LOGINSelamat pagi semua. Selamat membaca 🩷🩷
"Jadi kau sudah ada di sana, Lira? Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Mefi di teleponnya. Lira sengaja menunggu di parkiran saja agar ia tidak perlu bertemu Raynard, apalagi ia melihat beberapa wartawan yang meliput acara pembukaan yang sangat ramai itu, banyak mobil mewah juga terparkir di sana. Akan lebih baik kalau Lira tidak membuat kehebohan baru. Namun, ia bosan duduk sendirian di dalam mobil dan akhirnya ia menelepon Mefi. "Aku sudah di sini mengantar Bu Melinda, tapi aku tetap di mobil. Aku tidak turun dan aku juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana." "Mengapa kau tidak turun? Lalu apa yang kau lakukan di dalam mobil sendirian?" "Aku meneleponmu." "Ck, bukankah kemarin dia mengirimimu pesan dan mengundangmu secara pribadi? Seharusnya kau masuk saja, Lira." "Dan membuat kehebohan lagi? Tidak, Mefi. Hidupku sudah tenang beberapa hari ini, bekerja seperti biasa membuatku kembali merasa hidup." "Tapi tidak dapat dipungkiri kalian kan saling mengenal." "Itu akan be
Satu minggu di Singapore terasa berlalu begitu cepat.Pagi itu, suasana di bandara Changi Airport dipenuhi langkah kaki para penumpang yang datang dan pergi. Rania berdiri di dekat gate keberangkatan bersama keluarganya, sementara dua pengasuh sibuk memastikan David dan Raline tidak berlari terlalu jauh."Semuanya sudah beres, Pak. Hati-hati!" seru asisten Lucas. "Baiklah, hubungi aku kalau ada apa pun." "Baik, Pak." "Ayo semua, kita pulang!" ajak Lucas. "Akhirnya kita pulang juga!" seru Rendy yang sudah membeli banyak oleh-oleh.Saking banyaknya, Lucas membelikan koper lagi untuk Rendy khusus untuk mengisi semua oleh-oleh. "Wah, babymoon kita berakhir juga, Surya," rajuk Sissy pada suaminya itu. "Nanti setelah anak kita lahir, kita jalan-jalan lagi." "Asik! Terima kasih, Sayang!" Cup. Sissy mencium pipi suaminya itu. David dan Raline juga terus bertepuk tangan, mereka selalu senang dalam suasana apa pun. Mereka pun kembali berfoto bersama sebelum akhirnya naik pesawat pulang.
Pagi itu, suasana di suite Marina Bay Sands terasa sangat santai. Tidak ada Lucas, tidak ada Surya. Keduanya sudah berangkat lebih dulu untuk urusan pekerjaan, meninggalkan "tim wanita dan anak-anak" menikmati hari mereka sendiri.Sissy sendiri sudah ada di sana dan terkagum-kagum melihat betapa indahnya suite itu. "Ini mewah sekali, kata Surya harganya lebih dari seratus juga semalam." Rendy langsung mendelik mendengarnya. "Kau serius, Kak? Aku benar-benar menginap di suite seratus juta semalam?" "Jangan lupa kalau kakak iparmu itu miliarder, jadi tidak ada yang tidak mungkin." Rania hanya geleng-geleng kepala. "Lucas memang seperti itu, tapi karena kita sudah menjadi keluarganya, jadi ayo kita nikmati saja!" Rendy langsung tertawa mendengarnya. "Ayo, untung saja aku sudah menukar uangku ke dalam SGD, tapi aku tidak membawa banyak." "Surya juga sudah memberiku uang jajan untuk belanja di Singapore, jadi aman," timpal Sissy. "Eits!" sahut Rania. "Tidak boleh ada yang mengeluark
"Apa? Ibunya yang bicara langsung padamu?" Mefi merinding begitu mendengar cerita Lira malam itu. Ibunya Melinda itu hampir tidak pernah mencampuri urusan Melinda dan Lira pun jarang berhubungan dengan wanita itu. Kalau Bu Tanaya sudah bicara dengannya berarti itu adalah masalah yang sangat penting. Lira menghela napas panjang. "Ya, aku berdebar sekali tadi, Mefi." "Aku bisa mengerti, Lira. Tapi dia tidak menyalahkanmu kan?" "Tidak. Awalnya ya, aku merasa seperti disudutkan, tapi Bu Melinda membelaku." "Syukurlah kau punya bos yang sangat baik." Lira mengangguk. "Ya, walaupun makin baik, aku makin merasa bersalah padanya." Kali ini giliran Mefi yang terdiam. "Kau ... kalau kau memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Chef Raynard, mengapa harus merasa bersalah?" "Entahlah, aku hanya merasa seperti menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka."Mefi menatap Lira sedikit lebih lama. Ia mengidolakan Raynard, ia tahu bagaimana rasanya. Tapi ekspresi Lira saat ini bukanlah ekspresi
