Mag-log inMesin bus pariwisata itu menderum kasar, menggetarkan kaca jendela yang berembun. AC menyembur terlalu dingin, menusuk tulang. Di kursi paling belakang, di pojok kanan, Soraya duduk dengan tubuh kaku. Di sebelahnya, terpisah hanya oleh sandaran tangan yang tipis, duduk Gilang.
Hanya berjarak lima sentimeter. Jarak itu harusnya terasa hangat. Dulu, setiap kali mereka naik bus atau angkot, lima sentimeter itu akan hilang. Gilang akan merangkul bahunya, atau Soraya akan menyandarkan kepalanya di bahu Gilang yang kokoh. Tapi hari ini, jarak lima sentimeter itu terasa seperti jurang tanpa dasar yang dipenuhi duri. Gilang menyumpal telinganya dengan earphone, matanya terpejam rapat, kepalanya disandarkan ke kaca jendela, menjauh sejauh mungkin dari Soraya. Dia meletakkan tas ranselnya di pangkuan, memeluknya erat seolah tas itu adalah benteng pertahanan dari virus mematikan di sebelahnya. Bus berguncang saat melewati jalan berlubang keluar dari desa. Bahu Soraya tidak sengaja menabrak lengan Gilang. Dug. Reaksi Gilang instan dan brutal. Dia menyentakkan tubuhnya menjauh, menepis bekas sentuhan itu dengan siku. Matanya terbuka, menatap Soraya dengan kilatan amarah. Dia mencabut satu sisi earphonenya. "Jangan. Nempel," desis Gilang. Suaranya rendah, tertutup deru mesin bus, tapi cukup jelas di telinga Soraya. "Nggak sengaja, Lang. Jalanannya rusak," bisik Soraya, menahan air mata. "Aku juga nggak mau..." "Nggak mau?" Gilang memotong dengan tawa sinis tanpa suara. "Tumben. Biasanya lo suka nempel-nempel sama cowok di kendaraan. Apalagi kalau cowoknya punya mobil mewah. Kursi bus ini kurang empuk ya buat standar lo sekarang?" Soraya meremas ujung jaketnya. "Berhenti nyindir, Lang. Tolong. Kita dilihatin anak-anak." "Bodo amat," Gilang memasang kembali earphonenya, tapi tidak menyalakan musik. Dia hanya ingin memblokir suara Soraya. Bus melaju masuk ke jalan tol. Lampu kabin dimatikan agar mahasiswa bisa tidur. Kegelapan menyelimuti mereka. Di kursi depan, Siska dan Rio sudah mendengkur. Bagas sibuk main game. Tidak ada yang memperhatikan dua manusia yang sedang perang dingin di kursi belakang. Dalam kegelapan itu, keberanian Soraya muncul sedikit. Dia butuh bicara. Dia tidak sanggup diam selama lima jam perjalanan. Soraya menyentuh pelan punggung tangan Gilang yang ada di atas tas ransel. Gilang menepisnya kasar. "Gue bilang jangan sentuh!" bisiknya membentak. "Dengerin aku dulu!" Soraya membalas bisikan itu dengan nada mendesak. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Gilang, mengabaikan Gilang yang berusaha menghindar. "Kamu nggak tau rasanya jadi aku, Lang. Kamu nggak tau rasanya ngeliat Ibu muntah darah dan nggak punya uang sepeser pun!" Gilang terdiam. Dia menoleh perlahan, wajah mereka kini sangat dekat. Dalam remang-remang lampu jalan tol yang menyapu wajah mereka bergantian, Soraya bisa melihat rahang Gilang mengeras. "Oh, jadi ini soal uang?" tanya Gilang. Napasnya hangat menerpa pipi Soraya, tapi kata-katanya dingin. "Klasik. Alasan semua pelacur di sinetron juga gitu. Demi keluarga." "Jaga mulut kamu," suara Soraya bergetar. "Kenapa? Tersinggung?" Gilang mencondongkan tubuhnya, mengurung Soraya di pojok kursi. Ini posisi intim yang menyakitkan. "Lo tau nggak, Ya? Gue sempet mikir buat maafin lo kalau lo bilang lo diperkosa. Kalau lo bilang lo dipaksa, diiket, diancam... gue bakal bunuh tuh orang. Gue bakal masuk penjara demi belain kehormatan lo." Air mata Soraya menetes. "Dia emang maksa aku di awal..." "Tapi lo nikmatin akhirnya," potong Gilang sadis. "Itu akting!" sanggah Soraya frustrasi. "Akting?" Gilang tertawa miris. