INICIAR SESIÓN"Akhirnya sampe juga," gumam Bastian, pelan.Jam tujuh lewat sedikit, mobil Bastian sudah berhenti di depan rumah Alya.Ia sempat terdiam cukup lama sambil menatap rumah itu dari balik kaca depan. Tangannya masih berada di atas setir. Ada rasa asing yang aneh. Di kursi sebelah, ada dua paper bag makanan yang tadi sempat ia beli di jalan.Bastian akhirnya menghembuskan nafas pelan, mengambil paper bag tersebut, dan turun dari mobil secara perlahan. Ia berjalan masuk ke depan rumah Alya, dan mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Alya berdiri di sana dengan setelan piyama dan rambut yang diikat ke atas."Masuk, Bas," ucap Alya."Iya," jawab Bastian, sambil menyerahkan paper bag di tangannya. "Ini, tadi aku sengaja beliin buat kamu dan Ibu."Alis Alya saling terpaut. "Duh, kamu ngapain repot-repot sih?""Nggak repot, lagian cuma sedikit. Semoga suka, ya."Alya tersenyum kecil. "Makasih. Yuk, masuk!"Begitu masuk ke dalam, suasana rumah terasa hangat dan jauh lebih
"Joguar maksud lo?" tanya Siska. "Iyalah, kemana lagi. Kan Johan tinggal di sana," jawab Andini. Siska menghela napas pelan. "Kemungkinan besar sih iya. Karena salah satu alasan kita mempercepat pernikahan ya karena itu.""Karena apa?" tanya Andini, penasaran. "Karena hubungan jarak jauh yang kadang bikin sesak dan kurang nyaman, An.""Iya sih. Apalagi modelan kayak lo yang kepengenan mulu," ledek Andini. "Astaga, mulut lo ya An! Bener-bener.""Loh, tapi emang bener kan?"Siska nyengir. "Iya, sih."Andini tiba-tiba saja, mulai berpikir panjang. "Berarti banyak juga loh yang harus disiapin, Sis.""Iya.""Dokumen dan lain-lain," ucap Andini. "Iya, betul," jawab Siska. Saat Andini sudah membuka mulutnya lagi, seolah ingin membahas lebih jauh. Suara pintu toko terbuka. Hal itu langsung membuat keduanya menoleh.Beberapa pembeli masuk, hampir bersamaan."Permisi, Mbak."Andini dan Siska otomatis kembali fokus bekerja."Nanti kita lanjut lagi," bisik Andini cepat.Siska mengangguk pe
"Berangkat sekarang?" tanya Johan. "Iya," jawab Siska, setelah selesai mengunyah suapan terakhir. Pagi itu, suasana jalanan masih belum terlalu padat. Saat mobil Johan berhenti di depan toko, matahari baru naik sepenuhnya. Menyisakan udara yang masih cukup sejuk yang sepertinya diperuntukkan untuk siang nanti.Setelah mobil benar-benar berhenti, Johan menoleh ke arah Siska. Ia membantu melepas sabuk pengamannya perlahan.Rambut Siska yang tadinya diikat sederhana, kini sedikit berantakan karena ia beberapa kali bersandar selama perjalanan. Siska melihat kaca dan merapihkannya sebentar. "Kamu mau langsung ke bandara?" tanya Siska sambil menoleh ke arah Johan yang sudah kembali duduk tegak di kursinya. Johan mengangguk pelan. "Nggak. Aku ada ketemu orang dulu sebentar. Habis itu, baru ke bandara."Siska diam sebentar. Ada rasa berat yang tetap muncul meskipun semalam mereka sudah bicara cukup panjang.Johan memperhatikan wajahnya beberapa detik lalu tersenyum tipis. "Kamu kenapa? K
"Sis..," panggil Johan. "Iya," jawab Siska. Lampu kamar hotel itu sudah redup. Tirai tertutup rapat, menyisakan suasana yang tenang dan cukup privat.Johan berdiri beberapa langkah dari tempat tidur, menatap Siska yang baru saja merapikan rambutnya di depan cermin. Gaun merah yang ia kenakan memang mencolok, pas di tubuhnya, dan cukup untuk menarik perhatian siapa pun. Termasuk Johan yang sejak awal melihat Siska dengan mata berbinar. Ia mendekat tanpa banyak kata, lalu memeluk Siska dari belakang. Siska tidak menolak. Ia justru sedikit menyandarkan tubuhnya."Kamu capek?" tanya Johan pelan di dekat telinganya.Siska menggeleng pelan. "Nggak."Johan menghela napas pelan. Tangannya masih melingkar di pinggang Siska.Beberapa saat mereka diam. Suasananya tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya ringan.Johan membalikkan tubuh Siska dan mencium bibirnya dengan lembut. Tanganya menjalar ke bokong Siska yang sejak tadi seolah memanggilnya untuk disentuh. Ia meremasnya perlahan. Dan me
