Home / Romansa / Sentuhan Panas Editorku / Kamarnya cuma satu!

Share

Kamarnya cuma satu!

Author: Risya Petrova
last update Huling Na-update: 2025-12-03 19:52:30

Wildan menghentikan SUV hitam mengilap itu dengan mulus di halaman berkerikil. Suara gemerisik ban adalah satu-satunya yang memecah keheningan Puncak. 

Di depan mereka, berdiri sebuah vila bergaya rumah singgah Belanda kolonial, didominasi warna putih gading dengan atap genteng cokelat tua. Di sekelilingnya, hamparan rumput hijau yang terawat rapi seolah menyambut kedatangan mereka.

Meysa menarik napas panjang. Udara di sini jauh lebih bersih, dingin, dan beraroma pinus. Kontras sekali dengan polusi dan ketegangan yang ia rasakan sepanjang perjalanan dari Jakarta.

“Kita sampai,” ujar Wildan singkat, mematikan mesin.

Meysa tidak langsung turun. Pandangannya terpaku pada pemandangan di belakang vila. 

Terlihat punggung bukit yang diselimuti kabut tipis dan hutan pinus yang menjulang, mengingatkannya pada papan visualisasi di P*******t tentang ‘tempat kerja impian.’ Ada kursi-kursi kayu estetik yang diletakkan di teras, menghadap langsung ke panorama yang menenangkan itu.

Rasa takutnya akan Dimas sejenak terdesak. ‘Sebulan di sini? Benar kata Wildan, ini benar-benar hadiah yang mahal.’ 

Meysa membayangkan dirinya duduk di teras itu, menyesap teh hangat, dan jemarinya menari lincah di atas keyboard, menciptakan tulisan yang lebih indah dan cerita yang semakin bagus.

“Hei, jangan ngelamun aja!” tegur Wildan, suaranya yang bernada memerintah langsung merobek ilusi damai Meysa. “Hobi kamu bengong aja ya? Ini cepat bawa kopermu. Aku juga bawa koperku, kan.”

Meysa tersentak, cepat-cepat melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Kenapa, sih, pria ini selalu tahu cara merusak momen? Ia menghembuskan napas kesal, lalu berjalan ke bagasi.

“Dasar editor arogan. Mana ada penulis yang nggak suka merenung?” gumamnya, meskipun suaranya cukup pelan sehingga Wildan tidak mungkin mendengarnya.

Saat Wildan mengeluarkan koper Meysa yang berwarna rose gold dari bagasi, ponselnya berdering. Wildan menatap sekilas ke layar, raut wajahnya langsung berubah kaku.

“Ya,” jawabnya, suaranya terdengar berat dan profesional, tetapi dengan nada frustrasi yang tersembunyi. Ia meletakkan koper Meysa di tanah dan mengangkat kopernya sendiri, yang berwarna hitam legam dan terlihat sangat mahal.

Meysa, yang baru saja hendak mengambil kopernya, terdiam. Ia tidak berniat menguping, tetapi Wildan berdiri terlalu dekat, dan suasana di sekitarnya terlalu sepi.

“... Bulan depan? Kenapa harus bulan depan, katamu?” Wildan terdengar mendesah. “Aku bilang bulan ini aku sibuk. Ada proyek besar. Aku nggak bisa diganggu dalam sebulan ini.”

Lalu, Wildan melanjutkan, nadanya kini agak meninggi, seolah ia sedang menahan emosi yang meluap. “Dengar, aku enggak menahan kamu kalau kamu memang mau pisah. Aku memang sibuk kerjaan! Oke, aku juga mau pisah. Sisakan jadwal kosongmu di bulan depan!”

Meysa tersentak. Pisah? Jadwal kosong? Bulan depan?

Wildan, editor tampan yang dingin dan menyebalkan ini, sedang menghadapi perceraian?

Otak Meysa langsung bekerja. Rasa teror yang tadi dibawa oleh pesan Dimas sejenak tergantikan oleh rasa penasaran yang tak terbendung. Pantas saja Wildan selalu tegang dan sinis. Ternyata dia menyimpan ‘drama besar’ yang jauh lebih rumit daripada drama remeh-temeh yang dituduhkan padanya.