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Soraya. "Soraya... gue cowok. Gue tau bedanya cewek yang kesakitan sama cewek yang... basah." Soraya menahan napas. Kata vulgar itu, yang keluar dari mulut Gilang yang biasanya sopan, terdengar sangat kotor. "Gue liat ekspresi lo," bisik Gilang lagi, kata-katanya seperti racun yang diteteskan perlahan. "Mata lo merem melek. Mulut lo kebuka dikit. Tangan lo ngeremas sprei, bukan nyakar dia buat ngelawan. Dan suara lo... desahan lo itu... itu bukan suara orang yang menderita." "Cukup..." Soraya menutup telinganya. "Kenapa? Malu?" Gilang menarik tangan Soraya dari telinganya. Cengkeramannya kuat, menyakitkan. "Lo tau apa yang paling bikin gue gila? Bukan fakta kalau dia masukin lo. Tapi fakta kalau lo nyambut dia. Lo ngangkang sukarela. Lo... lo ngerasain enak sama dia." "Aku nggak ngerasain apa-apa!" seru Soraya tertahan. "Rasanya sakit! Hatiku mati, Lang! Tubuhku cuma bereaksi karena... karena..." "Karena dia jago?" Gilang menyelesaikan kalimat itu dengan senyum mengejek. "Karena dia punya pengalaman? Karena dia bisa beli servis mahal?" "Karena aku manusia!" bantah Soraya. "Aku bukan boneka, Lang. Tubuh punya refleks sendiri. Tapi hatiku nangis. Demi Tuhan, aku bayangin muka kamu waktu itu biar aku bisa tahan!" PLAK! Gilang memukul sandaran kursi di depan mereka. "Jangan pernah..." suara Gilang bergetar hebat, menahan amarah yang meledak. "Jangan pernah lo bawa-bawa muka gue saat lo lagi dikelonin jantan lain. Itu menjijikkan, Soraya. Itu bikin gue mual." Soraya menangis dalam diam. Bahunya berguncang. "Aku harus gimana, Lang? Ayah meninggal ninggalin utang. Rumah disita. Ibu gagal ginjal. Dimas masih sekolah. Aku cuma punya ini..." Soraya menunjuk tubuhnya sendiri. "Cuma ini aset yang tersisa dari keluarga Adhitama yang dulu kaya raya." Gilang membuang muka ke jendela. Dia ingat masa lalu itu. Gilang ingat hari itu. Dua tahun lalu. Saat Soraya datang ke sekolah dengan mata bengkak. Mobil Alphard jemputannya tidak ada. Sopirnya tidak ada. Dia pulang naik angkot bersamanya. "Papaku meninggal, Lang," kata Soraya waktu itu. "Dan rumahku disegel bank. Aku nggak punya baju ganti buat besok." Waktu itu, Gilang memeluknya. Berjanji akan selalu ada. Gilang kerja part-time di kafe, jadi ojek online, menabung setiap rupiah untuk membantu Soraya. Tapi ternyata... tabungan recehnya selama dua tahun tidak ada harganya dibanding satu malam di hotel bersama Dekan. "Gue nawarin bantuan," kata Gilang tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Matanya masih menatap jalan tol yang gelap. "Gue kasih semua tabungan gue buat bantu nyokap lo. Tiga juta. Itu semua yang gue punya." "Tiga juta nggak cukup buat sekali cuci darah, Lang," jawab Soraya realistis. "Biayanya lima juta. Belum obat. Belum sewa kontrakan." "Jadi karena tiga juta gue nggak cukup, lo jual diri seharga lima juta?" Gilang menoleh. Tatapannya penuh luka. "Semurah itu harga cinta gue di mata lo? Cuma selisih dua juta?" Soraya menggeleng kuat. "Bukan gitu hitungannya..." "Gue bakal cari pinjeman!" sergah Gilang. "Gue bisa jual motor gue! Gue bisa cuti kuliah buat kerja full time! Kenapa lo nggak ngomong? Kenapa lo langsung ambil jalan pintas?" "Karena aku nggak mau kamu hancur demi aku!" Soraya