Mag-log inBus pariwisata itu tersentak hebat saat sopir menginjak rem mendadak dan membanting stir, karena ada motor yang menyalip sembarangan di pintu keluar tol Jakarta. Ciiit!
Guncangan itu melempar tubuh-tubuh yang lelah di dalamnya. Di kursi paling belakang, Soraya yang sedang melamun tidak siap. Tubuhnya terpelanting ke samping, menabrak bahu Gilang dengan keras. Wajahnya terbenam sesaat di ceruk leher Gilang, dan rambut panjangnya yang tergerai menyapu wajah pria itu. Untuk sepersekian detik, posisi mereka intim. Seperti sepasang kekasih yang saling mencari sandaran. Tapi reaksi Gilang sangat cepat dan menyakitkan. Dia mendorong bahu Soraya menjauh seolah baru saja ketumpahan air panas. Napasnya tercekat, lalu dia terbatuk-batuk keras sambil menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan. Wajahnya memerah, matanya berair, seperti orang yang menahan muntah. "Ugh... Minggir!" erang Gilang tertahan. Soraya yang kaget langsung memperbaiki posisi duduknya, memegang sandaran kursi depan dengan panik. "Maaf... rem mendadak tadi..." Gilang tidak menjawab. Dia masih menutup hidungnya rapat-rapat, dadanya naik turun menahan mual. Dia menatap Soraya dengan pandangan horor, seolah Soraya adalah sumber bau busuk yang paling menyengat di dunia. "Kenapa, Lang? Kamu mabuk darat?" tanya Soraya khawatir. Dia refleks ingin memijat tengkuk Gilang, kebiasaan lamanya jika Gilang mual di perjalanan. "JANGAN SENTUH!" bentak Gilang. Suaranya pecah dan serak. Beberapa teman di kursi depan menoleh sebentar, tapi kembali cuek karena mengira Gilang hanya mabuk perjalanan biasa. Gilang menurunkan tangannya perlahan, tapi wajahnya masih menyiratkan rasa jijik yang mendalam. Dia menatap rambut Soraya, lalu menatap mata gadis itu tajam. "Lo..." Gilang menelan ludah susah payah. "Lo belum keramas?" Soraya tertegun. Pertanyaan itu terdengar aneh di situasi seperti ini. Dia menyentuh rambutnya sendiri yang terasa lepek. "Belum... kan tadi buru-buru diusir dari hotel... eh, maksudku buru-buru balik ke posko," Soraya meralat ucapannya dengan gugup. "Emang kenapa? Rambutku bau apek ya?" Gilang tertawa. Tawa yang kering, hampa, dan menyakitkan. "Apek?" ulang Gilang sinis. "Kalau cuma apek keringat lo, gue masih bisa tahan, Ya. Gue udah hafal bau keringat lo dari jaman kita lari pagi bareng. Tapi ini..." Gilang mendekatkan wajahnya sedikit, mengendus udara di antara mereka dengan ekspresi mengejek. "...Ini bukan bau lo." Jantung Soraya berhenti berdetak. "Maksud kamu?" cicit Soraya. "Bau rokok mahal," bisik Gilang, matanya mengunci manik mata Soraya. "Marlboro merah. Impor. Tajam banget. Dan ada bau lain... parfum bapak-bapak. Musk yang berat. Bau orang tua." Wajah Soraya pucat pasi. Dia tahu bau itu. Itu bau tubuh Subagyo. Bau yang menempel saat pria tua itu menindihnya, memeluknya, dan mengelus kepalanya saat mereka bergumul di ranjang. Bau itu meresap ke pori-pori kulit dan helai rambutnya. Soraya buru-buru mengikat rambutnya, mencoba menyembunyikan aroma itu. "Perasaan kamu aja kali, Lang. Di sini kan banyak yang ngerokok," elak Soraya lemah. "Nggak ada mahasiswa di sini yang mampu beli rokok semahal itu, Soraya," potong Gilang cepat. "Dan nggak ada yang pakai parfum se-menyengat itu selain..." Gilang menggantung kalimatnya, tapi matanya bicara jelas: Selain selingkuhan tuamu. "Gue mau muntah," lanjut Gilang jujur. "Sumpah. Bau lo bikin perut gue mual. Lo bau dosa." "Lang, stop..." Soraya memohon, matanya berkaca-kaca. "Jangan ngomong gitu di sini." "Kenapa? Takut kedengeran yang lain?" tantang Gilang. "Lo harusnya mikir itu sebelum ngebiarin dia nempelin baunya ke badan lo. Lo nggak mandi habis 'main' sama dia? Atau lo sengaja simpan baunya buat kenang-kenangan?" "Aku mandi!" sergah Soraya berbisik tajam. "Aku gosok badan aku sampai perih! Tapi baunya nggak mau hilang! Aku juga benci bau ini, Lang! Aku benci!" "Kalau lo benci, kenapa lo lakuin?" skakmat Gilang. Soraya terdiam. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. "Tuh kan," Gilang menyandarkan punggungnya lagi, menjauh sejauh mungkin ke arah jendela. "Lo nggak punya jawaban. Karena sebenarnya lo menikmati. Lo menikmati fasilitasnya, uangnya, dan... baunya." "Demi Tuhan, enggak!" "Ssttt!" Gilang menempelkan telunjuk di bibir. "Diem. Tiap lo ngomong, bau napas dia kecium juga dari mulut lo. Lo ciuman sama dia kan? Pakai lidah?" Pertanyaan itu vulgar, kotor, dan langsung menusuk ulu hati. Soraya merasa ditelanjangi di tempat umum. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, menahan isak tangis yang mau meledak. Bayangan bibir basah Subagyo yang melumat bibirnya kembali muncul. Rasa tembakau di lidah pria tua itu. Soraya mual. Dia benar-benar mual sekarang. "Huek..." Soraya membekap mulutnya, perutnya bergejolak. "Jangan muntah di sini," kata Gilang dingin, tanpa simpati sedikitpun. "Telen aja. Kayak lo nelen punya dia." PLAK! Tanpa sadar, tangan Soraya melayang menampar lengan Gilang. Tidak keras, karena tenaganya sudah habis, tapi cukup untuk membuat Gilang menoleh kaget. "Kamu jahat, Lang," bisik Soraya, air matanya jatuh satu per satu. "Kamu boleh marah. Kamu boleh benci. Tapi jangan rendahkan aku sampai segininya. Aku lakuin ini buat Ibu. Buat Ibu, Lang!" Gilang menatap bekas pukulan di lengannya, lalu menatap Soraya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada luka yang sangat dalam di sana, tertutup oleh lapisan amarah yang tebal. "Justru karena gue tau lo lakuin buat Ibu..." suara Gilang merendah, terdengar putus asa. "Itu yang bikin gue makin hancur, Ya. Lo korbanin diri lo buat hal mulia, tapi caranya hina. Lo bikin gue bingung. Gue harus kasihan atau harus jijik? Dan sekarang... tiap gue liat muka lo, gue nggak liat Soraya pacar gue. Gue liat..." "Liat apa?" tanya Soraya lirih. "Gue liat sisa-sisa dia," jawab Gilang telak. "Di rambut lo, di leher lo, di bibir lo. Semuanya bekas dia. Nggak ada lagi yang punya gue. Nggak ada." Bus mulai berbelok masuk ke area parkir kampus. Lampu-lampu gedung fakultas terlihat di kejauhan. Perjalanan neraka ini hampir berakhir. "Kita putus kan, Lang?" tanya Soraya tiba-tiba. Pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tahu jawabannya, tapi butuh validasi verbal. Gilang tidak menjawab langsung. Dia mulai membereskan tasnya. "Kita nggak perlu kata putus, Ya," kata Gilang sambil berdiri saat bus berhenti sempurna. Dia menatap Soraya dari ketinggian. "Hubungan kita udah mati barengan sama matinya harga diri lo di kamar itu." "Tapi kita masih bisa temenan kan? Setidaknya... jangan anggap aku musuh," Soraya mengemis sedikit belas kasih. Gilang tertawa pelan. "Temenan?" Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Soraya untuk terakhir kalinya. "Gue nggak temenan sama pelacur. Takut ketularan penyakit." Setelah mengucapkan kalimat pemungkas itu, Gilang melangkah ke lorong bus, berdesak-desakan dengan mahasiswa lain yang berebut turun. Soraya terpaku di kursinya. Tubuhnya kaku. Kata 'penyakit' terngiang-ngiang di kepalanya. Di sekitarnya, teman-temannya mulai berdiri. Siska menepuk bahu Soraya. "Woy, Ya! Bengong aja. Turun yuk, udah nyampe nih. Pegel banget pantat gue duduk lima jam." Soraya menoleh ke Siska dengan tatapan kosong. "Duluan aja, Sis. Gue... gue mau rapiin barang bentar," elak Soraya. Dia menunggu sampai bus sepi. Dia tidak sanggup berjalan di belakang Gilang. Dia butuh waktu untuk menata kepingan hatinya yang baru saja diinjak-injak sampai jadi debu. Soraya mengambil tasnya. Dia berdiri, lalu hidungnya tanpa sengaja mencium aroma rambutnya sendiri yang jatuh ke bahu. Benar kata Gilang. Bau itu ada. Bau tembakau mahal. Bau parfum maskulin yang berat. Bau musk orang tua. Bau Subagyo. Bau itu menempel erat seperti parasit. Soraya merasa ingin menguliti kulit kepalanya sendiri saat itu