LOGIN"Kita jalanin aja dulu," jawab Siska, lembut. "Baiklah kalo itu mau kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Aku di sini, bukan untuk lewat gitu aja."Siska menatap tangannya yang masih digenggam Johan sekilas, lalu kembali melihat wajah Johan."Beneran?” tanya Siska, memastikan. Johan mengangguk pelan. "Bener. Aku nggak main-main sama kamu, Sis.”Nada suaranya terdengar tenang, tapi terasa lebih dalam.Siska tersenyum kecil, meskipun masih ada sisa ragu di sana."Aku bakal hubungin kamu setiap harinya di kala luang. Dan nggak akan ngilang gitu aja."Siska sedikit menyipitkan mata. "Bener ya? Jangan PHP, loh."Johan tersenyum. "Iya. Aku nggak mau kamu nunggu tanpa kabar.""Janji?" tanya Siska. "Janji," jawab Johan.Siska mengangguk pelan."Dan aku bakal balik lagi ke sini," tambah Johan.Siska menoleh cepat. "Serius?""Iya. Aku pasti cari waktu buat ketemu sama kamu lagi," jawab Johan. Suaranya terdengar lembut. Siska terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ya udah, aku tunggu."
"Tuhan, pastinya," ucap Johan. Tatapannya terlihat lebih lembut sekarang.Siska terdiam sejenak. Dan memandang Johan lebih syahdu dari sebelumnya. "Kita nggak selalu ngerti kenapa sesuatu terjadi. Tapi kadang, semua kayak jalan yang terbentang dan sadar atau nggak, itu harus dilewatin."Suasana kembali hening sejenak. Siska menatap Johan lebih serius. Lalu perlahan, sudut bibirnya kembali terangkat."Kalau gitu, sekarang aku lagi ada di jalur yang cukup membingungkan dong," ucap Siska pelan. "Belum tentu membingungkan, bisa jadi kamu cuma masih baru dan dalam proses penyesuaian," jawab Johan.Siska tersenyum kecil. Kali ini terlihat lebih ringan. Tanpa sadar, ia mendekati Johan. Dan jarak mereka berdua kembali menipis."Jo…""Hm?""Makasih ya, udah mau jelasin dan mau nemenin aku malam ini," ucap Siska lagi. Kali ini jauh lebih tulus. Johan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya
"Iya dong..," jawab Johan. "Kan partnernya udah pengalaman banget," lanjutnya. "Kenapa? Pengennya sama yang masih disegel?!" tanya Siska tanpa mengalihkan pandangannya. Johan terkekeh pelan. "Aku sih nggak masalah mau yang udah disegel apa belum. Yang penting orangnya, kamu."Siska terdiam sejenak. Kata-kata yang sama yang pernah diucapkan oleh Bastian, kini diucapkan juga oleh Johan. Dan dulu, dia jugalah yang mengambil keperjakaan Bastian. "Kayak udah template ya?" tanya Siska, seraya berbisik. Namun masih bisa terdengar oleh Johan. "Template?" tanya Johan, dengan kening berkerut. Siska menganggukkan kepalanya perlahan. Ia masih bersandar di bahu Johan, tapi kali ini matanya tidak lagi kosong seperti sebelumnya. Ada rasa ingin tahu yang pelan-pelan muncul.Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap Johan dari samping."Iya, soalnya ucapan kamu sama kayak mantan aku, Bastian."Johan menoleh ke arah Siska, ia menepuk jidatnya pelan. "Astaga! Disamain lagi," ucap Johan. Siska tida
"Uhm.." renguh Siska. Setelah cukup lama menatap Johan dari depan kaca, Siska berbalik dan kini menghadapnya. Ia mulai mendekat dan memegang lembut wajah Johan dengan jari-jari tangannya. Tidak ada niat sedikitpun bagi Johan untuk menjauh dari Siska. Ia justru melihat lurus ke arah Siska dan sengaja membiarkan Siska melakukan apapun padanya. Siska mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Johan dan mencium lembut bibirnya. Johan menerimanya dengan baik. Ia malah memegangi kepala Siska dengan tangan kanannya dan menarik pinggang Siska dengan tangan kirinya agar tubuhnya semakin mendekat. Lalu ia menggiring tubuh Siska ke bawah pancuran air dan mengaturnya agar mengeluarkan air hangat yang pas di kulit mereka berdua. "Ahh.." ucap Siska saat air hangat menyentuh kulitnya yang dingin sejak tadi. Air hangat itu, kini mulai memenuhi ruangan, uap tipis perlahan naik dan memburamkan cermin besar di din
