LOGIN"Kamu masih kesel?" tanya Satria. Ia menoleh ke arah Andini dan menggenggam lembut tangan kanannya. "Sedikit," jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Satria tidak lagi bicara. Ia tidak mau membuat mood Andini semakin kurang baik. ***Keesokan paginya, suasana rumah masih tenang. Andini sengaja bangun lebih pagi dan mandi lebih dulu. Ia mengenakan pakaian rumah dan berjalan ke dapur dengan langkah pelan, untuk menyiapkan sarapan sederhana.Ia mengambil beberapa bahan makanan di kulkas dan bersiap untuk memasak. "Loh, Nyonya Andini ngapain? Udah, biar saya aja yang masak, Nya.""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau bikin masi goreng, kok. Nggak bakal nyita banyak tenaga," ucap Andini, sambil tersenyum. "Tapi, Nya.. Saya takut Tuan marah. Nanti kalo saya dipecat gimana?"Andini menggelengkan kepalanya. "Nggak bakal, Bi. Masa gara-gara aku masak aja Bi Sarmi sampe di pecat."Bi Sarmi terdiam. Wajahnya masih menyiratkan rasa takut yang teramat dalam. Ia sangat khawatir
"Gimana An, udah kelar?" tanya Dila, sambil melihat ke arah Andini. "Belum. Sebentar lagi, Mbak," jawab Andini tanpa mengalihkan pandangannya. Waktu berjalan dengan cepat. Dan, saat menjelang sore, pekerjaan Andini dan Dila sudah hampir selesai. Beberapa berkas juga sudah tersusun rapi di meja kerja masing-masing. Sebagian untuk di simpan dan sebagian lagi ditaruh di meja Satria untuk direview dan ditandatangani. Beberapa softcopy dokumen juga sudah tersimpan di folder laptop.Andini meregangkan bahunya perlahan."Kamu capek, An?" tanya Dila. Ia kembali melihat ke arah Andini."Lumayan," jawab Andini jujur. "Tapi masih aman kok, Mbak."Dila mengangguk. "Ingat jangan terlalu dipaksain ya, An. Takutnya nanti Pak Satria marah sama aku kalo kamu terlalu capek.""Iya, Mbak. Tenang aja. Lagian, aku tetap profesional kerja kok. Meski sekarang status udah beda, tapi kerjaan kan tetap sama," jawab Andini. Tak lama, ponsel Andini kembali bergetar. Ia melirik dan mengambil ponsel yang tergel
Andini langsung melirik. "Ih."Tak lama, Roland kembali dengan kantong plastik berisi mangga yang sudah dipotong."Sudah, Pak," ucapnya sambil menyerahkan ke belakang.Satria menerimanya terlebih dahulu, lalu membuka sedikit plastiknya. "Nih, kamu coba," pintanya, sambil menyerahkan kantong plastik tersebut kepada Andini. Andini mengambil satu potong kecil, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Wajahnya langsung berubah."Hmm…" gumamnya."Gimana?" tanya Satria."Seger… manis juga," jawab Andini, lalu mengambil lagi satu potong.Satria tersenyum tipis melihat reaksinya. "Ya udah, berarti cocok."Mobil kembali melaju. Andini sesekali memakan mangga itu, sementara Satria kembali fokus ke tablet-nya.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan gedung kantor.Andini menoleh. "Aku duluan ya.""Iya. Hati-hati," jawab Satria singkat.Andini mengangguk, lalu membuka pintu dan turun. Sebelum menutup pintu, ia sempat melirik."Kamu juga hati-hati, dan jangan lupa makan siang."Satria hanya m
"Hah?!""Kenapa? Kamu kaget saya tau kebiasaan Siska?" tanya Satria dengan senyum samar di sudut bibirnya. Andini masih terdiam. Ia tidak menjawab ataupun bergerak sedikitpun. Ia paham apapun tanggapannya saat ini, bisa menjadi boomerang baginya. Meski begitu, sebenarnya ia sadar kalau merupakan hal yang wajar apabila Satria tau semua tentang anak semata wayangnya. Semua itu karena dia adalah seorang pebisnis kelas kakap yang ditakuti dan sangat dihormati di negara mereka. Justru jika Satria tidak tau apapun tentang anaknya, akan sangat aneh. Apalagi Satria sangat menyayangi Siska. "Nggak! Aku nggak kaget kok! Aku cuma terkesan!""Terkesan apanya, kamu nih ada-ada aja. Oh ya, kapan kita akan cek kandungan kamu lagi?"Andini mencoba mengingat. "Kayaknya sih minggu ini.""Terus untuk sidang kamu gimana? Waktunya sama kan kayak Siska?""Nggak! Kayaknya duluan aku daripada Siska. Cuma wisuda aja yang samaan.""Uhm.. Ya udah, kita sarapan sekarang?"Andini menganggukkan kepalanya. "Ayo
