Share

Jadi istri

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2026-01-04 00:03:33

Di dalam ruang tamu rumah Pak RT yang sederhana itu, aroma rumah tua yang berpadu dengan dinginnya sisa air hujan yang meresap ke pakaian mereka.

Meysa menunduk, menatap jari-jarinya yang gemetar di pangkuan. Ia bisa merasakan tatapan tajam Pak Mamat dari sudut ruangan, seolah pria itu sedang menunggu mereka melakukan kesalahan lagi.

"Siapa nama ayah kandung Neng Meysa?" tanya Pak Amil sambil membetulkan posisi kacamata bacanya yang melorot.

Meysa menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Hariadi, Pak. Tapi ... Ayah sudah meninggal dunia tujuh tahun yang lalu."

Pak Amil mengangguk paham, lalu menoleh ke arah Pak RT. "Karena wali nasab sudah tidak ada dan ini keadaan darurat, maka Pak RT yang akan bertindak sebagai wali hakim. Bagaimana, Bapak-Bapak saksi? Setuju?"

"Setuju!" sahut warga serempak dengan nada yang terdengar lebih seperti tuntutan daripada persetujuan.

Wildan menghela nafas panjang. Ia membetulkan posisi duduknya, mencoba mengabaikan rasa nyeri yang menjalar d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Editorku   Tidur di satu ranjang yang sama

    "Masih takut?" tanya Wildan. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, namun frekuensinya yang rendah entah bagaimana berhasil menyusup ke dalam gendang telinga Meysa dengan cara yang menenangkan. Tidak ada lagi nada ejekan terang-terangan seperti sebelumnya, hanya ada sisa-sisa ketegasan yang menjadi ciri khasnya sebagai editor yang dingin.Meysa menggeleng pelan, meski tangannya masih memegang erat lilin putih yang kini menjadi satu-satunya sumber kehidupan di dapur itu. "Sedikit. Tapi lebih mendingan karena ada lilin."Wildan menyandarkan punggungnya ke pinggiran meja dapur, melipat tangan di depan dada. Cahaya lilin yang temaram mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan memberikan efek bayangan yang misterius pada wajahnya. "Atau karena ada aku?"Meysa merengut, meski ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya. "PD banget sih jadi orang. Aku cuma butuh cahayanya, bukan orangnya."Wildan mendengus pendek, sebuah senyum tipis yang sangat sulit d

  • Sentuhan Panas Editorku   Ketegangan romantis

    Hujan yang turun di kawasan Puncak malam itu seolah-olah menjadi saksi bisu kemarahan langit yang tak terbendung. Suara rintik yang awalnya hanya berupa ketukan-ketukan halus di atas atap villa, kini telah bertransformasi menjadi gemuruh dahsyat.Angin kencang bertiup liar, sesekali menghantam jendela kaca dengan kekuatan yang cukup untuk menciptakan bunyi berderit panjang, seolah bangunan itu sedang mengerang kesakitan.Di tengah simfoni alam yang mencekam itu, Meysa melangkah dengan sangat pelan menuju dapur. Dengan gerakan mekanis, ia merapikan sisa-sisa makan malam di meja makan yang luas. Ia membungkus sisa nasi liwet yang masih menebarkan aroma rempah samar, serta lauk pauk lezat buatan Bi Aam ke dalam wadah-wadah plastik sebelum memasukkannya ke dalam lemari es. Namun, meski tangannya bekerja, pikirannya tertinggal di ruang tengah, tepat pada momen impulsif saat ia mendaratkan ciuman singkat di pipi Wildan yang sedang terlelap.“Bodoh banget sih, Meys! Kalau dia beneran bang

  • Sentuhan Panas Editorku   Ciuman manis

    Suara nada sambung di ponsel Wildan mendadak terputus. Bukan karena diangkat, melainkan karena suara operator yang menyatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Wildan menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layarnya dengan kening berkerut dalam."Gimana, Wil? Pak Adam angkat?" tanya Meysa cemas. Ia berdiri sangat dekat dengan Wildan, hingga ia bisa mencium aroma maskulin bercampur sisa parfum yang masih menempel di jaket pria itu.Wildan menggeleng pelan. "Enggak. Sekarang malah dimatikan."Meysa mengerjapkan mata, rasa takut kembali merayap di dadanya. "Dimatikan? Kok bisa? Pak Adam kan orang bisnis, apalagi posisinya CEO. Nggak mungkin dia mematikan ponsel di jam-jam krusial begini, kan?""Itulah yang aneh," sahut Wildan sembari mencoba mengirim pesan singkat lewat aplikasi hijau. "Ceklis satu. Ini ganjil banget. Pak Adam selalu siaga, apalagi dia tahu kita lagi dikejar deadline besar. Masalah distribusi yang tadi dia bahas sama aku di beranda saja belum selesai detailn

