Compartir

Bab 71

Autor: Saggyryes
last update Última actualización: 2026-01-06 23:05:06

"Lepas... " teriak Andini.

Brak!

Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka.

Andini dan Dion yang tadi berada di balik pintu, kini sudah pindah di tembok sebelah kiri, dekat tangga. Jauh dari pintu.

Hal itu disebabkan karena Andini yang terus memberontak dan membuat mereka bergeser. Sehingga Satria bisa dengan mudah masuk ke dalam.

Satria membulatkan matanya saat melihat perempuannya mengalami pelecehan. Spontan, ia langsung meninju Dion dengan kencang dan membuatnya jatuh dan menggelinding turun dari tangga.

"Dasar, Berengsek!" umpat Satria. "Bangun kamu!"

Karena khawatir dengan sikap Dion, setelah rapat selesai, Satria langsung bertanya keberadaan Andini pada Bob. Bob bergegas mencarinya di meja sekretaris, namun Andini tidak ada di tempat.

Menurut informasi dari Dila, Andini sedang membeli minuman dingin di mesin mandiri yang berada di lobby. Dengan sigap, Bob menginfokan kepada Satria dan mereka mencoba mencari Andini bersama-sama di lobby.

Sayangnya, batang hidung Andini tid
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 81

    "Tante.. " panggil Andini. Siska dan Andini saling pandang saat melihat kedatangan Cinta dan Agung. Cinta mematikan ponselnya dan mempercepat langkahnya untuk segera mendekati tempat tidur dimana Andini berada. "Kamu kenapa nggak bilang sih, An?" tanya Cinta, ketika sudah berada di samping tempat tidur Andini. Wajahnya terlihat merah karena menangis dan menahan amarah. Air mata masih menetes dipipinya. Ia tidak tahan melihat anak yang selama ini ia urus setengah mati diperlakukan seperti itu.Ini adalah salah satu hal yang membuat Andini tidak mau memberitahu mereka. Menurutnya, Cinta terkadang terlalu berlebihan dalam menghadapi sebuah musibah dan kemalangan. Ia akan menangis terus menerus dan sulit untuk diminta berhenti. Terlebih, kini kesehatannya mudah sekali turun jika ia terlalu sedih dan banyak pikiran. Andini menghapus lembut sisa air mata yang ada di pipi Cinta. "Tante jangan nangis, aku nggak apa-apa kok."Ia menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk senyuman lebar. Sama

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 80

    "Cantik... " ucap Satria, tanpa berkedip. Ia terus memandang wajah cantik Andini yang mulus, tanpa cela. Ia tidak menyangka bisa memiliki hubungan dan menjadi orang pertama yang bisa menikmati mahkota berharga miliknya. 'Andai Andini mau menjadi istriku, aku pasti akan sangat bahagia dibuatnya.. Sayang dia menolak dan memintaku untuk menunggu.' batin Satria. 'Ah.. Andini sudah membuat aku makin menggila!'Ia menggelengkan kepala perlahan. Tanpa melepas pandangannya dari Andini. Ia tidak sadar kalau sejak tadi, netra Siska terus memperhatikan gerak geriknya. Sadar Ayahnya menatap Andini terlalu dalam, Siska menyenggol pundak Ayahnya dengan pundaknya sendiri. "Apa, Sis?" tanya Satria tanpa rasa bersalah. Siska menata galak ke arah Satria. Karena ditatap seperti itu, Satria mengerutkan kening. Ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang terjadi. "Jangan terlalu berlebihan menatap Andini! Kalau sampai Ayah jatuh cinta padanya, aku yang repot!" ucap Siska, seraya berbisik di telinga S

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 79

    "Ahh... " renguh Andini dan Satria saat mereka sudah sampai di puncak kenikmatan secara bersamaan. Tepat di saat Satria jatuh di atas tubuh Andini, terdengar suara ketukkan dan panggilan Siska dari luar kamar. "Sayang, Siska udah datang!" ucap Andini memberitahu Satria. Seketika, mata Satria membulat."Astaga! Gimana ini?" tanya Satria, yang saat ini bagian bawahnya polos tidak mengenakan apapun. 'Ah! Padahal masih mau beberapa ronde lagi! Sayang banget!' batin Satria. "Kamu bangun dulu, gih! Terus pakai celana panjangnya di kamar mandi aja." usul Andini. "Selebihnya, biar aku yang urus."Satria segera bangkit sambil membawa celana. Andini tersenyum simpul melihat kekasihnya terburu-buru masuk ke kamar mandi. Seolah, mereka adalah pasangan yang selingkuh dan menyembunyikan hubungan dari pasangan satu sama lain. "Iya, Sis.. Sebentar.. " jawab Andini. Ia segera mengenakan celana dalam dan merapihkan tempat tidur. Lalu bergegas membawa cairan infus menuju pintu. 'Untung Satria m

