LOGIN"Yey... Akhirnya hari yang kita tungu-tunggu tiba.." ucap Siska. Penantiannya setelah dua bulan, akhirnya terwujud. "Iya, akhirnya.."Pagi itu suasana gedung yang menjadi tempat wisuda Universitas Negeri Omeron terasa sangat ramai dan dipadati banyak orang. Area parkir penuh. Halaman dipadati keluarga yang datang dengan berbagai ekspresi. Entah itu rasa bangga, haru, dan juga tidak sabar untuk segera selesai. Andini berdiri di depan cermin. Ia merapikan toga yang sejak tadi sudah ia kenakan. Tangannya bergerak pelan. Memastikan semuanya terlihat rapi."Gimana, udah pas belum?" tanyanya sambil sedikit menoleh ke arah Siska. Siska yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mendekat. Ia memperhatikan sebentar, lalu mengangguk. "Udah oke kok. Tinggal senyumnya aja yang belum maksimal."Andini menghela napas kecil. "Sumpah! Deg degan banget gue, Sis."Siska tertawa pelan. "Apaan sih, kita kan tinggal jalan sama duduk doang. Ngapain coba lo sampe deg degan gitu.""Iya, tapi tetap aja r
"Untuk itu, biar Andini aja yang jelasin, Om," ucap Siska. Ia langsung melirik ke arah Andini sambil tersenyum kecil. Seolah, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Andini untuk menjelaskan.Andini menarik napas pelan, lalu menjawab dengan tenang. "Kami berencana mau mulai usaha, Om. Tempat makan kecil dan sederhana, sekalian sama toko kue juga."Agung langsung terlihat tertarik. "Oh ya? Udah kepikiran konsepnya?""Udah. Tapi masih tahap awal," jawab Andini jujur. "Kita mau fokus ke makanan rumahan sama makanan penutupnya. Nggak terlalu banyak menu sih, biar kualitasnya tetep terjaga."Siska mengangguk. "Iya. Kita juga mikirnya bikin yang sederhana dulu dan menarik. Jadi nggak langsung besar."Andini lalu menoleh ke arah Cinta. "Dan soal dapur, masih sama seperti yang aku info kemarin ke Tante. Tante yang akan pegang dapur sama pengendali kualitas makanannya."Cinta tersenyum. Ia kembali mengingat pembicaraan mereka sebelumnya. "Iya, kamu udah bilang waktu itu."Agung langsung mengangguk m
"An?" panggil Siska. Andini menoleh ke arah Siska sambil tersenyum. Suasana pagi di kampus terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi masih sibuk dengan berkas. Ada juga yang duduk diam sambil membaca ulang catatan terakhir.Andini sendiri sedang duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruang sidang. Tangannya menggenggam map cukup erat. Sementara matanya sesekali melihat ke arah pintu.Siska duduk di sampingnya, terlihat jauh lebih santai dibanding kemarin saat gilirannya sidang."Lo deg-degan ya?" tanya Siska sambil melihat ke arah Andini.Andini menghembuskan napas pelan. "Pasti. Gue takut banget nge-blank pas udah sampe di dalem!" ucap Andini. "Kalo itu terjadi, bisa ancur nilai gue!""Wajar," jawab Siska. "Gue juga kemarin gitu. Tapi pas udah masuk, malah lebih fokus ke jawab pertanyaan."Andini mengangguk pelan. "Kemarin lo dapet A kan?"Siska nyengir. Tapi jelas dari wajahnya terlihat rasa penuh kemenang. "Iya. Keren kan? tanya Siska, bangga."Ke
"Oke sih..," jawab Siska. Siska mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada layar laptop di hadapannya. Beberapa detik ia diam, seolah benar-benar mencerna semua yang sudah dijelaskan Andini."Gue setuju," lanjutnya.Andini langsung menoleh. "Serius nih?""Iya," jawab Siska mantap. "Ini jelas, rapi, dan realistis. Nggak muluk-muluk tapi tetap punya value."Andini menghela napas panjang. Ia benar-benar merasa lega sekarang. "Baguslah kalo gitu. Gue cuma takut kalo rencana gue ini terlalu sederhana.""Justru itu yang jadi kekuatannya," balas Siska. "Orang-orang sekarang lebih nyari yang nyaman, bukan yang ribet."Andini tersenyum kecil. "Berarti, kita lanjut nih ya?"Siska mengangguk pelan. "Lanjut dong.."Hening sejenak. Tapi bukan hening yang kosong, melainkan lebih ke arah hening yang penuh pikiran dan perhitungan.Siska menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jujur ya, An…"Andini menoleh. "Apa Sis?""Gue nggak nyangka bakal sampai di titik ini," ucap Siska pelan. "Punya rencana usaha se
