LOGIN"Gimana An, udah kelar?" tanya Dila, sambil melihat ke arah Andini. "Belum. Sebentar lagi, Mbak," jawab Andini tanpa mengalihkan pandangannya. Waktu berjalan dengan cepat. Dan, saat menjelang sore, pekerjaan Andini dan Dila sudah hampir selesai. Beberapa berkas juga sudah tersusun rapi di meja kerja masing-masing. Sebagian untuk di simpan dan sebagian lagi ditaruh di meja Satria untuk direview dan ditandatangani. Beberapa softcopy dokumen juga sudah tersimpan di folder laptop.Andini meregangkan bahunya perlahan."Kamu capek, An?" tanya Dila. Ia kembali melihat ke arah Andini."Lumayan," jawab Andini jujur. "Tapi masih aman kok, Mbak."Dila mengangguk. "Ingat jangan terlalu dipaksain ya, An. Takutnya nanti Pak Satria marah sama aku kalo kamu terlalu capek.""Iya, Mbak. Tenang aja. Lagian, aku tetap profesional kerja kok. Meski sekarang status udah beda, tapi kerjaan kan tetap sama," jawab Andini. Tak lama, ponsel Andini kembali bergetar. Ia melirik dan mengambil ponsel yang tergel
Andini langsung melirik. "Ih."Tak lama, Roland kembali dengan kantong plastik berisi mangga yang sudah dipotong."Sudah, Pak," ucapnya sambil menyerahkan ke belakang.Satria menerimanya terlebih dahulu, lalu membuka sedikit plastiknya. "Nih, kamu coba," pintanya, sambil menyerahkan kantong plastik tersebut kepada Andini. Andini mengambil satu potong kecil, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Wajahnya langsung berubah."Hmm…" gumamnya."Gimana?" tanya Satria."Seger… manis juga," jawab Andini, lalu mengambil lagi satu potong.Satria tersenyum tipis melihat reaksinya. "Ya udah, berarti cocok."Mobil kembali melaju. Andini sesekali memakan mangga itu, sementara Satria kembali fokus ke tablet-nya.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan gedung kantor.Andini menoleh. "Aku duluan ya.""Iya. Hati-hati," jawab Satria singkat.Andini mengangguk, lalu membuka pintu dan turun. Sebelum menutup pintu, ia sempat melirik."Kamu juga hati-hati, dan jangan lupa makan siang."Satria hanya m
"Hah?!""Kenapa? Kamu kaget saya tau kebiasaan Siska?" tanya Satria dengan senyum samar di sudut bibirnya. Andini masih terdiam. Ia tidak menjawab ataupun bergerak sedikitpun. Ia paham apapun tanggapannya saat ini, bisa menjadi boomerang baginya. Meski begitu, sebenarnya ia sadar kalau merupakan hal yang wajar apabila Satria tau semua tentang anak semata wayangnya. Semua itu karena dia adalah seorang pebisnis kelas kakap yang ditakuti dan sangat dihormati di negara mereka. Justru jika Satria tidak tau apapun tentang anaknya, akan sangat aneh. Apalagi Satria sangat menyayangi Siska. "Nggak! Aku nggak kaget kok! Aku cuma terkesan!""Terkesan apanya, kamu nih ada-ada aja. Oh ya, kapan kita akan cek kandungan kamu lagi?"Andini mencoba mengingat. "Kayaknya sih minggu ini.""Terus untuk sidang kamu gimana? Waktunya sama kan kayak Siska?""Nggak! Kayaknya duluan aku daripada Siska. Cuma wisuda aja yang samaan.""Uhm.. Ya udah, kita sarapan sekarang?"Andini menganggukkan kepalanya. "Ayo
"Dih.. Kok kamu gitu sih Beb," rengek Siska. "Aku mau tau...."Bastian menatapnya serius. "Intinya adalah, aku bakal pastiin kamu aman."Siska menghela napas pelan. "Aku bukan cuma mikirin diri aku, Beb. Tapi kamu dan keluarga kamu.""Aku tau. Tapi saat ini, aku belum bisa cerita semuanya. Aku nggak mau kamu ikut kepikiran."Siska tersenyum kecil, tapi ada kehangatan di sana. "Kita udah sejauh ini, kamu masih mikir aku bisa santai kalau kamu diem aja?"Bastian tertawa pelan, kali ini lebih tulus. "Aku berharap begitu."Siska menatapnya lembut. "Inget Beb, kamu nggak harus hadapin semuanya sendirian."Bastian menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku tau.""Dan aku di sini bukan cuma buat nemenin kamu enak-enak doang," lanjut Siska dengan nada sedikit menggoda.Bastian tersenyum miring. "Oh, gitu?""Iya Beb," Siska menyeringai tipis. "Aku juga bisa diajak mikir."Bastian tersenyum. Ia mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Baik, Bu. Siap!"Siska tertawa kecil. Suasana kembali sedikit