Wildan tiba-tiba mengakhiri percakapan itu dengan ucapan, “Terserah. Aku hubungi pengacara lagi nanti,” dan menekan tombol merah. Ia menoleh, dan tatapan matanya yang tajam langsung menangkap Meysa yang berdiri membeku, dengan mata bulat sempurna, jelas-jelas menguping.

Sebuah gurat malu dan marah terlihat di wajah Wildan. Ia seperti tertangkap basah, meskipun ia tidak melakukan kesalahan apa pun.

“Koper kamu, Meysa. Atau kamu mau aku yang seret?” Wildan berkata dengan dingin, mengubah ekspresinya kembali menjadi editor arogan yang biasa.

Meysa, yang merasa ketahuan, langsung gelagapan. “Aku … aku bisa bawa sendiri. Ya! Aku masuk duluan!”

Meysa buru-buru menarik kopernya dan setengah berlari menuju pintu utama villa. Ia mendorong pintu kayu besar itu dan melangkah masuk, meninggalkan Wildan yang masih berdiri diam, menatap punggungnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Saat Meysa memasuki villa, ia langsung disambut dengan interior yang cozy dan didominasi kayu. Ruang tamunya luas, ada perapian batu besar, dan jendela-jendela tinggi yang menghadap ke kebun.

Namun, perhatian Meysa langsung tertuju pada lorong di sebelah perapian yang menuju ke kamar tidur. Ia berjalan ke sana. Dan di sana, ia hanya menemukan satu pintu.

Meysa membuka pintu itu, dan keterkejutannya membuatnya berteriak kecil.

“Loh, kok … cuma ada satu kamar?” tanyanya, suaranya penuh kebingungan.

Wildan, yang baru saja masuk dan meletakkan kopernya di ruang tamu, ikut berjalan ke arah Meysa. Ia melihat ke dalam kamar dan wajahnya ikut menegang.

“Apa maksudmu ‘satu kamar’?” tanya Wildan, suaranya mulai terdengar tidak senang. Ia mendorong Meysa sedikit ke samping untuk melihat lebih jelas.

Di dalam kamar itu, memang hanya ada satu ruangan tidur, tetapi dengan dua ranjang single berukuran besar yang ditata terpisah.

Satu di sebelah kiri, satu di sebelah kanan. Dipisahkan oleh sebuah nakas kecil di tengahnya. Ada dua lemari pakaian, dua meja kerja kecil, tetapi semuanya terpusat di satu ruang.

Meysa menoleh ke Wildan, matanya menyala-nyala karena kesal. “Kata Pak Adam, Villa ini ada dua kamar kan ya?”

Wildan merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya lagi, dan mendesah frustrasi. “Aku juga ingat dia bilang begitu. Aku sudah menyetujui perjanjian itu, bahwa kita akan tinggal di properti yang memiliki fasilitas lengkap untuk dua orang profesional. Ini jelas salah!”

Ia melihat ke sekeliling ruangan, mencoba mencari pintu lain, lemari yang bisa jadi jalan rahasia, atau bahkan celah di dinding. Nihil.

Wildan menelepon Pak Adam, hingga tiga kali. Tapi sayangnya semua panggilannya tidak terjawab.

“Gimana kata Pak Adam?” tanya Meysa dengan suara yang mulai panik.

“Tidak tersambung.” Wildan menjawab masih sembari menatap layar ponselnya.

Meysa menggeleng panik karena harus berbagi kamar dengan Wildan. Pria yang baru saja ia ketahui sedang proses cerai.

“Aku nggak mau!” seru Meysa, mundur selangkah. “Aku nggak mau tidur sekamar denganmu, Wildan! Kamu bisa tidur di sofa di ruang tamu! Atau—atau kamu tidur di mobil saja!”

Wildan menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam. “Tidur di mobil? Ini Puncak. Suhu malam bisa mencapai 15 derajat. Enak aja! Kenapa nggak kamu aja yang tidur di sofa atau di mobil?!”

Ia menyapu pandangan ke ranjang kembar itu. “Dengar, aku juga nggak suka ide ini. Sama sekali. Tapi ini yang kita punya. Jarak ranjangnya cukup jauh, dan kita berdua adalah profesional. Kita di sini bukan untuk .…” Wildan terdiam, mencari kata yang tepat, “... bersenang-senang dengan tulisan dan ide-ide kita. Kita di sini untuk kerja.”

