Home / Romansa / Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK / ​BAB 4: Kopi Pahit di Posko

Share

​BAB 4: Kopi Pahit di Posko

Author: Tinta Senyap
last update Last Updated: 2025-12-07 15:44:47

​Aroma kopi bubuk murah dan nasi uduk yang baru matang menguar di udara, bercampur dengan bau obat nyamuk bakar sisa semalam. Di teras rumah Pak Lurah yang dijadikan posko KKN, kehidupan berjalan normal. Terlalu normal, sampai rasanya memuakkan bagi Soraya.

​Dia berdiri di ambang pintu dapur, memegang gelas plastik kosong dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Di sana, di meja kayu panjang itu, teman-temannya sedang sarapan. Suara tawa mereka terdengar seperti kaset rusak di telinga Soraya.

​"Eh, Tuan Putri udah bangun," celetuk Bagas, ketua kelompok mereka, sambil mengunyah kerupuk. Mulutnya penuh nasi uduk. "Gila lo, Ya. Semalam gue cariin buat rekap absen, lo ngilang kayak ditelan bumi. Tidur di mana lo?"

​Soraya memaksakan senyum. Senyum yang terasa kaku, seolah kulit wajahnya terbuat dari plastik murahan.

​"Gue... gue di posko kesehatan desa, Gas," jawab Soraya pelan. Dia berjalan mendekat, menarik kursi plastik dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi gesekan. Selangkangannya masih terasa nyeri setiap kali dia bergerak. "Kepala gue sakit banget semalam. Bu Bidan nyuruh gue istirahat di sana."

​"Sakit kepala apa sakit hati?" Siska menyahut sambil memoles selai kacang ke rotinya. Dia melirik Soraya dari ujung rambut sampai kaki dengan tatapan meneliti. "Muka lo pucat banget, Ya. Kayak mayat hidup. Terus itu... mata lo bengkak. Lo abis nangis semalaman?"

​Soraya refleks menyentuh bawah matanya. Foundation tebal yang dia pakai ternyata belum cukup menutupi jejak kehancurannya.

​"Nggak kok," elak Soraya cepat. "Gue cuma kurang tidur. Nyamuk di sana ganas-ganas."

​"Nyamuk apa nyamuk?" goda Bagas sambil menyenggol lengan Rio di sebelahnya. "Siapa tau Soraya 'digigit' yang lain, kan? Desa ini kalau malam gelap banget, asik buat mojok."

​Tawa meledak di meja makan. Candaan tongkrongan khas mahasiswa. Bagi mereka itu lucu. Bagi Soraya, itu seperti siraman air keras.

​"Apaan sih lo, Gas. Garing," Soraya mencoba tertawa, tapi yang keluar hanya suara serak.

​"Lagian lo aneh," sambung Rio. "Biasanya lo nempel mulu sama Gilang. Tumben semalam Gilang juga ngilang. Kalian janjian 'main petak umpet' ya?"

​Jantung Soraya berhenti berdetak saat nama itu disebut.

​"Gue nggak tau Gilang ke mana," jawab Soraya lirih, matanya menatap butiran nasi di piring yang belum dia sentuh.

​"Nah, panjang umur!" seru Bagas tiba-tiba, matanya menatap ke arah gerbang halaman. "Tuh bocah muncul juga."

​Soraya membeku. Punggungnya kaku. Dia merasakan hawa dingin merambat dari tengkuknya. Langkah kaki berat terdengar mendekat. Suara sepatu kets yang menyeret kerikil.

​Gilang.

​Soraya tidak berani menoleh. Dia hanya menunduk, menatap pantulan wajahnya yang menyedihkan di sendok stainless.

​"Woy, Lang! Sini sarapan! Muka lo kusut amat kayak baju belum disetrika," sapa Rio.

​Gilang tidak menjawab. Dia berjalan masuk ke area teras, melewati meja makan tanpa menoleh sedikitpun. Auranya gelap, seolah dia membawa awan mendung bersamanya. Dia berjalan lurus menuju meja dispenser di pojok, tempat Soraya sedang berdiri memegang gelas.

​Jarak mereka semakin dekat. Satu meter. Setengah meter.

