Masuk"Aku coba telpon lagi," gumam Andini. Ia kembali menekan tombol hijau di ponselnya. Namun sayangnya, tidak ada jawaban. Sama seperti sebelumnya. Waktu terus berjalan. Satu jam yang tadi terasa masih bisa ditunggu, sekarang berubah jadi beban yang sangat menekannya. Andini berdiri dengan ponsel yang masih berada di tangan. Ia kembali mencoba menghubungi Cinta. Nada sambung terdengar, namun tiba-tiba terputus lagi.Ia menutup mata sejenak. "Masih nggak diangkat," ucapnya. Siska yang berdiri di sampingnya langsung mendekat. "Coba Om Agung lagi."Andini mengangguk cepat, lalu mencari nama Agung. Hasilnya sama."Kenapa sih nggak ada yang angkat?" tanyanya seraya bergumam pelan, tapi jelas terdengar panik.Satria yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya mengambil keputusan. "Kita jalan sekarang."Andini langsung menoleh. "Ke mana?""Ke rumah mereka dulu," jawab Satria tegas. "Kalau memang mereka nggak ada di sana, kita lanjut cari ke tempat lain.""Selain itu, saya juga bakal minta bantu
"Yey... Akhirnya hari yang kita tungu-tunggu tiba.." ucap Siska. Penantiannya setelah dua bulan, akhirnya terwujud. "Iya, akhirnya.."Pagi itu suasana gedung yang menjadi tempat wisuda Universitas Negeri Omeron terasa sangat ramai dan dipadati banyak orang. Area parkir penuh. Halaman dipadati keluarga yang datang dengan berbagai ekspresi. Entah itu rasa bangga, haru, dan juga tidak sabar untuk segera selesai. Andini berdiri di depan cermin. Ia merapikan toga yang sejak tadi sudah ia kenakan. Tangannya bergerak pelan. Memastikan semuanya terlihat rapi."Gimana, udah pas belum?" tanyanya sambil sedikit menoleh ke arah Siska. Siska yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mendekat. Ia memperhatikan sebentar, lalu mengangguk. "Udah oke kok. Tinggal senyumnya aja yang belum maksimal."Andini menghela napas kecil. "Sumpah! Deg degan banget gue, Sis."Siska tertawa pelan. "Apaan sih, kita kan tinggal jalan sama duduk doang. Ngapain coba lo sampe deg degan gitu.""Iya, tapi tetap aja r
"Untuk itu, biar Andini aja yang jelasin, Om," ucap Siska. Ia langsung melirik ke arah Andini sambil tersenyum kecil. Seolah, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Andini untuk menjelaskan.Andini menarik napas pelan, lalu menjawab dengan tenang. "Kami berencana mau mulai usaha, Om. Tempat makan kecil dan sederhana, sekalian sama toko kue juga."Agung langsung terlihat tertarik. "Oh ya? Udah kepikiran konsepnya?""Udah. Tapi masih tahap awal," jawab Andini jujur. "Kita mau fokus ke makanan rumahan sama makanan penutupnya. Nggak terlalu banyak menu sih, biar kualitasnya tetep terjaga."Siska mengangguk. "Iya. Kita juga mikirnya bikin yang sederhana dulu dan menarik. Jadi nggak langsung besar."Andini lalu menoleh ke arah Cinta. "Dan soal dapur, masih sama seperti yang aku info kemarin ke Tante. Tante yang akan pegang dapur sama pengendali kualitas makanannya."Cinta tersenyum. Ia kembali mengingat pembicaraan mereka sebelumnya. "Iya, kamu udah bilang waktu itu."Agung langsung mengangguk m
"An?" panggil Siska. Andini menoleh ke arah Siska sambil tersenyum. Suasana pagi di kampus terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi masih sibuk dengan berkas. Ada juga yang duduk diam sambil membaca ulang catatan terakhir.Andini sendiri sedang duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruang sidang. Tangannya menggenggam map cukup erat. Sementara matanya sesekali melihat ke arah pintu.Siska duduk di sampingnya, terlihat jauh lebih santai dibanding kemarin saat gilirannya sidang."Lo deg-degan ya?" tanya Siska sambil melihat ke arah Andini.Andini menghembuskan napas pelan. "Pasti. Gue takut banget nge-blank pas udah sampe di dalem!" ucap Andini. "Kalo itu terjadi, bisa ancur nilai gue!""Wajar," jawab Siska. "Gue juga kemarin gitu. Tapi pas udah masuk, malah lebih fokus ke jawab pertanyaan."Andini mengangguk pelan. "Kemarin lo dapet A kan?"Siska nyengir. Tapi jelas dari wajahnya terlihat rasa penuh kemenang. "Iya. Keren kan? tanya Siska, bangga."Ke
