MasukMatahari sudah condong ke barat. Suara lakban yang ditarik panjang, sreeet! terdengar mendominasi ruang tengah posko. Kardus-kardus mie instan bekas kini sudah terisi penuh dengan baju-baju kotor dan oleh-oleh kerupuk desa. Masa KKN mereka resmi berakhir sore ini. Bus jemputan akan datang satu jam lagi.
Soraya berdiri di dapur yang berantakan. Tangannya sibuk mengaduk sayur asem di panci besar, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Ini adalah masakan terakhirnya untuk teman-teman, dan khusus untuk Gilang. Dia tahu Gilang suka sayur asem buatannya yang pedas manis. "Baunya enak banget, Ya," komentar Rio yang lewat sambil memanggul ransel gunungnya. "Lo emang calon istri idaman. Pinter masak, cantik, pinter di ranjang... eh maksud gue, pinter di kampus." Rio tertawa garing atas keseleo lidahnya sendiri. Tangan Soraya terhenti sejenak. Sendok sayur di tangannya gemetar. Kata 'ranjang' itu membuat perutnya mual. Dia melirik ke arah ruang tengah, tempat Gilang sedang melipat bajunya dengan gerakan kasar. Gilang tidak menoleh. Dia pura-pura tidak dengar. Atau mungkin, dia setuju dengan bagian 'pinter di ranjang' itu dengan konotasi yang berbeda. Soraya mengambil piring plastik warna hijau, piring favorit Gilang. Dia menyendokkan nasi putih hangat yang masih mengepul, menyiramnya dengan kuah sayur asem, menambahkan sepotong ikan asin goreng dan sambal terasi. Kombinasi sederhana yang dulu selalu bisa membuat Gilang tersenyum lebar. Dengan langkah ragu, Soraya berjalan mendekati Gilang. Setiap langkah terasa berat, seolah dia sedang berjalan menuju tiang gantungan. Di ruang tengah, Bagas dan Siska sedang berebut charger hp. Suasana cukup riuh, tapi mendadak hening radius dua meter di sekitar Gilang. Pria itu membangun tembok tak kasat mata yang dingin. "Lang..." panggil Soraya pelan. Gilang tidak menjawab. Dia memasukkan kaosnya ke dalam tas. "Lang, makan dulu," bujuk Soraya, menyodorkan piring itu. "Ini masakan terakhir sebelum kita balik Jakarta. Aku masakin ikan asin kesukaan kamu." Gilang akhirnya berhenti bergerak. Dia menatap piring di tangan Soraya, lalu tatapannya naik perlahan ke wajah Soraya. Tatapan itu kosong, seperti melihat orang asing yang nyasar. "Gue nggak laper," jawab Gilang datar. Dia kembali sibuk dengan ritsleting tasnya. "Tapi kamu belum makan dari pagi, Lang," Soraya bersikeras, nadanya sedikit memohon. "Nanti kamu masuk angin di bus. Perjalanan lima jam lho." "Gue bilang nggak laper. Kuping lo budek?" Gilang menjawab tanpa menaikan volume suara, tapi intonasinya tajam seperti silet. Siska yang duduk di sofa menyeletuk, "Yaelah, Lang. Makan aja napa sih? Kasian tuh Soraya udah masak keringetan. Lo berdua berantemnya awet bener kayak formalin." "Tau nih, hargain dikit kek," timpal Bagas. "Kalau lo nggak mau, buat gue aja sini." Bagas hendak mengambil piring itu, tapi Soraya menjauhkannya. "Jangan, Gas. Ini buat Gilang," kata Soraya. Dia kembali menatap Gilang, matanya mulai berkaca-kaca. "Lang, please. Cuma makan. Aku nggak minta kamu maafin aku sekarang. Aku cuma minta kamu isi perut." Gilang menghela napas panjang, seolah dia sangat lelah menghadapi rengekan anak kecil. Dia berdiri, menjulang tinggi di hadapan Soraya. Dia mengambil piring itu dari tangan Soraya. Wajah Soraya sedikit cerah. Dia pikir Gilang luluh. Tapi Gilang tidak memakannya. Dia hanya memegang piring itu, menatap isi makanannya dengan ekspresi jijik, seolah ada kecoa mati di sana. "Ikan asin," gumam Gilang pelan, tapi cukup keras untuk didengar Soraya. "Murah. Asin. Bau." Jantung Soraya terkejut. "Kamu... kamu kan suka ikan asin," cicit Soraya. "Itu dulu," potong Gilang cepat. Dia mendekatkan wajahnya ke Soraya. "Selera gue udah berubah, Ya. Gue sadar sekarang, gue nggak suka makanan yang... terlalu banyak dijamah orang." Soraya ternganga. Napasnya tercekat. "Maksud