Share

Sentuhan Panas Papa Mertua
Sentuhan Panas Papa Mertua
Author: Nabila Ara

Bab 1

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2025-08-07 14:09:40

"Sayang, pelan-pelan. Ini pertama kali untukku.” Rose menggeliat saat Zumi mulai menggerakkan tubuhnya lebih cepat. “Sa-sakit sekali.”

Air mata mengalir di pipi Rose dan Zumi langsung mencium bibir Rose supaya dapat mengalihkan rasa sakit yang Rose rasakan, "Tahan, sebentar lagi. Ro-Rose, Sayangku, ti-tidak ... aku su-su-sudah di puncak.”

Terdengar desahan dan erangan dari pasangan penganti baru itu saat mereka sama-sama mencapai puncak.

Zumi menghentakkan senjatanya sehingga cairan hangat memenuhi rahim Rose.

Zumi baring di samping sang istri.

Mereka saling berpelukan.

Namun, momen bahagia itu tidak berlangsung lama ketika Zumi tiba-tiba berbisik di telinga Rose. "Sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

"Apa sayang?” tanya Rose.

"Kamu tahu kan kalau aku sedang membangun bisnisku sendiri. Besok aku harus berangkat ke Sydney karena aku harus bertemu dengan investorku di sana," jawab Zumi.

"Berapa lama?" tanya Rose.

“Mungkin sekitar satu minggu. Maaf ya, aku tidak bisa mengajak kamu untuk ikut. Ini urusan sangat penting. Aku harus bertemu investor,” jawab Zumi, kemudian dia tampak murung sebelum mengatakan kalimat perpisahan terakhirnya. “Juga terapiku. Aku ingin kita segera punya anak.”

Rose terpaku. “Te-terapi?”

“Asthenozoospermia,” lirih Zumi. Nampak sekali urat sedih menyelimuti wajahnya. “Dulu, aku mengalami kecelakaan hebat waktu kecil. Orang tuaku meninggal saat kejadian itu dan aku dibesarkan oleh Papa, seorang diri. Karena kejadian itu, aku divonis mandul dan hanya bisa disembuhkan melalui terapi. Aku baru mengetahuinya sebelum kita menikah.”

“Jangan katakan–”

“Arthur adalah papa angkatku. Sejak umur delapan tahun, aku diasuh Papa. Dia membiayai sekolahku, sampai aku lulus kuliah. Aku ingin balas budi. Aku tidak bisa terus berada di bawah bayang-bayang harta Papa. Aku harus segera membangun bisnisku sendiri.”

“Kenapa harus secepat ini?” Rose menangis sejadi-jadinya.

Bayangkan saja, baru kemarin mereka menikah.

Hari pertama, Rose dan Zumi sibuk menjamu tamu undangan dan tidak sempat bermesraan seperti ini.

Hari kedua yang diimpikan Rose akan menjadi hari terindah sepanjang hidupnya, malah menjadi petaka. 

Satu minggu.

Itu waktu yang lama untuk pengantin yang baru dua hari menikah.

Terlebih setelah Rose mengetahui fakta bahwa Zumi adalah anak angkat Arthur.

Air mata menetes dari pipi gadis itu, menyapu wajah bahagianya yang baru saja merasakan puncak kenikmatan.

"Aku tahu kamu pasti sedih karena kita akan berpisah untuk sementara waktu tapi aku janji akan terus menghubungi kamu selama aku di sana. Sebenarnya aku juga tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh tapi ini demi masa depan kita juga sayang," ucap Zumi.

Seminggu pertama, Rose sering mendapat kabar dari Zumi.

Hampir setiap malam mereka video call untuk sekedar memecah kerinduan.

Masuk bulan kedua, Zumi mulai sering menghilang.

Setiap hari, Rose coba menghubungi Zumi, tapi tidak ada jawaban.

Psikologi Rose mulai terguncang. Dia sering melampiaskan emosi dan kekhawatirannya pada hal tidak wajar.

Hasratnya.

Memang, Zumi memberi kabar setiap satu minggu sekali dan itu hanya bertahan sampai bulan ketiga.

Bulan keempat hingga sekarang, Zumi tidak pernah mengangkat panggilan dari Rose.

Bahkan, sekedar meninggalkan pesan saja, tidak pernah.

Semua sosial media Zumi menghilang.

Rose semakin tersiksa.

Dia terus terbayang malam pertama itu, serta pengakuan Zumi yang membuatnya sakit hati.

Sambil mengumpat, Rose terus menghardik Zumi sebagai laki-laki tak tahu diuntung.

Enam bulan ini dia semakin gila.

Hanya satu yang bisa membuatnya tenang, yaitu membayangkan kenangan indah malam pertamanya dengan Zumi.

“Sayang ahh. Tolong sayang, aku sudah tidak kuat.”