  • Sentuhan Panas Editorku   Konfirmasi langsung ke Pak Adam

    "Siapa yang mengirimkan pesan ini, Wil?" tanya Meysa dengan suara lirih, nyaris menyerupai bisikan angin. Jemarinya yang memegang ponsel masih bergetar hebat.Wildan mengambil ponsel itu, matanya menyipit tajam menatap foto buram namun sangat jelas menampilkan wajah mereka di rumah Pak RT. Pria itu menggeretakkan rahangnya. "Aku punya firasat kuat... ini ulah Dimas. Mantanmu yang obsesif itu ternyata masih punya nyali berkeliaran di sekitar sini."Meysa menggeleng pelan, raut keraguan tampak jelas di wajahnya yang pucat. "Dimas? Tapi gimana bisa dia tahu kita di sana semalam? Bukannya dia harusnya sudah menjauh setelah insiden terakhir?" Meysa menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah. "Aku justru lebih curiga sama Kak Fio, Wil. Kamu lihat sendiri kan gimana bencinya dia sama aku tadi? Dia baru saja menutup aksesku, dan sekarang ada ancaman ini."Wildan terdiam sejenak, menimbang teori Meysa. Namun, ia menggeleng tegas. "Kalau Fiona yang kirim, itu artinya dia sudah tahu se

  • Sentuhan Panas Editorku   Teguran Wildan ke Fiona

    Layar ponsel Wildan yang masih menyala redup di atas meja seolah menjadi hakim yang menjatuhkan vonis mati bagi karier Meysa. Meysa masih terisak, bahunya berguncang hebat. Dunianya yang baru saja terasa sedikit cerah karena pujian Pak Adam, kini kembali runtuh dalam hitungan menit.Wildan menatap layar itu dengan kemarahan yang mendidih di bawah permukaan kulitnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyambar ponselnya lagi. Jemarinya bergerak lincah mencari nama Fiona di daftar kontak. Ia tidak peduli jika ini tidak sopan, ia tidak peduli jika Pak Adam mungkin ada di samping wanita itu sekarang.Tut ... tut ... tut ....Panggilan itu tersambung. Di dering ketiga, suara Fiona terdengar. Suaranya sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melempar bom atom di grup perusahaan."Halo, Wildan? Kenapa? Ada yang tertinggal di villa?" tanya Fiona dengan nada ringan, seolah-olah pengumuman di grup itu hanyalah angin lalu.Wildan tidak basa-basi. Ia berdiri dan melangkah menjauh

  • Sentuhan Panas Editorku   Gebrakan Fiona

    "Jadi maksudmu, gimana? Udah deh, kita bicara langsung ke intinya aja." Suara Pak Adam terdengar berat, bergema di ruang sempit kabin mobil yang kedap suara. Beliau tidak menoleh, matanya menatap lurus ke arah jalanan Puncak yang berkelok dan berkabut.Fiona menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Ia mendekatkan posisi duduknya ke arah Pak Adam, aroma parfum mahalnya memenuhi udara di dalam kabin mobil. Suaranya merendah, nyaris berbisik namun penuh tekanan manipulatif."Lebih baik kita putuskan kontrak kerja dengan Meysa sekarang saja, Om. Jangan ambil risiko lebih jauh. Bilang saja progresnya tidak sesuai standar kualitas perusahaan kita," ujar Fiona dengan nada meyakinkan. Ia menatap profil samping pamannya, mencari celah keraguan. "... Kita fokuskan Wildan untuk memimpin tim naskah Season 2 sendirian. Dia punya nama, dia punya basis penggemar. Dengan begitu, kita nggak perlu pusing lagi dengan drama-drama penulis amatir yang nggak profesional kayak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status