lo apa sih, Lang?" tanya Siska bingung. "Itu ikan baru digoreng, siapa yang jamah?" Gilang tersenyum miring pada Siska, tapi matanya tetap mengunci Soraya. "Bukan ikannya, Sis. Tapi kokinya. Gue agak jijik sama kebersihan tangannya." Soraya refleks menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Dia merasa kotor. Sangat kotor. "Tangan aku bersih, Lang..." bisik Soraya, air mata sudah menggenang di pelupuk. "Aku udah cuci tangan pakai sabun berkali-kali..." Aku udah mandi berkali-kali. Aku udah gosok badanku sampai lecet. Tapi kenapa kamu masih liat aku kotor? batin Soraya menjerit. "Sabun nggak bisa nyuci semuanya, Soraya," bisik Gilang sadis. Dia meletakkan kembali piring itu ke atas meja di sampingnya dengan bunyi trak yang keras. "Gue mau beli Pop Mie di warung depan aja," umum Gilang pada semua orang. "Lebih terjamin. Bungkusnya masih segel. Belum dibuka sama orang lain." Kalimat itu menghantam Soraya telak di ulu hati. Bungkusnya masih segel. "Lang, lo keterlaluan tau nggak," Siska akhirnya berdiri, membela Soraya. "Soraya masak capek-capek, lo malah ngomongin segel-segelan. Lo kenapa sih? Lo nuduh Soraya jorok?" Gilang menoleh ke Siska, lalu tertawa kecil. Tawa yang hampa. "Tanya aja sama dia, Sis. Seberapa jorok dia semalam," kata Gilang santai sambil menyambar bungkus rokoknya. Soraya memucat. Dia menggeleng panik ke arah Gilang. Jangan. Tolong jangan cerita. "Lang..." Soraya meraih lengan Gilang, putus asa. "Cukup. Kalau kamu nggak mau makan, ya udah. Jangan ngomong yang aneh-aneh." Gilang menepis tangan Soraya kasar. "Jangan sentuh gue!" bentak Gilang. Kali ini suaranya meninggi. Satu ruangan hening. Rio yang lagi main gitar langsung berhenti. Bagas yang lagi makan langsung keselek. Gilang menatap bekas tangannya yang disentuh Soraya, lalu mengusap-usapnya ke celana jeans-nya seolah baru saja terkena lendir menjijikkan. "Gue udah bilang tadi pagi, kan?" desis Gilang. "Kita asing. Gue nggak kenal lo. Jadi jangan sok akrab masakin gue, jangan sok perhatian, dan jangan berani-berani sentuh gue pakai tangan lo yang..." Gilang menggantung kalimatnya. Matanya turun ke bibir Soraya yang masih sedikit bengkak, lalu turun ke lehernya yang tertutup jaket, lalu ke bawah lagi. Tatapan itu seolah menelanjangi Soraya di depan teman-temannya. "...Tangan lo yang sibuk semalam," lanjut Gilang dengan suara rendah yang penuh racun. Soraya mundur selangkah. Kakinya lemas. Dia menabrak meja di belakangnya. "Gue benci lo, Lang," bisik Soraya. Itu satu-satunya pertahanan diri yang dia punya. "Bagus," balas Gilang cepat. "Kebencian itu mutual. Tapi bedanya, gue benci lo karena kenyataan. Lo benci gue karena gue tau rahasia busuk lo." "Woy, udahlah!" Bagas berdiri, memisahkan mereka. Dia mendorong dada Gilang pelan. "Lo kalau ada masalah pribadi, selesaiin nanti. Jangan ngerusak suasana perpisahan kita. Nggak enak dilihat warga." Gilang menepis tangan Bagas. "Gue cabut. Gue tunggu di pos ronda aja. Di sini pengap. Bau bangkai." Gilang menyambar tas ranselnya, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Soraya berdiri mematung di tengah ruangan. Piring berisi nasi dan ikan asin itu masih tergeletak di meja, dingin dan tak tersentuh. Seperti hatinya. "Ya, lo nggak apa-apa?" tanya Siska khawatir, merangkul bahu Soraya. "Gilang kesambet apaan sih? Kok omongannya nyakit banget?" Soraya menggeleng lemah. "Nggak apa-apa, Sis. Mungkin dia lagi stres skripsi." "Stres skripsi nggak bikin orang jadi bajingan kayak gitu, Ya," Siska mendengus kesal. "Mending lo putusin aja deh. Cowok toxic." Soraya tertawa miris dalam hati. Putus? Kata itu bahkan terdengar seperti kemewahan sekarang. Hubungan mereka sudah hancur lebur sebelum kata putus terucap. "Gue... gue ke kamar mandi bentar ya," pamit Soraya. Dia lari ke kamar mandi, mengunci pintu. Dia melihat pantulan wajahnya di cermin