Tangan Rose menyentuh puncak gunung kembar dan lembah segitiga bermuda miliknya.

Hanya itu yang bisa dia lakukan di saat hasrat ingin di sentuh itu hadir.

Masih teringat jelas bagaimana dia dan sang suami melewati malam panas di malam pengantin mereka enam bulan yang lalu.

Rose terus melakukan itu.

Dia tersiksa dengan kerinduan sentuhan sang suami.

Ini bukan pertama kali dia memuaskan diri sendiri.

Bahkan diam-diam Rose membeli alat yang bisa memenuhi hasratnya.

Desahan Rose terus memenuhi kamarnya.

Tanpa Rose sadari, seorang laki-laki mendengar desahannya dari balik pintu.

Ya, laki-laki itu adalah Arthur Bramasta, papa mertuanya.

“Sayang, kapan kau pulang? Kau tidak merindukan milikku yang sintal ini? Kemari, Sayang, hisap. Ini bagian yang paling kau suka. Cepat hisap aku, cepat masukkan milikmu. Zumi, Sayang, ahh, cepat keluarkan!”

Suara erangan itu sangat keras hingga terdengar ke ruang makan.

Arthur yang waktu itu hanya ingin mengantar makan malam untuk Rose, terjebak dalam belenggu hasrat milik menantunya sendiri.

Klak!

Siku Arthur tidak sengaja menekan gagang pintu.

“Siapa di sana?” Rose mengambil selimut dan melilitkannya.

Jantung Rose berdegup kencang, pandangannya langsung mengarah ke arah pintu kamar.

Rose langsung turun dari ranjang sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya.

Rose berjalan ke arah pintu kamar.

Ia buka pintu kamarnya dan ternyata di luar tidak ada siapa-siapa.

Hanya terdengar bunyi detik jam dinding yang memecah keheningan lantai dua.

“Apa hanya perasaanku saja?” gumam Rose sambil kembali masuk ke dalam kamar.

Rose kembali naik ke ranjangnya karena dia belum sampai pelepasan saat dia melakukan hal itu sendiri.

Memuaskan dirinya sendiri.

Hatinya masih terasa tidak tenang walaupun saat di luar tadi tidak ada siapa-siapa.

Rose sangat yakin mendengar bunyi pintu terbuka.

Di rumah ini hanya ada dirinya, Arthur dan Bi Arum.

Seingatnya tadi, Bi Arum pamit keluar karena ingin pergi membeli sesuatu di supermarket.

Sementara itu, Arthur keluar dari persembunyiannya.

Ya, ia langsung bersembunyi saat tanpa sengaja menekan ganggang pintu kamar Rose.

Arthur tidak ingin Rose tahu jika ia mendengar desahan Rose.

Masih terngiang di telinganya bagaimana desahan dan erangan Rose tadi.

Suara itu membuat dadanya bergetar, membangkitkan sesuatu yang sudah lama terkubur. “Shit!” Arthur langsung menghela napas saat melihat ke bawah, pada benda purbakalanya.

Arthur sudah menduda sejak tujuh tahun yang lalu karena mendiang istrinya meninggal karena kanker hati.

Sejak itu Arthur masih memilih tidak menikah lagi.

Bahkan selama menduda, Arthur tidak pernah main perempuan atau melampiaskan hasratnya dengan wanita di luar sana.

Ia lebih memilih untuk bermain solo karier di kamar mandi.

***

“Papa mana ya, Bi?” tanya Rose karena belum melihat Arthur turun ke bawah.

“Tuan kalau lama turun ke bawah pasti sedang berada di ruang gym yang ada di lantai tiga, Non.” Bi Arum memberikan sepotong roti selai kacang dan segelas susu kepada Rose. “Tadi Tuan Arthur minta dimasakin roti. Dia bilang, biar menantunya mau makan karena dia sangat suka roti selai kacang.”

“Papa?”

Bi Arum tersenyum lebar. “Selama ini, Tuan Arthur yang menentukan menu yang harus Bibi masak.”

“Jadi, selama ini Papa memperhatikan semuanya.” Rupanya Rose mulai nyaman dengan perhatian kecil yang diberikan Arthur.

Sedih dan emosinya perlahan hilang, berganti dengan rasa penasaran tentang sifat asli Arthur seperti apa.

Hampir setiap pagi Arthur berada di ruang gymnya.

Walaupun usianya sudah mencapai empat puluh enam tahun, badannya masih tegap dan gagah.

Arthur masih terlihat seperti laki-laki berumur awal tiga puluhan.

Begitu tiba di lantai tiga, Rose langsung menuju ruangan gym.

Rose terpana melihat Arthur yang sedang melakukan latihan beban.

Keringat yang membasahi tubuh Arthur membuat tubuh Arthur terlihat seksi.