juga. Dia mengambil parfum murah dari dalam tasnya, parfum vanilla manis yang dulu Gilang belikan saat ulang tahun dan menyemprotkannya gila-gilaan ke rambut, leher, dan bajunya. Crooot! Crooot! Crooot! Dia menyemprot sampai botolnya nyaris habis, sampai dia batuk-batuk karena baunya terlalu menyengat. Dia berusaha menutupi bau dosa itu dengan bau kenangan manis masa lalu. Tapi percuma. Di bawah aroma vanilla yang manis, bau anyir pengkhianatan itu tetap tercium samar. Seperti bangkai yang ditaburi bunga melati. "Aku kotor..." isak Soraya sendirian di dalam bus yang kosong. "Aku kotor banget..." "Mbak? Nggak turun?" Sopir bus berteriak dari depan, membuyarkan tangisannya. "Mau dikunci nih pintunya." Soraya buru-buru menghapus air matanya. "I-iya, Pak. Maaf." Dia berjalan menuruni tangga bus. Udara malam Jakarta menyambutnya. Panas, berdebu, dan bising. Di parkiran, dia melihat Gilang sudah naik ojek online, melesat pergi tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Soraya berdiri sendirian di trotoar kampus dengan tas besar di punggungnya. Dompetnya tebal berisi lima juta rupiah, tapi dia merasa seperti orang paling miskin di dunia. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. HP-nya bergetar. Pesan masuk. Dari: Pak Dekan Subagyo "Sudah sampai Jakarta, Sayang? Jangan lupa mandi lagi yang bersih. Besok pagi ke ruangan saya. Ada 'hadiah' kecil buat kamu karena servis memuaskan semalam." Soraya menatap layar HP itu dengan tangan gemetar. Dia ingin membantingnya. Tapi dia ingat ibunya. Dia ingat jadwal cuci darah besok. Dengan jari gemetar, dia mengetik balasan. "Baik, Pak. Terima kasih." Soraya memasukkan HP ke saku, lalu menyetop taksi. Dia harus pulang. Dia harus kembali menjalani perannya sebagai anak berbakti, sambil menyembunyikan bangkai jiwanya di dalam lemari yang paling gelap.Enam tahun kemudian. Wajah Jakarta telah berubah. Gedung-gedung pencakar langit baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, jalan tol semakin bertingkat meliuk-liuk di angkasa, dan denyut kota metropolitan ini terasa semakin cepat. Namun, di tengah perubahan yang konstan dan bising itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sebuah rutinitas sunyi setiap hari Jumat siang di sebuah unit apartemen di Kuningan. Soraya berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kritis namun damai. Sehelai uban perak mulai terlihat samar di antara rambut hitamnya yang kini dipotong pendek sebahu. Gaya rambut ini jauh lebih praktis untuk seorang Dekan Fakultas Ekonomi yang sibuk sepertinya. Ada kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya. Itu adalah jejak dari ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca data, mengajar mahasiswa, dan menahan tawa atau tangis selama bertahun-tahun. Usianya sudah menginjak 44 tahun. Dia masih sendiri. Setida
Jumat siang di Jakarta Selatan. Hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menciptakan kemacetan panjang di jalan-jalan protokol. Suara klakson dan deru mesin samar-samar terdengar dari kejauhan, teredam oleh ketebalan kaca jendela apartemen lantai 35. Namun, di dalam unit apartemen Soraya, dunia terasa berbeda. Suasana begitu tenang, hangat, dan melambat. Aroma lilin vanilla bercampur dengan bau hujan yang lembab menciptakan kepompong kenyamanan yang membuai. Gilang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Kepalanya berbantalkan paha Soraya yang terasa empuk. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur naik-turun. Dia tidak sedang tidur, hanya sedang melakukan ritual mingguannya: mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia konstruksi, tuntutan klien yang rewel, dan tentu saja, sandiwara rumah tangga yang melelahkan. Soraya duduk bersandar dengan nyaman. Satu tangannya memegang tablet, membaca berita ekonomi global tentang fluktuasi pasar saham Asia, sementara tangan lainnya berger
