INICIAR SESIÓNNessa tersenyum tipis, pagi itu ia pulang ke rumah orang tuanya untuk mengambil barang-barang juga pakaian. Sekaligus ingin menghilangkan rasa jenuh karena sampai pagi ini Reino belum juga pulang.
''Mas Reino lagi sibuk, Mah. Sejak semalam dia ngurus kerjaan bahkan sampai sepagi ini beum juga pulang,'' ujar Nessa dengan wajah cemberut.
''Malam pertama Reino kerja? Keterlaluan, lebih mementingkan pekerjaan daripada istri,'' jawab ibunda Nessa yang ikut kesal.
Nessa terduduk di sofa, ia menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu, wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya ssepenuh hati. Nessa mengadu mengeluarkan semua unek-unek yang sejak semalam mengganjal.
''Nessa, Reino itu pekerja keras. Dia pemimpin yang sangat bertanggung jawab, kamu harus memakluminya dan juga sabar, itu resikonya menjadi istri CEO Evoque,'' sahut ayah Nessa.
''Pekerja keras sih Pah, tapi nggak malam pertama juga dong Pah, masa nggak ada waktu sedikitpun,'' protes ibunda Nessa.
''Mah, sebagai orang tua kita cukup mendoakan jangan membuat suasana tambah panas,'' ujar ayah Nessa mengingatkan.
''Tapi Pah__''
Belum selesai ibunda Nessa bicara, Nessa bangkit dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke kamar. Ia meminta waktu untuk sendiri, lantaran tak ingin malah membuat kedua orangtuanya berdebat karena masalahnya dengan Reino.
Saat berada di kamar, ia merebahkan tubuhnya di kasur, tempat tidur yang sudah menemaninya selama dua puluh lima tahun. Ia menatap salah satu foto di kamarnya, sebuah foto kebersamaannya dengan teman-temannya.
''Kangen banget sama mereka, tiga bulan nggak hangout sama mereka,'' gumam Nessa yang terus menatap foto itu.
Terbesit dalam hati ingin sekali bertemu dnegan teman-temannnya, ia lantas meraih ponselnya membuka group chatiing, dan mengetikan pesan singkat.
Tak lama deretan pesan memenuhi grup chatting, Nessa antusias, wajah cerianya kembali. Ia juga lantas bangkit dan bergegas keluar kamar.
''Mah, Pah. Aku hari ini mau ke mall mau ketemu sama temen-temen, nanti semua bajuku biar Pak Hadi yang antar,'' ujar Nessa yang tampak bersemangat.
''Kabarin juga suami kamu, jangan pulang larut malam kasihan suamimu,'' Sahut ayah Nessa.
''Iya ayah, baiklah kalau gitu aku pamit dulu,'' ujar Nessa yang langsung pamit keluar.
Nessa merekatkan kacamatanya, ia sudah sangat siap untuk bertemu teman-temannya. Mini dress coklat, rambut kepang dua juga tak lupa kaca mata besar yang selalu menjadi penampilan utamanya.
Nessa memang wanita yang sangat tidak pandai merias wajah bahkan merawat diri. Ia terlalu cuek dengan segala hal yang berbau make up ataupun skincare. Tapi bukan berarti Nessa kehilangan kepercayaan diri, meskipun banyak orang yang mengejek penampilannya.
Tak lama ia pun tiba di cafe yang berada disebuah mall besar. Nessa pun turun dari mobil dan segera melangkah ke arah cafe yang sudah ada ketiga temannya yang sejak tadi menunggu.
''Hai guys... kalian udah lama nunggu?'' tanya Nessa yang langsung bergabung, senyum diwajahnya tampak mengembang.
''Nggak kok, ya... kami maklum lah sama penganten baru, gimana apa malam pertamanya sukses?'' tanya salah satu teman Nessa.
Nessa menyoroti ketiga wajah teman-temannya secara bergantian, tentu ia akan merasa sangat malu jika sampai ketiga temannya tahu, perihal malam pertamanya yang gagal total.
Senyum diwajahnya berubah menjadi senyum penuh kepalsuan, ia menghela nafas kasarnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari temannya.
''Ah... i...iya la...lancar kok,'' jawab Nessa yang tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
''Kok gugup banget? Biasa aja kali, Nes.
Kami paham kok gimana rasanya, pasti agak sedikit sakit ya?'' tanya teman Nessa seraya merangkul pundak Nessa.''Sakit juga pertamanya doang kok, seminggu kemudian kamu bakal ngerasain sensasi nikmatnya bercinta, pokoknya kamu bakalan minta terus deh,'' sahut teman Nessa lainnya terkekeh pelan.
Ketiga teman Nessa tampak tertawa asyik menceritakan pengalaman pada saat malam pertama. Sementara Nessa hanya berpura-pura tersenyum padahal dalam hatinya, ia sangat ingin tahu dan merasakan bagaimana rasanya disentuh seorang pria.