​Soraya bisa mencium aromanya. Bukan aroma parfum fresh yang biasa Gilang pakai. Tapi aroma keringat apek, rokok kretek yang tajam, dan bau hujan. Aroma keputusasaan.

​Gilang berhenti tepat di samping Soraya untuk mengambil kopi sachet.

​Napas Soraya tercekat. Dia ingin lari, tapi kakinya dipaku ke lantai. Dia ingin memeluk Gilang, tapi dia sadar tubuhnya penuh jejak pria lain.

​"G-Gilang..." sapa Soraya. Suaranya bergetar hebat, nyaris tak terdengar di antara suara tawa teman-temannya.

​Gilang diam. Tangannya merobek bungkus kopi dengan gerakan kasar. Sret! Bunyi plastik robek itu terdengar nyaring di telinga Soraya.

​"Minggir," ucap Gilang. Datar. Dingin. Tanpa menoleh.

​Satu kata itu cukup untuk meremukkan sisa hati Soraya.

​"Lang, aku..." Soraya mencoba meraih ujung kaos Gilang yang kucel.

​Gilang menyentakkan badannya menjauh, seolah tangan Soraya adalah bara api. Gerakan itu cukup keras hingga membuat sendok di tangan Gilang berdenting kena gelas.

​Siska yang peka langsung berhenti mengunyah. Suasana meja makan mendadak hening. Bagas dan Rio saling pandang.

​"Kenapa lo?" tanya Gilang, akhirnya menoleh. Dia menatap Soraya tepat di mata.

​Soraya terkesiap. Mata itu merah, berair, dikelilingi lingkaran hitam yang dalam. Tapi yang paling mengerikan adalah tatapannya. Tidak ada cinta. Tidak ada kehangatan. Hanya ada rasa jijik yang telanjang.

​"Aku... aku mau buatin kamu kopi," cicit Soraya, berusaha mencairkan suasana. "Biar aku aja yang seduh."

​"Nggak usah," tolak Gilang tajam. "Tangan lo kotor."

​Kalimat itu memiliki makna ganda yang hanya dipahami mereka berdua. Soraya merasa ditampar.

​"Tangan gue bersih kok, Lang. Baru cuci tangan," Soraya masih mencoba berakting, sadar teman-temannya sedang menonton drama ini.

​Gilang tersenyum miring. Senyum yang mengerikan. Dia mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Soraya, lalu berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar Soraya, namun penuh penekanan.

​"Bersih? Yakin?" bisik Gilang, napasnya yang bau rokok menerpa pipi Soraya. "Gue liat tangan lo megang apa semalam, Soraya. Gue liat tangan lo meluk punggung berlemak itu. Gue liat tangan lo ngeremas sprei."

​Wajah Soraya pucat pasi. Darah seolah surut dari kepalanya.

​"Gilang... please..." mohon Soraya dengan mata berkaca-kaca.

​Gilang menarik wajahnya kembali. Dia menuangkan air panas ke gelasnya sampai penuh, nyaris tumpah. Uap panas mengepul di antara mereka.

​"Wah, lagi berantem nih ceritanya?" sela Bagas dengan tawa canggung. "Udah lah, Lang. Cewek emang gitu, suka ngambek. Baikan gih. Bentar lagi kita mau packing pulang ke Jakarta lho. Masa di bus musuhan?"

​Gilang mengaduk kopinya pelan. Tring. Tring. Tring. Bunyi sendok beradu dengan gelas kaca terdengar konstan dan mengintimidasi.

​"Gue nggak musuhan," kata Gilang tanpa melihat Bagas, matanya tetap terpaku pada leher Soraya yang tertutup kerah jaket tinggi. "Gue cuma lagi sadar diri."

​"Sadar diri kenapa?" tanya Siska kepo.

​"Sadar kalau gue miskin," jawab Gilang santai, tapi matanya menusuk Soraya. "Iya kan, Ya? Gue kan nggak punya mobil sedan hitam. Gue nggak punya duit tebal buat... jajan."

​Soraya memejamkan mata. Kakinya lemas. Dia berpegangan pada pinggiran meja agar tidak ambruk. Sindiran itu terlalu telak.

​"Lo ngomong apa sih, Lang? Ngelantur lo, kurang tidur ya?" tanya Rio bingung.