"Berita ini sangat menggangguku, Lira!" Bu Tanaya, ibunya Melinda datang ke kantor siang itu hanya untuk bertanya tentang kebenaran berita Raynard dan Lira. Sebenarnya, beritanya sendiri sudah mulai mereda dan tidak seheboh hari pertama kemarin, tapi Bu Tanaya baru sempat kemari hari ini. "Maafkan aku, Bu. Semuanya salah paham," jawab Lira. "Aku juga sudah menjelaskan semuanya pada Bu Melinda." Bu Tanaya menatap anaknya itu. "Apa kau sudah menelepon Raynard, Melinda?" "Belum, Ibu. Beritanya tidak benar, jadi aku tidak mau terlihat seolah mempercayai gosip." "Tapi setidaknya kau harus bicara dengannya dulu." "Nanti saja setelah gosipnya mereda, Ibu." Bu Tanaya mengembuskan napas panjang sambil menatap Lira. "Bisa-bisanya kalian difoto berdua seperti itu. Harus ada penjelasan mengapa kalian bisa terlihat saling menyuapi. Bagaimana itu bisa terjadi?" "Itu bukan saling menyuapi, Bu. Lebih tepatnya, karena kami saling mengenal jadi kami saling menyapa. Saat itu Chef Raynard sedang
"Wah, bandaranya benar-benar bagus," pekik Rendy saat mereka akhirnya tiba di Singapore. "Air kran itu bisa diminum," kata Lucas sambil menunjuk kran air di sana. "Ah, aku sudah mencari tahu, aku akan mencobanya. Videokan aku, Kak. Aku mau mengunggahnya ke media sosial," seru Rendy yang langsung menyerahkan ponselnya pada Rania. "Astaga, kita ini seperti orang kampung masuk ke kota, Rendy," omel Rania. Namun, Rania tetap memvideokan adiknya itu meminum air dari kran sampai semua orang tertawa melihatnya. Rendy pun mengajak David dan Raline mencuci tangannya di sana. Kedua anak yang baru bangun itu pun langsung terkekeh senang. Lucas mengajak mereka melewati imigrasi, lalu mengajak mereka ke mall yang menyambung dengan bandara. Ada air terjun buatan di sana yang sangat indah untuk berfoto bersama. "Kita foto dulu sebelum kita makan," ajak Lucas. "Wah, ini benar-benar indah, Ibu. Aku dan Ibu mau berfoto dulu, Kak," seru Rendy lagi. Rendy berfoto dengan Yetty, Rania, lalu bersa
"Apa yang Ibu katakan pada Rania kemarin?" Raynard sudah berada di ruang tamu rumahnya pagi itu dan berhadapan dengan Camilla. Semalam, Raynard terus mencari Rania. Baru saja Raynard akan menelepon Sissy untuk bertanya, tapi salah satu orangnya memberitahu bahwa Camilla sempat berbicara dengan Ran
"Bicara apa, Pak? Tidak usah! Raynard, ayo kita masuk ke rumah saja!" Rania adalah yang paling panik mendengar Lucas ingin bicara dengan Raynard. Buru-buru Rania menarik lengan Raynard sampai Raynard makin bingung. "Hei! Hei! Ada apa ini? Kau baik-baik saja kan, Rania?" "Aku baik-baik saja!" "S
Sinar matahari yang mengintip masuk melalui celah jendela membuat Rania mengernyit. Sisa-sisa pengaruh alkohol masih membuat kepalanya berdenyut, namun perlahan kesadarannya pulih kembali. Rania membuka matanya dan tersentak saat merasakan tubuhnya sedang berada dalam dekapan tubuh seseorang. Seor
Perasaan Lucas tidak pernah baik sejak malam itu. Sejak menjadi pengusaha, ia mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, dan ia tidak pernah menyesali keputusannya. Namun, kali ini, ia mendadak ingin kembali ke masa bersama Rania. Ia tidak pernah merasa sebahagia itu, ada yang menunggunya setiap