Rose menelan ludah dengan berat.

Tiba-tiba saja badannya terasa panas saat melihat tubuh Arthur.

“Rose” ucap Arthur.

Rose tetap diam karena dia masih terpesona dengan Arthur.

Arthur berjalan mendekati Rose dan berbisik di telinga Rose.

“Rose.”

Rose langsung tersadar dan wajahnya memerah karena menahan malu ketahuan memuja tubuh papa mertuanya.

“Papa, sarapannya sudah siap,” ucap Rose.

Dia ingin meninggalkan gym itu karena Arthur benar-benar memperlihatkan otot-ototnya yang atletis.

Rose takut, hasratnya membuncah.

“Rose!” Arthur menarik tangan kiri Rose. “Malam ini kamu temani aku, ya…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 311

    "Pa, bangun." Rose langsung membangunkan suaminya karena saat ini ia menginginkan sesuatu yang tidak bisa ia tunda lagi.Arthur yang mendengar suara istrinya, langsung membuka matanya."Ada apa, Sayang." Suara pria itu serak khas orang bangun tidur."Bangun dulu," ucap Rose.Arthur mengucek matanya sebentar lalu ia pun bangun dari tidurnya. Pria itu duduk di samping Rose."Kenapa, Sayang?" tanya Arthur yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Ia tatap bare face istrinya, meski baru bangun tidur, Rose tetap terlihat cantik paripurna. Apalagi semenjak hamil, aura kecantikan istrinya semakin naik berkali-kali lipat.Sejak awal, Arthur lebih menyukai bare face istrinya. Meski mau kondisi apapun, ia tetap menyukai kecantikan Rose."Mau makan cendol," ucap Rose."Cendol?" tanya Arthur dan Rose langsung mengangguk.Semalam ia mimpi melihat suaminya membawa cendol saat pulang ke rumah. Dan saat ia makan cendol itu rasanya sangat enak. Alhasil, saat bangun tidur tadi ia langsung menginginkan

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 310

    "Hmmmm.... eegghhh...."Tidur Alana terganggu saat ia merasa ada benda kenyal sedang menyentuh wajahnya.Begitu ia membuka mata, Ken langsung menghujani wajahnya dengan ciuman."Bangun dulu, Sayang. Sudah jam lima pagi, kamu mandi dulu. Ayo kita melaksanakan kewajiban kita dulu, setelah itu kalau masih mengantuk kamu lanjut tidur," ucap Ken."Masih mengantuk, Ken. Badanku rasanya sakit semua. Kayak habis digebukin satu RT. Kamu sih semalam kayak orang maniak, nggak mau berhenti. Ini saja baru satu jam tidurnya," gerutu Alana.Gadis itu bahkan belum sadar jika saat ini selimutnya tersingkap sehingga sepasang bukit kembar miliknya terlihat jelas oleh Ken. Tampak jakun pria itu naik turun namun sekuat tenaga Ken menahan dirinya untuk tidak menyerang Alana lagi karena mereka harus segera mandi dan menjalankan kewajiban sebagai manusia kepada sang pemilik kehidupan."Ayo mandi dulu, Sayang. Kita mandi bersama agar menghemat waktu," ucap Ken.Alana langsung menggeleng karena di benaknya ti

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 309

    Tangan Alana menggapai-gapai hingga ia menemukan remote untuk mengatur suhu udara di ruangan kamar mewah itu."Sudah di atur di suhu terendah, Sayang. Panas ya?" tanya Ken saat melihat istrinya yang ingin menurunkan suhu AC.Alana mengangguk.Panas yang tercipta dari aktivitas AH dan OH yang mereka lakukan tadi ternyata sama-sama mengalirkan keringat yang berlebih pada tubuh keduanya, hingga rasanya Alana ingin berendam air dingin saat ini juga.Berada di dalam pelukan suaminya, Alana merasakan damai dan nyaman pada perasaannya.Seumur hidup untuk pertama kalinya ia merasa diinginkan begitu berlebih oleh seorang pria yang sanggup memberikan perlindungan untuknya, baik jiwa dan raga pria itu tanpa rasa takut dan was-was. Bersama pria yang sedang memeluknya ini, Alana memiliki keluarga kembali setelah kedua orang tuanya kembali pada sang pemilik kehidupan."Ken, tubuhku sangat lengket. Rasanya ingin mandi saat ini. Kamu nggak ingin mandi? Ayo mandi dulu agar kita bisa tidur dengan nyam