"Dih.. Kok kamu gitu sih Beb," rengek Siska. "Aku mau tau...."Bastian menatapnya serius. "Intinya adalah, aku bakal pastiin kamu aman."Siska menghela napas pelan. "Aku bukan cuma mikirin diri aku, Beb. Tapi kamu dan keluarga kamu.""Aku tau. Tapi saat ini, aku belum bisa cerita semuanya. Aku nggak mau kamu ikut kepikiran."Siska tersenyum kecil, tapi ada kehangatan di sana. "Kita udah sejauh ini, kamu masih mikir aku bisa santai kalau kamu diem aja?"Bastian tertawa pelan, kali ini lebih tulus. "Aku berharap begitu."Siska menatapnya lembut. "Inget Beb, kamu nggak harus hadapin semuanya sendirian."Bastian menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku tau.""Dan aku di sini bukan cuma buat nemenin kamu enak-enak doang," lanjut Siska dengan nada sedikit menggoda.Bastian tersenyum miring. "Oh, gitu?""Iya Beb," Siska menyeringai tipis. "Aku juga bisa diajak mikir."Bastian tersenyum. Ia mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Baik, Bu. Siap!"Siska tertawa kecil. Suasana kembali sedikit
"Iya, Bu," jawab Bastian.Ia mengakhiri panggilan telpon dan menaruh kembali ponselnya di atas meja. Bastian sudah lebih dulu duduk di kursi meja makan ketika Siska keluar dari kamar. Rambut Siska masih sedikit basah dan menjuntai perlahan di bahu dengan aroma khas seperti biasanya. Ia mengenakan baju mini yang cukup nyaman. Sementara wajahnya terlihat lebih segar meski tubuhnya masih menyimpan sedikit lelah.Di atas meja, dua piring nasi goreng terlihat masih mengepul. Irisan telur dadar, potongan ayam, dan taburan bawang goreng membuat aromanya langsung memenuhi ruangan. Dua gelas teh tawar panas juga sudah disiapkan. Uapnya tipis naik ke udara.Siska tersenyum kecil. "Kamu panasin lagi nasi gorengnya?" tanyanya sambil mendekat.Bastian menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya. Biar lebih enak pas di makan."Siska menarik kursi dan duduk di hadapannya. "Kamu tuh ya. Padahal habis olahraga, malah masak lagi. Emang nggak capek?""Justru ini cara recharge aku," jawab Bastian ringan. "La
"Bantuan apa, Sis?"Ema mengerutkan kening. Ia yakin ini bukan perkara yang mudah. Karena sebelumnya, Siska tidak pernah menghubunginya. Siska menghembuskan nafas pelan. "Rumah sakit bersalin terbesar di Omeron, masih dikelola Ayah lo kan?!" tanya Siska, akhirnya. 'Ah! Ternyata si bidadari canti
"Uhm..."Siska melirik ke arah Ayahnya sesaat, lalu ke Andini secara bergantian. "Apa itu berita tentang aku yang mengetahui hubungan Ayah dan... Andini?!" tanya Siska. Rania tersentak. Suaranya nyaris tidak bisa keluar setelah mendengar pertanyaan cucu perempuan yang merupakan calon pewaris tung
"Yah, aku mau bicara!"Pesan singkat yang diterima Satria pagi ini. Ia menaruh kembali ponselnya di atas nakas dan berjalan ke luar kamar. "Sis.. " panggilnya. Saat ia sedang berada di depan pintu kamar anak semata wayangnya. Namun, sudah beberapa kali ia mencoba memanggil, pintu kamar tidak juga
"An?"Satria menatap dan menyentuh lembut punggung tangan kekasihnya itu. Sejak tadi, Andini hanya memandang ke luar jendela. Seolah, ia sedang mencari jawaban atas kegamangannya saat ini. "Hem.." jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya. "Jangan terlalu banyak pikiran, An. Ingat, aku di sini







