Masuk"Apa yang sebenarnya membuat Ibu datang ke Indonesia?" Camilla tidak bisa menahan emosinya dan akhirnya menelepon suaminya yang masih berada di Amerika. "Aku tidak tahu, tapi apa yang Ibu lakukan di sana?" Camilla menahan dirinya. "Tidak ada. Aku hanya penasaran apa yang membuatnya pulang mendadak seperti ini." "Dia memang suka tidak terduga. Yang penting dia senang, di mana pun tidak masalah. Tapi bagaimana Lucas? Banyak kolega menanyakan Lucas yang berhenti mendadak, aku tidak menyukainya, Camilla. Aku tahu tidak ada masalah sama sekali dengan pergantian pimpinan itu, hanya saja, pertanyaan tentang Lucas sangat tidak menyenangkan." "Aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Pada akhirnya dia akan kembali pada kita, jadi tidak usah khawatir!" Rosano mengembuskan napas panjangnya. "Lalu dia masih bersama wanita itu? Wanita yang membuatnya putus dari Vanessa itu?" "Itu juga urusanku, Rosano. Kau tidak usah ikut pusing memikirkannya." "Pokoknya aku tidak mau bisnis kita terganggu,
"Nenek Suri?" Sissy berbisik pelan saat Rania menyebut tentang nenek suri malam itu. Seperti malam sebelumnya, Sissy menjenguk Rania begitu jam kerjanya berakhir. Dan malam ini, Rania menanyakan tentang nenek suri karena ia sangat cemas memikirkannya. Rania sendiri tidak sempat bertanya apa pun pada Lucas tadi karena Lucas sudah mendapat telepon dan kembali keluar dari ruangan, lalu tidak lama kemudian, Sissy langsung muncul. "Iya, neneknya Lucas. Kata Lucas, Raynard akan datang mengajak neneknya untuk berkenalan denganku, aku tegang sekali, Sissy. Nenek Suri itu seperti apa orangnya?" Sissy mengerjapkan mata dan terlihat berpikir keras. "Sungguh, aku tidak pernah tahu tentang neneknya Pak Lucas. Aku hanya tahu tentang Pak Rosano dan Bu Camilla. Tapi coba kita cari secara online saja." Sissy pun langsung berkutat dengan ponselnya mencari tentang orang tua Rosano dan Camilla. "Kita harus mencari dengan kata kunci apa? Kau tahu nama neneknya?" Rania menggeleng. "Aku tidak tahu,
Lisbeth sudah bangkit berdiri ketika kata Indonesia keluar dari mulutnya. Ia terlihat sangat bersemangat, tubuhnya tegak, nyaris tidak mencerminkan usianya yang delapan puluh tahun. Namun, baru saja ia akan melangkah, mendadak ia teringat sesuatu dan terdiam sejenak. "Tunggu! Tunggu!" katanya tiba-tiba. Tatapannya yang semula berbinar mendadak berubah mengernyit. "Kau bilang ibumu ingin menghalangi dan tidak setuju dengan hubungan Lucas dan kekasihnya?" Raynard mengangguk pelan. "Bukan sekddar tidak setuju, Grandma. Ibu … sudah bergerak."Lisbeth menoleh cepat. "Bergerak seperti apa maksudmu?" "Rania nama wanita itu. Dia adalah chef di hotel Royal Palace, dia spesialis jajanan tradisional. Dia juga memenangkan lomba yang diadakan oleh hotel itu." Raynard mulai bercerita singkat, padat, tapi sangat jelas. "Singkat cerita, Ibu meminta orang menyebarkan gosip tentang kehamilan di luar nikah itu." "Lalu ... apa yang terjadi pada wanita itu? Siapa tadi namanya?" "Rania, Grandma.""Ah
Hati Lucas tidak tenang hari itu. Setelah menginap semalam di rumah sakit, kondisi Rania sudah lebih baik, tapi yang membuat Lucas berdebar adalah karena ia tahu Raynard sedang bertemu dengan Grandma saat ini dan Lucas sangat berharap wanita tua itu akan ada di pihaknya. "Apa dia sudah bertemu Grandma sekarang? Aku akan coba meneleponnya." Lucas yang sejak tadi menemani Rania dan Yetty pun berpamitan keluar dan langsung menelepon Raynard. Awalnya Raynard tidak mengangkat teleponnya, tapi tidak lama kemudian, Raynard meneleponnya balik. "Raynard, kau sudah bertemu Grandma?" "Sudah, Kak. Aku sudah di rumahnya sekarang dan sedang menunggunya bertemu dengan tamunya." "Bagaimana suasana hatinya?" "Terlihat sangat baik setelah bermain golf." Lucas bernapas lega. "Baguslah! Kali ini, aku bergantung padamu, Raynard." Raynard tertawa. "Tenang saja, Kak. Aku akan memastikan Grandma ada di pihak kita. Dan sampaikan salamku pada Rania, aku akan menemuinya setelah aku pulang nanti. Tapi Gr
"Ini perbuatan Ibu, Raynard! Ini perbuatannya! Sial!" Lucas langsung menelepon Raynard begitu ia pulang dari rumah ibunya. Lucas masih ada di mobilnya sambil menggenggam erat setirnya. Raynard berdecak. "Ibu benar-benar keterlaluan, Kak!" "Dia masih belum percaya kalau anak yang dikandung Rania adalah anakku." "Dia bukan orang yang mudah percaya pada ucapan, Kak. Berapa kali kita harus membuktikan sebelum mendapatkan sesuatu kan?""Ck, tapi aku tidak peduli lagi. Aku harus bisa menghentikan apa pun usahanya mengusik Rania. Aku tidak mau ketenangan Rania dan keselamatan anak-anakku terancam." "Dan aku sudah memikirkan tentang itu, Kak." Lucas mengernyit. "Apa maksudmu?" "Aku tahu siapa yang bisa melawan Ibu sekarang. Satu-satunya orang yang bisa membuat Ibu mati kutu." "Siapa itu?""Seseorang yang sudah berumur dan selalu menantikan cicit dari kita." "Grandma?" tebak Lucas begitu akurat. Raynard terkekeh. "Ini namanya di atas langit masih ada langit, Kak. Di atas Ibu, masih
"Kau melihatnya, Lucas? Kau melihat mereka?" Rania dan Lucas akhirnya bisa berdua saja setelah dokter memberikan banyak pesan pada keduanya. Euforia kebahagiaan dan haru masih terpancar di wajah keduanya. "Ya, Sayang, aku melihatnya, dua anak kita." "Mereka bertahan di sana dan aku merasa bersalah sekali karena sudah mengguncang mereka. Aku merasa bersalah karena emosi ibu akan berpengaruh pada mereka.""Yang penting mereka baik-baik saja sekarang, dan kita akan menjaga agar mereka selalu sehat. Tapi kau sudah tahu kan kalau kau tidak boleh stres lagi? Jadi kau tidak harus menghadapi semuanya sendirian, Sayang. Tolong biarkan aku melakukan semuanya untukmu." "Tapi aku ingin dilibatkan, aku tidak mau hanya diam, pasrah, dan tidak didengar ...," sahut Rania lirih. Bersama Elvan, ia harus mendengar dan patuh. Bersama Lucas kemarin, ia juga hanya mendengar dan patuh. Tapi setelah mandiri, ia juga ingin didengar dan dihargai pendapatnya. "Iya, Sayang, aku akan melibatkanmu dalam sega







