LOGINPagi itu, suasana di suite Marina Bay Sands terasa sangat santai. Tidak ada Lucas, tidak ada Surya. Keduanya sudah berangkat lebih dulu untuk urusan pekerjaan, meninggalkan "tim wanita dan anak-anak" menikmati hari mereka sendiri.Sissy sendiri sudah ada di sana dan terkagum-kagum melihat betapa indahnya suite itu. "Ini mewah sekali, kata Surya harganya lebih dari seratus juga semalam." Rendy langsung mendelik mendengarnya. "Kau serius, Kak? Aku benar-benar menginap di suite seratus juta semalam?" "Jangan lupa kalau kakak iparmu itu miliarder, jadi tidak ada yang tidak mungkin." Rania hanya geleng-geleng kepala. "Lucas memang seperti itu, tapi karena kita sudah menjadi keluarganya, jadi ayo kita nikmati saja!" Rendy langsung tertawa mendengarnya. "Ayo, untung saja aku sudah menukar uangku ke dalam SGD, tapi aku tidak membawa banyak." "Surya juga sudah memberiku uang jajan untuk belanja di Singapore, jadi aman," timpal Sissy. "Eits!" sahut Rania. "Tidak boleh ada yang mengeluark
"Apa? Ibunya yang bicara langsung padamu?" Mefi merinding begitu mendengar cerita Lira malam itu. Ibunya Melinda itu hampir tidak pernah mencampuri urusan Melinda dan Lira pun jarang berhubungan dengan wanita itu. Kalau Bu Tanaya sudah bicara dengannya berarti itu adalah masalah yang sangat penting. Lira menghela napas panjang. "Ya, aku berdebar sekali tadi, Mefi." "Aku bisa mengerti, Lira. Tapi dia tidak menyalahkanmu kan?" "Tidak. Awalnya ya, aku merasa seperti disudutkan, tapi Bu Melinda membelaku." "Syukurlah kau punya bos yang sangat baik." Lira mengangguk. "Ya, walaupun makin baik, aku makin merasa bersalah padanya." Kali ini giliran Mefi yang terdiam. "Kau ... kalau kau memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Chef Raynard, mengapa harus merasa bersalah?" "Entahlah, aku hanya merasa seperti menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka."Mefi menatap Lira sedikit lebih lama. Ia mengidolakan Raynard, ia tahu bagaimana rasanya. Tapi ekspresi Lira saat ini bukanlah ekspresi
"Berita ini sangat menggangguku, Lira!" Bu Tanaya, ibunya Melinda datang ke kantor siang itu hanya untuk bertanya tentang kebenaran berita Raynard dan Lira. Sebenarnya, beritanya sendiri sudah mulai mereda dan tidak seheboh hari pertama kemarin, tapi Bu Tanaya baru sempat kemari hari ini. "Maafkan aku, Bu. Semuanya salah paham," jawab Lira. "Aku juga sudah menjelaskan semuanya pada Bu Melinda." Bu Tanaya menatap anaknya itu. "Apa kau sudah menelepon Raynard, Melinda?" "Belum, Ibu. Beritanya tidak benar, jadi aku tidak mau terlihat seolah mempercayai gosip." "Tapi setidaknya kau harus bicara dengannya dulu." "Nanti saja setelah gosipnya mereda, Ibu." Bu Tanaya mengembuskan napas panjang sambil menatap Lira. "Bisa-bisanya kalian difoto berdua seperti itu. Harus ada penjelasan mengapa kalian bisa terlihat saling menyuapi. Bagaimana itu bisa terjadi?" "Itu bukan saling menyuapi, Bu. Lebih tepatnya, karena kami saling mengenal jadi kami saling menyapa. Saat itu Chef Raynard sedang
"Wah, bandaranya benar-benar bagus," pekik Rendy saat mereka akhirnya tiba di Singapore. "Air kran itu bisa diminum," kata Lucas sambil menunjuk kran air di sana. "Ah, aku sudah mencari tahu, aku akan mencobanya. Videokan aku, Kak. Aku mau mengunggahnya ke media sosial," seru Rendy yang langsung menyerahkan ponselnya pada Rania. "Astaga, kita ini seperti orang kampung masuk ke kota, Rendy," omel Rania. Namun, Rania tetap memvideokan adiknya itu meminum air dari kran sampai semua orang tertawa melihatnya. Rendy pun mengajak David dan Raline mencuci tangannya di sana. Kedua anak yang baru bangun itu pun langsung terkekeh senang. Lucas mengajak mereka melewati imigrasi, lalu mengajak mereka ke mall yang menyambung dengan bandara. Ada air terjun buatan di sana yang sangat indah untuk berfoto bersama. "Kita foto dulu sebelum kita makan," ajak Lucas. "Wah, ini benar-benar indah, Ibu. Aku dan Ibu mau berfoto dulu, Kak," seru Rendy lagi. Rendy berfoto dengan Yetty, Rania, lalu bersa
