แชร์

Memeluknya Dalam Kegelapan

ผู้เขียน: Mommykai22
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-16 22:13:13

"Apa itu enak? Hanya ada apel di kulkas. Surya, pergilah membeli buah jeruk dan pir, beli alpukat juga dan pisang, itu bagus untuk ...." Lucas hampir keceplosan lagi. "Untuk kesehatan."

Surya menelan saliva. Lucas terlalu berbahaya. Bosnya yang biasanya tenang dan dingin, ternyata sama sekali tidak bisa menyimpan rahasia.

Rania sendiri yang masih mengunyah apelnya pun menggeleng. "Tidak perlu beli lagi, apel saja sudah cukup."

"Tapi kau butuh banyak buah, buah-buahan bagus untuk kesehatan. Belilah yang banyak, Surya!"

"Tidak usah, Lucas! Tidak perlu banyak buah, lagipula kau baru diusir, kau harus menghemat kan?"

Hati Lucas menghangat lagi mendengarnya. Di saat seperti ini, Rania masih memikirkan dirinya yang baru diusir.

"Aku masih punya uang untuk membeli buah, Rania. Surya!" panggil Lucas lagi.

"Baik, Pak. Aku akan pergi membeli buah," sahut Surya dengan tatapan matanya yang tidak biasa. Kedua kelopak matanya terangkat seolah memberi kode pada Lucas agar tidak membocorkan ra
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (16)
goodnovel comment avatar
Retno Utari
kak thor are u oke?
goodnovel comment avatar
Juwita Santia P
up lagi dong Thor 3 bab gituu
goodnovel comment avatar
Siti Nurlaili
lahh sengaja baru buka jam segini trnyata blm up...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Dua Malaikat Kecilnya

    Rania lemas, jantungnya menderu, dan ia ketakutan melihat darah di bawah sana, tidak sebanyak saat haid, tapi lebih banyak dari flek biasa dan terlalu banyak untuk wanita yang sedang hamil. Warnanya merah dan mengerikan. "Seharusnya tidak berdarah kan? Saat hamil, tidak mungkin berdarah. Bagaimana ini?" Rania sampai tidak berani bergerak. Air matanya pun menetes begitu saja dan wajahnya kembali pucat. Ia duduk di dudukan toilet. "Lucas! Lucas!" panggil Rania gemetar. Ponselnya tidak ada bersamanya dan Rania takut saat ia berjalan, darahnya akan keluar lagi. "Lucas! Lucas!" panggil Rania lagi sekuat tenaganya. Sementara Lucas sendiri masih mengobrol dengan Raynard di ponselnya sampai ia belum mendengar teriakan Rania. "Aku akan pulang ke Indonesia untuk melihat apa yang bisa kubantu, kebetulan aku mendapat libur dari sini." "Terima kasih atas perhatianmu, Raynard. Tapi sungguh, aku ingin langsung mengakui itu anakku saja agar mereka bisa menghormati Rania." "Jangan membuat Ibu

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Rasa Basah

    Setelah memastikan Rania terlelap, Lucas menyelimuti wanita itu dan perlahan bangkit dari ranjang. Lucas keluar dari kamar, tapi seperti yang ia katakan, ia tidak akan tinggal diam. "Apa kau menemukan sesuatu, Surya? Apa yang sebenarnya terjadi di Royal Palace? Ini tidak masuk akal. Kemarin semuanya masih baik-baik saja, lalu hari ini boom!" geram Lucas saat ia masuk ke ruang kerjanya yang berada tepat di samping kamar Rania. "Sebagai hotel besar, seharusnya mereka tidak secepat itu mempercayai gosip tanpa bertanya pada Rania sama sekali sebelumnya. Aku setuju melakukan tindakan pencegahan, tapi yang terjadi sekarang, terlalu cepat dan terlalu teratur, seperti sudah disetting, kau mengerti maksudku kan, Surya?" Lucas melirik Surya. Surya langsung tanggap. "Apa Anda mencurigai seseorang, Pak?" "Siapa lagi yang bisa melakukannya dengan begitu tepat dan cepat selain orang yang mempunyai power besar, hah? Ibuku, siapa lagi? Selidiki itu, Surya! Dan berikan informasinya padaku segera!"

