Beranda / Lainnya / Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK / ​BAB 6: Kursi Bus Bersebelahan

Share

​BAB 6: Kursi Bus Bersebelahan

Penulis: Tinta Senyap
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-08 20:16:31

​Mesin bus pariwisata itu menderum kasar, menggetarkan kaca jendela yang berembun. AC menyembur terlalu dingin, menusuk tulang. Di kursi paling belakang, di pojok kanan, Soraya duduk dengan tubuh kaku. Di sebelahnya, terpisah hanya oleh sandaran tangan yang tipis, duduk Gilang.

​Hanya berjarak lima sentimeter.

​Jarak itu harusnya terasa hangat. Dulu, setiap kali mereka naik bus atau angkot, lima sentimeter itu akan hilang. Gilang akan merangkul bahunya, atau Soraya akan menyandarkan kepalanya di bahu Gilang yang kokoh. Tapi hari ini, jarak lima sentimeter itu terasa seperti jurang tanpa dasar yang dipenuhi duri.

​Gilang menyumpal telinganya dengan earphone, matanya terpejam rapat, kepalanya disandarkan ke kaca jendela, menjauh sejauh mungkin dari Soraya. Dia meletakkan tas ranselnya di pangkuan, memeluknya erat seolah tas itu adalah benteng pertahanan dari virus mematikan di sebelahnya.

​Bus berguncang saat melewati jalan berlubang keluar dari desa. Bahu Soraya tidak sengaja menabrak lengan Gilang.

​Dug.

​Reaksi Gilang instan dan brutal. Dia menyentakkan tubuhnya menjauh, menepis bekas sentuhan itu dengan siku. Matanya terbuka, menatap Soraya dengan kilatan amarah.

​Dia mencabut satu sisi earphonenya.

​"Jangan. Nempel," desis Gilang. Suaranya rendah, tertutup deru mesin bus, tapi cukup jelas di telinga Soraya.

​"Nggak sengaja, Lang. Jalanannya rusak," bisik Soraya, menahan air mata. "Aku juga nggak mau..."

​"Nggak mau?" Gilang memotong dengan tawa sinis tanpa suara. "Tumben. Biasanya lo suka nempel-nempel sama cowok di kendaraan. Apalagi kalau cowoknya punya mobil mewah. Kursi bus ini kurang empuk ya buat standar lo sekarang?"

​Soraya meremas ujung jaketnya. "Berhenti nyindir, Lang. Tolong. Kita dilihatin anak-anak."

​"Bodo amat," Gilang memasang kembali earphonenya, tapi tidak menyalakan musik. Dia hanya ingin memblokir suara Soraya.

​Bus melaju masuk ke jalan tol. Lampu kabin dimatikan agar mahasiswa bisa tidur. Kegelapan menyelimuti mereka. Di kursi depan, Siska dan Rio sudah mendengkur. Bagas sibuk main game. Tidak ada yang memperhatikan dua manusia yang sedang perang dingin di kursi belakang.

​Dalam kegelapan itu, keberanian Soraya muncul sedikit. Dia butuh bicara. Dia tidak sanggup diam selama lima jam perjalanan.

​Soraya menyentuh pelan punggung tangan Gilang yang ada di atas tas ransel.

​Gilang menepisnya kasar. "Gue bilang jangan sentuh!" bisiknya membentak.

​"Dengerin aku dulu!" Soraya membalas bisikan itu dengan nada mendesak. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Gilang, mengabaikan Gilang yang berusaha menghindar. "Kamu nggak tau rasanya jadi aku, Lang. Kamu nggak tau rasanya ngeliat Ibu muntah darah dan nggak punya uang sepeser pun!"

​Gilang terdiam. Dia menoleh perlahan, wajah mereka kini sangat dekat. Dalam remang-remang lampu jalan tol yang menyapu wajah mereka bergantian, Soraya bisa melihat rahang Gilang mengeras.

​"Oh, jadi ini soal uang?" tanya Gilang. Napasnya hangat menerpa pipi Soraya, tapi kata-katanya dingin. "Klasik. Alasan semua pelacur di sinetron juga gitu. Demi keluarga."

​"Jaga mulut kamu," suara Soraya bergetar.