"Iya, Bu," jawab Bastian.Ia mengakhiri panggilan telpon dan menaruh kembali ponselnya di atas meja. Bastian sudah lebih dulu duduk di kursi meja makan ketika Siska keluar dari kamar. Rambut Siska masih sedikit basah dan menjuntai perlahan di bahu dengan aroma khas seperti biasanya. Ia mengenakan baju mini yang cukup nyaman. Sementara wajahnya terlihat lebih segar meski tubuhnya masih menyimpan sedikit lelah.Di atas meja, dua piring nasi goreng terlihat masih mengepul. Irisan telur dadar, potongan ayam, dan taburan bawang goreng membuat aromanya langsung memenuhi ruangan. Dua gelas teh tawar panas juga sudah disiapkan. Uapnya tipis naik ke udara.Siska tersenyum kecil. "Kamu panasin lagi nasi gorengnya?" tanyanya sambil mendekat.Bastian menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya. Biar lebih enak pas di makan."Siska menarik kursi dan duduk di hadapannya. "Kamu tuh ya. Padahal habis olahraga, malah masak lagi. Emang nggak capek?""Justru ini cara recharge aku," jawab Bastian ringan. "La
"Uhm..." renguh Siska. Bastian menggiring Siska menuju bathup. Ia menyalakan keran air dan mengaturnya agar terasa hangat seperti biasa tanpa melepas ciumannya dan meremas bokong Siska secara perlahan. Ia sengaja melakukannya agar Siska lebih rileks dan kembali hanyut ke dalam hasrat yang mungkin akan semakin meninggi. Setelah air terasa cukup, Bastian menjulurkan tangan kanannya untuk mematikan keran air dan memasukkan bath bomb beraorama melati dan vanilla yang sengaja ia taruh tidak jauh dari bath up. Begitu bola itu menyentuh permukaan air, suara desis halus terdengar. Warna lembut perlahan menyebar, diikuti aroma hangat yang merupakan perpaduan vanilla dan melati yang cepat memenuhi udara. Tipis tapi cukup untuk membuat nafas terasa lebih dalam."Ah.. Beb.." renguh Siska lagi, saat bibir Bastian turun ke leher jenjangnya. Dan menyalakan shower yang menghadap ke bathup. Bastian melepas ciuman dan melangkah lebih dulu. Ia turun ke dalam bathtub dengan hati-hati. Air hangat lan
"Iya..." jawab Andini, singkat. Seperti biasa ia malas menghadapi perempuan yang sedang tergila-gila dengan seorang laki-laki. Terlebih, ia tidak memiliki perasaan dan hubungan apapun dengan laki-laki tersebut. Meladeni perempuan seperti Maya baginya hanya membuang waktu dan tenaga saja. Dila me
"Pe...ngaman?"Satria mengangguk pelan. Setelah beberapa kali mereka melakukannya, baru sekarang Satria menanyakan hal itu. Jujur, jika menuruti hati, ia tidak ingin mengenakannya. Tapi, ia tidak mau Andini merasa menyesal jika terjadi sesuatu yang mungkin tidak diinginkan olehnya. "Boleh... sa.
"Andini!" ucap Dion. Ia membulatkan mata ketika melihat keluar dari jendela kamar. Andini yang cantik bak bidadari baginya dan kebanyakan kaum adam, baru saja sampai di depan rumah. Kondisi rumah saat ini sedang sepi. Mami dan Papinya masih di luar rumah. Ia mengetahui hal tersebut karena 10 meni
"Apa?" "Iya, An. Itulah kebenaran yang harus kamu tau!" jawab Dion. Kini Ia memandang lurus ke arah Andini. 'Nggak mungkin! Itu pasti salah!' batin Andini, menolak kebenaran informasi yang baru saja ia terima dari Dion. 'Setau gue Satria emang cuek dan dingin. Tapi dulu Siska sering bilang, kal