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Memegang Janjinya

    Rania tidak pernah tahu bagaimana Lucas bisa mendadak muncul seperti ini, tapi begitu melihat Lucas, Rania makin sedih sekaligus begitu lega. "Lucas!" seru Rania sambil merentangkan kedua tangannya, layaknya anak kecil yang hilang lalu ditemukan oleh orang tuanya. "Rania!" seru Lucas juga yang langsung berjongkok dan memeluk wanitanya, membiarkan air mata Rania membasahi kemejanya. Lucas menggeram. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Rania menangis dan rasanya selalu sama. Tangisan Rania membuatnya marah dan sesak, tapi kali ini, rasa marah lebih menguasai dirinya. Ia ingin sekali menghajar siapa pun yang membuat Rania menangis sampai seperti ini. Lucas pun melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Rania. "Kau baik-baik saja, Sayang? Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau tidak meneleponku?" Rania menggeleng. "Aku ...." "Surya akan menemanimu dan aku akan menemui pimpinan hotel sekarang juga!" Lucas berniat bangkit berdiri, tapi Rania menahannya. "Tidak, Lucas! Tidak! Jan

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Kontak Batin

    "D-diliburkan?" Suara Rania terdengar lirih, nyaris tidak bisa keluar. Ia tidak pernah menyangka akan ada dalam kondisi seperti ini. "Apa itu artinya ... aku dipecat, Pak?" lirih Rania lagi. "Tidak, Rania. Tidak. Belum," ralatnya. "Kami masih harus merundingkan langkah ke depannya. Ini hanya langkah pencegahan yang bisa kami lakukan demi nama baik hotel ini. Tapi jangan khawatir karena kami juga sangat menghargaimu dan akan mencarikan solusi terbaik untuk kita bersama." Itu adalah kalimat terakhir yang bisa Rania ingat. Ia tidak ingat bagaimana ia keluar dari ruangan Pak Arif, ia tidak ingat bagaimana ia melewati kerumunan orang-orang, tapi saat ini, ia sudah berada di toilet yang tidak jauh dari ruangan Pak Arif. Air matanya tidak berhenti mengalir dan ia tidak berhenti muntah. "Huwek! Huwek!" Muntahnya banyak dan menyakitkan di tenggorokan. Bahkan saat akhirnya tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan dari perutnya, ia masih ingin muntah. Dadanya sesak, perutnya berputar, kepalan

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Gosip yang Beredar

    Rania melangkah masuk ke Royal Palace dengan suasana hati yang sangat baik pagi itu. Menghabiskan malam bersama Lucas dan mendengar cerita Surya membuatnya berbunga-bunga. Ia menyapa beberapa orang yang ia temui di lobby sambil tersenyum, walaupun rasanya ada yang aneh. Rania mengernyit mendapati stand banner yang ada fotonya sebagai perwakilan restoran mendadak tidak ada. Biasanya ada beberapa banner di dekat restoran, salah satunya adalah foto dirinya yang mempromosikan jajan lokal. "Mengapa bannernya tidak ada? Kemarin masih ada. Apa sudah waktunya ganti banner?" gumam Rania yang memutuskan tidak ambil pusing dan melanjutkan langkahnya. "Selamat pagi semua!" sapa Rania begitu ia masuk ke dapur, surga baginya. Rania selalu bahagia setiap berada di dapur, apalagi suasana di Royal Palace yang begitu hangat baginya. Semua orang menghargainya, para anak buahnya juga sopan dan sangat segan padanya. Namun, pagi itu terasa makin berbeda.Bukan hanya tentang banner, tapi hanya beberap

  • Sentuhan Panas Bos Suamiku   Makin Cinta

    Rania terbangun dalam pelukan Lucas pagi itu. Tidurnya terasa nyaman dan sangat berkualitas. Ia pun tersenyum saat melihat lengan pria itu masih di sana, memeluknya semalaman. Entah lengan itu akan kram atau tidak. "Ya ampun, pasti lenganmu sakit," seru Rania yang berniat bangun dari ranjang. Namun, Lucas menahannya dan tetap memeluknya. "Selamat pagi, Sayang." Rania tersenyum. "Selamat pagi. Kau sudah bangun?" "Hmm, rasanya aku tidak ingin bangun kalau tidur seperti ini." "Tapi anak-anakmu sudah lapar di perutku." Lucas langsung membuka matanya. "Kau lapar, Sayang?" "Aku sering mual kalau lapar, tapi aku tidak bisa makan banyak." "Ah, kalau begitu, tunggulah, pagi ini aku yang akan memasak." Rania menoleh menatap Lucas. "Benarkah kau yang akan memasak?" "Apa aku terlihat bercanda? Aku bisa memasak dan aku tidak keberatan memasak untukmu dan anak-anakku," seru Lucas yang langsung mengecup kening Rania. Setelah melakukannya, Lucas bangkit dari ranjang, membersihkan diri di ka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status