​Gilang menyeruput kopinya yang masih panas. Dia tidak meringis sedikitpun meski lidahnya pasti melepuh. "Kopi ini pait," gumam Gilang. "Tapi masih kalah pait sama kenyataan."

​"Drama banget sih lo pagi-pagi," komentar Siska. "Eh, Ya. Lo beneran sakit? Leher lo kenapa ditutupin jaket terus? Gerah tau, ini udah siang."

​Tangan Soraya refleks memegang kerah jaketnya semakin erat. Di balik kain itu, ada jejak merah keunguan bekas hisapan Subagyo yang belum hilang.

​"Gue... gue masuk angin, Sis. Dingin," jawab Soraya gagap.

​Gilang tertawa pendek. "Masuk angin," ulangnya dengan nada mengejek. "Masuk angin atau 'masuk' yang lain?"

​Soraya menatap Gilang dengan tatapan memohon. Cukup, Gilang. Tolong cukup.

​"Lang, lo kenapa sih?" akhirnya Soraya bersuara, nadanya sedikit meninggi karena panik dan malu. "Kalau lo marah, ngomong langsung. Jangan nyindir kayak banci."

​Gilang membanting gelas kopinya ke meja. BRAK!

​Cairan hitam muncrat sedikit ke taplak meja plastik. Semua orang terlonjak kaget. Bagas sampai tersedak kerupuk. Hening total. Ayam yang berkokok di kejauhan pun seolah ikut diam.

​Gilang maju selangkah, mengikis jarak dengan Soraya. Tubuhnya yang tinggi menjulang di atas Soraya yang mungil. Soraya bisa melihat urat-urat di leher Gilang menegang.

​"Gue banci?" desis Gilang. Matanya berkilat marah. "Iya. Gue emang banci. Gue banci karena gue nggak dobrak pintu itu lebih awal. Gue banci karena gue cuma bisa nonton cewek gue mendesah-desah keenakan sama orang tua bangka."

​Kata-kata itu diucapkan dengan volume rendah, tapi intonasinya penuh racun. Teman-temannya tidak mendengar jelas bagian 'mendesah', tapi mereka merasakan ketegangan yang mematikan.

​"Lang... malu dilihat anak-anak," bisik Soraya, air matanya sudah menggenang di pelupuk.

​"Malu?" Gilang menaikkan alisnya. "Lo masih punya malu? Gue kira rasa malu lo udah ketinggalan di kamar nomor lima bareng baju-baju lo yang berserakan."

​Soraya menunduk dalam. Dia kalah. Dia tidak bisa membantah kebenaran itu.

​"Udah, woy! Udah!" Bagas akhirnya berdiri, melerai. Dia merasakan situasi sudah tidak kondusif. "Gilang, lo tenang dulu. Soraya juga, kalau ada masalah selesaiin baik-baik. Jangan di sini."

​Gilang mundur perlahan. Dia mengambil gelas kopinya lagi. Dia menatap Soraya dari ujung rambut sampai ujung kaki, tatapan yang membuat Soraya merasa telanjang kembali di tengah keramaian.

​"Tenang aja, Gas. Gue udah selesai kok," kata Gilang pada Bagas, tapi matanya tidak lepas dari Soraya. "Gue udah selesai sama semuanya."

​"Lang, rokok lo abis tuh. Minta punya gue nggak?" tawar Rio mencoba mengalihkan isu.

​"Nggak usah," tolak Gilang. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan bungkus rokok yang sudah penyok. Dia menyalakannya dengan tangan gemetar. Asap putih mengepul, menghalangi wajahnya dari pandangan Soraya.

​Soraya masih berdiri mematung. Dia ingin mengatakan sesuatu. Dia ingin bilang kalau dia melakukan itu demi ibunya. Demi nyawa. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

​"Soraya," panggil Gilang tiba-tiba di sela hisapan rokoknya.

​Soraya mendongak penuh harap.

​"Kopinya enak," kata Gilang datar, sambil mengangkat gelas plastik itu. "Rasanya murah. Pas banget."

​Soraya tahu Gilang tidak sedang membicarakan kopi. Gilang sedang membicarakan dirinya. Murah.

​"Permisi. Gue mau packing," Gilang mematikan rokoknya yang baru dihisap setengah ke dalam asbak dengan tekanan kuat, menghancurkan baranya sampai mati total. Seperti dia mematikan perasaannya.

