LOGINManik mata Nessa melebar. Jantungnya serasa berhenti sesaat ketika pria yang ia yakini sebagai Reino menoleh.
“Ma… maaf, Mas. Saya salah orang… permisi,” ucapnya gugup sebelum buru-buru kabur dari toko itu.
Langkahnya terburu, tetapi pikirannya tetap tertinggal di sana. Ia yakin betul ia tidak salah lihat. Postur tubuh, potongan rambut, bahkan garis rahang yang sempat terlihat dari samping, sangat jelas baginya kalau itu Reino. Tapi kenapa secepat itu Reino menghilang? Pikirnya.
Nessa mengembuskan napas panjang, rasa lelah mendadak menyergap. Keinginannya untuk jalan-jalan di mall lenyap begitu saja. Ia merogoh ponselnya dan mengetikan pesan pada temannya untuk pamit pulang.
“Bisa gila aku mikirin Mas Reino. Pesan-pesanku nggak dibalas, padahal baru juga nikah. Kok rasanya mentalku yang goyah duluan,” gumamnya sambil cemberut, berusaha menepis rasa gelisah yang mengganggu sejak tadi.
Ia pun merasa lelah bahkan sudah tidak selera lagi untuk berjalan-jalan di mall. Ia lantas merogoh ponselnya dan mengetikan pesan pada temannya untuk pamit pulang.
Ia melangkah keluar dari pintu kaca mall. Tangannya cekatan menelusuri layar ponsel, siap memesan taksi online agar bisa segera pulang dan beristirahat. Namun, sebelum sempat menekan tombol apa pun, layar ponselnya bergetar pelan lalu gelap.
''Oh astaga…'' desah Nessa. ''Baterai ponselku habis. Hari ini benar-benar menyusahkan dan melelahkan.'' Ia menghentakkan kakinya pelan, lebih sebagai pelampiasan frustrasi daripada marah.
Ia berdiri di bawah lampu neon mall yang mulai menyala, menatap ke jalanan yang ramai namun tak satu pun taksi yang melintas. Baru kali ini ia keluar tanpa mobil ataupun sopir pribadinya. Rasanya canggung. Orang-orang berlalu-lalang tanpa memedulikannya, sementara ia hanya berdiri seperti orang kebingungan.
Tak lama kemudian, suara langkah tegas mendekat. Seorang petugas keamanan berseragam menghampiri dengan senyum ramah.
''Maaf, Mbak. Ada yang bisa saya bantu? Apa Mbak kehilangan sesuatu? Atau sedang menunggu seseorang di parkiran?'' tanyanya sopan.
Nessa menggeleng cepat. ''Nggak, Pak. Saya cuma… sedang menunggu taksi lewat.''
Petugas itu mengangguk pelan, menatap jalanan yang sama seakan ikut mencarikan solusi untuknya.
''Maaf mbak kalau mau nunggu taksi yang lewat, mbak harus jalan ke sana sekitar lima ratus meter dari mall ini, karena memang disini bukan tempat untuk nunggu taksi,'' ujar petugas keamanan, tangannya menunjuk lurus ke arah jalan yang ditunjukan.
''Oh begitu ya, Pak. Maaf Pak saya tidak tahu, kalau begitu terima kasih atas pencerahannya,'' jawab Nessa yang langsung pergi.
Petugas keamanan itu mengangguk sambil tersenyum kecil, seolah ingin memberikan semangat terakhir sebelum Nessa melangkah pergi.
Dengan hati berat, Nessa memutuskan berjalan kaki, menembus terik matahari yang memantul dari aspal hingga terasa seperti membakar kulitnya. Sinar matahari sore terasa menyengat, membuat keringat perlahan menetes di pelipisnya.
Setiap langkah terasa semakin berat. Ia mengitari jalanan kota yang tampak begitu asing tanpa mobil keluarga atau sopir yang biasa menjemput. Nafasnya mulai memburu, antara kepanasan, kelelahan, dan rasa frustrasi yang memuncak.
Hingga akhirnya ia berhenti. Tidak kuat lagi melanjutkan langkah. Ia bersandar pada tiang lampu, mencoba mengatur napas dan memijat tengkuknya yang pegal.
Namun, detik berikutnya, suara gesekan ban terdengar mendekat. Sebuah SUV hitam berhenti tepat di depannya.
Mesin mobil itu masih menyala, menderu pelan namun mengancam. Pintu terbuka, dan tiga pria berbadan kekar turun hampir bersamaan.
“Siapa mereka…?” bisik Nessa, merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ketiganya melangkah mantap mendekatinya. Salah seorang yang berada di depan, berpakaian serba hitam dengan tubuh tegap seperti seorang profesional keamanan, menatapnya tajam.
“Apakah Anda Nona Nessa Larasati?” tanyanya datar, namun penuh tekanan.
Nessa menelan ludah. “Benar… tapi kalian siapa? Dan bagaimana kalian tahu nama saya?”