menatap Gilang tajam. "Kalau kamu jual motor, kamu kuliah naik apa? Kalau kamu kerja full time, kapan kamu lulus? Aku sayang kamu, Lang. Aku nggak mau nyeret kamu ke lumpur kemiskinan aku." "Jadi lo mending tidur sama orang tua itu?" "Iya!" Soraya mengaku. "Setidaknya masa depan kamu aman. Setidaknya kamu bisa lulus jadi arsitek, dapet kerja bagus, dapet istri baik-baik..." "Istri baik-baik?" Gilang tertawa hambar. "Rencana gue itu nikah sama lo, Ya. Lo istri baik-baik yang ada di kepala gue. Tapi sekarang? Lo hancurin skenario masa depan gue." "Cari yang lain, Lang," bisik Soraya, suaranya pecah. "Aku udah kotor. Aku udah rusak. Aku nggak pantes buat masa depan kamu." Keheningan kembali menyelimuti mereka. Lama. Sangat lama. Hanya suara AC yang mendesis. Gilang menyandarkan kepalanya kembali ke kursi. Dia terlihat sangat lelah. Lelah marah, lelah kecewa. "Lo bener," gumam Gilang pelan, matanya terpejam. "Lo emang udah rusak." Kalimat itu menutup pintu diskusi. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Satu jam berlalu. Udara di dalam bus semakin dingin. Soraya, yang hanya memakai jaket almamater tipis, mulai menggigil. Giginya bergemelatuk pelan. Dia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari kehangatan. Dia melirik Gilang. Pria itu memakai jaket hoodie tebal. Dulu... ah, dulu. Dulu Gilang pasti akan langsung melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Soraya tanpa diminta. Gilang akan membiarkan dirinya kedinginan asalkan Soraya hangat. Soraya menunggu. Berharap sisa-sisa cinta itu masih ada. Berharap Gilang akan menoleh dan melihatnya menggigil. Gilang membuka matanya. Dia menoleh, melihat bibir Soraya yang mulai membiru dan tubuhnya yang gemetar. Ada jeda sejenak. Soraya menahan napas penuh harap. Gilang bergerak. Dia menarik ritsleting jaketnya... Hati Soraya melambung. ...menariknya makin tinggi sampai menutupi lehernya sendiri. Lalu dia melipat tangannya di dada, mengeratkan pelukannya pada dirinya sendiri, dan kembali membuang muka ke jendela. Dia tidak peduli. Air mata Soraya jatuh lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena sadar. Gilang yang dulu sudah mati. Pria di sebelahnya ini adalah orang asing yang tidak peduli jika Soraya mati kedinginan di sebelahnya. "Dingin..." cicit Soraya, sebuah usaha terakhir yang menyedihkan untuk memancing simpati. "Nikmatin aja," jawab Gilang tanpa menoleh. "Anggap aja latihan. Neraka nanti lebih panas dari ini, tapi hati lo pasti bakal kerasa dingin kayak gini selamanya." "Jahat kamu, Lang." "Gue belajar dari yang terbaik," balas Gilang. "Lo guru gue." Soraya akhirnya menyerah. Dia menyandarkan kepalanya ke jendela kaca yang dingin. Getaran mesin bus merambat ke pipinya. Dia melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela yang gelap. Wajah wanita murahan. Di saku celananya, dia merasakan ganjalan uang lima juta rupiah pemberian Subagyo. Uang itu hangat. Satu-satunya yang hangat malam ini. Soraya memasukkan tangannya ke saku, menggenggam uang itu. Setidaknya uang ini nggak bakal ninggalin gue kedinginan, batin Soraya pahit. Uang ini jujur. Dia ada karena gue kerja. Bukan kayak cinta yang bisa berubah jadi benci dalam semalam. Bus mulai memasuki gerbang tol Jakarta. Cahaya lampu kota berkelap-kelip di kejauhan. Gedung-gedung tinggi, kemacetan, polusi. Dunia nyata sudah di depan mata. Gilang mulai mengemasi barang-barangnya, bersiap turun. Dia tidak mau berlama-lama