​Dia berjalan pergi meninggalkan dapur, meninggalkan Soraya yang gemetar, dan teman-temannya yang saling pandang kebingungan.

​"Kalian kenapa sih? Sumpah horor banget," bisik Siska sambil menyenggol Soraya. "Lo selingkuh ya, Ya?"

​Pertanyaan polos Siska itu menusuk tepat di jantung.

​Soraya tidak menjawab. Dia mengambil gelas air putih di meja, meminumnya dengan rakus untuk meredakan rasa tercekik di lehernya. Air itu terasa hambar. Segalanya terasa hambar sekarang.

​"Gue... gue mau mandi dulu," kata Soraya beralasan, padahal dia sudah mandi. Dia hanya butuh kabur. Dia butuh menangis di tempat yang tidak ada orang.

​Saat dia berbalik hendak pergi, matanya menangkap gelas kopi milik Gilang yang ditinggalkan di meja. Masih ada sisa sedikit ampas hitam di dasarnya. Hitam, pekat, dan pahit. Persis seperti masa depannya.

​Soraya berjalan cepat ke kamar mandi, mengunci pintu, menyalakan keran air sekencang-kencangnya agar suara tangisannya yang pecah tidak terdengar oleh siapa pun. Dia merosot di balik pintu, memeluk lututnya yang gemetar.

​Di luar sana, suara tawa teman-temannya mulai terdengar lagi, membahas rencana pulang ke Jakarta. Mereka akan pulang ke rumah. Sementara Soraya... dia sadar dia sudah tidak punya 'rumah' lagi untuk pulang. Hatinya sudah tertinggal di kamar hotel reyot itu, dan harga dirinya sudah hancur di depan gelas kopi pahit barusan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Garis Paralel yang Abadi (TAMAT)

    ​Enam tahun kemudian. ​Wajah Jakarta telah berubah. Gedung-gedung pencakar langit baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, jalan tol semakin bertingkat meliuk-liuk di angkasa, dan denyut kota metropolitan ini terasa semakin cepat. Namun, di tengah perubahan yang konstan dan bising itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sebuah rutinitas sunyi setiap hari Jumat siang di sebuah unit apartemen di Kuningan. ​Soraya berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kritis namun damai. Sehelai uban perak mulai terlihat samar di antara rambut hitamnya yang kini dipotong pendek sebahu. Gaya rambut ini jauh lebih praktis untuk seorang Dekan Fakultas Ekonomi yang sibuk sepertinya. ​Ada kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya. Itu adalah jejak dari ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca data, mengajar mahasiswa, dan menahan tawa atau tangis selama bertahun-tahun. ​Usianya sudah menginjak 44 tahun. ​Dia masih sendiri. Setida

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Arsitektur Dua Dunia

    ​Jumat siang di Jakarta Selatan. Hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menciptakan kemacetan panjang di jalan-jalan protokol. Suara klakson dan deru mesin samar-samar terdengar dari kejauhan, teredam oleh ketebalan kaca jendela apartemen lantai 35. ​Namun, di dalam unit apartemen Soraya, dunia terasa berbeda. Suasana begitu tenang, hangat, dan melambat. Aroma lilin vanilla bercampur dengan bau hujan yang lembab menciptakan kepompong kenyamanan yang membuai. ​Gilang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Kepalanya berbantalkan paha Soraya yang terasa empuk. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur naik-turun. Dia tidak sedang tidur, hanya sedang melakukan ritual mingguannya: mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia konstruksi, tuntutan klien yang rewel, dan tentu saja, sandiwara rumah tangga yang melelahkan. ​Soraya duduk bersandar dengan nyaman. Satu tangannya memegang tablet, membaca berita ekonomi global tentang fluktuasi pasar saham Asia, sementara tangan lainnya berger

