LOGIN"Ah... maaf," ucap Siska, seketika.Wajahnya tiba-tiba terasa memanas. Ia langsung tersadar. Tatapannya refleks turun ke tubuhnya sendiri. Gaun tidur itu memang terlalu tipis. Bahkan belahan dadanya sangat rendah dan menampilkan dengan jelas dadanya yang besar dan ranum. Yang tidak terlihat hanya bagian puncaknya saja. Bahan kainnya juga jatuh mengikuti lekuk tubuh Siska tanpa banyak tertutupi. Bagian intinya pun terlihat dengan jelas karena G-string yang ia gunakan sangat tipis dan terlihat dari luar. Jonathan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak usah minta maaf, Sis. Baju itu kan memang udah kamu siapin sebelumnya."Siska terlihat semakin canggung sekarang. "Tetep aja aku minta maaf Jonathan. Tadi, aku mikir kalo kamu nggak mungkin berhasrat. Karena kondisi kita dan perjanjian yang udah kita buat sebelumnya."Jonathan berdeham pelan lalu mengalihkan pandangannya beberapa saat untuk menenangkan diri sendiri."Iya. Tapi tetep aja, aku normal,Sis. Apa nggak ada baju
"Sis," panggil Jonathan, pelan. Ia akhirnya mencoba memecah keheningan lebih dulu. Lalu berdeham pelan sebelum menoleh ke arah Siska yang masih berdiri canggung tidak jauh dari pintu masuk."Kamu bisa pake kamar mandi duluan dan langsung istirahat, Sis."Siska yang sejak tadi terlihat sedikit linglung langsung mengangkat wajahnya perlahan."Nggak usah. Kamu duluan aja. Aku mau duduk sebentar sambil lepas aksesoris dulu."Jonathan memperhatikan wajah perempuan itu beberapa detik sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan."Ya udah kalo gitu."Ia lalu berjalan mengambil pakaian ganti di dalam lemari yang sebenarnya milik saudara kembarnya, Johan. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara lagi.Begitu suara pintu kamar mandi tertutup, suasana kembali terasa sunyi.Siska akhirnya berjalan pelan menuju sisi tempat tidur lalu duduk di pinggir ranjang besar itu.Gaun pengantinnya masih terasa berat di tubuhnya sekarang. Kepalanya juga terasa penuh. Semua yang terjadi h
"Baiklah, kalau begitu," ucap Rania. Ia sempat menganggukkan kepalanya perlahan setelah mendengar keputusan terakhir Siska. Ia juga mengusap punggung tangan cucunya dengan lembut, sebelum akhirnya bangkit kembali dari duduknya."Nenek keluar lagi, ya," ucap Rania, pelan. Siska hanya mengangguk pelan, dan Rania berjalan ke luar ruangan. Begitu pintu terbuka, seluruh tatapan langsung tertuju kepadanya lagi. Jonathan yang sejak tadi sempat kembali berdiri di dekat jendela juga segera menoleh ke arahnya. Rania menarik nafas pelan. "Siska udah setuju." Suasana langsung terasa sedikit lebih lega dibanding sebelumnya. Meski begitu, tidak ada satupun yang benar-benar terlihat bahagia penuh sekarang. Semuanya masih terasa berat. Jonathan sendiri hanya menundukkan kepalanya beberapa saat sebelum akhirnya menghembuskan napas pelan."Syukurlah..." gumam Cynthia, sangat pelan.Namun beberapa saat kemudian, Jonathan kembali bicara dengan nada jauh lebih serius."Tapi ada satu hal lagi yang h
"Iya, Nek," jawab Siska, pelan. Rania kini memandang Siska cukup lama setelah mendengar keputusan cucunya tadi.Tatapan perempuan tua itu terlihat penuh pertimbangan. Bukan karena tidak percaya pada Siska, tapi karena ia tau keputusan ini akan mengubah hidup banyak orang sekaligus."Sis," panggil Rania pelan.Siska kembali mengangkat wajahnya perlahan. "Kamu yakin?" tanya Rania, memastikan. Ruangan kembali terasa sunyi. Andini yang duduk di samping Siska ikut diam menunggu jawaban sahabatnya itu.Siska menarik napas panjang lalu menganggukkan kepalanya perlahan."Aku udah mikir sejauh yang aku bisa sekarang, Nek."Rania masih memperhatikan wajah cucunya tanpa memotong ucapannya sedikit pun."Aku juga ngerti konsekuensinya nggak ringan. Dan aku tau pernikahan nggak bisa dianggap main-main."Tatapan Siska perlahan kembali turun ke arah jemarinya sendiri. Sedangkan Andini menatap Siska cukup lama.Sedangkan Siska kembali melanjutkan kalimatnya dengan suara yang jauh lebih pelan. "Tapi
