Masuk"Semua usah siap?" tanya Satria. "Udah," jawab Andini. Sore itu, setelah tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Andini diperbolehkan pulang.Perjalanan menuju rumah terasa lebih tenang dibanding saat ia datang. Di dalam mobil, dua bayi sudah terlelap dalam car seat masing-masing ditemani Imah dan Oty. Sementara Andini bersandar dengan hati-hati, masih berusaha menjaga kondisi tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih."Anak-anak masih pules?" tanya Andini sambil menoleh ke belakang. "Masih, Bu," jawab Imah dan Oty hampir berbarengan. Sesampainya di rumah, Andini bergegas membuka pintu kamar bayi. Ia sempat terdiam cukup lama saat pintu terbuka. Ruangan itu terlihat berbeda.Tidak berlebihan, tapi jelas ditata dengan penuh perhatian. Warna-warna lembut mendominasi. Dua boks bayi sudah diletakkan berdampingan, lengkap dengan perlengkapan seperti meja mandj bayi, lemari pakaian, dan beberapa barang lainnya yang sudah tertata rapi. Di sudut ruangan, juga ada kursi menyus
"An..," panggil Cinta. "Iya, Tan.""Sarapan dulu ya. Tante udah bikinin sup ayam.""Iya, Tante.""Bu Rania dan Satria juga sarapan ya? Biar saya siapkan sekalian.""Nggak, Tan. Makasih. Saya udah makan roti tadi," jawab Satria. "Nggak usah. Saya juga nggak biasa sarapan, Cin," jawab Rania. "Yakin? Ini saya buat spesial loh Bu. Nanti nyesel loh, nggak nyobain."Rania terdiam sejenak, mencoba menimbang. "Boleh deh. Tapi nanti. Aku mau main sama cucu dulu," jawab Rania. "Oke."Cinta berjalan menuju meja dan mulai mempersiapkan makanan. Sedangkan Rania memperhatikan dua bayi yang kini sudah berada di dalam boks dengan rapi. Tatapannya lembut, tapi jelas menyimpan rasa haru yang tidak bisa ia sembunyikan."Apa mereka udah punya nama?" tanya Rania sambil menoleh ke arah Andini dan Satria sebelum Satria benar-benar keluar.Satria sempat berhenti sebentar, lalu menjawab, "Sudah, Bun."“Siapa namanya?” tanya Rania.Andini tersenyum. "Yang perempuan, namanya Rosa Adelia Hasan. Yang laki-la
"Baik, Pak," ucap Roland, akhirnya. Ia sempat terdiam beberapa detik setelah mendengar perintah dan tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah lebih serius.Satria menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. "Hati-hati ambil langkah. Jangan sampai salah orang.""Iya, Pak. Saya akan pastikan dulu semuanya jelas sebelum bertindak," jawab Roland."Bagus."Suasana kembali hening.Beberapa saat kemudian, Satria menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Ya udah. Kamu istirahat aja kalau bisa."Roland menggelengkan kepalanya perlahan. "Saya standby di luar aja, Pak."Satria tidak membantah. Ia hanya menepuk ringan bahu Roland sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kamar.***Pagi hari datang dengan suasana yang lebih hidup dari sebelumnya karena kehadiran dua malaikat kecil yang menggemaskan. Cahaya matahari masuk dari sela tirai, menerangi kamar dengan hangat.Andini sudah bangun, meskipun masih terlihat lelah. Ia bersandar dengan posisi setenga
"Makasih, ya..," ucap Andini, sambil tersenyum. Setelah mereka pergi, kamar menjadi lebih tenang. Hanya tersisa suara halus napas bayi dan sesekali gerakan kecil dari dalam boks.Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tangisan kecil mulai terdengar.Satria langsung menoleh. "Yang mana ini?"Andini ikut menoleh, sedikit panik. "Kayaknya yang perempuan."Tangisan itu semakin jelas dan kencang. Satria berdiri canggung. "Aku harus gimana? Udah lama banget nggak pegang bayi. Jadi lupa."Andini hampir tertawa di tengah lelahnya. "Coba cek dulu, mungkin popoknya atau lapar."Satria membuka boks dengan hati-hati, lalu mengangkat bayi itu dengan gerakan yang masih kaku."Gini bener nggak?" tanyanya."Lumayan," jawab Andini, sambil tersenyum.Tangisan belum juga berhenti."Kayaknya dia lapar," ujar Andini. "Coba bawa ke sini."Satria mendekat dan menyerahkan bayi itu perlahan.Andini kembali mencoba menyusui, kali ini dengan posisi yang sedikit lebih percaya diri dibanding sebelumnya.T