Tak ada satupun yang menjawab.
Dalam sekejap, sebelum sempat Nessa mundur, pria di sebelah kanan langsung mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Nessa terpekik kaget, berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman itu bagai penjepit besi.
“Lepaskan! Apa-apaan kalian?!” Nessa berontak, panik.
Dua pria lainnya ikut merapat. Salah satunya membekap mulut Nessa dengan cepat, menghalangi teriakannya yang pecah di balik telapak tangan kasar itu.
Nessa berusaha meloloskan diri, ia lantas mengigit kuat tangan salah satu pria yang membekap mulutnya, hingga kesakitan, Nessa juga menendang kedua pria itu sampai jatuh tersungkur.
''Heh! Jangan lari! Kau harus ikut kami!'' teriak salah satu pria yang langsung mengejar Nessa.
Nessa terus memacuh langkah kakinya, beberapa kali ia terteriak meminta tolong, namun semua orang tampak sibuk dengan dunianya, tanpa peduli dan menolong.
Jalanan semakin sepi, rasa lelah mulai ia rasakan. Tapi ia tak boleh menyerah lantaran dibelakang ketiga pria itu semakin dekat. Hingga tiba-tiba saja kakinya tersandung batu yang mengakibatkan ia jatuh.
''Akh... sakit sekali...'' rintih Nessa yang merasa kesakitan.
Ketiga pria bertubuh kekar itu semakin dekat, dengan sekuat tenaga Nessa bangkit namun kacamatanya masih tergeletak di aspal. Ia hendak mengambil kacamata itu namun tak sempat, saat seorang pria memakai topi juga masker hitam menarik lengan Nessa, membawanya ke sebuah gang sempit.
Nessa terkejut, ia hendak berteriak namun pria misterius itu membekap mulut Nessa.
''Kemana wanita jelek itu? Jangan sampai kita kehilangan jejaknya, lebih baik kita berpencar sekarang,'' ujar salah satu pria bertubuh kekar.
Nessa bisa mendengar percakapan ketiga pria bertubuh kekar itu, ia bisa bernafas lega sejenak, tubuhnya berontak dan menepis tangan pria misterius itu, saat akan prgi pria misterius itu tetap menahan Nessa untuk tidak pergi,
''Siapa kamu? Apa kamu satu komplotan dari mereka?'' tanya Nessa.
Pria itu menggeleng pelan, lalu mulai membuka masker hitamnya. Spontan Nessa terkejut saat tahu wajah dibalik masker hitam itu.
Tengah malam, suara mobil yang berhenti di halaman membuat Nessa langsung terbangun. Ia bangkit dengan cepat dan menyingkap tirai. ternyata suara mobil itu milik Reino yang baru saja pulang.Perasaan Nessa langsung berubah panas. Ia merapikan rambutnya, lalu mengambil kemeja oversize yang jatuh longgar di tubuhnya. Ia juga membuka beberapa kancing bagian atas sengaja untuk menggoda. Ia ingin membuat Reino memperhatikan dirinya, bukan sekadar lewat dan tidur begitu saja.Nessa berdiri di depan cermin sebentar, memastikan tampilannya pas. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat siapa pun menahan napas.Langkah kaki Reino pun mulai terdengar mendekat di lorong, lalupintu kamar terbuka.Ceklek.Reino muncul dengan wajah yang hampir ambruk karena lelah. Meski begitu, matanya sempat terpaku pada penampilan Nessa.Nessa mendekat, membantu meletakkan tas kerja Reino di meja dan menggantung jasnya dengan rapi. Ia beberapa kali memberikan perhatian kecil, menyentuh lengan suaminya, berhara
Nessa masuk melangkah cepat ke kamar, tanpa mempedulikan Reino yang masih berada di dalam mobil. Ucapan Reino perihal ingin menunda momongan, membuat Nessa merasa sedikit sakit hati. Padahal tujuan utama pernikahannya ingin segera memiliki seorang anak, namun keinginannya bertentangan dengan kenginan Reino.''Nessa, ayolah… kamu jangan kekanak-kanakan. Cuma karena aku ingin menunda punya anak, kamu langsung merajuk seperti ini?” suara Reino meninggi, mencoba terdengar tegas padahal jelas ia sedang kehilangan kesabaran.''Aku kekanak-kanakan? Justru Mas Reino yang aneh, malam pertama kita, Mas Reino kerja aku maklumi, sekarang Mas Reino minta untuk menunda punya anak, apa harus aku turuti juga? Harus aku maklumi juga?'' cerocos Nessa yang mulai meledak emosinya.Reino menyisir rambutnya secara kasar, tarikan napasnya begitu berat. ''Nessa, aku lagi nggak mau ribut.''''Tapi aku mau kejelasan, Mas!'' Air mata yang ia tahan akhirnya tumpah.Alih-alih menenangkan, Reino justru meraih tas
