Masuk"Dih.. Kok kamu gitu sih Beb," rengek Siska. "Aku mau tau...."Bastian menatapnya serius. "Intinya adalah, aku bakal pastiin kamu aman."Siska menghela napas pelan. "Aku bukan cuma mikirin diri aku, Beb. Tapi kamu dan keluarga kamu.""Aku tau. Tapi saat ini, aku belum bisa cerita semuanya. Aku nggak mau kamu ikut kepikiran."Siska tersenyum kecil, tapi ada kehangatan di sana. "Kita udah sejauh ini, kamu masih mikir aku bisa santai kalau kamu diem aja?"Bastian tertawa pelan, kali ini lebih tulus. "Aku berharap begitu."Siska menatapnya lembut. "Inget Beb, kamu nggak harus hadapin semuanya sendirian."Bastian menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku tau.""Dan aku di sini bukan cuma buat nemenin kamu enak-enak doang," lanjut Siska dengan nada sedikit menggoda.Bastian tersenyum miring. "Oh, gitu?""Iya Beb," Siska menyeringai tipis. "Aku juga bisa diajak mikir."Bastian tersenyum. Ia mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Baik, Bu. Siap!"Siska tertawa kecil. Suasana kembali sedikit
"Iya, Bu," jawab Bastian.Ia mengakhiri panggilan telpon dan menaruh kembali ponselnya di atas meja. Bastian sudah lebih dulu duduk di kursi meja makan ketika Siska keluar dari kamar. Rambut Siska masih sedikit basah dan menjuntai perlahan di bahu dengan aroma khas seperti biasanya. Ia mengenakan baju mini yang cukup nyaman. Sementara wajahnya terlihat lebih segar meski tubuhnya masih menyimpan sedikit lelah.Di atas meja, dua piring nasi goreng terlihat masih mengepul. Irisan telur dadar, potongan ayam, dan taburan bawang goreng membuat aromanya langsung memenuhi ruangan. Dua gelas teh tawar panas juga sudah disiapkan. Uapnya tipis naik ke udara.Siska tersenyum kecil. "Kamu panasin lagi nasi gorengnya?" tanyanya sambil mendekat.Bastian menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya. Biar lebih enak pas di makan."Siska menarik kursi dan duduk di hadapannya. "Kamu tuh ya. Padahal habis olahraga, malah masak lagi. Emang nggak capek?""Justru ini cara recharge aku," jawab Bastian ringan. "La
"Uhm..." renguh Siska. Bastian menggiring Siska menuju bathup. Ia menyalakan keran air dan mengaturnya agar terasa hangat seperti biasa tanpa melepas ciumannya dan meremas bokong Siska secara perlahan. Ia sengaja melakukannya agar Siska lebih rileks dan kembali hanyut ke dalam hasrat yang mungkin akan semakin meninggi. Setelah air terasa cukup, Bastian menjulurkan tangan kanannya untuk mematikan keran air dan memasukkan bath bomb beraorama melati dan vanilla yang sengaja ia taruh tidak jauh dari bath up. Begitu bola itu menyentuh permukaan air, suara desis halus terdengar. Warna lembut perlahan menyebar, diikuti aroma hangat yang merupakan perpaduan vanilla dan melati yang cepat memenuhi udara. Tipis tapi cukup untuk membuat nafas terasa lebih dalam."Ah.. Beb.." renguh Siska lagi, saat bibir Bastian turun ke leher jenjangnya. Dan menyalakan shower yang menghadap ke bathup. Bastian melepas ciuman dan melangkah lebih dulu. Ia turun ke dalam bathtub dengan hati-hati. Air hangat lan
"Mau?" tanya Bastian lagi. "Boleh di coba," jawab Siska, akhirnya. Bastian menatap Siska sejenak, memastikan anggukan dan jawabannya itu benar-benar datang dari keinginannya, bukan sekadar ingin memuaskan hasrat pribadinya. Tangan Bastian bergerak mengambil pelumas dan membubuhkannya ke bagian inti miliknya. Setelah itu, ia mulai memasukkan bagian intinya ke dalam lubang bagian belakang Siska secara perlahan. "Kalau sakit, bilang ya Beb.." ucapnya pelan.Siska hanya mengangguk lagi, napasnya mulai tidak teratur. Ada gugup yang belum sepenuhnya hilang, tapi juga rasa penasaran yang membuatnya bertahan.Bastian tidak terburu-buru. Ia melakukannya perlahan, sangat hati-hati, seolah setiap gerakan adalah pertanyaan. Dan tubuh Siska yang menjawab semuanya.Untuk membuat rileks, tangan kanan Bastian juga memainkan klitoris Siska. Namun, Siska refleks menegang saat sensasi itu mulai terasa. Jemarinya mencengkeram pinggiran wastafel lebih kuat. "Beb…" lirihnya, antara kaget dan belum ter