"Oke sih..," jawab Siska. Siska mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada layar laptop di hadapannya. Beberapa detik ia diam, seolah benar-benar mencerna semua yang sudah dijelaskan Andini."Gue setuju," lanjutnya.Andini langsung menoleh. "Serius nih?""Iya," jawab Siska mantap. "Ini jelas, rapi, dan realistis. Nggak muluk-muluk tapi tetap punya value."Andini menghela napas panjang. Ia benar-benar merasa lega sekarang. "Baguslah kalo gitu. Gue cuma takut kalo rencana gue ini terlalu sederhana.""Justru itu yang jadi kekuatannya," balas Siska. "Orang-orang sekarang lebih nyari yang nyaman, bukan yang ribet."Andini tersenyum kecil. "Berarti, kita lanjut nih ya?"Siska mengangguk pelan. "Lanjut dong.."Hening sejenak. Tapi bukan hening yang kosong, melainkan lebih ke arah hening yang penuh pikiran dan perhitungan.Siska menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jujur ya, An…"Andini menoleh. "Apa Sis?""Gue nggak nyangka bakal sampai di titik ini," ucap Siska pelan. "Punya rencana usaha se
"Kok belum pulang juga sih..," gumam Andini.Malam sudah semakin larut ketika mobil Satria memasuki halaman rumah.Lampu-lampu taman sudah menyala, memberikan kesan hangat yang langsung terasa begitu ia turun dari mobil. Dua hari di luar kota bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk membuatnya merasakan perbedaan. Terutama saat ia tidak bersama dengan Andini di sana.Langkahnya mantap menuju pintu utama.Begitu pintu terbuka, Andini sudah ada di sana. Ia berdiri di ruang tengah, mengenakan pakaian mini yang cukup menggoda. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan wajahnya terlihat cantik dan menggemaskan seperti biasa. "Hmm..," gumam Satria. Ia berhenti sejenak. Tatapannya langsung tertuju pada Andini, seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada di sana."Kamu udah pulang ternyata," ucapnya pelan.Andini mengangguk. "Iya. Dari tadi, aku udah nungguin kamu. Kamu lama banget sih," ucap Andini. Nada suaranya terdengar lembut dan manja.Satria menghela napas pelan. Ada kelegaan yang tidak ia
"Iya... " jawab Andini. Jika bukan karena Cinta yang menyuruhnya, ia tidak akan mengangkat telpon dari Satria. Yang saat ini bagi Andini sudah berubah status menjadi mantan kekasih. "Kamu udah pulang?" tanya Satria. Andini bangkit dari duduknya. Ia mengangguk ke arah Cinta, seolah meminta izin d
"Di mana?" tanya Satria. "Oke." Pintu klinik terbuka otomatis ketika Satria melangkah masuk.Jas kerjanya masih rapi. Rambutnya sedikit basah oleh keringat tipis. Ia memindai ruangan dengan cepat. Matanya langsung menangkap sosok Andini yang duduk di bangku tunggu, diapit oleh Cinta dan Agung.Lan
"An... Kamu kenapa?" tanya Satria, panik. Ia bergegas mengangkat tubuh Andini dan mempercepat langkahnya menuju ruang kerja.Melihat suara derap langkah cepat dan semakin mendekat, membuat Dila bangkit dan mencari sumber suara."Lho, Andini?! Dia kenapa, Pak?"Satria menggedikkan bahunya. "Entahla
"Uhm... " renguh Andini. Akhirnya ia bisa tidur pulas setelah cukup lama gelisah karena pikirannya yang terus berkecamuk. Ia terbangun karena rasa tidak nyaman di perutnya. Bukan sakit yang menusuk, lebih seperti gelombang mual yang datang perlahan lalu menetap. Ia membuka mata, menatap langit-l