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 308

    Ken menatap lekat mata istrinya yang masih larut dalam kubangan gairah.Sedikit mengangkat pinggul istrinya, Ken menuntun jaguarnya kembali menerobos lembah kenikmatan milik Alana.Pria itu meletakkan telapak tangan Alana pada kedua bahunya.Pemandangan yang indah pada sepasang bukit kembar yang kencang dengan ukuran yang memanjakan mata membuat mata Ken kembali lapar untuk mereguk nikmatnya.Hanya beberapa menit saja karena ketegangan yang tercipta di bawah sana tidak bisa lagi dikendalikan hingga Ken mengangkat tubuh Alana.Berulang-ulang hingga gadis itu memilih untuk mengangkat tubuhnya sendiri dan melakukan manuver di atas pangkuan suaminya.Ken mengarahkan telapak tangannya pada sepasang bukit kembar istrinya yang sudah ia klaim sebagai bagian kesukaannya dan bahkan ia sudah merencanakan setiap malam harus menikmati itu sebagai nutrisinya layaknya seperti bayi. Ken semakin memegang bukit kembar milik istrinya ketika pinggul Alana mulai bergerak di atas pangkuannya.Suara desahan

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 307

    Tubuh Ken kembali merunduk lalu pria itu mendorong pinggulnya perlahan-lahan hingga pria itu bisa merasakan jaguar kebanggaannya terdorong ke dalam, seperti melewati sebuah goa sempit yang menghimpit pusat hasratnya dalam kondisi primanya."Sayaaaang.... ouuhhhh...."Bibir Ken mengerang kembali ketika lagi lagi seperti ada gaya tarik begitu dahsyat yang membuat jaguar kebanggaannya itu terbenam sempurna di goa sempit milik istrinya.Bersama sentakan kuat yang dilakukan pinggulnya, tidak ada bagian dari jaguarnya yang berada di udara terbuka.Ken merengkuh kepala Alana untuk memberikan ciuman kilat di bibir ranum gadis itu yang sudah membuatnya candu.Pria itu kembali menegakkan tubuhnya, bersimpuh di hadapan Alana dengan kedua kaki gadis itu telah ia buka lebar-lebar.Dengan gerakan refleks, Alana mengangkat kedua kakinya, melingkari pinggul suaminya bersamaan dengan pinggul Ken yang mulai bergerak maju mundur."Aaaaahhh.... Keeenn...."Alana benar-benar merasakan sengatan atas geraka

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 306

    Untuk beberapa saat tatapan mereka beradu. Degup jantung mereka beradu di keheningan malam.Di kamar mewah yang luas itu, Ken masih mencoba untuk menyelami perasaannya hingga akhirnya, pria itu merundukkan tubuhnya lalu mengangsurkan bibirnya pada leher Alana.Sentuhan bibir pria itu membangkitkan gelora di dada mereka. Apalagi bibir Ken sudah bergerilya, menjamah permukaan kulit Alana dengan posisi lidah yang sama aktifnya dengan bibirnya.Tangan Ken menopang punggung Alana yang melengkung ke atas saat leher gadis itu sedang di jamah oleh dirinya.Jejak-jejak cinta kembali Ken berikan. Ia mengabaikan permintaan istrinya agar tidak membuat jejak-jejak cinta di tempat yang mudah terlihat orang lain. Bagi Ken selagi ada salep ajaib, ia bebas untuk membuat jejak cinta dimana pun yang ia inginkan. Apalagi ia sangat menyukai hasil maha karyanya tercetak jelas di permukaan kulit leher istrinya yang putih.Kaki Alana di bawah sana semakin bergerak resah. Sensasi sentuhan yang diberikan Ken p

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 216

    Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang menyenangkan karena Arthur sudah menjadwalkan fitting gaun pengantin dan jasnya bersama Rose di butik milik Tante Zara, teman Arthur semasa sekolah. Namun rencana indah itu sempat terancam batal karena Rose kembali mengalami morning sickness yang cukup parah.S

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 215

    "Setelah pernikahan Tuan Arthur dan Rose, selanjutnya pernikahan kita berdua, Sayang."Uhuuuuk...Alana langsung terbatuk mendengar ucapan Ken. Ken langsung memberikan air minum untuk Alana dan gadis itu langsung meminumnya."Pelan-pelan makannya, Sayang. Nggak ada yang mau ambil jatah makan kamu

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 208

    Arthur langsung membawa Rose ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter kandungan karena ingin memastikan kondisi Rose.Rose sebenarnya ingin besok saja pergi ke rumah sakit tapi Arthur melarang. Lebih baik malam ini saja, mumpung belum terlalu malam dan ia juga ingin melihat langsung bagaimana kon

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 209

    Layar monitor USG pun menyala. Dokter Lucia mulai menggerakkan alat USG secara perlahan, dokter cantik terlihat fokus menatap layar.Beberapa detik berlalu.Arthur mencondongkan tubuhnya ke depan. “Bagaimana, Dok?” tanyanya tidak sabar. Ia menatap layar monitor tapi sama sekali ia tidak paham denga

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status