"Bagus kalo kamu tau..," ucap Siska, sambil menahan geli karena deru nafas Bastian yang masih terasa di telinganya."Udah ah, aku mau mandi dulu," lanjutnya, sambil berusaha melepas diri dari dekapan Bastian. Bastian tersenyum tipis. Bibirnya yang tadi berada di telinga Siska, kini mundur perlahan. Wajahnya kini berhadapan dengan wajah Siska. "Aku mandiin ya..," kata Bastian, menawarkan. Siska mengerutkan kening. Sejak tadi, ia sudah mengendus aroma sabun dan parfum yang khas milik Bastian. "Ngapain? Kamu kan udah mandi. Nanti kamu basah, Beb..," tanya Siska. Seolah ia tidak mengerti maksud Bastian. "Yakin nanya gitu? Nggak jadi pengen aku?!" tanya Bastian, sambil menarik lembut hidung Siska yang mancung. "Tentu aja aku mau. Kamu tau kan aku ke sini untuk apa," ucap Siska dengan senyum nakalnya yang khas. . "Kalo gitu, ayok!" ajak Bastian. Ia menggendong Siska dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Senyuman tak lepas dari wajahnya saat memandang wajah cantik Siska. Siska
"Di kantor, Beb. Kenapa?" tanya Bastian dari balik ponselnya. Siska berdecak pelan. "Bukannya sekarang udah jam pulang kantor, ya?" tanyanya. Pandangan Siska fokus ke jalan, tapi ekspresi wajahnya terlihat kesal karena ternyata kekasihnya itu belum ada di apartemen. "Iya. Cuma karena ada kerjaan yang deadlinenya besok pagi Beb, jadi aku harus selesaikan pekerjaan itu hari ini," ucap Bastian. Ia sangat tidak nyaman jika Siska mengatakan hal tersebut. Karena ia tau hal itu yang akan menjadi awal mulai percikan pertengkaran antara mereka berdua. Pertengkaran yang bagi Bastian sebenarnya tidak penting dan bisa ditanggulangi hanya dengan sedikit pengertian. Tapi kadang hal tersebut tidak dipahami oleh Siska dan membuatnya kepikiran. Sehingga ia jadi kurang fokus dan menghambat pekerjaannya karena pikirannya terpecah menjadi dua. "Uhm.. Masih lama nggak? Aku lagi pengen banget nih.."Bastian tersenyum tipis. Ucapan Siska tadi membuatnya sedikit merasa lega. Karena jika Siska mengatak
"Raya... " gumam Cinta. Ia melihat ke arah Andini sekilas, seolah meminta persetujuan. Dengan cepat, Andini mengangguk menyetujui. Cinta kembali melihat layar ponsel dan segera menekan tombol hijau untuk mengangkatnya. "Jadi, gimana Ibu Cinta, apa Andini berkenan mencabut gugatan itu?" tanya Ray
"Ah...." renguh Andini. Tanpa sadar, ia menarik rambut Satria karena menikmati hentakkan demi hentakkan yang Satria lakukan dibawah sana.Semakin lama, kenikmatan yang Satria berikan semakin membuat Andini terbuai dan selalu ingin berlama-lama dengannya. Satria memangut bibir Andini lagi, lalu be
"Tante.. " panggil Andini. Siska dan Andini saling pandang saat melihat kedatangan Cinta dan Agung. Cinta mematikan ponselnya dan mempercepat langkahnya untuk segera mendekati tempat tidur dimana Andini berada. "Kamu kenapa nggak bilang sih, An?" tanya Cinta, ketika sudah berada di samping tempa
"Cantik... " ucap Satria, tanpa berkedip. Ia terus memandang wajah cantik Andini yang mulus, tanpa cela. Ia tidak menyangka bisa memiliki hubungan dan menjadi orang pertama yang bisa menikmati mahkota berharga miliknya. 'Andai Andini mau menjadi istriku, aku pasti akan sangat bahagia dibuatnya..