"Iya," jawab Andini sambil menganggukkan kepalanya perlahan."Waktu jatuh itu perut aku langsung berasa kenceng. Kayak kontraksi, tapi lebih sakit lagi," lanjutnya. Satria mengerutkan kening. "Kamu sempat pendarahan nggak?""Sedikit," jawab Andini jujur. "Makanya Roland langsung panik dan bawa aku ke rumah sakit terdekat dari mall, biar nggak nunggu lama dan cepet ditanganin."Siska menghela napas panjang. "Untung aja rumah sakit ini cepet tanggap.""Iya, pas dateng aku langsung ditangani. Terus dokternya bilang udah ada tanda-tanda pembukaan," ucap Andini. "Jadi sekalian diputuskan operasi, biar lebih aman. Apalagi ini kembar."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. Wajahnya serius, tapi tidak lagi setegang sebelumnya. Ia tampak sedang mencerna semua penjelasan itu."Roland sekarang ada di mana?" tanyanya kemudian sambil melihat kanan dan kiri secara perlahan"Tadi sih di luar," jawab Cinta.Mendengar samar suara Satria yang mencarinya, Roland mengetuk pintu perlahan sebelum masuk
"Iya," jawab Andini, sambil menganggukkan kepalanya perlahan.Satria berbalik dan berjalan ke luar. Andini dibawa masuk ke ruang operasi. Waktu terasa berjalan lebih lambat di luar.Satria duduk dengan kedua tangan saling bertaut dihadapannya. Tatapannya kosong beberapa detik, lalu kembali fokus ke arah pintu ruang operasi.Roland berdiri tidak jauh dari sana. Tak lama kemudian, Cinta dan Siska datang."Gimana Andini?" tanya Cinta langsung."Tadi udah masuk ruang operasi," jawab Satria singkat.Siska menarik napas pelan. "Semoga semua berjalan lancar dan nggak ada masalah apapun.""Aamiin..," jawab Satria dan Cinta hampir bersamaan. Mereka semua menunggu dalam diam. Sedangkan di dalam ruang operasi, proses berjalan dengan cepat dan terkontrol. Anestesi sudah diberikan. Andini dalam keadaan sadar, tapi tubuh bagian bawahnya sudah tidak merasakan apapun. Dokter dan tim bergerak sesuai prosedur. Beberapa menit terasa mendebarkan bagi Andini yang sebenarnya takut akan jarum suntik. Terl
"Hah? A-aku?!"Andini membulatkan mata dan menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan. Dila mengangguk pelan. "Iya. Nih kamu lihat sendiri!"Dia memberikan ponselnya kepada Andini agar ia bisa melihatnya secara langsung. "Itu, kamu kan?" tanya pelan. Berharap Andini tidak tersinggung dengan ucapan
"Andini!" ucap Dion. Ia membulatkan mata ketika melihat keluar dari jendela kamar. Andini yang cantik bak bidadari baginya dan kebanyakan kaum adam, baru saja sampai di depan rumah. Kondisi rumah saat ini sedang sepi. Mami dan Papinya masih di luar rumah. Ia mengetahui hal tersebut karena 10 meni
"Pe...ngaman?"Satria mengangguk pelan. Setelah beberapa kali mereka melakukannya, baru sekarang Satria menanyakan hal itu. Jujur, jika menuruti hati, ia tidak ingin mengenakannya. Tapi, ia tidak mau Andini merasa menyesal jika terjadi sesuatu yang mungkin tidak diinginkan olehnya. "Boleh... sa.
"Iya..." jawab Andini, singkat. Seperti biasa ia malas menghadapi perempuan yang sedang tergila-gila dengan seorang laki-laki. Terlebih, ia tidak memiliki perasaan dan hubungan apapun dengan laki-laki tersebut. Meladeni perempuan seperti Maya baginya hanya membuang waktu dan tenaga saja. Dila me