​"Kenapa? Tersinggung?" Gilang mencondongkan tubuhnya, mengurung Soraya di pojok kursi. Ini posisi intim yang menyakitkan. "Lo tau nggak, Ya? Gue sempet mikir buat maafin lo kalau lo bilang lo diperkosa. Kalau lo bilang lo dipaksa, diiket, diancam... gue bakal bunuh tuh orang. Gue bakal masuk penjara demi belain kehormatan lo."

​Air mata Soraya menetes. "Dia emang maksa aku di awal..."

​"Tapi lo nikmatin akhirnya," potong Gilang sadis.

​"Itu akting!" sanggah Soraya frustrasi.

​"Akting?" Gilang tertawa miris. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Soraya. "Soraya... gue cowok. Gue tau bedanya cewek yang kesakitan sama cewek yang... basah."

​Soraya menahan napas. Kata vulgar itu, yang keluar dari mulut Gilang yang biasanya sopan, terdengar sangat kotor.

​"Gue liat ekspresi lo," bisik Gilang lagi, kata-katanya seperti racun yang diteteskan perlahan. "Mata lo merem melek. Mulut lo kebuka dikit. Tangan lo ngeremas sprei, bukan nyakar dia buat ngelawan. Dan suara lo... desahan lo itu... itu bukan suara orang yang menderita."

​"Cukup..." Soraya menutup telinganya.

​"Kenapa? Malu?" Gilang menarik tangan Soraya dari telinganya. Cengkeramannya kuat, menyakitkan. "Lo tau apa yang paling bikin gue gila? Bukan fakta kalau dia masukin lo. Tapi fakta kalau lo nyambut dia. Lo ngangkang sukarela. Lo... lo ngerasain enak sama dia."

​"Aku nggak ngerasain apa-apa!" seru Soraya tertahan. "Rasanya sakit! Hatiku mati, Lang! Tubuhku cuma bereaksi karena... karena..."

​"Karena dia jago?" Gilang menyelesaikan kalimat itu dengan senyum mengejek. "Karena dia punya pengalaman? Karena dia bisa beli servis mahal?"

​"Karena aku manusia!" bantah Soraya. "Aku bukan boneka, Lang. Tubuh punya refleks sendiri. Tapi hatiku nangis. Demi Tuhan, aku bayangin muka kamu waktu itu biar aku bisa tahan!"

​PLAK!

​Gilang memukul sandaran kursi di depan mereka.

​"Jangan pernah..." suara Gilang bergetar hebat, menahan amarah yang meledak. "Jangan pernah lo bawa-bawa muka gue saat lo lagi dikelonin jantan lain. Itu menjijikkan, Soraya. Itu bikin gue mual."

​Soraya menangis dalam diam. Bahunya berguncang. "Aku harus gimana, Lang? Ayah meninggal ninggalin utang. Rumah disita. Ibu gagal ginjal. Dimas masih sekolah. Aku cuma punya ini..." Soraya menunjuk tubuhnya sendiri. "Cuma ini aset yang tersisa dari keluarga Adhitama yang dulu kaya raya."

​Gilang membuang muka ke jendela. Dia ingat masa lalu itu.

​ ​Gilang ingat hari itu. Dua tahun lalu. Saat Soraya datang ke sekolah dengan mata bengkak. Mobil Alphard jemputannya tidak ada. Sopirnya tidak ada. Dia pulang naik angkot bersamanya.

​"Papaku meninggal, Lang," kata Soraya waktu itu. "Dan rumahku disegel bank. Aku nggak punya baju ganti buat besok."

​Waktu itu, Gilang memeluknya. Berjanji akan selalu ada. Gilang kerja part-time di kafe, jadi ojek online, menabung setiap rupiah untuk membantu Soraya. Tapi ternyata... tabungan recehnya selama dua tahun tidak ada harganya dibanding satu malam di hotel bersama Dekan.

​"Gue nawarin bantuan," kata Gilang tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Matanya masih menatap jalan tol yang gelap. "Gue kasih semua tabungan gue buat bantu nyokap lo. Tiga juta. Itu semua yang gue punya."

​"Tiga juta nggak cukup buat sekali cuci darah, Lang," jawab Soraya realistis. "Biayanya lima juta. Belum obat. Belum sewa kontrakan."

​"Jadi karena tiga juta gue nggak cukup, lo jual diri seharga lima juta?" Gilang menoleh. Tatapannya penuh luka. "Semurah itu harga cinta gue di mata lo? Cuma selisih dua juta?"