retak. Cantik, tapi kosong. "Bau bangkai..." bisik Soraya mengulangi kata-kata Gilang. Dia mengangkat tangannya, menciumnya sendiri. Wangi sabun lemon. Tapi bagi Gilang, tangan ini bau dosa. Tangan yang semalam memegang sprei hotel. Tangan yang semalam memegang tubuh gemuk Subagyo. Tangan yang menerima uang lima juta rupiah. Soraya menyalakan keran air, lalu menggosok tangannya kuat-kuat. Lagi. Dan lagi. Sampai kulitnya memerah. "Bersih... harus bersih..." racau Soraya. Air matanya jatuh ke wastafel. Di luar, suara klakson bus terdengar nyaring. Tiiin! Tiiin! Jemputan sudah datang. Waktunya pulang ke Jakarta. Pulang ke realita yang lebih kejam. Soraya mematikan keran air. Dia menghela napas panjang, mencoba menata kembali topeng wajahnya. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia melihat piring makan tadi sudah dikerubungi semut. Nasi itu basi. Ikan asin itu dingin. Bagas sedang membereskan sisa makanan itu ke tempat sampah. "Sorry ya, Ya. Mubazir," kata Bagas tak enak hati. "Nggak apa-apa, Gas," jawab Soraya datar. "Emang tempatnya di situ kok." Sama kayak gue, batin Soraya. Tempat gue sekarang di tempat sampah. Soraya mengambil tasnya. Dia berjalan keluar posko menuju bus pariwisata yang sudah parkir. Di sana, di kursi paling belakang dekat jendela, dia melihat Gilang sudah duduk. Pria itu menyumpal telinganya dengan earphone, matanya terpejam, menutup akses dari dunia luar. Terutama dari Soraya. Soraya melangkah naik ke dalam bus. Kakinya berat. Dia tahu, perjalanan lima jam ke depan akan menjadi perjalanan paling sunyi dan menyiksa dalam hidupnya. Karena takdir atau panitia KKN yang iseng telah mengatur satu hal yang fatal: Kursi kosong di sebelah Gilang adalah satu-satunya kursi yang tersisa untuknya.Enam tahun kemudian. Wajah Jakarta telah berubah. Gedung-gedung pencakar langit baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, jalan tol semakin bertingkat meliuk-liuk di angkasa, dan denyut kota metropolitan ini terasa semakin cepat. Namun, di tengah perubahan yang konstan dan bising itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sebuah rutinitas sunyi setiap hari Jumat siang di sebuah unit apartemen di Kuningan. Soraya berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kritis namun damai. Sehelai uban perak mulai terlihat samar di antara rambut hitamnya yang kini dipotong pendek sebahu. Gaya rambut ini jauh lebih praktis untuk seorang Dekan Fakultas Ekonomi yang sibuk sepertinya. Ada kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya. Itu adalah jejak dari ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca data, mengajar mahasiswa, dan menahan tawa atau tangis selama bertahun-tahun. Usianya sudah menginjak 44 tahun. Dia masih sendiri. Setida
Jumat siang di Jakarta Selatan. Hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menciptakan kemacetan panjang di jalan-jalan protokol. Suara klakson dan deru mesin samar-samar terdengar dari kejauhan, teredam oleh ketebalan kaca jendela apartemen lantai 35. Namun, di dalam unit apartemen Soraya, dunia terasa berbeda. Suasana begitu tenang, hangat, dan melambat. Aroma lilin vanilla bercampur dengan bau hujan yang lembab menciptakan kepompong kenyamanan yang membuai. Gilang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Kepalanya berbantalkan paha Soraya yang terasa empuk. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur naik-turun. Dia tidak sedang tidur, hanya sedang melakukan ritual mingguannya: mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia konstruksi, tuntutan klien yang rewel, dan tentu saja, sandiwara rumah tangga yang melelahkan. Soraya duduk bersandar dengan nyaman. Satu tangannya memegang tablet, membaca berita ekonomi global tentang fluktuasi pasar saham Asia, sementara tangan lainnya berger
