แชร์

BAB 2: Hujan yang Tak Kunjung Reda

ผู้เขียน: Tinta Senyap
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-06 22:23:16

​​Suara teriakan Gilang menghilang, digantikan oleh bunyi hujan yang menghantam atap seng hotel. Di dalam kamar nomor lima, hanya tersisa suara napas berat Dr. Subagyo dan isak tangis Soraya yang tertahan.

​Soraya menarik selimut tipis itu sampai ke dagu. Tubuhnya gemetar di pojok kasur.

​Subagyo menggeser kursi kayu untuk mengganjal pintu yang kuncinya sudah rusak. Dia berbalik, matanya tidak menyiratkan rasa bersalah sedikitpun. Justru, ada kilatan gairah yang makin menyala melihat Soraya ketakutan seperti itu.

​"Sudah nangisnya?" tanya Subagyo dingin. Dia berjalan mendekat ke ranjang.

​"Bapak... Tuan..." suara Soraya pecah. "Tolong... biarkan saya pulang. Gilang sudah tahu... saya takut..."

​Subagyo tertawa pendek. "Pulang? Kamu pikir ini taman kanak-kanak? Kamu pikir setelah pacar miskinmu itu bikin keributan, kamu bisa kabur begitu saja?"

​Subagyo naik ke atas kasur. Ranjang tua itu berdecit nyaring. Dia menarik selimut yang menutupi tubuh Soraya dengan sekali sentakan kasar. Kain itu terlempar ke lantai, membiarkan tubuh polos Soraya kembali terekspos udara dingin dan tatapan lapar.

​"J-jangan..." Soraya menyilangkan tangan di depan dada.

​"Singkirkan tanganmu," perintah Subagyo tegas.

​Soraya menggeleng. "Tuan, tolong... saya nggak mood... saya nggak bisa..."

​Tangan besar Subagyo langsung mencengkeram pergelangan tangan Soraya, memaksanya terbuka lebar, menindihnya ke samping kepala gadis itu. Posisi Soraya kini terbuka sepenuhnya.

​"Saya bayar kamu bukan buat minta pendapat soal mood kamu, Soraya," bisik Subagyo tepat di depan wajah gadis itu. "Saya bayar kamu buat melayani saya. Sampai saya puas. Paham?"

​"Tapi Gilang..."

​"Lupakan Gilang!" bentak Subagyo. "Pikirkan ibumu. Biaya cuci darahnya lima juta per minggu. Kamu mau ibumu mati cuma gara-gara kamu sok suci malam ini?"

​Ancaman itu membuat tubuh Soraya lemas seketika.

​"Nah, gitu dong. Jadilah anak manis," Subagyo tersenyum miring. Dia menunduk, menjilat leher Soraya yang basah oleh keringat dingin. "Sekarang, tanggung jawab kamu adalah bikin 'adik' saya bangun lagi. Gara-gara pacarmu tadi, dia jadi lemas. Kamu harus bangunin dia."

​"S-saya harus apa...?" tanya Soraya lirih.

​"Turun ke bawah," perintah Subagyo sambil menunjuk selangkangannya sendiri. "Pakai mulutmu. Bersihkan sisa-sisa tadi. Bikin dia keras lagi."

​Soraya menelan ludah. Rasa jijik memenuhi kerongkongannya. Tapi tatapan Subagyo tidak menerima penolakan. Dengan gemetar, Soraya bangun dari posisi tidurnya, berlutut di antara kedua kaki Subagyo yang duduk di tepi ranjang.

​"Buka mulutmu," perintah Subagyo sambil menekan kepala Soraya mendekat.

​Soraya memejamkan mata, membiarkan mulutnya bekerja.

​"Ahhh... iya, di situ..." desah Subagyo sambil menjambak pelan rambut Soraya, mengatur irama gerakan kepala gadis itu. "Pintar. Lidahmu memang aset berharga, Soraya. Pantesan nilai kamu selalu A."

​"Mmmhh..." Soraya hanya bisa melenguh tertahan.

​Beberapa menit kemudian, Subagyo sudah tidak tahan. Dia menarik Soraya naik kembali ke atas kasur, mendorongnya terlentang.

​"Sekarang buka kakimu. Lebar-lebar," perintahnya.

​Soraya membuka pahanya. Subagyo langsung memposisikan dirinya di atas.

