FAZER LOGIN"Makasih... " ucap Andini. Andini merasa sangat terhina dengan semua perlakuan Rania terhadapnya. Ia tersenyum tipis. "Ibu tenang aja, saya akan menjauhi Satria. Tapi maaf, saya nggak butuh ini."Andini mengembalikan lembaran cek yang tadi diberikan Rania. "Saya rasa, pembicaraan kita sudah selesai. Saya izin kembali ke ruangan ya, Bu." ucap Andini. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar ruangan. Sedangkan Rania masih terdiam melihat kepergian Andini. Namun, netranya terus menatap Andini hingga ia benar-benar ke luar dari ruangan. "Sombong banget dia... Padahal cuma orang susah!" gumam Rania. Ia kembali memasukkan lembaran cek yang tadi ia berikan kepada Andini ke dalam tas. Ia tersenyum tipis. "Kita lihat saja nanti, apakah dengan kesombongan kamu, kamu benar-benar bisa meninggalkan Satria?" tanya Rania, lebih kepada dirinya sendiri. Rania bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar ruangan. Ia harus segera ke luar dari sini dan berharap Satria tidak tau akan kedatang
"Ah!" Satria membulatkan matanya saat melihat foto-foto itu. Lalu kembali menatap wajah Rania yang saat ini merah padam karena menahan amarah. Satria berjalan mendekati Rania dan memegang lembut tangannya. "Ayo duduk dulu, Bun. Saya akan jelaskan semuanya." ucap Satria. Ia sudah mengira hal ini akan terjadi. Tapi, ia tidak menyangka akan secepat ini. Rania duduk kembali di sofa panjang yang ada di ruang tamu, dimana tadi Ia memunggu Satria. Sedangkan Satria mengikuti dan duduk disampingnya. "Sekarang, jelaskan sama Bunda, siapa dia! Kenapa kalian terlihat sangat mesra, Sat!" bentak Rania. Satria terdiam sejenak. Ia mencoba memilih kata terbaik untuk menjelaskan semuanya kepada Rania. Namun, belum sempat Satria membuka mulutnya, Rania sudah kembali bicara. Bundanya memang begitu jika marah. Khasnya perempuan.Ia sangat menggebu-gebu. Hingga tidak bisa menempatkan dan memilih kata-kata terbaik. "Terlebih, dia masih sangat muda, Sat. Menurut Bunda, umurnya pasti nggak beda jauh
"Istri?!" Andini membulatkan matanya. Satria terkekeh. "Saya cuma becanda. Tapi, kalau kamu udah siap sih, aku seneng banget.""Apaan sih, bikin kaget aja.." ucap Andini, sambil mengerucutkan mulutkan. Ia takut Satria menagih janjinya waktu itu. Jujur, saat ini ia masih belum siap untuk menjalani pernikahan. Terlebih, status sosial antara dirinya dan Satria terlampau jauh. Selain takut ketahuan Siska, ia juga khawatir banyak orang yang menentang hubungan mereka. "Kok kaget sih? Ayolah, An... saya sudah tidak sabar untuk bisa bersama kamu setiap hari." tanya Satria, ia mulai merajuk. "Saya ingin disiapkan makanan, pakaian, atau hal lainnya dan disambut sama kamu setiap waktu. Bukan hanya di kantor, An..." lanjutnya. Andini terkekeh. "Masa sih? Bukannya maksud kamu mau melakukan itu setiap waktu?"Satria nyengir, "Kalau itu sih nggak usah kamu tanyain lagi, kamu lebih paham dibandingkan diri saya sendiri." "Jadi, gimana? Karena saya harus segera mengurus kontrak kerja kamu, An."
"Ah...." renguh Andini. Tanpa sadar, ia menarik rambut Satria karena menikmati hentakkan demi hentakkan yang Satria lakukan dibawah sana.Semakin lama, kenikmatan yang Satria berikan semakin membuat Andini terbuai dan selalu ingin berlama-lama dengannya. Satria memangut bibir Andini lagi, lalu beralih ke puncak dadanya yang makin mengeras karena kenikmatan yang ia berikan. Ia menggigit gemas puncak tersebut hingga membuat si empunyanya meringis. "Pelan... Om.. " ucap Andini sambil mengejang nikmat saat cairan kenikmatan keluar dari bagian intinya untuk kesekian kali. "Ah... Enak banget.." Racau Andini. Satria tersenyum menang. Seolah Ia sudah mengalahkan Andini berkali-kali.Kini, Andini merosot ke bawah. Ia ingin mengulum bagian inti Satria yang besar dan keras. Bagian yang selalu membuatnya ketagihan."Jangan An.. " ucap Satria menahan Andini. "Tadi kan saya udah masukkin ke dalam." lanjutnya. "Nggak apa-apa sayang... " ucap Andini seraya memohon karena ingin menikmatinya lag
"Iya sih.. " jawab Andini. 'Benar juga kata Tante. Apalagi sekarang Satria adalah salah satu orang terdekat yang tidak lain adalah kekasihku.' batin Andini. Ia terkikik dalam hati. 'Aku nggak bisa langsung ambil keputusan sendiri begitu aja.'Andini bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidur. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atasnya dan segera mengirim pesan kepada Satria. Saat ia selesai menekan tombol kirim, ponselnya mulai bergetar. Nomor yang tertera bukanlah nomor yang ia kenal. Ia mencoba menimbang, lalu akhirnya mengangkat panggilan telpon tersebut. "Halo, siapa ini?" tanya Andini dengan kening berkerut. "Apa benar, ini nomor.. Andini Larasati?!" tanya seorang perempuan dengan suara paraunya yang khas. Masih terdengar isakkan tangis disela-sela suaranya saat ia berbicara. Alis sebelah kanan Andini naik. "Iya, benar. Ini siapa, ya?" tanya Andini sambil berjalan kembali menuju sofa panjang dimana Cinta dan Siska berada. Seper
"Nggak!" tegas Satria, lagi. Raya membulatkan matanya. Hancur sudah harapan yang sebelumnya ia pikir sudah mendapatkan titik terang. "Maksudnya nggak gimana, Sat?!" Satria berdecak sebal. "Bukankah Tante tau, kalau Ayah dan aku telah berbaik hati menerima dan memberikan ilmu terbaik kami tentang perusahaan properti kepada Dion dan membuatnya seperti sekarang?"Raya mengangguk lemah. "Tapi bukannya berterima kasih, dia malah menusuk kami dari belakang. Apa menurut Tante, orang seperti itu harus mendapatkan bekas kasih dari kami?!" tanya Satria. "Tapi, Sat.. Saya yakin ada alasan khusus kenapa Dion bersikap seperti itu. Terlebih, saya yakin kalau sebenarnya... Dion nggak pernah melakukan korupsi atau penyelewengan apapun." tutur Raya. "Pasti ada kesalahan, Sat. Ada orang yang ingin menjebak Dion dengan data yang tidak benar dan membuatnya ke luar dari perusahaan ini secara paksa."'Tebakan yang tepat, Tan! Tapi sayang, semua itu sudah aku sulap seperti nyata!' batin Satria. 'Sekara







