Home / Romansa / Sentuhan Panas Adik Iparku / Bab 06. Shofa Merah

Share

Bab 06. Shofa Merah

Author: Selindina
last update Last Updated: 2025-11-08 13:47:40

''Apa mereka tahu apartemenmu ini?'' tanya Nessa yang tampak panik.

Bima menggeleng pelan, buru-buru, ia mengintip dari celah lubang pintu yang dibuat khusus. Nessa yang semakin panik lantas bersembunyi dibelakang Bima dari jarak yang cukup jauh. Ia masih trauma dengan ketiga pria bertubuh kekar itu,

Saat pintu mulai terbuka, tampak berdiri seorang pria bersetelan jas hitam berdiri tegak di depan pintu. Bima menghela nafas kasarnya saat tahu pria yang ada dihadapannya ialah pengawal pribadinya.

''Kau rupanya? Apa ada kabar penting hari ini?'' tanya Bima.

Belum sempat pengawal pribadi bima menjawab, Nessa maju kedepan menggeser pelan tubuh Bima, menatap wajah pengawal serta Bima secara bergantian.

''Siapa dia? Akrab sekali rupanya? Jangan-jangan dia bos dari ketiga pria itu,'' ujar Nessa yang langsung menyerang dengan tuduhan.

''Dia Thomas, pengawalku, kau tunggu saja didalam,'' titah Bima.

Nessa kembali masuk, rasa nyeri di lutut membuatnya tak bisa untuk terlalu lama berdiri. Ia lantas duudk di sofa, sofa yang tampak unik sekali sama sekali belum ia pernah ia lihat, bahkan ia tidak mengerti cara duudk di sofa tersebut.

Karena kesulitan, Nessa memilih untuk duduk ditepi ranjang. Matanya tak lepas memperhatikan Bima yang tampak serius mengobrol dengan pengawalnya.

Tak lama Bima dan pengawalnya pun, selesai mengobrol. Bima melangkah mendekat kearah Nessa, namun ada sesuatu yang berbeda dari wajah Bima yang tampak tegang.

''Aku ada urusan penting, kau bisa pulang dengan Thomas,'' ujar Bima yang langsung membuka lemari dan meraih jas hitamnya.

Nessa tampak bingung ia perlahan mendekat, ''Apa ada masalah?''

''Kau pulang saja, ini nggak ada kaitannya dengan ketiga pria misterius itu,'' jawab Bima tanpa menoleh.

Nessa mengangguk pelan ia lantas melangkah keluar bersama pengawal pribadi Bima, namun baru beberapa langkah, Nessa kembali menghampiri Bima.

''Apa barangmu ada yang tertinggal?'' tanya Bima.

''B-bukan... aku cuma mau tanya, kamu beli dimana sofa itu?'' tanya nessa, tangannya lurus menunjuk kearah sofa panjang berlekuk warna merah.

''Hah?'' Bima tersentak kaget, ''Memangnya kenapa?''

''Sofanya unik, estetik! Kasih tahu aku dimana belinya? Aku mau minta Mas Reino buat belikan,'' ujarNessa yang tampak antusias.

Bima semakin tercengang. Tatapannya terpaku pada Nessa yang kini tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk sofa merah itu, seolah sedang menunjukkan sebuah harta karun. Dari ambang pintu, pengawal Bima pun terlihat menahan tawa melihat tingkah gadis itu.

''Aku akan berikan,'' uujar Bima sambil melangkah pelan mendekat. Suaranya menurun, lembut namun penuh tantangan. ''Asal kau mau… mencobanya denganku,'' bisiknya tepat di belakang telinga Nessa.

Dahi Nessa langsung berkerut. Tatapannya berubah dari kagum menjadi curiga campur jengkel. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, sang pengawal pribadi Bima buru-buru mengikutinya.

Begitu pintu apartemen tertutup, Nessa melangkah ke lift dengan wajah masam. Tapi di balik kesalnya, pikirannya masih terngiang-ngiang pada sofa merah yang begitu mencolok itu.

“Thomas, menurutmu sofa merah itu unik nggak?” tanya Nessa sambil menekan tombol lift dengan sedikit terlalu keras. “Kamu bisa antar aku ke toko yang jual sofa itu nggak? Soalnya kalau aku harus tanya ke Bima lagi, aku bisa gila!” gerutunya, membuat Thomas hanya bisa tersenyum tipis sambil mengangguk.

Lagi-lagi Thomas menahan senyumnya, ''Apa Nona tahu fungsi dari sofa itu?''

Wajah Nessa tampak bingung dengan pertanyaan Thomas, ia tak pernah tahu kalau sofa memiliki sebuah fungsi khusus.

''Fungsi apa? Bukankah semua sofa untuk duduk?'' tanya Nessa.

Thomas menutup mulut dengan telapak untuk menutupi senyum diwajahnya, ''Nona itu sofa dewasa, khusus untuk pasangan kekasih.''