"Mas Reino?"Nessa terdiam menatap suaminya yang kini berdiri dihadapannya. Ia tampak gugup seperti pertama kali bertemu, bahkan lidahnya pun terasa kelu."Apa yang kamu lakukan di apartemen ini? Bersama Pak Thomas?" tanya Reino dengan mata penuh selidik dan rasa curiga."A—aku... Aku sama Bima," jawab Nessa yang tampak gugup."Bima? Tapi untuk apa kamu kemari? Apa yang sudah Bima janjikan?" cecar Reino.Nessa menghela nafas kasarnya, ia meminimalisir perasaan gugup yang sejak tadi menyergap. Ia tak ingin sampai Reino berfikiran macam-macam tentangnya."Awalnya aku dikejar tiga pria asing bertubuh kekar, lalu tiba-tiba Bima menolongku, dan dia membawaku ke apartemennya ini," ujar Nessa berusaha menjelaskan dengan jujur."Apartemennya? Apartemen ini milik, Pak Thomas," ujar Reino seraya menunjuk kearah Thomas.Manik mata Nessa membulat sempurna. Ia menatap Thomas dengan penuh kebingungan. Ia masih ingat betul bagaimana Bima memperkenalkan Thomas sebagai pengawal pribadinya. Namun sekar
''Apa mereka tahu apartemenmu ini?'' tanya Nessa yang tampak panik.Bima menggeleng pelan, buru-buru, ia mengintip dari celah lubang pintu yang dibuat khusus. Nessa yang semakin panik lantas bersembunyi dibelakang Bima dari jarak yang cukup jauh. Ia masih trauma dengan ketiga pria bertubuh kekar itu,Saat pintu mulai terbuka, tampak berdiri seorang pria bersetelan jas hitam berdiri tegak di depan pintu. Bima menghela nafas kasarnya saat tahu pria yang ada dihadapannya ialah pengawal pribadinya.''Kau rupanya? Apa ada kabar penting hari ini?'' tanya Bima.Belum sempat pengawal pribadi bima menjawab, Nessa maju kedepan menggeser pelan tubuh Bima, menatap wajah pengawal serta Bima secara bergantian.''Siapa dia? Akrab sekali rupanya? Jangan-jangan dia bos dari ketiga pria itu,'' ujar Nessa yang langsung menyerang dengan tuduhan.''Dia Thomas, pengawalku, kau tunggu saja didalam,'' titah Bima.Nessa kembali masuk, rasa nyeri di lutut membuatnya tak bisa untuk terlalu lama berdiri. Ia lant
''Bima?''Nessa tercengang saat tahu pria yang sejak tadi menutupi wajahnya dengan masker hitam itu ternyata Bima. Ia tak menyangka akan bertemu Bima, ia juga bingung dengan penampilan Bima yang terkesan sangat misteriusBima terus menatap Nessa tanpa berkedip sedikitpun. Bima merasa ada yang berbeda dari Nessa."Kau sedikit lebih lumayan tanpa kacamata,'' Celetuk Bima.Nessa memundurkan tubuhnya yang dirasa terlalu dekat, ''K...kamu sedang apa di tempat ini? Kenapa juga pakai masker?"Bima menghela nafas kasarnya, lalu tak sengaja manik matanya melihat luka yang cukup parah di salah satu lutut Nessa.''Lututmu berdarah, sebaiknya segera diobati,'' ujar Bima.Nessa menundukan kepalanya melihat kearah lututnya yang memang benar ada luka disana. Karena terlalu panik dan takut hingga ia tak merasakan rasa sakit dari luka itu.Nessa lantas keluar dari gang sempit itu hendak kembali mencari taksi, tapi Bima menarik lengan Nessa, agar berjalan melewati jalan pintas.''Kalau kau kembali ke
Manik mata Nessa melebar. Jantungnya serasa berhenti sesaat ketika pria yang ia yakini sebagai Reino menoleh.“Ma… maaf, Mas. Saya salah orang… permisi,” ucapnya gugup sebelum buru-buru kabur dari toko itu.Langkahnya terburu, tetapi pikirannya tetap tertinggal di sana. Ia yakin betul ia tidak salah lihat. Postur tubuh, potongan rambut, bahkan garis rahang yang sempat terlihat dari samping, sangat jelas baginya kalau itu Reino. Tapi kenapa secepat itu Reino menghilang? Pikirnya.Nessa mengembuskan napas panjang, rasa lelah mendadak menyergap. Keinginannya untuk jalan-jalan di mall lenyap begitu saja. Ia merogoh ponselnya dan mengetikan pesan pada temannya untuk pamit pulang.“Bisa gila aku mikirin Mas Reino. Pesan-pesanku nggak dibalas, padahal baru juga nikah. Kok rasanya mentalku yang goyah duluan,” gumamnya sambil cemberut, berusaha menepis rasa gelisah yang mengganggu sejak tadi.Ia pun merasa lelah bahkan sudah tidak selera lagi untuk berjalan-jalan di mall. Ia lantas merogoh pon