​"Lihat saya, Soraya," kata Subagyo saat Soraya mencoba memalingkan wajah. "Jangan merem. Lihat siapa yang masuk ke dalam kamu."

​"Iya... Tuan..." bisik Soraya.

​Dengan satu dorongan kuat, Subagyo membenamkan miliknya kembali ke dalam liang hangat Soraya.

​"Aaahh!" Soraya memekik. Terasa perih karena pelumas alaminya sudah kering akibat ketakutan tadi.

​"Sempit banget... Sialan, kamu memang paling enak," geram Subagyo. Dia mulai bergerak. Mundur, maju. Pelan, lalu makin cepat. "Gimana rasanya? Hah? Lebih enak mana sama si Gilang itu?"

​Soraya menggigit bibir, air matanya menetes ke samping. "E-enak Tuan... Tuan paling enak..."

​"Bohong," Subagyo menampar pelan pipi Soraya. Bukan tamparan sakit, tapi tamparan merendahkan. "Kamu bohong. Tapi saya suka. Desah lagi. Yang kencang! Biar si Gilang denger kalau dia masih di luar sana!"

​"Ahhh... Tuan... sakit... ahhh!"

​"Jangan bilang sakit! Bilang enak! Bilang kamu suka punya saya!" paksa Subagyo sambil memacu pinggulnya makin brutal. Plak! Plak! Plak! Suara kulit beradu terdengar nyaring.

​"Enak... ahhh! Soraya suka... Soraya suka punya Tuan..." racau Soraya. Pikirannya kosong. Dia hanya ingin ini cepat selesai.

​"Angkat kakimu ke bahu saya," perintah Subagyo.

​Soraya menurut, mengalungkan kakinya yang jenjang ke bahu kekar Subagyo. Posisi itu membuat penetrasi Subagyo masuk sangat dalam, menyentuh titik terdalam kewanitaan Soraya.

​"Ohhh... Tuhan... dalam banget..." desah Soraya, kali ini bukan akting. Sensasi penuh itu membuatnya melengkungkan punggung.

​"Iya kan? Terasa kan?" Subagyo menyeringai puas, keringat menetes dari dahinya ke dada Soraya. "Saya rajanya malam ini. Kamu cuma tempat saya buang hajat. Kamu ngerti posisi kamu?"

​"Ngerti... ahhh... Soraya ngerti..."

​"Apa posisi kamu? Bilang!"

​"Soraya... ahhh! Soraya cuma pelacur Tuan... ahhh!"

​Jawaban itu membuat gairah Subagyo meledak. Dia bergerak gila-gilaan, ranjang besi itu berhantam dengan tembok, menimbulkan suara gaduh.

​"Bagus! Pelacur pintar! Terus! Goyang pinggulmu, sambut punya saya!"

​"Tuan... mau keluar... ahhh! Tuan!"

​"Tahan! Jangan keluar duluan! Tunggu saya!" bentak Subagyo. Dia meremas payudara Soraya dengan kasar, meninggalkan bekas merah jari-jarinya di sana. "Tampung semuanya, Soraya! Jangan ada yang tumpah!"

​Subagyo menggeram panjang, tubuhnya menegang kaku.

​"Ahhh....!!!" lalu dia ambruk di atas tubuh Soraya.a

​Keduanya terengah-engah. Napas memburu memenuhi ruangan sempit itu. Subagyo masih menindih Soraya, berat badannya membuat Soraya sesak napas.

​"Bagus sekali," bisik Subagyo di telinga Soraya, suaranya parau dan basah. "Malam ini kamu 'servis' saya luar biasa. Saya kasih bonus nanti."

​Soraya tidak menjawab. Dia hanya menatap langit-langit kamar yang penuh jamur dengan tatapan kosong.

​Subagyo menarik dirinya keluar. Dia bangun, mengambil tisu kusam dari meja nakas, membersihkan dirinya seadanya, lalu melempar tisu bekas itu ke perut Soraya.

​"Bersihin itu," tunjuk Subagyo ke cairan yang meleleh di paha Soraya. "Jijik saya lihatnya kalau berantakan."

​Soraya duduk perlahan, mengambil tisu itu dengan tangan gemetar.