Nessa tampak berpikir keras. Di dalam lift yang perlahan turun, bayangan sofa itu kembali muncul di kepalanya. Bentuknya yang melengkung, sandarannya yang aneh juga posisi duduknya yang terlalu intim untuk sekadar sofa biasa.

Dan saat akhirnya kepingan itu tersambung, Nessa membelalakkan mata.

Bentuk sofa itu jelas sekali menjurus ke arah aktivitas sepasang kekasih.

“Asal kau mau mencobanya denganku.”

Ucapan Bima kembali terngiang sangat jelas, membuat wajah Nessa memanas seketika. Ia menepuk keningnya berkali-kali, merutuki kebodohannya sendiri karena tidak menyadarinya dari tadi.

Ia melirik Thomas yang berdiri di sampingnya. Pengawal itu tampak berusaha keras menjaga ekspresi netral, tapi sudut bibirnya tak bisa menyembunyikan senyum yang mencoba melarikan diri. Hal itu membuat rasa malu Nessa meledak dua kali lipat.

Begitu pintu lift terbuka, Nessa langsung melangkah keluar. Tidak ada percakapan di antara mereka. Thomas paham benar kapan harus diam dan Nessa jelas sedang ingin menelan udara saja pun enggan karena malu.

Mereka berjalan menuju lobi, keluar gedung, kemudian menuju tempat parkir. Nessa hanya ingin cepat masuk mobil dan melupakan kejadian memalukan itu selamanya.

Namun tepat saat ia hendak membuka pintu mobil, sebuah suara memecah keheningan.

Langkah seseorang terdengar tergesa, dan seorang pria yang baru saja turun dari mobil putih di sebelah mereka menghampiri Nessa.

Nessa spontan terhenti. Matanya membesar melihat seseorang yang sama sekali tidak ia duga akan muncul di apartemen milik Bima.

“Nessa?” Pria itu menatapnya dengan campuran kebingungan dan keterkejutan. “Sedang apa kamu di sini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Adik Iparku   Bab 09. Suara Gaduh Di Dapur

    Tengah malam, suara mobil yang berhenti di halaman membuat Nessa langsung terbangun. Ia bangkit dengan cepat dan menyingkap tirai. ternyata suara mobil itu milik Reino yang baru saja pulang.Perasaan Nessa langsung berubah panas. Ia merapikan rambutnya, lalu mengambil kemeja oversize yang jatuh longgar di tubuhnya. Ia juga membuka beberapa kancing bagian atas sengaja untuk menggoda. Ia ingin membuat Reino memperhatikan dirinya, bukan sekadar lewat dan tidur begitu saja.Nessa berdiri di depan cermin sebentar, memastikan tampilannya pas. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat siapa pun menahan napas.Langkah kaki Reino pun mulai terdengar mendekat di lorong, lalupintu kamar terbuka.Ceklek.Reino muncul dengan wajah yang hampir ambruk karena lelah. Meski begitu, matanya sempat terpaku pada penampilan Nessa.Nessa mendekat, membantu meletakkan tas kerja Reino di meja dan menggantung jasnya dengan rapi. Ia beberapa kali memberikan perhatian kecil, menyentuh lengan suaminya, berhara

  • Sentuhan Panas Adik Iparku   Bab 08. Mulai Renggang

    Nessa masuk melangkah cepat ke kamar, tanpa mempedulikan Reino yang masih berada di dalam mobil. Ucapan Reino perihal ingin menunda momongan, membuat Nessa merasa sedikit sakit hati. Padahal tujuan utama pernikahannya ingin segera memiliki seorang anak, namun keinginannya bertentangan dengan kenginan Reino.''Nessa, ayolah… kamu jangan kekanak-kanakan. Cuma karena aku ingin menunda punya anak, kamu langsung merajuk seperti ini?” suara Reino meninggi, mencoba terdengar tegas padahal jelas ia sedang kehilangan kesabaran.''Aku kekanak-kanakan? Justru Mas Reino yang aneh, malam pertama kita, Mas Reino kerja aku maklumi, sekarang Mas Reino minta untuk menunda punya anak, apa harus aku turuti juga? Harus aku maklumi juga?'' cerocos Nessa yang mulai meledak emosinya.Reino menyisir rambutnya secara kasar, tarikan napasnya begitu berat. ''Nessa, aku lagi nggak mau ribut.''''Tapi aku mau kejelasan, Mas!'' Air mata yang ia tahan akhirnya tumpah.Alih-alih menenangkan, Reino justru meraih tas