"Kok belum pulang juga sih..," gumam Andini.Malam sudah semakin larut ketika mobil Satria memasuki halaman rumah.Lampu-lampu taman sudah menyala, memberikan kesan hangat yang langsung terasa begitu ia turun dari mobil. Dua hari di luar kota bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk membuatnya merasakan perbedaan. Terutama saat ia tidak bersama dengan Andini di sana.Langkahnya mantap menuju pintu utama.Begitu pintu terbuka, Andini sudah ada di sana. Ia berdiri di ruang tengah, mengenakan pakaian mini yang cukup menggoda. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan wajahnya terlihat cantik dan menggemaskan seperti biasa. "Hmm..," gumam Satria. Ia berhenti sejenak. Tatapannya langsung tertuju pada Andini, seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada di sana."Kamu udah pulang ternyata," ucapnya pelan.Andini mengangguk. "Iya. Dari tadi, aku udah nungguin kamu. Kamu lama banget sih," ucap Andini. Nada suaranya terdengar lembut dan manja.Satria menghela napas pelan. Ada kelegaan yang tidak ia
"Kamu masih kesel?" tanya Satria. Ia menoleh ke arah Andini dan menggenggam lembut tangan kanannya. "Sedikit," jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Satria tidak lagi bicara. Ia tidak mau membuat mood Andini semakin kurang baik. ***Keesokan paginya, suasana rumah masih tenang. Andini sengaja bangun lebih pagi dan mandi lebih dulu. Ia mengenakan pakaian rumah dan berjalan ke dapur dengan langkah pelan, untuk menyiapkan sarapan sederhana.Ia mengambil beberapa bahan makanan di kulkas dan bersiap untuk memasak. "Loh, Nyonya Andini ngapain? Udah, biar saya aja yang masak, Nya.""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau bikin masi goreng, kok. Nggak bakal nyita banyak tenaga," ucap Andini, sambil tersenyum. "Tapi, Nya.. Saya takut Tuan marah. Nanti kalo saya dipecat gimana?"Andini menggelengkan kepalanya. "Nggak bakal, Bi. Masa gara-gara aku masak aja Bi Sarmi sampe di pecat."Bi Sarmi terdiam. Wajahnya masih menyiratkan rasa takut yang teramat dalam. Ia sangat khawatir
"Aduh!"Satria memijat keningnya yang masih pusing. Rasa dingin menerpa lembut tubuhnya dan membuatnya terbangun. Ia membuka mata perlahan dan melihat sekeliling. "Ah! Di mana ini?!" tanyanya, seraya bergumam dalam hati. Ia bangkit dari tidurnya, dan teringat akan kejadian semalam. Di mana ia dat
"Nggak!" bentak Zaskia. "Kamu nggak bisa begini sama aku, Sat!" lanjutnya. "Oh ya? Kenapa nggak bisa?!" tanya Satria, nadanya tajam dan dingin. "Bukannya kamu juga udah beberapa kali menusuk dan memanfaatkan saya?!""Karena... Karena aku Ibu dari Siska! Anak kita!" Satria tertawa. "Itu selalu me
"Masa?!" tanya Satria, sebelah matanya sedikit menyipit, seolah meledek Andini. Andini masuk ke dalam mobil, keningnya mulai berkerut. "Iya, tenang banget. Padahal aku khawatir gini.. "Satria tersenyum dan menutup pintu mobil. Lalu, ia berjalan menuju pintu mobil lainnya dan masuk ke dalam untuk
"Apa?!"Mata Siska seketika terbelalak mendengar pertanyaan Bastian. Seketika, hasratnya hilang dan mendorong tubuh Bastian dengan cukup keras hingga ia sedikit terhuyung kebelakang. 'Apa dia pikir aku mau hamil anaknya! Merepotkan!' batin Siska. Melihat perubahan sikap Siska membuat Bastian san







