LOGINBeberapa bulan berlalu dan tanpa terasa kedua ibu hamil sudah mendekati waktu melahirkan. HPL Lira seharusnya lebih cepat beberapa hari dibanding Rania, tapi karena Rania melahirkan secara operasi, maka tanggalnya dipercepat, sedangkan Lira ingin melahirkan secara normal. Hari itu, setelah menjalani kehamilan kedua yang begitu hangat dan menyenangkan, akhirnya Rania melahirkan anak ketiganya melalui operasi cesar yang tetap mendebarkan untuknya. "Oek ... oek ...." Napas Rania dan Lucas tertahan sejenak, sebelum mereka menoleh ke arah dokter yang mengangkat anak mereka yang sangat gemoy itu. "Selamat, anaknya laki-laki, gemuk, kuat, dan sangat sehat." Para suster tertawa mendengarnya, sedangkan Lucas dan Rania langsung meneteskan air mata harunya. Mereka berfoto bersama dan seperti dulu, semua orang heboh begitu Lucas mengirimkan foto keluarga mereka. "Anak Kak Lucas sudah lahir!" pekik Raynard. "Cicitku sudah lahir! Cicitku sudah lahir!" pekik Lisbeth juga. Camilla dan Yetty s
Rania tahu ada yang tidak beres dengan dirinya beberapa hari terakhir itu. Ia jadi sering lemas, perut bawahnya terasa kram, tapi ia belum mual. Bahkan ia tidak ingat kalau haidnya sudah terlambat. Sampai saat akhirnya ia ke rumah Raynard dan mual karena bau ikan yang amis. Rania tahu sesuatunya adalah sesuatu yang besar. Setibanya di rumah, ia buru-buru memakai alat tespeknya ditemani suaminya yang sangat antusias. Lucas sudah menginginkan anak lagi sejak lama. Hanya saja, Rania yang menahannya karena ingin memberikan ASI eksklusif untuk kedua anaknya sampai dua tahun. Dan sekarang, saat akhirnya si kembar sudah berumur dua tahun, Rania benar-benar mendapatkan dua garis lagi di alat tespeknya. "Dua garis, Sayang! Dua garis? Kau hamil, Sayang! Kita akan punya anak lagi!" Sang CEO yang dingin itu benar-benar meloncat kegirangan begitu mengetahui Rania hamil. Lucas langsung menciumi wajah istrinya itu dan menggendongnya tinggi. "Astaga, turunkan aku, Lucas!" "Haha, maafkan aku, S
Lira terus menatap kotak kecil di tangannya malam itu. Di dalamnya ada alat tespek yang sudah ia bungkus rapi. Ia ingin memberi kejutan pada Raynard dan ia sudah tidak sabar. Lira juga sudah berpesan pada Dewi untuk tidak memberitahu siapa pun dulu karena Lira ingin memastikan melalui USG dulu. Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil Raynard pulang dan jantung Lira makin memacu kencang. Ia menyembunyikan kotaknya di ruang makan, lalu segera menyambut suaminya. "Kau sudah pulang, Raynard?" Ekspresi Lira begitu ceria sampai Raynard ikut ceria juga. Sejak menikah, Raynard selalu mengusahakan makan malam bersama istrinya. Kalau ia tidak bisa pulang cepat, maka ia akan menjemput Lira untuk makan malam bersama di restoran. Namun, hari ini, Raynard tidak ada kesibukan lain dan mereka pun bisa makan bersama di rumah."Aku pulang, Sayang. Mengapa wajahmu begitu ceria, hah?" Raynard memeluk istrinya itu dan menatapnya dari dekat. "Memangnya aku tidak boleh ceria?" "Bukan begitu, Sayan
Hampir dua bulan lamanya, keluarga Lucas dan Raynard berbulan madu keliling Eropa, dan setelah pulang, begitu banyak pekerjaan yang menanti mereka, terutama Lira yang akhirnya akan bergabung dengan Skyline. Setelah menikah, Lira tinggal di rumah keluarga besar Mahendra. Rumah itu besar dan megah, tapi tidak ada yang tinggal selain Raynard karena Camilla pun sudah kembali ke luar negeri. Sejak menyerahkan Skyline di Indonesia pada Lucas, sebenarnya pekerjaan Camilla tidak terlalu banyak, apalagi setelah Lira bergabung, Camilla makin tenang. Secara mengejutkan, Camilla juga sangat cocok dengan Lira dalam hal pekerjaan. Bahkan setelah kembali ke luar negeri, Camilla lebih sering menelepon Lira dibanding anaknya sendiri. "Begitu, Ibu, kurasa kita terima saja penawaran Pak Beny, ini cukup menguntungkan untuk kita," seru Lira di video callnya dengan mertuanya itu."Kau atur saja bersama Lucas, Ibu setuju, Lira." "Baiklah, Ibu. Aku akan mengaturnya." "Lalu Ibu ada mengirim vitamin, itu