​Soraya menggeleng kuat. "Bukan gitu hitungannya..."

​"Gue bakal cari pinjeman!" sergah Gilang. "Gue bisa jual motor gue! Gue bisa cuti kuliah buat kerja full time! Kenapa lo nggak ngomong? Kenapa lo langsung ambil jalan pintas?"

​"Karena aku nggak mau kamu hancur demi aku!" Soraya menatap Gilang tajam. "Kalau kamu jual motor, kamu kuliah naik apa? Kalau kamu kerja full time, kapan kamu lulus? Aku sayang kamu, Lang. Aku nggak mau nyeret kamu ke lumpur kemiskinan aku."

​"Jadi lo mending tidur sama orang tua itu?"

​"Iya!" Soraya mengaku. "Setidaknya masa depan kamu aman. Setidaknya kamu bisa lulus jadi arsitek, dapet kerja bagus, dapet istri baik-baik..."

​"Istri baik-baik?" Gilang tertawa hambar. "Rencana gue itu nikah sama lo, Ya. Lo istri baik-baik yang ada di kepala gue. Tapi sekarang? Lo hancurin skenario masa depan gue."

​"Cari yang lain, Lang," bisik Soraya, suaranya pecah. "Aku udah kotor. Aku udah rusak. Aku nggak pantes buat masa depan kamu."

​Keheningan kembali menyelimuti mereka. Lama. Sangat lama. Hanya suara AC yang mendesis.

​Gilang menyandarkan kepalanya kembali ke kursi. Dia terlihat sangat lelah. Lelah marah, lelah kecewa.

​"Lo bener," gumam Gilang pelan, matanya terpejam. "Lo emang udah rusak."

​Kalimat itu menutup pintu diskusi. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan.

​Satu jam berlalu. Udara di dalam bus semakin dingin. Soraya, yang hanya memakai jaket almamater tipis, mulai menggigil. Giginya bergemelatuk pelan. Dia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari kehangatan.

​Dia melirik Gilang. Pria itu memakai jaket hoodie tebal. Dulu... ah, dulu. Dulu Gilang pasti akan langsung melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Soraya tanpa diminta. Gilang akan membiarkan dirinya kedinginan asalkan Soraya hangat.

​Soraya menunggu. Berharap sisa-sisa cinta itu masih ada. Berharap Gilang akan menoleh dan melihatnya menggigil.

​Gilang membuka matanya. Dia menoleh, melihat bibir Soraya yang mulai membiru dan tubuhnya yang gemetar.

​Ada jeda sejenak. Soraya menahan napas penuh harap.

​Gilang bergerak. Dia menarik ritsleting jaketnya...

​Hati Soraya melambung.

​...menariknya makin tinggi sampai menutupi lehernya sendiri. Lalu dia melipat tangannya di dada, mengeratkan pelukannya pada dirinya sendiri, dan kembali membuang muka ke jendela.

​Dia tidak peduli.

​Air mata Soraya jatuh lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena sadar. Gilang yang dulu sudah mati. Pria di sebelahnya ini adalah orang asing yang tidak peduli jika Soraya mati kedinginan di sebelahnya.

​"Dingin..." cicit Soraya, sebuah usaha terakhir yang menyedihkan untuk memancing simpati.

​"Nikmatin aja," jawab Gilang tanpa menoleh. "Anggap aja latihan. Neraka nanti lebih panas dari ini, tapi hati lo pasti bakal kerasa dingin kayak gini selamanya."

​"Jahat kamu, Lang."

​"Gue belajar dari yang terbaik," balas Gilang. "Lo guru gue."

​Soraya akhirnya menyerah. Dia menyandarkan kepalanya ke jendela kaca yang dingin. Getaran mesin bus merambat ke pipinya. Dia melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela yang gelap. Wajah wanita murahan.

​Di saku celananya, dia merasakan ganjalan uang lima juta rupiah pemberian Subagyo. Uang itu hangat. Satu-satunya yang hangat malam ini.

​Soraya memasukkan tangannya ke saku, menggenggam uang itu.

​Setidaknya uang ini nggak bakal ninggalin gue kedinginan, batin Soraya pahit. Uang ini jujur. Dia ada karena gue kerja. Bukan kayak cinta yang bisa berubah jadi benci dalam semalam.