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Cincin Berlian yang Ditolak

    ​Sejak malam ulang tahun Gilang yang penuh dosa dan kejujuran itu, rutinitas mereka kini terbentuk seperti mekanisme jam tangan buatan Swiss. Semuanya berjalan presisi, tersembunyi, dan sangat efisien. ​Soraya menjalani hari-harinya sebagai Profesor yang dihormati di kampus, mengajar mahasiswa dengan wajah tegak dan berwibawa. Gilang menjalani harinya sebagai Arsitek sukses dan Ayah teladan bagi ketiga anaknya. Namun, di sela-sela dua kehidupan yang tampak sempurna itu, ada celah waktu sempit yang mereka curi. Sebuah celah di mana mereka bisa menjadi "suami-istri" bayangan di apartemen Kuningan. ​Malam ini, rutinitas itu sedikit terganggu. Soraya tidak berada di apartemennya menunggu Gilang. Dia sedang duduk di restoran View di Fairmont Hotel, mengenakan gaun malam berwarna navy yang sopan namun membalut tubuhnya dengan elegan. ​Di hadapannya, duduk Pak Prasetyo. Pria itu adalah duda tanpa anak, seorang diplomat senior yang baru saja pulang dari penempatan di Eropa. Dia juga tema

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Potongan Kue

    ​Ulang tahun ke-38 Gilang dirayakan dengan meriah di rumah Bintaro. Amara, sebagai istri yang berbakti dan citra sempurna dari sebuah keluarga bahagia, menggelar pesta kebun di halaman belakang rumah mereka.​Balon-balon berwarna emas dan hitam menghiasi taman. Meja prasmanan penuh dengan makanan katering mahal, dan tamu-tamu, mulai dari rekan bisnis, kerabat, hingga tetangga, tumpah ruah memberikan selamat.​"Selamat ulang tahun, Sayang." Amara mencium pipi Gilang di depan semua orang saat sesi pemotongan kue.​Wanita itu tersenyum lebar, memegang pisau kue bersama suaminya. Kamera fotografer sewaan mengabadikan momen itu. Cekrek.​Gilang tersenyum. Sebuah senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum "Suami Bahagia".​"Makasih, Ra," jawab Gilang.​Dia memotong kue tart cokelat itu, memberikan suapan pertama pada Amara, lalu pada Naya, Juna, dan si bungsu Kania. Tepuk tangan membahana. Musik akustik mengalun. Semua orang tertawa.​Akan tetapi, di dalam kep

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Ritual Jumat Siang

    Enam Bulan Kemudian. Jumat, pukul 11.45 WIB. Apartemen Soraya di lantai 35 kawasan Kuningan itu sudah wangi. Kali ini, bukan wangi parfum mahal atau lilin aromaterapi lavender yang biasanya menyambut tamu. Ruangan itu dipenuhi aroma masakan rumahan yang menggugah selera. Aroma serai, daun jeruk, dan kemangi menguar dari dapur, bercampur dengan uap nasi panas yang baru matang. Di atas meja makan, sudah tersaji menu spesial. Ikan kuah kuning yang segar, tumis bunga pepaya dengan cakalang suwir, dan sambal dabu-dabu yang pedas menggigit. Ini adalah menu Manado, request khusus dari satu-satunya "tamu" yang Soraya miliki dalam hidupnya saat ini. Soraya menata meja makan dengan gerakan efisien namun anggun. Dia meletakkan piring keramik putih, gelas berisi air dingin, dan melipat serbet kain dengan rapi. Hari ini, dia tidak mengenakan blazer kaku atau rok pensil seperti biasanya saat dia berdiri di depan mahasiswa atau pejabat kementerian. Dia mengenakan dress santai berbahan katun ber

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Vonis Tanpa Palu Hakim

    Malam itu, langit Bintaro gelap tanpa bintang. Gilang pulang ke rumah dengan langkah yang diseret, seolah ada beban besi ribuan kilo di kakinya. Di lehernya, masih terikat dasi Hermes baru pemberian Amara. Dasi sutra yang mahal dan halus itu kini terasa mencekik, seperti tali gantungan yang perlahan mengetat setiap detiknya. Dia membuka pintu rumah. Hening. Tidak ada suara TV, tidak ada celoteh Naya, tidak ada tangisan Juna. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di sana, di sofa tunggal favoritnya, Amara duduk membelakangi pintu masuk. Dia tidak sedang menonton, tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang bermain ponsel. Dia hanya duduk diam seperti patung, menatap meja kopi kaca di hadapannya. "Assalamualaikum," sapa Gilang pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Waalaikumsalam," jawab Amara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu justru membuat bulu kuduk Gilang mere

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status