LOGIN"Papa nggak malu tanya begitu sama Dokter Mala?" tanya Rose pelan begitu mereka sudah keluar dari ruang Dokter Mala."Nggak lah. Kan memang harus di tanya, Sayang biar lebih jelas. Lagian Dokter Mala pasti sudah sering mendapat pertanyaan seperti itu dari suami istri yang sama seperti kita," ucap Arthur."Iya sih. Tapi rasanya malu saja. Itu kan hal yang sangat pribadi ya."Arthur terkekeh pelan melihat wajah Rose yang masih memerah meski sudah keluar dari ruangan Dokter Mala.“Yang malu cuma kamu kayaknya,” goda Arthur sambil merangkul pinggang istrinya saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit.Rose langsung mencubit pelan lengan suaminya. “Papa ini ya. Wajar dong aku malu meski sama Dokter Mala. Papa sih nanya sama Dokter Mala sangat frontal gitu.”Arthur malah tertawa melihat ekspresi istrinya.“Memangnya salah kalau suami memastikan kondisi istrinya aman? Apalagi kan untuk itu,” tanyanya santai sambil menaik turunkan alisnya.Rose mendengus pelan walau sudut bibirnya mula
Rose dan Arthur sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dimana Rose akan kontrol kandungan.Sejak berangkat, Rose tidak melepaskan genggaman tangan suaminya.Sejak bangun tidur tadi, Rose sedikit lebih tenang meski rasa takut dalam dirinya masih tersisa. Hanya saja karena ia ingin bertemu dengan anak-anaknya, Rose menguatkan diri untuk tetap berangkat ke rumah sakit.Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Arthur. Satu tangan Arthur memeluk pinggang Rose.Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, hanya ada terdengar musik yang memang sengaja Jaka putra agar suasana dalam mobil tidak hening.Baik Arthur maupun Rose memang diam sejak tadi.Seharusnya jadwal kontrol Rose jam satu siang, tetapi tadi saat Rose sedang tidur, Arthur menghubungi pihak rumah sakit agar mengubah waktu kontrol kandungan Rose dan pihak rumah sakit mengubahnya menjadi jam tiga sore."Benaran nggak terlambatkan kita datang ke rumah sakitnya," ucap Rose."Nggak Sayang. Aku sudah hubungi pihak rumah sakit. Dan pi
“Lebih cepat lagi, Jaka.”Arthur duduk tidak tenang di kursi belakang. Ia meminta Jaka menambah kecepatan mobil karena ia ingin segera tiba di rumah.Beberapa menit yang lalu saat ia baru selesai meeting, Bi Arum menghubunginya dan mengatakan Rose menerima paket teror hingga membuat Rose teriak histeris setelah melihat isi paket itu.Mendengar itu, Arthur langsung berlari meninggalkan ruang rapat dan meminta Jaka untuk menyiapkan mobil karena ia ingin pulang ke rumah.Dan ya di sinilah ia berada saat ini. Dalam perjalanan menuju pulang ke rumah.Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.Pertama ia yang mendapatkan paket teror itu. Dan sekarang istrinya yang menerima paket teror itu.“Lebih cepat lagi, Jaka.”“Maaf, Tuan. Ini sudah kecepatan maksimal yang bisa saya bawa. Saya tahu Tuan sangat mengkhawatirkan Nona Rose, tetapi keselamatan kita juga penting, Tuan. Saya harus memastikan Tuan baik-baik saja. Jadi tolong jangan minta saya untuk menambah kecepatan lagi. Dan di rumah ada Bi Aru
"Sayang, hati-hati di rumah. Ingat jangan terlalu lelah. Nanti siang aku jemput, biar kita berangkat ke rumah sakitnya bareng," ucap Arthur yang sedang pamitan dengan Rose.Mereka berada di depan rumah. Rose mengantarkan suaminya untuk berangkat kerja."Iya, Papa. Lagian aku memang mau di jemput sama Papa untuk pergi ke rumah sakitnya."Rose mengusap sudut bibir suaminya. Luka robek karena perkelahian Arthur dan Zumi beberapa hari yang lalu sudah mulai membaik. Lebam di wajah Arthur juga sudah mulai memudar.Sejak malam Zumi meninggalkan rumah ini, pria itu memang belum ada datang lagi ke rumah ini. Baik Arthur maupun Rose tidak peduli tentang itu."Oh iya, hari ini Alana sudah kembali berangkat ke kantor kan, Pa?" tanya Rose."Sepertinya iya. Ken sudah masuk tiga hari yang lalu," ucap Arthur."Aku belum ada bertemu dengan Alana lagi. Terakhir kali di hari pernikahannya itu. Habisnya kemarin mau bertemu dengan Alana, tetapi Alana sedang sakit. Entah apa yang di lakukan oleh Ken sampai