Wildan mendekat, mengambil koper Meysa dan meletakkannya di samping ranjang kiri. “Ambil ranjang itu. Aku ambil yang kanan. Kita akan buat jadwal kamar mandi. Kita sama-sama dewasa. Kita profesional, jadi nggak usah mempermasalahkan satu ranjang berdua!”

Wildan kemudian mengambil tas toiletries dari kopernya dan bergegas masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup dengan bunyi klik.

Beberapa menit berlalu. Meysa mulai mengeluarkan pakaian dari koper, berusaha keras fokus pada lipatan-lipatan baju alih-alih pada suara gemericik air di balik pintu. Tiba-tiba, ia mendengar suara gemericik air berhenti, diikuti suara gesekan kain. Wildan pasti sedang mengeringkan diri.

Pintu kamar mandi kemudian terbuka.

Meysa refleks menoleh.

Wildan berdiri di ambang pintu, hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya. Rambutnya basah dan jatuh menutupi dahi, dan uap air masih mengepul tipis dari bahunya. Pemandangan itu, ditambah aroma sabun maskulin yang menusuk indra penciuman, langsung menyambar Meysa.

Meysa segera memalingkan wajah, tetapi sensasi terkejut itu sudah menjalar di sekujur tubuhnya. Ditambah lagi dengan rasa lelah dan stres karena ancaman Dimas, hal itu jadi memunculkan reaksi fisik.

Tiba-tiba, pandangan Meysa menggelap. Kepalanya terasa dipukul, dan sensasi dingin Puncak yang menyelinap dari jendela membuat tubuhnya mendadak lemas. Ia berusaha meraih nakas di sampingnya, tapi tidak sampai.

“Wildan ….” Meysa memanggil dengan suara tercekat, suaranya nyaris hilang. Ia terhuyung di tepi ranjang.

Wildan, yang baru saja hendak melangkah ke lemari pakaian, terkejut melihat Meysa.

“Ada apa, Meys?” tanya Wildan, melangkah cepat menghampiri. Ia menyadari Meysa tidak sedang marah atau menguping, tetapi benar-benar dalam masalah.

Namun, Meysa sudah kehilangan kesadaran. Matanya terpejam. Tubuhnya ambruk ke depan.

Wildan dengan sigap menyambut tubuh Meysa. Namun, karena lantai di sekitar pintu kamar mandi sedikit basah oleh tetesan air dari tubuhnya sendiri, dan kecepatan Meysa ambruk, Wildan jadi kehilangan pijakan.

Keduanya pun jatuh menimpa ranjang yang baru saja Meysa tinggalkan.

Meysa terbaring lemas di atas kasur, tidak sadarkan diri. Wildan berada tepat di atasnya, menahan berat badannya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain mencoba menahan kepala Meysa.

Jantung Wildan berdebar kencang, kali ini bukan karena marah, melainkan panik dan terkejut. Ia hanya mengenakan handuk, yang kini sudah tertarik sedikit longgar karena benturan. 

Meysa terbaring tak berdaya di bawahnya. Wajah Meysa yang pucat dan bibirnya yang sedikit terbuka berada sangat dekat dengannya. Wildan menatap mata Meysa yang terpejam, dan napasnya mendadak tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Meysa di balik pakaian tipisnya.

Wildan buru-buru menyingkirkan rambut Meysa dari wajahnya. Wajahnya pucat pasi, dan keringat dingin bercampur dengan air sisa mandi. Wildan benar-benar lupa dengan handuknya yang kini berada di perbatasan bahaya.

“Meysa! Meysa, sadar!” Wildan menepuk pipi Meysa perlahan. Ia berusaha berdiri, tetapi tubuh Meysa yang lemas di bawahnya dan handuknya yang longgar membuat setiap gerakannya menjadi canggung. Karena jika ia tiba-tiba berdiri, handuknya akan melorot sepenuhnya!

Wildan menatap sekeliling. Telepon! Ia harus menelepon seseorang. Tapi di mana ponselnya? Di nakas!

Ia berusaha meraih nakas di sebelahnya. Untuk meraih nakas itu, Wildan harus bergerak lebih dekat ke Meysa. Kepalanya kini berada tepat di atas kepala Meysa. Hidungnya mencium aroma sampo Meysa yang lembut, berlawanan dengan aroma pinus yang mendominasi ruangan.