Lira tidak pernah sempat menyahuti suaminya karena Raynard sudah menyambar bibirnya dan memagutnya. Kalau biasanya Raynard memagut bibirnya dengan lembut, tapi malam ini berbeda. Rasanya seolah Raynard menahan dirinya selama ini dan akhirnya tidak menahan diri lagi. Bibir Raynard meraup bibir Lira dengan ganas. Tangan Raynard menahan tengkuk Lira dan ia pun memperdalam ciumannya. Lira membalasnya, berusaha mengikuti intensitas Raynard. Terkadang Raynard tertawa kecil di antara ciumannya karena Lira membalasnya dengan belepotan, tapi Raynard tetap menciumnya sampai akhirnya Lira bisa mengimbanginya. Perlahan Lira merasakan hasratnya bangkit, apalagi saat tangan Raynard menyusup ke bajunya dan menemukan dadanya yang masih terbungkus bra. "Ah, Raynard ...," desah Lira saat merasakan remasan di sana. Perlahan ciuman Raynard pindah ke leher Lira, menyesap aroma manis Lira di sana, sedangkan tangan Raynard bermain makin liar di puncak gunung yang mengeras itu. "Raynard ...," desah Lir
Setelah acara pemberkatan di pagi hari yang begitu hangat, acara pun berlanjut ke resepsi di malam hari. Tamu undangan berkali lipat membeludak dibanding acara pagi tadi. Rosano dan Camilla benar-benar sibuk menyambut para tamu mereka, begitu juga dengan Lisbeth dan Lucas. Rania sendiri juga menyambut tamu, tapi juga ikut memeriksa semua makanan dan jajan agar tidak ada yang terlewat. Suara orang mengobrol dan suara tawa memenuhi ruangan itu hingga larut malam. Raynard pun membawa Lira berkeliling dan mengenalkannya pada semua kerabatnya. "Istrimu sangat cantik. Sekali lagi selamat, Raynard dan Lira." "Terima kasih." Tidak lama kemudian, Melinda dan kedua orang tuanya juga menyapa mereka. "Selamat, Raynard dan Lira!" seru Melinda yang langsung membuka kedua tangannya. "Melinda, terima kasih!" sahut Raynard yang memeluk Melinda singkat. "Terima kasih, Melinda!" Lira juga memeluk Melinda lebih lama, sebelum Lira memeluk Bu Tanaya juga yang sekarang sudah sangat netral. "Ini mas
Lucas pasti sudah gila saat akhirnya ia mencium Rania. Ini sama sekali bukan rencananya, tapi lagi-lagi ia tidak tahan. Berdua dengan wanita itu, melihat Rania-nya berubah menjadi wanita barbar, dan melihat bibir itu terus mengaum melawannya, membuat hasrat Lucas tidak bisa dikendalikan lagi. Dan
Begitu pesawat mulai stabil di udara, perlahan Rania mulai tenang. Napasnya masih tersengal dan jantungnya memacu kencang, tapi perlahan Rania membuka matanya. Dengan cepat, ia menyadari kalau yang digenggamnya bukan sandaran lengan, tapi benar-benar lengan seseorang. Bahkan bukan sekadar menggeng
"Pak Lucas ... dia menyakitiku, Sissy! Dia menyakiti aku! Aku terlalu bodoh sampai percaya padanya! Aku terlalu bodoh sampai terus-terusan menggadaikan harga diriku padanya!" "Benar kata semua orang kalau pada akhirnya, dia akan membuangku juga. Tapi dengan polosnya, aku tetap percaya kalau ada ke
Dua hari setelah keluar dari Skyline, Rania akhirnya mengosongkan rumah pemberian Lucas. Semua barangnya dan sisa barang Yetty sampai tidak bersisa. Rumah itu terasa asing kini, terlalu luas, terlalu sunyi, terlalu penuh kenangan yang menusuk.Untungnya, Yetty sudah memutuskan untuk tinggal di kamp