  • Sentuhan Panas Adik Iparku    Bab 07. Belum Siap Punya Anak

    "Mas Reino?"Nessa terdiam menatap suaminya yang kini berdiri dihadapannya. Ia tampak gugup seperti pertama kali bertemu, bahkan lidahnya pun terasa kelu."Apa yang kamu lakukan di apartemen ini? Bersama Pak Thomas?" tanya Reino dengan mata penuh selidik dan rasa curiga."A—aku... Aku sama Bima," jawab Nessa yang tampak gugup."Bima? Tapi untuk apa kamu kemari? Apa yang sudah Bima janjikan?" cecar Reino.Nessa menghela nafas kasarnya, ia meminimalisir perasaan gugup yang sejak tadi menyergap. Ia tak ingin sampai Reino berfikiran macam-macam tentangnya."Awalnya aku dikejar tiga pria asing bertubuh kekar, lalu tiba-tiba Bima menolongku, dan dia membawaku ke apartemennya ini," ujar Nessa berusaha menjelaskan dengan jujur."Apartemennya? Apartemen ini milik, Pak Thomas," ujar Reino seraya menunjuk kearah Thomas.Manik mata Nessa membulat sempurna. Ia menatap Thomas dengan penuh kebingungan. Ia masih ingat betul bagaimana Bima memperkenalkan Thomas sebagai pengawal pribadinya. Namun sekar

  • Sentuhan Panas Adik Iparku   Bab 06. Shofa Merah

    ''Apa mereka tahu apartemenmu ini?'' tanya Nessa yang tampak panik.Bima menggeleng pelan, buru-buru, ia mengintip dari celah lubang pintu yang dibuat khusus. Nessa yang semakin panik lantas bersembunyi dibelakang Bima dari jarak yang cukup jauh. Ia masih trauma dengan ketiga pria bertubuh kekar itu,Saat pintu mulai terbuka, tampak berdiri seorang pria bersetelan jas hitam berdiri tegak di depan pintu. Bima menghela nafas kasarnya saat tahu pria yang ada dihadapannya ialah pengawal pribadinya.''Kau rupanya? Apa ada kabar penting hari ini?'' tanya Bima.Belum sempat pengawal pribadi bima menjawab, Nessa maju kedepan menggeser pelan tubuh Bima, menatap wajah pengawal serta Bima secara bergantian.''Siapa dia? Akrab sekali rupanya? Jangan-jangan dia bos dari ketiga pria itu,'' ujar Nessa yang langsung menyerang dengan tuduhan.''Dia Thomas, pengawalku, kau tunggu saja didalam,'' titah Bima.Nessa kembali masuk, rasa nyeri di lutut membuatnya tak bisa untuk terlalu lama berdiri. Ia lant

  • Sentuhan Panas Adik Iparku   Bab 5. Kota Valkenberg

    ''Bima?''Nessa tercengang saat tahu pria yang sejak tadi menutupi wajahnya dengan masker hitam itu ternyata Bima. Ia tak menyangka akan bertemu Bima, ia juga bingung dengan penampilan Bima yang terkesan sangat misteriusBima terus menatap Nessa tanpa berkedip sedikitpun. Bima merasa ada yang berbeda dari Nessa."Kau sedikit lebih lumayan tanpa kacamata,'' Celetuk Bima.Nessa memundurkan tubuhnya yang dirasa terlalu dekat, ''K...kamu sedang apa di tempat ini? Kenapa juga pakai masker?"Bima menghela nafas kasarnya, lalu tak sengaja manik matanya melihat luka yang cukup parah di salah satu lutut Nessa.''Lututmu berdarah, sebaiknya segera diobati,'' ujar Bima.Nessa menundukan kepalanya melihat kearah lututnya yang memang benar ada luka disana. Karena terlalu panik dan takut hingga ia tak merasakan rasa sakit dari luka itu.Nessa lantas keluar dari gang sempit itu hendak kembali mencari taksi, tapi Bima menarik lengan Nessa, agar berjalan melewati jalan pintas.''Kalau kau kembali ke

  • Sentuhan Panas Adik Iparku   Bab 4. Dikejar Orang Asing

    Manik mata Nessa melebar. Jantungnya serasa berhenti sesaat ketika pria yang ia yakini sebagai Reino menoleh.“Ma… maaf, Mas. Saya salah orang… permisi,” ucapnya gugup sebelum buru-buru kabur dari toko itu.Langkahnya terburu, tetapi pikirannya tetap tertinggal di sana. Ia yakin betul ia tidak salah lihat. Postur tubuh, potongan rambut, bahkan garis rahang yang sempat terlihat dari samping, sangat jelas baginya kalau itu Reino. Tapi kenapa secepat itu Reino menghilang? Pikirnya.Nessa mengembuskan napas panjang, rasa lelah mendadak menyergap. Keinginannya untuk jalan-jalan di mall lenyap begitu saja. Ia merogoh ponselnya dan mengetikan pesan pada temannya untuk pamit pulang.“Bisa gila aku mikirin Mas Reino. Pesan-pesanku nggak dibalas, padahal baru juga nikah. Kok rasanya mentalku yang goyah duluan,” gumamnya sambil cemberut, berusaha menepis rasa gelisah yang mengganggu sejak tadi.Ia pun merasa lelah bahkan sudah tidak selera lagi untuk berjalan-jalan di mall. Ia lantas merogoh pon

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status