Obrolan pun berakhir saat makanan yang mereka pesan datang, Nessa berharap semoga tidak ada lagi pembahasan mengenai malam pertama. Karena ia teramat bingung harus menjelaskan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
''Guys... habis makan kita bantuin Nina cari baju-baju hamil,'' ujar teman Nessa.
Nessa tercengang manik matanya pun tampak melebar, ''Nina hamil? Wah selamat ya, subur banget kamu baru juga dua bulan menikah.''
''Iya Nes, kamu cepet nyusul ya, biar kita bisa hamil barengan,'' jawab Nina sambil tersenyum dan mengusap lengan Nessa.
''Harus gaspol tiap hari, Nes. Jangan kasih kendor mumpung masih penganten baru,'' sahut teman Nessa lainnya.
Lagi-lagi Nessa hanya bisa menanggapinya dengan senyuman. Ia sangat berharap setelah ini Reino punya banyak waktu untuk bisa mengajaknya berbulan madu.
Mereka pun lantas berjalan menyusuri mall, mencari toko baju yang pas, tapi tiba-tiba saja manik mata Nessa tak sengaja melihat seorang pria yang begitu mirip dengan Reino, dari arah samping Nessa yakin betul itu Reino yang tengah berdiri di sebuah toko perlengkapan anak.
''Guys... aku kesana bentar ya,'' ujar Nessa yang langsung pamit.
Nessa bergegas cepat menuju toko perlengkapan bayi untuk memastikan jika pria yang baru saja ia lihat itu Reino.
''Aku yakin itu Mas Reino, sedang apa dia di toko perlengkapan anak?'' gumam Nessa.
Pria yang diyakini Reino itu masuk ke dalam toko, Nessa pun sempat kehilangan jejak hingga ia kesulitan untuk menemukan pria yang dirasa mirip Reino.
Hingga kemudian langkah Nessa pun terhenti, ketika pria yang ia cari ada di rak display khusus tempat makan bayi dan anak. Tanpa ragu Nessa melangkah mendekat dan menepuk pundak pria itu.
''Mas Reino.''
Tengah malam, suara mobil yang berhenti di halaman membuat Nessa langsung terbangun. Ia bangkit dengan cepat dan menyingkap tirai. ternyata suara mobil itu milik Reino yang baru saja pulang.Perasaan Nessa langsung berubah panas. Ia merapikan rambutnya, lalu mengambil kemeja oversize yang jatuh longgar di tubuhnya. Ia juga membuka beberapa kancing bagian atas sengaja untuk menggoda. Ia ingin membuat Reino memperhatikan dirinya, bukan sekadar lewat dan tidur begitu saja.Nessa berdiri di depan cermin sebentar, memastikan tampilannya pas. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat siapa pun menahan napas.Langkah kaki Reino pun mulai terdengar mendekat di lorong, lalupintu kamar terbuka.Ceklek.Reino muncul dengan wajah yang hampir ambruk karena lelah. Meski begitu, matanya sempat terpaku pada penampilan Nessa.Nessa mendekat, membantu meletakkan tas kerja Reino di meja dan menggantung jasnya dengan rapi. Ia beberapa kali memberikan perhatian kecil, menyentuh lengan suaminya, berhara
Nessa masuk melangkah cepat ke kamar, tanpa mempedulikan Reino yang masih berada di dalam mobil. Ucapan Reino perihal ingin menunda momongan, membuat Nessa merasa sedikit sakit hati. Padahal tujuan utama pernikahannya ingin segera memiliki seorang anak, namun keinginannya bertentangan dengan kenginan Reino.''Nessa, ayolah… kamu jangan kekanak-kanakan. Cuma karena aku ingin menunda punya anak, kamu langsung merajuk seperti ini?” suara Reino meninggi, mencoba terdengar tegas padahal jelas ia sedang kehilangan kesabaran.''Aku kekanak-kanakan? Justru Mas Reino yang aneh, malam pertama kita, Mas Reino kerja aku maklumi, sekarang Mas Reino minta untuk menunda punya anak, apa harus aku turuti juga? Harus aku maklumi juga?'' cerocos Nessa yang mulai meledak emosinya.Reino menyisir rambutnya secara kasar, tarikan napasnya begitu berat. ''Nessa, aku lagi nggak mau ribut.''''Tapi aku mau kejelasan, Mas!'' Air mata yang ia tahan akhirnya tumpah.Alih-alih menenangkan, Reino justru meraih tas