"Kami berangkat dulu, Ibu." Rania berpamitan pada Camilla pagi itu. Mereka menyempatkan diri mampir ke rumah besar keluarga Mahendra sebelum ke bandara. Hanya Camilla di sana karena Lisbeth sudah pulang ke swiss, Rosano sudah pulang ke Amerika, sedangkan Raynard sudah pergi pagi-pagi sekali. "Kalian hanya akan ke Singapore? Mengapa tidak sekalian keliling Asia Tenggara, Lucas?" omel Camilla. "Ah, aku yang tidak ingin terlalu lama karena kami harus menghadiri pembukaan restoran Raynard dan aku mau menemani Sissy melahirkan, Ibu," sahut Rania. "Baiklah kalau begitu. Nanti setelah semuanya selesai, pergilah berlibur lagi, Rania. Kau bahkan belum ke Amerika dan Swiss, tempat Grandma." "Tenang saja, Ibu," sahut Lucas. "Aku akan mengajaknya nanti." Camilla mengangguk. "Baiklah, pergilah agar tidak terlambat. Selamat bersenang-senang, Bu Yetty." "Terima kasih banyak, Bu Camilla." "Sampai jumpa, Cucu Grandma." Camilla memeluk David dan Raline bergantian. Kedua cucunya itu menciumi C
Raynard mencoba menelepon Lira pagi itu untuk mengetahui kondisi Lira setelah gosip tentang mereka merebak. Namun, Lira tidak mengangkat teleponnya. "Apa aku harus mencari ke kantornya? Tapi kalau aku ke sana, nanti beritanya makin heboh dan dia tidak akan nyaman." Raynard terdiam sambil berpikir sejenak, sebelum ia memutuskan untuk tidak menghampiri Lira ke kantor dan hanya mengiriminya pesan. Raynard: "Kau baik-baik saja, Lira? Kau sudah membaca berita tentang kita? Semoga tidak heboh di sana. Kalau kau sudah tidak sibuk, tolong telepon aku balik." Pesan itu dikirim dan Raynard sangat mengharapkan balasan Lira, walaupun wanita itu tidak pernah membalas pesannya. Lira sendiri membaca pesan itu, tapi ia tidak berniat membalasnya. Kehebohan di kantor dan pertanyaan Melinda membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Dan ia benar-benar sudah memutuskan akan menghindari Raynard. "Aku harus menghindarinya, aku tidak boleh membalas pesannya," gumam Lira yang akhirnya bertahan tidak m
Rania berlari kecil begitu ia tiba di hotel Royal Palace. Napasnya tersengal, langkahnya seperti orang yang baru saja lari maraton, dan wajahnya memerah. Begitu masuk ke lobi hotel, hawa dingin AC langsung menyejukkan wajah panasnya. Lobi itu megah, lantainya marmer putih yang mengilap, lampu gant
Rania sontak menunduk begitu ia melihat siapa pria yang menjadi juri undangan itu. Jantungnya berdebar kencang. Pria itu adalah pria modus yang mobilnya mogok dan meminjam ponselnya tadi. "Astaga, mengapa bisa dia? Dia kan pria yang tadi? Bagaimana ini? Aku sempat membohonginya juga tentang batera
Sepanjang acara makan malam berlangsung, Rania tidak berpindah dari sisi Raynard. Ia duduk sedikit lebih dekat daripada biasanya, seolah membutuhkan perisai. Rania berlindung di samping tubuh Raynard yang besar untuk menutupi garis pandang Lucas.Tapi itu tidak berhasil.Rania sudah berusaha untuk
"Sekali lagi selamat ya!" Ucapan selamat masih terdengar tanpa henti di ballroom itu. Para penonton dan peserta sudah mulai pulang, tapi masih banyak yang tinggal untuk merayakan euforia kemenangan itu. Rania sendiri masih mengobrol dengan banyak orang yang memberinya selamat dan tawa terus menge