satu detik pun dengan Soraya setelah bus berhenti. "Lang..." panggil Soraya untuk terakhir kalinya sebelum mereka sampai. "Apa lagi?" "Jangan bilang siapa-siapa," pinta Soraya. "Soal Ibu. Soal... pekerjaan aku." Gilang menoleh, menatap Soraya dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara kasihan dan jijik. "Gue bukan ember bocor kayak mulut lo yang gampang kebuka buat desah," kata Gilang tajam. "Gue bakal diem. Bukan buat lo, tapi buat Ibu. Gue nggak tega nyokap sebaik itu tau kalau anaknya jadi..." Gilang tidak melanjutkan kata terakhirnya. Dia tidak perlu mengucapkannya. Soraya sudah tahu. Pelacur. Bus mengerem perlahan. Lampu kabin dinyalakan kembali. Terang benderang, menyilaukan mata. "Bangun woy! Udah sampe Jakarta!" teriak Bagas. Gilang langsung berdiri, menyambar tasnya, dan melangkah ke lorong bus, meninggalkan Soraya yang masih terpaku di kursinya, kedinginan dan sendirian di tengah keramaian.Enam tahun kemudian. Wajah Jakarta telah berubah. Gedung-gedung pencakar langit baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, jalan tol semakin bertingkat meliuk-liuk di angkasa, dan denyut kota metropolitan ini terasa semakin cepat. Namun, di tengah perubahan yang konstan dan bising itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sebuah rutinitas sunyi setiap hari Jumat siang di sebuah unit apartemen di Kuningan. Soraya berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kritis namun damai. Sehelai uban perak mulai terlihat samar di antara rambut hitamnya yang kini dipotong pendek sebahu. Gaya rambut ini jauh lebih praktis untuk seorang Dekan Fakultas Ekonomi yang sibuk sepertinya. Ada kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya. Itu adalah jejak dari ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca data, mengajar mahasiswa, dan menahan tawa atau tangis selama bertahun-tahun. Usianya sudah menginjak 44 tahun. Dia masih sendiri. Setida
Jumat siang di Jakarta Selatan. Hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menciptakan kemacetan panjang di jalan-jalan protokol. Suara klakson dan deru mesin samar-samar terdengar dari kejauhan, teredam oleh ketebalan kaca jendela apartemen lantai 35. Namun, di dalam unit apartemen Soraya, dunia terasa berbeda. Suasana begitu tenang, hangat, dan melambat. Aroma lilin vanilla bercampur dengan bau hujan yang lembab menciptakan kepompong kenyamanan yang membuai. Gilang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Kepalanya berbantalkan paha Soraya yang terasa empuk. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur naik-turun. Dia tidak sedang tidur, hanya sedang melakukan ritual mingguannya: mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia konstruksi, tuntutan klien yang rewel, dan tentu saja, sandiwara rumah tangga yang melelahkan. Soraya duduk bersandar dengan nyaman. Satu tangannya memegang tablet, membaca berita ekonomi global tentang fluktuasi pasar saham Asia, sementara tangan lainnya berger
