufuk timur, menyepuh lautan biru dengan warna emas yang berkilauan. Suara deburan ombak yang tenang seharusnya menjadi musik pengantar bangun tidur yang sempurna bagi siapapun yang menginap di resort mewah ini.Namun bagi Soraya, pagi itu terasa seperti penghakiman. Dia terbangun di ranjang hotelnya yang luas dengan kepala berdenyut nyeri. Bukan karena alkohol, tapi karena kurang tidur. Semalaman dia hanya berguling ke kiri dan ke kanan, dihantui oleh sensasi bibir Gilang yang menempel di bibirnya. Rasa asin, rasa putus asa, rasa rindu... semuanya bercampur menjadi racun yang manis.Soraya menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa bengkak. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja? Dia bangun, menyeret kakinya ke kamar mandi. Di depan cermin wastafel, dia menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Wajahnya pucat."Lo istri orang, Ya," bisiknya pada cermin. "Dan lo baru aja mengkhianati laki-laki paling baik di
Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok.Matahari terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi ungu dan oranye yang dramatis. Deburan ombak Samudra Hindia terdengar berirama, menghempas pasir putih Pantai Kuta Mandalika yang kini telah disulap menjadi kawasan resor kelas dunia.Di ballroom terbuka Pullman Lombok Merujani Mandalika Beach Resort, para tamu undangan mulai berdatangan. Angin laut yang membawa aroma garam bercampur dengan wangi parfum mahal para pejabat dan investor.Soraya berjalan masuk melewati gerbang pemeriksaan undangan. Dia mengenakan jumpsuit sutra berwarna emerald green dengan potongan halter neck yang elegan namun tetap sopan. Punggungnya tertutup selendang tenun Lombok yang dia beli di bandara, sebuah upaya diplomatis untuk menghargai budaya lokal sekaligus menutupi kulitnya dari angin malam. Dia datang sendirian. Tanpa Brata."Selamat malam, Ibu Soraya. Perwakilan dari Prof. Brata, benar?" sapa panitia ramah."Benar. Suami saya berhalangan hadir kare
Tiga Tahun Kemudian.Waktu di Dago Pakar berjalan dengan ritme yang teratur, seperti detak metronom yang tidak pernah meleset satu ketukan pun.Soraya duduk di ruang kerjanya yang luas di rumah, menatap layar laptop. Di dinding di belakangnya, tergantung ijazah Doktoral dan piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat atas kontribusinya dalam tim percepatan ekonomi daerah. Namanya kini panjang dan berat: Dr. Soraya Adhitama, S.E., M.Ec. Dev. Di usia 35 tahun, dia memiliki segalanya. Karir cemerlang sebagai konsultan independen, suami Guru Besar yang dihormati, rumah mewah tanpa hutang, dan investasi yang tersebar di reksadana dan obligasi negara. Variabel kehidupannya stabil. Sangat stabil.Tidak ada lagi drama kekurangan uang obat. Ibu Wati sehat. Dimas sukses dengan bisnis kontraktor kecil-kecilannya (yang tentu saja dibimbing oleh Brata di balik layar)."Soraya," suara Brata memanggil dari ruang tengah.Soraya keluar. Brata sedang duduk di sofa kulit, membaca koran Kompas dengan kac
Pukul 04.30 WIB.Alarm di ponsel Brata berbunyi, memecah keheningan subuh di Dago Pakar. Biasanya, pada dering pertama, tangan Brata akan langsung bergerak mematikannya, lalu dia akan bangun dengan gerakan efisien untuk memulai rutinitas paginya: shalat, baca jurnal, dan lari pagi. Tapi pagi ini, alarm itu berbunyi terus. Satu menit. Dua menit. Soraya terbangun. Dia menggeliat di balik selimutnya, menatap sisi ranjang sebelah kanan. Guling pembatas masih ada di sana, berdiri tegak seperti tembok Berlin mini."Mas?" panggil Soraya serak. "Alarmnya."Tidak ada jawaban. Brata masih terbaring diam, punggungnya memunggungi Soraya. Soraya merasa aneh. Brata tidak pernah telat bangun. Dia adalah manusia paling disiplin yang pernah Soraya kenal. Soraya mengulurkan tangan melewati guling, mengguncang bahu suaminya pelan."Mas Brata? Bangun, udah subuh." Saat tangannya menyentuh kulit bahu Brata yang tertutup piyama, Soraya tersentak. Panas. Sangat panas."Mas!" Soraya langsung bangun, menyin
Enam Bulan Pasca Pernikahan.Rumah Brata di Dago Pakar kini memiliki sedikit sentuhan feminin. Ada vas bunga segar di meja makan yang biasanya hanya berisi tumpukan koran. Ada tirai berwarna soft beige yang menggantikan tirai abu-abu kaku di ruang tamu. Dan ada aroma masakan rumahan yang tercium setiap sore, menggantikan aroma kopi pahit yang dulu mendominasi.Namun, di kamar utama lantai dua, tata letaknya tidak berubah. Guling pembatas itu masih ada di tengah ranjang King Size, menjadi garis demarkasi yang dihormati oleh kedua belah pihak.Sore itu, Ibu Wati datang berkunjung. Dia duduk di sofa ruang keluarga, merajut baju bayi kecil berwarna kuning."Buat siapa, Bu?" tanya Soraya sambil menyajikan teh hangat. Dia baru pulang dari kantor Institute, masih mengenakan pakaian kerjanya yang rapi."Buat anak Dimas nanti," jawab Ibu Wati tersenyum, matanya berbinar. Rini, istri Dimas, baru saja hamil tiga bulan. "Tapi Ibu bikinnya agak banyak. Siapa tau... nanti buat anak kamu juga."Tan
Davos, Swiss.Udara di ketinggian 1.560 meter di atas permukaan laut itu tipis dan tajam. Hamparan salju putih menyelimuti pegunungan Alpen, menciptakan pemandangan yang memukau namun membekukan. Kota kecil ini sedang dipenuhi oleh para pemimpin dunia, ekonom top, dan CEO global yang menghadiri World Economic Forum.Soraya berjalan di samping Brata menyusuri Promenade, jalan utama Davos yang licin oleh es. Dia mengenakan mantel wol tebal berwarna camel, syal cashmere, dan boots kulit. Brata, di sebelahnya, mengenakan overcoat hitam panjang dan topi fedora, terlihat seperti diplomat era perang dingin yang menyimpan banyak rahasia negara."Dingin?" tanya Brata, melihat uap putih keluar dari mulut Soraya setiap kali dia bernapas."Sedikit, Mas. Tapi segar," jawab Soraya. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Tidak ada gandengan tangan. Mereka berjalan beriringan dengan jarak sepuluh sentimeter yang konsisten."Bagus. Oksigen tipis memicu otak memproduksi lebih banyak sel darah m