Setelah Rose dan Arthur keluar dari ruang kerja Arthur, Zumi mengelap darah yang mengalir di bibirnya.“Ssstt...” Pria itu meringis ketika tidak sengaja tangannya menyentuh luka robek di sudut bibirnya.Meski usia Arthur jauh di atasnya tetapi tenaga Papa angkatnya itu bahkan jauh lebih besar dibanding dengan dirinya sendiri.Pukulan Arthur memang membuat sekujur tubuhnya merasa sakit.Ia memang sengaja jujur dengan Arthur tentang perasaannya pada Rose, karena ia sudah tidak kuat untuk menahannya sendiri.Mungkin Ririn menyadari tentang cintanya yang sudah tidak seratus persen untuk istinya itu karena di hatinya ada dua nama yang ia cintai sama besarnya. Meski begitu, ia tidak membenarkan tindakan Ririn yang selingkuh di saat wanita itu masih menjadi istrinya.Ia tidak tahu pemicu utama yang membuat Ririn mengkhianati cintanya.Apa karena wanita itu menyadari tentang perasaannya pada Rose?Atau tentang penyakitnya yang belum sepenuhnya sembuh.Sejujurnya ia merasa tidak enak dengan is
"Bi, ada apa itu?" tanya Rose."Ayo kita langsung ke sana saja, Nona."Rose dan Bi Arum langsung menuju ruang kerja Arthur. Di depan ruang kerja Arthur, ada Salimah yang tampak panik."Salimah, ada apa kamu sampai teriak begitu?" tanya Rose.Mendengar suara Rose membuat Salimah langsung menoleh ke samping."Nona, cepat ke sini. Tuan..""Tuan, kenapa.... Papa"Rose terkejut saat melihat Arthur dan Zumi saling memukul.Rose masuk ke dalam ruang kerja Arthur dan.."Hentikan!" teriak Rose hingga membuat Arthur dan Zumi berhenti."Apa-apaan kalian ini! Kenapa harus saling memukul seperti ini?" "Pa, apa yang terjadi? Kenapa sampai seperti ini?" tanya Rose yang mendekati Arthur.Arthur mengelap bibirnya yang robek karena pukulan Zumi.Begitu juga dengan Zumi. Lebam di wajahnya lebih banyak dibanding dengan Arthur karena Papa angkatnya lebih banyak memukulnya daripada ia memukul Arthur."Kenapa pada diam? Tadi seolah sama-sama jago saling pukul seperti itu. Kenapa saat di tanya pada diam!""
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Rose menarik napas dalam sebelum membuka pintu. Lampu-lampu rumah sudah menyala terang, membuat suasana terasa hangat, tapi entah kenapa dadanya justru terasa semakin penuh. Tangannya refleks meremas tali tas, memastikan isinya aman termasuk rahasia kecil yan
"Benaran sudah baikan? Kalau masih kurang enak badan, hari ini istirahat saja, Sayang. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa," ucap Arthur.Sudah lebih dari lima kali pria itu bertanya pada Rose karena ingin memastikan gadis itu benar-benar sudah fit untuk berangkat ke kantor hari ini."Aku benaran su
“Sa-sayang?”Mendengar Arthur memanggil Rose dengan panggilan Sayang membuatnya terkejut, seolah kata itu baru saja menampar kesadarannya."Kenapa, Nona Mega?" tanya Arthur dengan santai."Kamu dan dia?" Suara Mega terdengar bergetar.Arthur mengangguk. "Rose adalah calon istriku."Di bawah meja, t
Alana tengah sibuk menatap layar komputernya, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Di atas meja kerjanya, tumpukan dokumen tersusun tidak beraturan, ada laporan keuangan, lembar revisi, dan catatan kecil penuh coretan angka. Hari itu ia benar-benar dikejar waktu. Deadline laporan keuangan bul