​Bus mulai memasuki gerbang tol Jakarta. Cahaya lampu kota berkelap-kelip di kejauhan. Gedung-gedung tinggi, kemacetan, polusi. Dunia nyata sudah di depan mata.

​Gilang mulai mengemasi barang-barangnya, bersiap turun. Dia tidak mau berlama-lama satu detik pun dengan Soraya setelah bus berhenti.

​"Lang..." panggil Soraya untuk terakhir kalinya sebelum mereka sampai.

​"Apa lagi?"

​"Jangan bilang siapa-siapa," pinta Soraya. "Soal Ibu. Soal... pekerjaan aku."

​Gilang menoleh, menatap Soraya dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara kasihan dan jijik.

​"Gue bukan ember bocor kayak mulut lo yang gampang kebuka buat desah," kata Gilang tajam. "Gue bakal diem. Bukan buat lo, tapi buat Ibu. Gue nggak tega nyokap sebaik itu tau kalau anaknya jadi..."

​Gilang tidak melanjutkan kata terakhirnya. Dia tidak perlu mengucapkannya. Soraya sudah tahu.

​Pelacur.

​Bus mengerem perlahan. Lampu kabin dinyalakan kembali. Terang benderang, menyilaukan mata.

​"Bangun woy! Udah sampe Jakarta!" teriak Bagas.

​Gilang langsung berdiri, menyambar tasnya, dan melangkah ke lorong bus, meninggalkan Soraya yang masih terpaku di kursinya, kedinginan dan sendirian di tengah keramaian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Turbulensi di Atas Awan

    Pagi di Mandalika seharusnya indah. Matahari terbit dari ufuk timur, menyepuh lautan biru dengan warna emas yang berkilauan. Suara deburan ombak yang tenang seharusnya menjadi musik pengantar bangun tidur yang sempurna bagi siapapun yang menginap di resort mewah ini.Namun bagi Soraya, pagi itu terasa seperti penghakiman. Dia terbangun di ranjang hotelnya yang luas dengan kepala berdenyut nyeri. Bukan karena alkohol, tapi karena kurang tidur. Semalaman dia hanya berguling ke kiri dan ke kanan, dihantui oleh sensasi bibir Gilang yang menempel di bibirnya. Rasa asin, rasa putus asa, rasa rindu... semuanya bercampur menjadi racun yang manis.Soraya menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa bengkak. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja? Dia bangun, menyeret kakinya ke kamar mandi. Di depan cermin wastafel, dia menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Wajahnya pucat."Lo istri orang, Ya," bisiknya pada cermin. "Dan lo baru aja mengkhianati laki-laki paling baik di

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Ombak Pasang di Kuta Mandalika

    Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok.Matahari terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi ungu dan oranye yang dramatis. Deburan ombak Samudra Hindia terdengar berirama, menghempas pasir putih Pantai Kuta Mandalika yang kini telah disulap menjadi kawasan resor kelas dunia.Di ballroom terbuka Pullman Lombok Merujani Mandalika Beach Resort, para tamu undangan mulai berdatangan. Angin laut yang membawa aroma garam bercampur dengan wangi parfum mahal para pejabat dan investor.Soraya berjalan masuk melewati gerbang pemeriksaan undangan. Dia mengenakan jumpsuit sutra berwarna emerald green dengan potongan halter neck yang elegan namun tetap sopan. Punggungnya tertutup selendang tenun Lombok yang dia beli di bandara, sebuah upaya diplomatis untuk menghargai budaya lokal sekaligus menutupi kulitnya dari angin malam. Dia datang sendirian. Tanpa Brata."Selamat malam, Ibu Soraya. Perwakilan dari Prof. Brata, benar?" sapa panitia ramah."Benar. Suami saya berhalangan hadir kare

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Grafik Stabilitas yang Membosankan