"Mas Reino?"Nessa terdiam menatap suaminya yang kini berdiri dihadapannya. Ia tampak gugup seperti pertama kali bertemu, bahkan lidahnya pun terasa kelu."Apa yang kamu lakukan di apartemen ini? Bersama Pak Thomas?" tanya Reino dengan mata penuh selidik dan rasa curiga."A—aku... Aku sama Bima," jawab Nessa yang tampak gugup."Bima? Tapi untuk apa kamu kemari? Apa yang sudah Bima janjikan?" cecar Reino.Nessa menghela nafas kasarnya, ia meminimalisir perasaan gugup yang sejak tadi menyergap. Ia tak ingin sampai Reino berfikiran macam-macam tentangnya."Awalnya aku dikejar tiga pria asing bertubuh kekar, lalu tiba-tiba Bima menolongku, dan dia membawaku ke apartemennya ini," ujar Nessa berusaha menjelaskan dengan jujur."Apartemennya? Apartemen ini milik, Pak Thomas," ujar Reino seraya menunjuk kearah Thomas.Manik mata Nessa membulat sempurna. Ia menatap Thomas dengan penuh kebingungan. Ia masih ingat betul bagaimana Bima memperkenalkan Thomas sebagai pengawal pribadinya. Namun sekar
''Apa mereka tahu apartemenmu ini?'' tanya Nessa yang tampak panik.Bima menggeleng pelan, buru-buru, ia mengintip dari celah lubang pintu yang dibuat khusus. Nessa yang semakin panik lantas bersembunyi dibelakang Bima dari jarak yang cukup jauh. Ia masih trauma dengan ketiga pria bertubuh kekar itu,Saat pintu mulai terbuka, tampak berdiri seorang pria bersetelan jas hitam berdiri tegak di depan pintu. Bima menghela nafas kasarnya saat tahu pria yang ada dihadapannya ialah pengawal pribadinya.''Kau rupanya? Apa ada kabar penting hari ini?'' tanya Bima.Belum sempat pengawal pribadi bima menjawab, Nessa maju kedepan menggeser pelan tubuh Bima, menatap wajah pengawal serta Bima secara bergantian.''Siapa dia? Akrab sekali rupanya? Jangan-jangan dia bos dari ketiga pria itu,'' ujar Nessa yang langsung menyerang dengan tuduhan.''Dia Thomas, pengawalku, kau tunggu saja didalam,'' titah Bima.Nessa kembali masuk, rasa nyeri di lutut membuatnya tak bisa untuk terlalu lama berdiri. Ia lant
''Bima?''Nessa tercengang saat tahu pria yang sejak tadi menutupi wajahnya dengan masker hitam itu ternyata Bima. Ia tak menyangka akan bertemu Bima, ia juga bingung dengan penampilan Bima yang terkesan sangat misteriusBima terus menatap Nessa tanpa berkedip sedikitpun. Bima merasa ada yang berbeda dari Nessa."Kau sedikit lebih lumayan tanpa kacamata,'' Celetuk Bima.Nessa memundurkan tubuhnya yang dirasa terlalu dekat, ''K...kamu sedang apa di tempat ini? Kenapa juga pakai masker?"Bima menghela nafas kasarnya, lalu tak sengaja manik matanya melihat luka yang cukup parah di salah satu lutut Nessa.''Lututmu berdarah, sebaiknya segera diobati,'' ujar Bima.Nessa menundukan kepalanya melihat kearah lututnya yang memang benar ada luka disana. Karena terlalu panik dan takut hingga ia tak merasakan rasa sakit dari luka itu.Nessa lantas keluar dari gang sempit itu hendak kembali mencari taksi, tapi Bima menarik lengan Nessa, agar berjalan melewati jalan pintas.''Kalau kau kembali ke
Manik mata Nessa melebar. Jantungnya serasa berhenti sesaat ketika pria yang ia yakini sebagai Reino menoleh.“Ma… maaf, Mas. Saya salah orang… permisi,” ucapnya gugup sebelum buru-buru kabur dari toko itu.Langkahnya terburu, tetapi pikirannya tetap tertinggal di sana. Ia yakin betul ia tidak salah lihat. Postur tubuh, potongan rambut, bahkan garis rahang yang sempat terlihat dari samping, sangat jelas baginya kalau itu Reino. Tapi kenapa secepat itu Reino menghilang? Pikirnya.Nessa mengembuskan napas panjang, rasa lelah mendadak menyergap. Keinginannya untuk jalan-jalan di mall lenyap begitu saja. Ia merogoh ponselnya dan mengetikan pesan pada temannya untuk pamit pulang.“Bisa gila aku mikirin Mas Reino. Pesan-pesanku nggak dibalas, padahal baru juga nikah. Kok rasanya mentalku yang goyah duluan,” gumamnya sambil cemberut, berusaha menepis rasa gelisah yang mengganggu sejak tadi.Ia pun merasa lelah bahkan sudah tidak selera lagi untuk berjalan-jalan di mall. Ia lantas merogoh pon