Wildan berhasil menyambar ponselnya. Sebelum ia sempat menekan nomor Pak Adam, Meysa tiba-tiba membuka matanya.

Mata Meysa yang baru terbuka itu bertemu langsung dengan mata Wildan yang berada sangat dekat. Pandangan mereka terkunci. Meysa belum sepenuhnya sadar, tetapi ia merasakan beban Wildan di atasnya, kulitnya yang dingin bersentuhan dengan kulit Wildan yang hangat.

Bibir Wildan yang baru saja disentuh air panas, berjarak hanya beberapa sentimeter dari bibir Meysa.

“Wildan …,” bisik Meysa, otaknya masih kosong.

Mereka saling menatap dalam beberapa detik.

Wildan terpaku. Ia melihat ketakutan di mata Meysa, tetapi ada pula kejutan dan sesuatu yang lain, yang memancing naluri terdalamnya. Ia bisa saja segera menjauh, tetapi tatapan Meysa yang polos dan sedikit bingung itu menahannya.

Saat Wildan menahan napas, berusaha memutus kontak mata. Ia buru-buru berdiri, membuat handuk di pinggangnya terlepas sepenuhnya!

Meysa terkesiap. Netranya menangkap pemandangan paling privasi di akhir tahun ini!

Bersambung

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Editorku   Epilog - Bulan madu Meysa dan Wildan

    Epilog,Deburan ombak di Pantai Uluwatu terdengar seperti musik latar yang menenangkan bagi siapa pun, tapi bagi Meysa, itu adalah suara inspirasi. Di sebuah resor mewah yang bertengger di atas tebing, Meysa duduk bersila di atas daybed empuk. Alih-alih menikmati kelapa muda atau memandangi laut biru yang membentang luas, jarinya justru menari-nari lincah di atas keyboard laptop."Sedikit lagi ... satu paragraf lagi …," gumamnya dengan dahi berkerut serius.Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi layar laptopnya. Meysa mendongak dan mendapati Wildan berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Pria itu memegang sebuah jam tangan dengan ekspresi yang sangat kental seperti seorang ... editor."Waktu istirahat sudah lewat lima belas menit, Meysa Haryani Atmadja," suara berat Wildan menginterupsi.Meysa meringis, memberikan senyum paling manis yang ia punya. "Tanggung, Wil! Adegan ini lagi se

  • Sentuhan Panas Editorku   TAMAT

    Dua hari setelah badai di dermaga itu berlalu, udara pagi terasa jauh lebih ringan bagi Meysa. Meskipun proses hukum terhadap Mira Atmadja dan Lia Zanetti masih berjalan panas di luar sana, Meysa merasa beban di pundaknya mulai terangkat satu per satu. Namun, masih ada satu kepingan teka-teki yang mengganjal hatinya, Siapa pria yang membawanya ke panti asuhan dan memberikan peringatan keras demi keselamatannya?Di dalam mobil mewah milik Surya Atmadja, suasana terasa hening namun tidak lagi mencekam. Meysa duduk di kursi belakang, tangannya digenggam erat oleh Wildan. Kehangatan telapak tangan suaminya itu selalu menjadi jangkar bagi Meysa agar tidak hanyut dalam kegelisahan."Kamu gugup?" bisik Wildan pelan, hanya untuk telinga istrinya.Meysa menoleh, memberikan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. "Sedikit. Aku cuma nggak nyangka kalau jawaban dari pertanyaanku selama dua puluh tahun ini ada di depan mata."Surya yang duduk di kursi depan menoleh sebentar. Wajah pria itu t

  • Sentuhan Panas Editorku   Ketahuan!