"Hah..," Siska menghela nafas pelan. Ia memandang lurus ke depan. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca depan mobil, bergerak perlahan mengikuti laju kendaraan yang cukup stabil. Wajahnya terlihat tenang, tapi jelas bukan karena semuanya baik-baik saja. Tapi lebih seperti seseorang yang sedang menahan banyak tekanan sekaligus.Johan tidak berkata apa-apa. Tangannya tetap di kemudi, matanya fokus ke jalan. Tapi sesekali, ia melirik ke arah Siska. Ia sadar kapan harus diam. Dan malam ini, jelas bukan waktunya untuk bertanya.Mobil terus melaju tanpa arah yang jelas.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Siska akhirnya menoleh sedikit ke arah Johan. "Jo..""Hm?" tanya Johan. Ia langsung merespon, dengan suara yang dijaga untuk tetap tenang.Siska diam sebentar, seolah memilih kata yang cocok. "Kamu.. mau nggak nemenin aku malam ini?"Tidak ada nada manja dan juga tidak terdengar rapuh. Tapi cukup jelas kalau itu bukanlah permintaan biasa.Johan menoleh sekilas, lalu tersenyum ti
"Udah," potong Siska.Ia bangkit dari duduknya. Tidak terburu-buru, tapi jelas ia tidak ingin tinggal lebih lama di sana. Ia mengambil tasnya."Aku rasa semua udah cukup jelas," ucap Siska. Bastian langsung ikut bangkit dari duduknya. "Beb, tolong jangan kayak gini. Kita masih bisa bicarain baik-baik.""Enggak perlu," jawab Siska singkat.Ia tidak menatap Alya lagi. Tidak juga menunggu tanggapan dari Bastian. Ia berjalan ke luar dari kafe. Dan Bastian menyusulnya. "Beb!" panggilnya.Pintu terbuka cukup lebar. Udara malam yang dingin langsung terasa masuk menembus kulit. Siska tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilan Bastian. "Beb, tunggu dulu!" suara Bastian terdengar lebih keras sekarang.Namun langkah Siska tidak melambat.Sampai akhirnya, ia berhenti. Bukan karena Bastian. Tapi karena seseorang yang kini berdiri di hadapannya.Johan. Pria itu tampak sedikit terkejut melihat Siska, tapi tidak menunjukkannya."Kamu udah selesai?" tanyanya singkat.Siska menatapnya beberapa de
"Seneng?" tanya Siska. Ia mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan kepala menatap lurus ke arah Bastian. Bastian mengangguk. "Iya. Hidup nyaman seperti kedua Tante kamu, tanpa harus lelah bekerja. Bukannya itu yang kamu inginkan?""Kamu bener, Bas! Cuma pas denger akan ada saingan dalam hidu
"An... "Panggil Agung, setengah berbisik, saat duduk dihadapan Andini. Ia tau saat ini Andini merasa sangat tidak nyaman berasa di sana. Tapi, ia masih belum beranjak karena kehadiran Agung yang baru saja sampai dan duduk dihadapannya. "Iya, Om.." jawab Andini, suaranya sedikit parau. "Kamu uda
"Sempurna!" Zaskia berjalan ke luar kamar menuju tempat parkir dan segera masuk ke dalam mobil. Sesampainya di hotel, ia menuju meja resepsionis, lalu menerima digital key untuk masuk ke dalam kamar presiden suite. "Sat, kamu udah sampai?" tanya Zaskia, saat panggilan telpon sudah terhubung. Sa
"Yah, aku mau bicara!"Pesan singkat yang diterima Satria pagi ini. Ia menaruh kembali ponselnya di atas nakas dan berjalan ke luar kamar. "Sis.. " panggilnya. Saat ia sedang berada di depan pintu kamar anak semata wayangnya. Namun, sudah beberapa kali ia mencoba memanggil, pintu kamar tidak juga