Sejak malam ulang tahun Gilang yang penuh dosa dan kejujuran itu, rutinitas mereka kini terbentuk seperti mekanisme jam tangan buatan Swiss. Semuanya berjalan presisi, tersembunyi, dan sangat efisien. Soraya menjalani hari-harinya sebagai Profesor yang dihormati di kampus, mengajar mahasiswa dengan wajah tegak dan berwibawa. Gilang menjalani harinya sebagai Arsitek sukses dan Ayah teladan bagi ketiga anaknya. Namun, di sela-sela dua kehidupan yang tampak sempurna itu, ada celah waktu sempit yang mereka curi. Sebuah celah di mana mereka bisa menjadi "suami-istri" bayangan di apartemen Kuningan. Malam ini, rutinitas itu sedikit terganggu. Soraya tidak berada di apartemennya menunggu Gilang. Dia sedang duduk di restoran View di Fairmont Hotel, mengenakan gaun malam berwarna navy yang sopan namun membalut tubuhnya dengan elegan. Di hadapannya, duduk Pak Prasetyo. Pria itu adalah duda tanpa anak, seorang diplomat senior yang baru saja pulang dari penempatan di Eropa. Dia juga tema
Ulang tahun ke-38 Gilang dirayakan dengan meriah di rumah Bintaro. Amara, sebagai istri yang berbakti dan citra sempurna dari sebuah keluarga bahagia, menggelar pesta kebun di halaman belakang rumah mereka.Balon-balon berwarna emas dan hitam menghiasi taman. Meja prasmanan penuh dengan makanan katering mahal, dan tamu-tamu, mulai dari rekan bisnis, kerabat, hingga tetangga, tumpah ruah memberikan selamat."Selamat ulang tahun, Sayang." Amara mencium pipi Gilang di depan semua orang saat sesi pemotongan kue.Wanita itu tersenyum lebar, memegang pisau kue bersama suaminya. Kamera fotografer sewaan mengabadikan momen itu. Cekrek.Gilang tersenyum. Sebuah senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum "Suami Bahagia"."Makasih, Ra," jawab Gilang.Dia memotong kue tart cokelat itu, memberikan suapan pertama pada Amara, lalu pada Naya, Juna, dan si bungsu Kania. Tepuk tangan membahana. Musik akustik mengalun. Semua orang tertawa.Akan tetapi, di dalam kep
Enam Bulan Kemudian. Jumat, pukul 11.45 WIB. Apartemen Soraya di lantai 35 kawasan Kuningan itu sudah wangi. Kali ini, bukan wangi parfum mahal atau lilin aromaterapi lavender yang biasanya menyambut tamu. Ruangan itu dipenuhi aroma masakan rumahan yang menggugah selera. Aroma serai, daun jeruk, dan kemangi menguar dari dapur, bercampur dengan uap nasi panas yang baru matang. Di atas meja makan, sudah tersaji menu spesial. Ikan kuah kuning yang segar, tumis bunga pepaya dengan cakalang suwir, dan sambal dabu-dabu yang pedas menggigit. Ini adalah menu Manado, request khusus dari satu-satunya "tamu" yang Soraya miliki dalam hidupnya saat ini. Soraya menata meja makan dengan gerakan efisien namun anggun. Dia meletakkan piring keramik putih, gelas berisi air dingin, dan melipat serbet kain dengan rapi. Hari ini, dia tidak mengenakan blazer kaku atau rok pensil seperti biasanya saat dia berdiri di depan mahasiswa atau pejabat kementerian. Dia mengenakan dress santai berbahan katun ber
Malam itu, langit Bintaro gelap tanpa bintang. Gilang pulang ke rumah dengan langkah yang diseret, seolah ada beban besi ribuan kilo di kakinya. Di lehernya, masih terikat dasi Hermes baru pemberian Amara. Dasi sutra yang mahal dan halus itu kini terasa mencekik, seperti tali gantungan yang perlahan mengetat setiap detiknya. Dia membuka pintu rumah. Hening. Tidak ada suara TV, tidak ada celoteh Naya, tidak ada tangisan Juna. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di sana, di sofa tunggal favoritnya, Amara duduk membelakangi pintu masuk. Dia tidak sedang menonton, tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang bermain ponsel. Dia hanya duduk diam seperti patung, menatap meja kopi kaca di hadapannya. "Assalamualaikum," sapa Gilang pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Waalaikumsalam," jawab Amara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu justru membuat bulu kuduk Gilang mere