Sejak malam ulang tahun Gilang yang penuh dosa dan kejujuran itu, rutinitas mereka kini terbentuk seperti mekanisme jam tangan buatan Swiss. Semuanya berjalan presisi, tersembunyi, dan sangat efisien. Soraya menjalani hari-harinya sebagai Profesor yang dihormati di kampus, mengajar mahasiswa dengan wajah tegak dan berwibawa. Gilang menjalani harinya sebagai Arsitek sukses dan Ayah teladan bagi ketiga anaknya. Namun, di sela-sela dua kehidupan yang tampak sempurna itu, ada celah waktu sempit yang mereka curi. Sebuah celah di mana mereka bisa menjadi "suami-istri" bayangan di apartemen Kuningan. Malam ini, rutinitas itu sedikit terganggu. Soraya tidak berada di apartemennya menunggu Gilang. Dia sedang duduk di restoran View di Fairmont Hotel, mengenakan gaun malam berwarna navy yang sopan namun membalut tubuhnya dengan elegan. Di hadapannya, duduk Pak Prasetyo. Pria itu adalah duda tanpa anak, seorang diplomat senior yang baru saja pulang dari penempatan di Eropa. Dia juga tema
Ulang tahun ke-38 Gilang dirayakan dengan meriah di rumah Bintaro. Amara, sebagai istri yang berbakti dan citra sempurna dari sebuah keluarga bahagia, menggelar pesta kebun di halaman belakang rumah mereka.Balon-balon berwarna emas dan hitam menghiasi taman. Meja prasmanan penuh dengan makanan katering mahal, dan tamu-tamu, mulai dari rekan bisnis, kerabat, hingga tetangga, tumpah ruah memberikan selamat."Selamat ulang tahun, Sayang." Amara mencium pipi Gilang di depan semua orang saat sesi pemotongan kue.Wanita itu tersenyum lebar, memegang pisau kue bersama suaminya. Kamera fotografer sewaan mengabadikan momen itu. Cekrek.Gilang tersenyum. Sebuah senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum "Suami Bahagia"."Makasih, Ra," jawab Gilang.Dia memotong kue tart cokelat itu, memberikan suapan pertama pada Amara, lalu pada Naya, Juna, dan si bungsu Kania. Tepuk tangan membahana. Musik akustik mengalun. Semua orang tertawa.Akan tetapi, di dalam kep
Enam Bulan Kemudian. Jumat, pukul 11.45 WIB. Apartemen Soraya di lantai 35 kawasan Kuningan itu sudah wangi. Kali ini, bukan wangi parfum mahal atau lilin aromaterapi lavender yang biasanya menyambut tamu. Ruangan itu dipenuhi aroma masakan rumahan yang menggugah selera. Aroma serai, daun jeruk, dan kemangi menguar dari dapur, bercampur dengan uap nasi panas yang baru matang. Di atas meja makan, sudah tersaji menu spesial. Ikan kuah kuning yang segar, tumis bunga pepaya dengan cakalang suwir, dan sambal dabu-dabu yang pedas menggigit. Ini adalah menu Manado, request khusus dari satu-satunya "tamu" yang Soraya miliki dalam hidupnya saat ini. Soraya menata meja makan dengan gerakan efisien namun anggun. Dia meletakkan piring keramik putih, gelas berisi air dingin, dan melipat serbet kain dengan rapi. Hari ini, dia tidak mengenakan blazer kaku atau rok pensil seperti biasanya saat dia berdiri di depan mahasiswa atau pejabat kementerian. Dia mengenakan dress santai berbahan katun ber
Malam itu, langit Bintaro gelap tanpa bintang. Gilang pulang ke rumah dengan langkah yang diseret, seolah ada beban besi ribuan kilo di kakinya. Di lehernya, masih terikat dasi Hermes baru pemberian Amara. Dasi sutra yang mahal dan halus itu kini terasa mencekik, seperti tali gantungan yang perlahan mengetat setiap detiknya. Dia membuka pintu rumah. Hening. Tidak ada suara TV, tidak ada celoteh Naya, tidak ada tangisan Juna. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di sana, di sofa tunggal favoritnya, Amara duduk membelakangi pintu masuk. Dia tidak sedang menonton, tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang bermain ponsel. Dia hanya duduk diam seperti patung, menatap meja kopi kaca di hadapannya. "Assalamualaikum," sapa Gilang pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Waalaikumsalam," jawab Amara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu justru membuat bulu kuduk Gilang mere







