MasukBegitu sampai di kost, Alana menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya. Hari ini cukup melelahkan, tidak hanya deadline yang sangat banyak tapi Ken juga hampir mengacaukan moodnya. Untungnya hari ini semuanya berjalan dengan lancar.Teringat dengan ucapan Ken tadi saat di ruangan pria itu, Alana langsung turun dari ranjangnya. Lalu ia berjalan menuju lemarinya. Alana membuka lemarinya untuk melihat baju yang akan ia pakai nanti malam. Ia memang masih kesal dengan Ken namun tetap saja ia ingin memakai baju yang bagus di depan pria itu.Saat ia sedang memilih baju, ponselnya berdering. Alana pun mengambil ponselnya dan ternyata ada pesan dari Rose.RoseAl, besok temanin aku ke Mall yuk. Alana pun langsung membalas pesan Rose.Memangnya hot Papa kamu itu izinkan pergi ke Mall tanpanya?Pesan itu terkirim dan langsung centang biru.RoseTenang. Aku yakin Papa pasti izinkan aku. Alana tersenyum mendapat balasan Rose. Ia yakin pasti sahabatnya itu akan merayu hot Papa-nya agar mengizinkan
Alana tengah sibuk menatap layar komputernya, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Di atas meja kerjanya, tumpukan dokumen tersusun tidak beraturan, ada laporan keuangan, lembar revisi, dan catatan kecil penuh coretan angka. Hari itu ia benar-benar dikejar waktu. Deadline laporan keuangan bulanan harus selesai sebelum jam kerja berakhir, dan sebagai bagian dari divisi keuangan, tanggung jawab itu sepenuhnya berada di pundaknya.Dahi Alana sedikit berkerut saat ia kembali mengecek angka-angka di layar. Kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal. Ia menarik napas dalam, berusaha tetap fokus meski kepalanya terasa mulai berat. Awal Alana bekerja di Bramasta grup, ia pernah melakukan kesalahan kecil namun berakibat cukup besar pada laporan keuangan. Saat itu ia ingat betul bagaimana Ken memarahinya. Sejak itu Alana selalu berhati-hati."Alana."Mendengar namanya dipanggil, Alana menoleh ke arah sumber suara."Iya Mas Gibran."Mas Gibran yang memanggil Alana adalah kepala divisi keua
Melihat kondisi Rose yang semakin membaik, akhirnya membuat Arthur mengizinkan Rose untuk kembali bekerja sebagai sekretaris pribadinya.Arthur yang beberapa kali meminta Rose untuk istirahat di rumah saja, membuat Rose menuduh Arthur jika di kantor sudah ada sekretaris baru yang lebih cantik dan seksi darinya padahal di kantor Arthur sama sekali tidak merekrut sekretaris baru. Arthur bingung entah dari mana pemikiran Rose seperti itu. Bahkan Rose sampai bertanya pada Ken alasan Arthur seolah suka ia tidak masuk ke kantor. Tidak ingin membuat Rose menuduhnya yang aneh-aneh, akhirnya mau tidak mau ia memberikan izin untuk Rose kembali bekerja menjadi sekretarisnya.Jujur saja, Arthur lebih suka membuat Rose menjadi pengangguran saja. Ia lebih suka Rose menghabiskan uang hasil kerja kerasnya. "Seperti kesepakatan kita sebagai syarat kamu kembali bekerja, kita tidak boleh menyembunyikan hubungan kita lagi."Rose yang baru saja menghabiskan sarapannya langsung menoleh ke arah Arthur. "P
Arthur mengangkat tubuh Rose agar gadis itu berada di atasnya.Rose tidak membuang kesempatan itu, begitu ia berada di atas tubuh Artthur, ia bergerak naik turun dengan cepat hingga benda purbakala pria itu benar-benar amblas masuk ke dalam goa sempitnya.Gerakan Rose sangat cepat, gairah benar-benar sudah menyelubungi seluruh tubuhnya. Sesekali ia memutar bokongnya hingga membuat Arthur menggeram nikmat karena rasa-rasanya benda purbakalanya dipelintir oleh goa sempit Rose."Ouuhh.... Sayang...." Arthur meremas sepasang gunung kembar Rose. Ia bahkan mengangkat tubuhnya untuk menyesap puncak benda kesukaannya itu.Rose terus bersemangat menggoyang benda purbakala Arthur, tidak hanya bergerak naik turun, ia juga bergerak memaju mundurkan bokongnya yang padat di atas pangkal paha Arthur.Rose mendesah sangat keras karena rasa nikmat yang benar-benar membuat seluruh tubuhnya bergetar."Arthurr... enak." Rose mengerang. Tubuhnya melengkung ke belakang sementara bokongnya masih mengoyang b
Rose menikmati ciuman panas Arthur. Lidah keduanya saling membelit, melumat, menyesap dan bertukar saliva. Menggunakan bibirnya Arthur kembali menyelusuri leher Rose. Ia kembali menambahkan jejak-jejak cinta di permukaan kulit leher Rose hingga leher Rose hampir dipenuhi oleh hasil mahakarya Arthur. Percintaan putaran pertama, tidak hanya di bagian leher Rose yang dipenuhi jejak cinta, tapi bagian tubuh yang lain juga ada hasil mahakarya Arthur.Tubuh Rose kembali bergerak resah oleh rasa kenikmatan yang ia rasakan.Ciuman Arthur berpindah ke tulang selangka, lalu menjalar ke bagian sepasang gunung kembar milik Rose. Walaupun sudah melewati putaran pertama, tapi Arthur tetap ingin melakukan fore play kembali. Lidah pria itu berputar-putar bergantian di puncak gunung kembar milik Rose. Satu tangannya meremas salah satu gunung Rose, sambil melintir dengan lembut, sementara gunung sebelahnya di jilat dan dipelintir puncaknya hingga Rose merintih-rintih keenakan.Tubuh gadis itu meleng
Rose mengakui jika Arthur pria perkasa, buktinya setiap mereka melakukan penyatuan seperti ini. Tentu saja tubuhnya mudah sekali terbuai dengan sentuhan-sentuhan dari pria yang saat ini sedang menghunjam tubuhnya.Ia sudah mendapatkan pelepasan beberapa kali, namun Arthur belum mendapatkan titik puncak."Pa..."Tubuh Rose semakin lemas karena kehilangan banyak tenaga. Ia hanya pasrah dan diam saja. Ia yang menginginkan Arthur menyentuhnya dengan keras tapi pria itu bisa memuaskannya dengan sentuhan-sentuhan lembut namun memabukkan.Entah sudah berapa banyak kalori yang keluar dari dalam tubuhnya malam ini, membakar makan malam yang memang tidak seberapa."Iya Sayang. Ada apa?" Di sela-sela napas yang meluncur satu-satu saat ia merasakan pelepasan yang hampir menghampirinya, Arthur menjawab.Tubuh keduanya sama-sama basah oleh keringat. Tubuh atletis Arthur semakin terlihat seksi saat keringat membanjirinya."Apakah Papa masih lama. Aku lelah."Arthur hanya tersenyum menahan sesuatu di