​"Pakai bajumu," kata Subagyo sambil mengancingkan kemejanya. Dia kembali terlihat rapi, seolah tidak melakukan hal bejat. "Sopir saya nunggu di belakang. Dia bakal antar kamu sampai jarak aman dari posko."

​Subagyo mengambil dompet, mengeluarkan segepok uang merah, dan melemparkannya ke kasur.

​"Itu lima juta. Buat cuci darah ibumu besok. Kurang baik apa saya sama kamu?"

​Soraya menatap uang itu.

​"Bilang apa?" tanya Subagyo dingin.

​"Makasih... Tuan..." suara Soraya serak, hampir habis.

​"Sama-sama, Sayang," Subagyo tersenyum, menepuk pipi Soraya pelan, lalu berbalik badan. Dia membuka ganjalan kursi di pintu.

​Sebelum keluar, Subagyo menoleh lagi.

​"Oh iya, Soraya. Besok di kampus, jangan lupa senyum. Saya nggak suka lihat mahasiswi bimbingan saya cemberut. Kita harus profesional, kan?"

​Pintu tertutup. Klik.

​Soraya sendirian lagi. Dia menatap tumpukan uang di atas sprei yang kusut itu. Tangannya terulur, meraba uang kertas yang dingin itu, lalu meremasnya kuat-kuat di dada. Dia tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis. Yang tersisa hanya rasa dingin yang menusuk tulang.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Turbulensi di Atas Awan

    Pagi di Mandalika seharusnya indah. Matahari terbit dari ufuk timur, menyepuh lautan biru dengan warna emas yang berkilauan. Suara deburan ombak yang tenang seharusnya menjadi musik pengantar bangun tidur yang sempurna bagi siapapun yang menginap di resort mewah ini.Namun bagi Soraya, pagi itu terasa seperti penghakiman. Dia terbangun di ranjang hotelnya yang luas dengan kepala berdenyut nyeri. Bukan karena alkohol, tapi karena kurang tidur. Semalaman dia hanya berguling ke kiri dan ke kanan, dihantui oleh sensasi bibir Gilang yang menempel di bibirnya. Rasa asin, rasa putus asa, rasa rindu... semuanya bercampur menjadi racun yang manis.Soraya menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa bengkak. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja? Dia bangun, menyeret kakinya ke kamar mandi. Di depan cermin wastafel, dia menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Wajahnya pucat."Lo istri orang, Ya," bisiknya pada cermin. "Dan lo baru aja mengkhianati laki-laki paling baik di

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Ombak Pasang di Kuta Mandalika

    Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok.Matahari terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi ungu dan oranye yang dramatis. Deburan ombak Samudra Hindia terdengar berirama, menghempas pasir putih Pantai Kuta Mandalika yang kini telah disulap menjadi kawasan resor kelas dunia.Di ballroom terbuka Pullman Lombok Merujani Mandalika Beach Resort, para tamu undangan mulai berdatangan. Angin laut yang membawa aroma garam bercampur dengan wangi parfum mahal para pejabat dan investor.Soraya berjalan masuk melewati gerbang pemeriksaan undangan. Dia mengenakan jumpsuit sutra berwarna emerald green dengan potongan halter neck yang elegan namun tetap sopan. Punggungnya tertutup selendang tenun Lombok yang dia beli di bandara, sebuah upaya diplomatis untuk menghargai budaya lokal sekaligus menutupi kulitnya dari angin malam. Dia datang sendirian. Tanpa Brata."Selamat malam, Ibu Soraya. Perwakilan dari Prof. Brata, benar?" sapa panitia ramah."Benar. Suami saya berhalangan hadir kare

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Grafik Stabilitas yang Membosankan

    Tiga Tahun Kemudian.Waktu di Dago Pakar berjalan dengan ritme yang teratur, seperti detak metronom yang tidak pernah meleset satu ketukan pun.Soraya duduk di ruang kerjanya yang luas di rumah, menatap layar laptop. Di dinding di belakangnya, tergantung ijazah Doktoral dan piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat atas kontribusinya dalam tim percepatan ekonomi daerah. Namanya kini panjang dan berat: Dr. Soraya Adhitama, S.E., M.Ec. Dev. Di usia 35 tahun, dia memiliki segalanya. Karir cemerlang sebagai konsultan independen, suami Guru Besar yang dihormati, rumah mewah tanpa hutang, dan investasi yang tersebar di reksadana dan obligasi negara. Variabel kehidupannya stabil. Sangat stabil.Tidak ada lagi drama kekurangan uang obat. Ibu Wati sehat. Dimas sukses dengan bisnis kontraktor kecil-kecilannya (yang tentu saja dibimbing oleh Brata di balik layar)."Soraya," suara Brata memanggil dari ruang tengah.Soraya keluar. Brata sedang duduk di sofa kulit, membaca koran Kompas dengan kac