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 78

    "Muat.. " ucap Andini. "Sampe kelolodan tapinya.. " Ia terkekeh. "Uihh.. Enak banget dong dia.. " ucap Siska. Andini tertawa. "Merem melek pokoknya mah... "Siska terbahak. "An... An... Akhirnya lo bisa ngikutin juga kalo gue lagi ngomong beginian.""Ya kan karena sekarang gue udah ngerasain." Andini nyengir. "Iya, sih.. Tapi, lo pakai pengaman kan?" tanya Siska. Ia khawatir sahabatnya itu belum sepenuhnya paham. "Pernah pakai sih, tapi seringnya nggak. Abis, lebih enak nggak pake." jawab Andini, jujur. "Astaga, An! Nanti kalau lo hamil, gimana?" tanya Siska, ia sangat takut hal itu terjadi setelah Ibunya mengingatkan. Makanya, sekarang ia memperingati Andini. Andini menggedikkan bahunya. "Ya nggak apa-apa. Tinggal tanggung jawab dong... " ucapnya, santai.Siska mengerutkan kening. "Emangnya lo udah siap? Terus... tuh laki-laki, mau tanggung jawab?""Kalau soal siap sih, udah pasti.. nggak. Tapi kalau soal tanggung jawab, gue yakin dia mau." ucap Andini, yakin. Siska membulatk

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 77

    "Nggak!" tegas Bob. 'Dia pikir aku laki-laki murahan yang bisa dipake sana sini, apa! Kalau bukan karena dia mantan istri Pak Satria, sudah sejak lama aku sumpel mulutnya yang menyebalkan itu!' batin Bob. 'Wajahnya saja yang cantik, tapi mulut dan hatinya bikin geleng-geleng kepala. Entah apa yang dulu dipikirkan Pak Satria, hingga sangat cinta dan melakukan apapun untuknya!' Zaskia berdecak. Matanya melihat Bob dengan tatapan merendahkan. Lalu berbalik mengambil dokumen yang tadi ditandatangani Satria dan tasnya. 'Sial! Bukan hanya Satria, bahkan asistennya aja, nggak mau menyentuhku!' batin Zaskia. "Sebentar lagi sore, ayo antar aku ke tempat pijat dan showroom mobil!" ucap Zaskia. "Baik, Bu." jawab Bob, patuh. Zaskia dengan cepat, berjalan ke luar ruangan. Sedangkan Bob mengekor dari belakang. Sebenarnya, kalau bukan karena pekerjaan, ia malas menemani Zaskia. Dia terlalu sering melakukan hubungan biologis dengan banyak lelaki. Ia mengetahui hal tersebut kar

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 76

    "Masuk... " ucap Satria saat mendengar ketukkan dari balik pintu. Setelah ia mendengar Satria memperkenankannya masuk, ia segera melenggang masuk ke dalam ruangan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bob. 'Sepertinya ia berhasil mendapatkan tanda tangan Satria.' batin Bob saat melihat Zaskia duduk berhadapan dengan Satria. "Bawa dia pergi dari sini!" perintah Satria. Ia menunjukkan jari telunjuknya ke arah Zaskia. Zaskia membulatkan matanya. "Kamu ngusir aku, Sat?"Satria mengangguk. "Urusan kita udah selesai. Silahkan ke luar dari ruangan saya, sekarang juga!" perintah Satria lagi. "Satu lagi, jika ada yang mau kamu tanyakan, kamu bisa langsung menghubungi Bob. Dan jangan pernah menghubungi saya jika itu bukan tentang Siska, anak kita!" Satria memperingatkan. Wajah Zaskia terlihat sendu. "Kamu keterlaluan, Sat!" Tanpa memperdulikan ucapan Zaskia, Satria menggedikkan bahunya dan kembali fokus menatap layar laptop. "Ayo, Bu! Kita ke luar sekarang!" ajak Bob. "Urusan saya

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status