"Uhm..," gumam Siska, pelan. Ia kembali diam cukup lama setelah mendengar penjelasan Rania dan Andini.Tatapannya turun perlahan ke lantai. Kepalanya kini benar-benar terasa sangat penuh. Terlalu banyak kemungkinan yang muncul di pikirannya sekarang.Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya."Kalau misalnya, nanti di tengah jalan Johan dateng, gimana?" tanya Siska, pelan.Rania dan Andini langsung melihat ke arah Siska. Dan pertanyaannya membuat Andini menahan napas pelan. Sedangkan Rania terlihat tetap tenang meski wajahnya sempat menegang."Tadi Jonathan udah ngomong," jawab Rania hati-hati. "Kalo Johan datang dan semuanya memang harus diselesaikan, dia nggak masalah kalo nantinya kalian berpisah secara baik-baik."Siska terdiam lagi. Kalimat itu justru membuat dadanya semakin sesak. Karena itu berarti Jonathan benar-benar menganggap semua ini sebagai jalan keluar sementara. Bukan karena perasaan dan bukan juga karena ego. Murni membantu dirinya dan Johan.Dan
"Hah?!" tanya Gery. Ia menatap Jonathan cukup lama."Terus nanti, kalo Johan dateng gimana?" tanyanya langsung, sambil melihat anaknya yang selalu berfikir diluar nalar. Jonathan menjawab tanpa banyak ekspresi. "Kalo Johan balik, kita bisa selesaiin semuanya secara baik-baik. Cerai pun nggak masalah."Kalimat itu membuat suasana semakin sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar siap mendengar solusi seaneh itu. Tapi di saat bersamaan, semua orang sadar keadaan mereka memang tidak bisa dibilang mudah."Aku cuma mikir jalan cepat dan aman bagi kedua belah pihak," ucap Jonathan, pelan. Solusi yang ia berikan memang bagus. Hanya saja hal itu sepertinya sangat berat bagi Siska. Karena bagaimanapun yang ingin dia nikahi dan ia terima lamarannya itu, Johan. Bukan Jonathan. Andini langsung menggeleng cepat."Gila! ini bukan urusan kecil, Jon!"Jonathan menatap Andini sebentar."Aku tau. Aku cuma menawarkan. Sisanya kedua belah pihak yang memutuskan.""Kita tetap harus mengutam
"Masih di jalan, sebentar lagi sampe. Kenapa, An?" tanya Cinta. "Nggak apa-apa. Aku cuma mau mastiin aja. Ya udah, aku juga usah di jalan. Kabarin kalau Tante dan Om udah sampe ya..."Perjalanan terasa begitu lancar. Mobil yang membawa Andini berhenti tepat di depan lobi megah hotel milik Satria.
"Masa?!" tanya Satria, sebelah matanya sedikit menyipit, seolah meledek Andini. Andini masuk ke dalam mobil, keningnya mulai berkerut. "Iya, tenang banget. Padahal aku khawatir gini.. "Satria tersenyum dan menutup pintu mobil. Lalu, ia berjalan menuju pintu mobil lainnya dan masuk ke dalam untuk
"Seneng?" tanya Siska. Ia mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan kepala menatap lurus ke arah Bastian. Bastian mengangguk. "Iya. Hidup nyaman seperti kedua Tante kamu, tanpa harus lelah bekerja. Bukannya itu yang kamu inginkan?""Kamu bener, Bas! Cuma pas denger akan ada saingan dalam hidu
"An... "Panggil Agung, setengah berbisik, saat duduk dihadapan Andini. Ia tau saat ini Andini merasa sangat tidak nyaman berasa di sana. Tapi, ia masih belum beranjak karena kehadiran Agung yang baru saja sampai dan duduk dihadapannya. "Iya, Om.." jawab Andini, suaranya sedikit parau. "Kamu uda