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Kurva Pemulihan yang Lambat

    Pukul 04.30 WIB.Alarm di ponsel Brata berbunyi, memecah keheningan subuh di Dago Pakar. Biasanya, pada dering pertama, tangan Brata akan langsung bergerak mematikannya, lalu dia akan bangun dengan gerakan efisien untuk memulai rutinitas paginya: shalat, baca jurnal, dan lari pagi. Tapi pagi ini, alarm itu berbunyi terus. Satu menit. Dua menit. Soraya terbangun. Dia menggeliat di balik selimutnya, menatap sisi ranjang sebelah kanan. Guling pembatas masih ada di sana, berdiri tegak seperti tembok Berlin mini."Mas?" panggil Soraya serak. "Alarmnya."Tidak ada jawaban. Brata masih terbaring diam, punggungnya memunggungi Soraya. Soraya merasa aneh. Brata tidak pernah telat bangun. Dia adalah manusia paling disiplin yang pernah Soraya kenal. Soraya mengulurkan tangan melewati guling, mengguncang bahu suaminya pelan."Mas Brata? Bangun, udah subuh." Saat tangannya menyentuh kulit bahu Brata yang tertutup piyama, Soraya tersentak. Panas. Sangat panas."Mas!" Soraya langsung bangun, menyin

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Variabel Harapan Ibu

    Enam Bulan Pasca Pernikahan.Rumah Brata di Dago Pakar kini memiliki sedikit sentuhan feminin. Ada vas bunga segar di meja makan yang biasanya hanya berisi tumpukan koran. Ada tirai berwarna soft beige yang menggantikan tirai abu-abu kaku di ruang tamu. Dan ada aroma masakan rumahan yang tercium setiap sore, menggantikan aroma kopi pahit yang dulu mendominasi.Namun, di kamar utama lantai dua, tata letaknya tidak berubah. Guling pembatas itu masih ada di tengah ranjang King Size, menjadi garis demarkasi yang dihormati oleh kedua belah pihak.Sore itu, Ibu Wati datang berkunjung. Dia duduk di sofa ruang keluarga, merajut baju bayi kecil berwarna kuning."Buat siapa, Bu?" tanya Soraya sambil menyajikan teh hangat. Dia baru pulang dari kantor Institute, masih mengenakan pakaian kerjanya yang rapi."Buat anak Dimas nanti," jawab Ibu Wati tersenyum, matanya berbinar. Rini, istri Dimas, baru saja hamil tiga bulan. "Tapi Ibu bikinnya agak banyak. Siapa tau... nanti buat anak kamu juga."Tan

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Dinginnya Salju Davos

    Davos, Swiss.Udara di ketinggian 1.560 meter di atas permukaan laut itu tipis dan tajam. Hamparan salju putih menyelimuti pegunungan Alpen, menciptakan pemandangan yang memukau namun membekukan. Kota kecil ini sedang dipenuhi oleh para pemimpin dunia, ekonom top, dan CEO global yang menghadiri World Economic Forum.Soraya berjalan di samping Brata menyusuri Promenade, jalan utama Davos yang licin oleh es. Dia mengenakan mantel wol tebal berwarna camel, syal cashmere, dan boots kulit. Brata, di sebelahnya, mengenakan overcoat hitam panjang dan topi fedora, terlihat seperti diplomat era perang dingin yang menyimpan banyak rahasia negara."Dingin?" tanya Brata, melihat uap putih keluar dari mulut Soraya setiap kali dia bernapas."Sedikit, Mas. Tapi segar," jawab Soraya. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Tidak ada gandengan tangan. Mereka berjalan beriringan dengan jarak sepuluh sentimeter yang konsisten."Bagus. Oksigen tipis memicu otak memproduksi lebih banyak sel darah m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status