"Sayang..," panggil Andini, yang kini bersandar di dada Satria. "Iya," jawab Satria. "Kamu tau nggak, tadi Siska posting foto di sosmed," ucapnya, pelanSatria menoleh sedikit. "Belum lihat, sih. Dia posting foto sama Johan?""Iya," jawab Andini. Satria mengangguk pelan. "Bagus, dong. Berarti mereka udah mulai publish. Tapi klo begitu, kayaknya sebentar lagi bakal rame karena jabatan dan juga layar belakang Johan dan Siska yang sama-sama bukan dari keluarga main-main."Andini diam beberapa detik. "Bagus sih. Cuma..""Cuma kenapa?" tanya Satria."Cuma menurut aku, Johan itu emang ada, tapi kayak nggak selalu ada buat Siska,” ucap Andini pelan, berusaha memilih kata-kata terbaik.Satria tidak langsung menjawab. "Maksud kamu?""Dia datang, nemenin, bikin Siska seneng. Tapi kan, dia nggak tiap hari ada di sini," jelas Andini.Satria mengangguk pelan, mulai paham arah pembicaraan Andini."Jadi menurut kamu, itu ngaruh ke Siska?" tanyanya."Iya. Karena Siska tuh tipe yang kalo lagi sendi
"Ah..," ucap Bastian. Rahangnya masih saja mengeras. Dadanya terasa sesak. "Harusnya, aku yang ada di situ," gumamnya lirih. "Padahal aku yang udah rusak semuanya, tapi tetep aja aku nggak rela banget Siska sama orang lain." Nada suaranya datar. Tapi jelas kali ini, ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba saja pikirannya otomatis memutar ulang masa-masa saat ia bersama Siska. Cara Siska tertawa, nunggu di apartemen karena hasrat yang memuncak, dan cara dia tetap ada saat Bastian pergi cukup lama dan kembali lagi karena berbagai urusan. Dan dia malah menyia-nyiakan itu semua. Bastian menggeleng pelan. "Bodoh" gumamnya lagi. Beberapa detik ia hanya diam. Sampai akhirnya pikirannya bergeser pelan ke arah lain. Soni. Wajah kecil itu muncul lagi tanpa diminta. Mata bulatnya, pipinya yang penuh, dan gerakan tangannya yang tadi sempat ia lihat. Ekspresi Bastian berubah sedikit. Tidak l
"Baguslah." jawab Satria. Ia bersyukur bisa kembali melihat senyuman di wajah Andini. Jujur, saat tadi mengantar Andini ke rumah sakit, ia sempat khawatir Andini membutuhkan waktu yang lama untuk kembali pulih seperti semula. Namun, perkiraannya ternyata salah. Andini, lebih kuat dari apa yang ia
"Satria... " panggil Zaskia. "Aku tau kamu sudah kembali dan ada di dalam, Sat!" lanjutnya. Ia kembali membuat kegaduhan. Dan kali ini, di kantor. Satria yang pandangannya sudah mulai fokus melihat laptop, beralih ke daun pintu sesaat. Di mana Zaskia dan Dila sedang berselisih karena Dila tidak
"Lepas... " teriak Andini. Brak! Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka. Andini dan Dion yang tadi berada di balik pintu, kini sudah pindah di tembok sebelah kiri, dekat tangga. Jauh dari pintu. Hal itu disebabkan karena Andini yang terus memberontak dan membuat mereka bergeser. Sehingga Satri
"Gila!" bentak Satria. "Terserah kamu, Sat. Itu tawaran yang aku berikan jika kamu ingin rahasia ini terjamin." ucap Zaskia. Ia masih mempertahankan senyuman di bibirnya. Ia yakin Satria akan mengabulkan permintaannya jika hal tersebut berhubungan dengan anak semata wayangnya. Persis seperti saa