    Tiga Tahun Kemudian.Waktu di Dago Pakar berjalan dengan ritme yang teratur, seperti detak metronom yang tidak pernah meleset satu ketukan pun.Soraya duduk di ruang kerjanya yang luas di rumah, menatap layar laptop. Di dinding di belakangnya, tergantung ijazah Doktoral dan piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat atas kontribusinya dalam tim percepatan ekonomi daerah. Namanya kini panjang dan berat: Dr. Soraya Adhitama, S.E., M.Ec. Dev. Di usia 35 tahun, dia memiliki segalanya. Karir cemerlang sebagai konsultan independen, suami Guru Besar yang dihormati, rumah mewah tanpa hutang, dan investasi yang tersebar di reksadana dan obligasi negara. Variabel kehidupannya stabil. Sangat stabil.Tidak ada lagi drama kekurangan uang obat. Ibu Wati sehat. Dimas sukses dengan bisnis kontraktor kecil-kecilannya (yang tentu saja dibimbing oleh Brata di balik layar)."Soraya," suara Brata memanggil dari ruang tengah.Soraya keluar. Brata sedang duduk di sofa kulit, membaca koran Kompas dengan kac

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Kurva Pemulihan yang Lambat

    Pukul 04.30 WIB.Alarm di ponsel Brata berbunyi, memecah keheningan subuh di Dago Pakar. Biasanya, pada dering pertama, tangan Brata akan langsung bergerak mematikannya, lalu dia akan bangun dengan gerakan efisien untuk memulai rutinitas paginya: shalat, baca jurnal, dan lari pagi. Tapi pagi ini, alarm itu berbunyi terus. Satu menit. Dua menit. Soraya terbangun. Dia menggeliat di balik selimutnya, menatap sisi ranjang sebelah kanan. Guling pembatas masih ada di sana, berdiri tegak seperti tembok Berlin mini."Mas?" panggil Soraya serak. "Alarmnya."Tidak ada jawaban. Brata masih terbaring diam, punggungnya memunggungi Soraya. Soraya merasa aneh. Brata tidak pernah telat bangun. Dia adalah manusia paling disiplin yang pernah Soraya kenal. Soraya mengulurkan tangan melewati guling, mengguncang bahu suaminya pelan."Mas Brata? Bangun, udah subuh." Saat tangannya menyentuh kulit bahu Brata yang tertutup piyama, Soraya tersentak. Panas. Sangat panas."Mas!" Soraya langsung bangun, menyin

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Variabel Harapan Ibu

    Enam Bulan Pasca Pernikahan.Rumah Brata di Dago Pakar kini memiliki sedikit sentuhan feminin. Ada vas bunga segar di meja makan yang biasanya hanya berisi tumpukan koran. Ada tirai berwarna soft beige yang menggantikan tirai abu-abu kaku di ruang tamu. Dan ada aroma masakan rumahan yang tercium setiap sore, menggantikan aroma kopi pahit yang dulu mendominasi.Namun, di kamar utama lantai dua, tata letaknya tidak berubah. Guling pembatas itu masih ada di tengah ranjang King Size, menjadi garis demarkasi yang dihormati oleh kedua belah pihak.Sore itu, Ibu Wati datang berkunjung. Dia duduk di sofa ruang keluarga, merajut baju bayi kecil berwarna kuning."Buat siapa, Bu?" tanya Soraya sambil menyajikan teh hangat. Dia baru pulang dari kantor Institute, masih mengenakan pakaian kerjanya yang rapi."Buat anak Dimas nanti," jawab Ibu Wati tersenyum, matanya berbinar. Rini, istri Dimas, baru saja hamil tiga bulan. "Tapi Ibu bikinnya agak banyak. Siapa tau... nanti buat anak kamu juga."Tan

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Dinginnya Salju Davos

    Davos, Swiss.Udara di ketinggian 1.560 meter di atas permukaan laut itu tipis dan tajam. Hamparan salju putih menyelimuti pegunungan Alpen, menciptakan pemandangan yang memukau namun membekukan. Kota kecil ini sedang dipenuhi oleh para pemimpin dunia, ekonom top, dan CEO global yang menghadiri World Economic Forum.Soraya berjalan di samping Brata menyusuri Promenade, jalan utama Davos yang licin oleh es. Dia mengenakan mantel wol tebal berwarna camel, syal cashmere, dan boots kulit. Brata, di sebelahnya, mengenakan overcoat hitam panjang dan topi fedora, terlihat seperti diplomat era perang dingin yang menyimpan banyak rahasia negara."Dingin?" tanya Brata, melihat uap putih keluar dari mulut Soraya setiap kali dia bernapas."Sedikit, Mas. Tapi segar," jawab Soraya. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Tidak ada gandengan tangan. Mereka berjalan beriringan dengan jarak sepuluh sentimeter yang konsisten."Bagus. Oksigen tipis memicu otak memproduksi lebih banyak sel darah m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status