    Malam semakin larut, namun udara di sebuah dermaga pribadi di pinggiran Jakarta terasa jauh lebih membekukan dari pada rintik hujan yang tersisa. Lia Zanetti berdiri gelisah, merapatkan jaket mantelnya sambil sesekali melirik jam tangan. Pukul 11.05 malam.Suara deru mobil mewah memecah kesunyian. Sebuah sedan putih berhenti beberapa meter dari tempat Lia berdiri. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan keanggunan yang dingin melangkah keluar. Dia adalah Mira Atmadja, istri Surya Atmadja.Lia tersenyum sinis, mengangkat amplop cokelat di tangannya. "Ternyata Anda benar-benar datang, Nyonya Mira. Saya pikir Anda akan lebih memilih tidur nyenyak di mansion mewah Anda."Mira menatap Lia dengan pandangan merendahkan. "Cukup omong kosongnya, Lia. Berikan dokumen itu dan sebutkan hargamu. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni penulis picisan seperti kamu."Lia tertawa, langkahnya maju mendekati Mira. "Picisan? Mungkin. Tapi dokumen di tangan saya ini adalah tiket menuju pe

  • Sentuhan Panas Editorku   Nama asli Meysa

    Di sisi lain kota, Surya Atmadja berdiri di balkon rumah utamanya. Rumah megah itu kini terasa sangat luas dan hampa. Ia menatap taman yang diterangi lampu temaram, membayangkan seorang gadis kecil berusia dua tahun berlari-lari di sana dua dekade lalu."Tuan, semua sudah siap," suara Baskara menginterupsi lamunannya. "Pengamanan di sekitar apartemen Meysa sudah diperketat tanpa mereka sadari. Saya juga sudah menugaskan tim untuk memantau pergerakan Lia Zanetti."Surya berbalik, wajahnya yang berwibawa tampak sangat lelah. "Dia sangat mirip dengan Sheila, Baskara. Cara dia membela dirinya tadi di depan Adam ... itu benar-benar jiwa Sheila yang ada padanya.""Nona Meysa adalah wanita yang kuat, Tuan. Dia sudah melewati banyak hal sendirian," ujar Baskara tenang."Itu yang membuatku sedih," desis Surya. "Dia harus menderita di panti asuhan dan bekerja keras sebagai SPG, sementara orang yang menyebabkan kecelakaan itu mungkin sedang bersantai di suatu tempat."Surya mendekati mejanya, me

  • Sentuhan Panas Editorku   Orang dalam?

    Malam merangkak pelan menyusuri jalanan Jakarta yang masih basah. Di dalam taksi yang membawa mereka menjauh dari gedung PenaKata, Meysa menyandarkan kepalanya di bahu Wildan. Matanya terpejam, tapi pikirannya berputar hebat. Kejadian di ruangan Pak Adam tadi terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Bagaimana mungkin hidupnya yang selama ini terasa 'kosong' mendadak dipenuhi oleh silsilah keluarga konglomerat yang paling berpengaruh di industri literasi?Wildan menggenggam tangan Meysa, sesekali mengusap ibu jarinya di punggung tangan istrinya itu. Ia bisa merasakan denyut nadi Meysa yang masih cepat."Masih pusing?" tanya Wildan lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara deru mesin taksi dan rintik hujan yang kembali turun.Meysa membuka matanya sedikit, menatap pantulan lampu jalanan pada jendela mobil. "Rasanya aneh, Wil. Tiba-tiba dipanggil 'Anggita'. Rasanya seperti aku sedang memakai kostum orang lain. Aku merasa ... aku bukan Meysa, tapi aku juga belum siap jadi Anggita.

  • Sentuhan Panas Editorku   Puluhan tahun yang lalu

    "Cukup," suara Meysa keluar pelan, namun getarannya sanggup membungkam perdebatan dua raksasa industri penerbitan di depannya. "Tolong, cukup."Ia menarik nafas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Matanya menatap Surya Atmadja dengan sorot yang sulit diartikan, campuran antara rindu yang tak disadari dan penolakan yang nyata."Pak Surya ... atau Paman ... saya butuh waktu untuk bernapas. Selama dua puluh empat tahun, saya percaya saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali bayangan saya sendiri. … Saya tumbuh di panti asuhan yang atapnya bocor, saya bekerja jadi SPG sampai kaki saya mati rasa, dan saya dicaci maki saat naskah saya ditolak berkali-kali. Dan sekarang, dalam satu malam yang gila, Bapak bilang saya adalah pewaris tunggal keluarga Atmadja?"Meysa kemudian beralih pada Pak Adam, yang masih tampak syok. "Dan Pak Adam ... terima kasih atas kejujuran Bapak menunjukkan hasil DNA ini. Setidaknya sekarang saya tahu saya bukan anak buangan yang tidak diinginkan.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status