Sejak malam ulang tahun Gilang yang penuh dosa dan kejujuran itu, rutinitas mereka kini terbentuk seperti mekanisme jam tangan buatan Swiss. Semuanya berjalan presisi, tersembunyi, dan sangat efisien. Soraya menjalani hari-harinya sebagai Profesor yang dihormati di kampus, mengajar mahasiswa dengan wajah tegak dan berwibawa. Gilang menjalani harinya sebagai Arsitek sukses dan Ayah teladan bagi ketiga anaknya. Namun, di sela-sela dua kehidupan yang tampak sempurna itu, ada celah waktu sempit yang mereka curi. Sebuah celah di mana mereka bisa menjadi "suami-istri" bayangan di apartemen Kuningan. Malam ini, rutinitas itu sedikit terganggu. Soraya tidak berada di apartemennya menunggu Gilang. Dia sedang duduk di restoran View di Fairmont Hotel, mengenakan gaun malam berwarna navy yang sopan namun membalut tubuhnya dengan elegan. Di hadapannya, duduk Pak Prasetyo. Pria itu adalah duda tanpa anak, seorang diplomat senior yang baru saja pulang dari penempatan di Eropa. Dia juga tema
Ulang tahun ke-38 Gilang dirayakan dengan meriah di rumah Bintaro. Amara, sebagai istri yang berbakti dan citra sempurna dari sebuah keluarga bahagia, menggelar pesta kebun di halaman belakang rumah mereka.Balon-balon berwarna emas dan hitam menghiasi taman. Meja prasmanan penuh dengan makanan katering mahal, dan tamu-tamu, mulai dari rekan bisnis, kerabat, hingga tetangga, tumpah ruah memberikan selamat."Selamat ulang tahun, Sayang." Amara mencium pipi Gilang di depan semua orang saat sesi pemotongan kue.Wanita itu tersenyum lebar, memegang pisau kue bersama suaminya. Kamera fotografer sewaan mengabadikan momen itu. Cekrek.Gilang tersenyum. Sebuah senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum "Suami Bahagia"."Makasih, Ra," jawab Gilang.Dia memotong kue tart cokelat itu, memberikan suapan pertama pada Amara, lalu pada Naya, Juna, dan si bungsu Kania. Tepuk tangan membahana. Musik akustik mengalun. Semua orang tertawa.Akan tetapi, di dalam kep
Enam Bulan Kemudian. Jumat, pukul 11.45 WIB. Apartemen Soraya di lantai 35 kawasan Kuningan itu sudah wangi. Kali ini, bukan wangi parfum mahal atau lilin aromaterapi lavender yang biasanya menyambut tamu. Ruangan itu dipenuhi aroma masakan rumahan yang menggugah selera. Aroma serai, daun jeruk, dan kemangi menguar dari dapur, bercampur dengan uap nasi panas yang baru matang. Di atas meja makan, sudah tersaji menu spesial. Ikan kuah kuning yang segar, tumis bunga pepaya dengan cakalang suwir, dan sambal dabu-dabu yang pedas menggigit. Ini adalah menu Manado, request khusus dari satu-satunya "tamu" yang Soraya miliki dalam hidupnya saat ini. Soraya menata meja makan dengan gerakan efisien namun anggun. Dia meletakkan piring keramik putih, gelas berisi air dingin, dan melipat serbet kain dengan rapi. Hari ini, dia tidak mengenakan blazer kaku atau rok pensil seperti biasanya saat dia berdiri di depan mahasiswa atau pejabat kementerian. Dia mengenakan dress santai berbahan katun ber
Malam itu, langit Bintaro gelap tanpa bintang. Gilang pulang ke rumah dengan langkah yang diseret, seolah ada beban besi ribuan kilo di kakinya. Di lehernya, masih terikat dasi Hermes baru pemberian Amara. Dasi sutra yang mahal dan halus itu kini terasa mencekik, seperti tali gantungan yang perlahan mengetat setiap detiknya. Dia membuka pintu rumah. Hening. Tidak ada suara TV, tidak ada celoteh Naya, tidak ada tangisan Juna. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di sana, di sofa tunggal favoritnya, Amara duduk membelakangi pintu masuk. Dia tidak sedang menonton, tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang bermain ponsel. Dia hanya duduk diam seperti patung, menatap meja kopi kaca di hadapannya. "Assalamualaikum," sapa Gilang pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Waalaikumsalam," jawab Amara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu justru membuat bulu kuduk Gilang mere







